Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di sisi lain.
Ric langsung menuju sebuah toko perhiasan mewah di pusat kota. Ia mengeluarkan kalung yang diambilnya dari Ice, lalu meletakkannya di atas etalase kaca.
“Tolong lihatkan berapa harga kalung ini,” ucap Ric.
Seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik toko mengambil kalung itu dengan santai. Namun, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah.
Ia segera mengenakan kaca pembesar khusus untuk memeriksa setiap bagian kalung tersebut.
“Ini...”
Ric langsung tersenyum.
“Lumayan mahal, bukan?”
Pemilik toko tidak langsung menjawab. Ia memutar liontin itu perlahan, lalu membuka bagian penguncinya.
Klik.
Sesaat kemudian, sebuah berlian bening berukuran cukup besar tampak tersembunyi di bagian dalam liontin.
Mata Ric langsung membelalak.
“Ada berlian di dalamnya?”
“Bukan hanya itu,” ucap pemilik toko dengan suara serius. “Bagian luar yang terlihat seperti hiasan batu permata ini juga bukan batu biasa.”
Ia kembali mengamati kalung itu.
“Seluruh permukaannya dihiasi berlian alami yang dipotong sangat presisi. Sedangkan rantainya dibuat dari platinum murni dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi.”
Ric menelan ludah.
“Jadi... berapa harganya?”
Pemilik toko terdiam cukup lama sebelum mengembalikan kalung itu.
“Maaf, Tuan. Kalung ini bukan sesuatu yang bisa saya taksir.”
“Apa maksudmu?”
“Nilainya terlalu tinggi. Kalung seperti ini biasanya dibuat secara khusus dan jumlahnya sangat terbatas. Kalau dilelang, harganya bisa mencapai puluhan juta Yuan, bahkan lebih jika memiliki nilai sejarah atau berasal dari keluarga tertentu.”
Ric langsung membeku.
“Pu... puluhan juta Yuan?”
Pemilik toko mengangguk pelan.
“Dan yang lebih penting lagi...” Ia menunjuk ukiran kecil bertuliskan HW pada bagian belakang liontin. “Lambang ini bukan sekadar merek. Di kalangan tertentu, simbol ini memiliki arti yang sangat khusus.”
“Apa artinya?” tanya Ric penasaran.
Pemilik toko menggeleng.
“Aku tidak berani membicarakannya. Kalau aku jadi kau, aku akan segera mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya. Ada beberapa barang yang tidak seharusnya dimiliki oleh orang yang salah.”
“Kalung ini memang milikku, bukan milik orang lain,” jawab Ric dengan nada kesal.
Pemilik toko menatap Ric dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Tuan, orang yang memiliki kalung seperti ini bukan orang sembarangan,” ucap pria paruh baya itu pelan. “Bahkan orang-orang kaya belum tentu mampu memilikinya.”
Ric mendengus.
“Kalau memang begitu, bukankah itu berarti aku orang kaya?”
Pria itu menggeleng pelan.
“Tidak. Yang saya maksud bukan hanya soal uang. Kalung ini bukan barang yang diperjualbelikan secara bebas.”
Ric mulai kehilangan kesabaran.
“Kalung ini memang milikku!”
“Kalau memang benar milik Anda, tentu Anda tahu siapa pembuatnya, bahan yang digunakan, dan asal-usulnya,” ujar pria itu tenang. “Namun kalau kalung ini berasal dari orang lain, saya sarankan segera mengembalikannya sebelum masalah besar datang menghampiri.”
Ric tersenyum sinis.
“Jangan menakut-nakutiku.”
“Aku tidak sedang menakutimu,” jawab pria itu. “Aku hanya tidak ingin terlibat masalah.”
Ric mengepalkan kalung itu di tangannya.
“Kalau kau tidak mau membelinya, aku akan menjualnya ke toko lain.”
"Kalau hanya dilihat dari bahan dan berlian yang digunakan, nilainya sudah lebih dari 30 juta Yuan. Belum lagi nilai di balik simbol HW pada kalung ini. Kalung seperti ini bahkan tidak bisa dibeli hanya dengan uang."
Pria paruh baya itu menghela napas.
“Kalau kau masih ingin menjualnya Itu hakmu. Tapi ingat satu hal... pemilik kalung ini pasti akan tahu jika benda itu berpindah tangan. Dan saat dia mulai mencarinya, orang pertama yang akan didatangi adalah orang yang mencoba menjualnya.”
Mata Ric sedikit bergetar.
“Siapa memang pemiliknya? Sampai kau berbicara seperti itu?”
Pria itu hanya tersenyum tipis.
“Maaf, ada beberapa nama yang tidak pantas disebut sembarangan.”
Ric mendengus kesal.
“Dasar orang aneh.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil kembali kalung itu dan melangkah keluar dari toko.
Pria paruh baya itu memandang kepergian Ric sambil menggeleng pelan.
“Manusia dibutakan oleh uang, sehingga tidak mementingkan nyawa sendiri."
Sementara itu, Howard tiba di depan toko keramik.
Begitu mobil berhenti, ia langsung turun dan melangkah masuk ke dalam toko.
Tatapannya segera tertuju pada Ice yang sedang berjongkok memunguti serpihan vas keramik yang berserakan di lantai.
“Ice Meng!” seru Howard.
Ice menoleh dengan wajah pucat.
“Tuan? Kenapa Anda ada di sini?” tanyanya heran.
Howard langsung terdiam saat melihat bekas darah yang masih mengering di dahi dan wajah gadis itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menghampiri Ice lalu mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya.
“T-Tuan, apa yang Anda lakukan?” tanya Ice terkejut.
“Kau sudah terluka seperti ini, kenapa tidak pulang atau pergi ke rumah sakit? Kenapa masih memaksakan diri bekerja?” ujar Howard dengan nada dingin sambil melangkah keluar.
“Tolong turunkan aku. Aku tidak apa-apa. Aku harus membersihkan toko sebelum buka besok,” ucap Ice sambil berusaha turun.
“Jangan bergerak,” kata Howard singkat.
Ia memasukkan Ice ke dalam mobil, lalu menyuruh sopir segera menuju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian.
“Untung lukanya tidak terlalu parah dan segera dibawa ke rumah sakit. Kalau terlambat sedikit saja, kondisinya bisa lebih berbahaya,” ujar dokter setelah selesai memeriksa Ice.
“Berikan perawatan terbaik yang dimiliki rumah sakit ini,” ucap Howard.
“Baik, Tuan.”
Dokter itu pun meninggalkan ruang perawatan.
Howard menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
“Bagaimana perasaanmu? Masih sakit?” tanyanya.
“Sudah lebih baik,” jawab Ice pelan. “Tapi aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harus menemui kakakku.”
Howard menatapnya.
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Ice menundukkan kepala.
“Kakakku datang ke toko dan merebut kalung itu. Katanya dia ingin menjualnya untuk biaya pernikahannya."
Howard mengernyit.
“Hanya karena sebuah kalung, kau sampai terluka seperti ini?”
Ice menggeleng.
“Kalung itu bukan milikku. Itu milik seseorang. Walaupun aku tidak ingat wajahnya, aku yakin suatu hari nanti aku akan bertemu dengannya. Karena itu aku harus mengembalikan kalung tersebut.”
Howard terdiam sejenak.
“Apakah kalung itu sangat berharga?"
“Aku tidak tahu nilainya. Aku hanya merasa kalung itu sangat penting. Tapi Mama dan Kakak terus memaksaku menyerahkannya.”
Howard mengangguk pelan.
“Aku akan menyuruh orang mengambil kembali kalung itu.”
Ice menatapnya penuh harap.
“Benarkah?”
“Percayalah padaku.” Howard menarik selimut hingga menutupi tubuh Ice. “Sekarang istirahatlah. Jangan memikirkan hal lain.”
Ice mengangguk pelan, lalu perlahan memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian.
Howard keluar dari ruang rawat.
Mark sudah menunggu di lorong rumah sakit.
“Apa yang terjadi?” tanya Howard.
“Saya sudah memeriksanya. Ric merebut paksa kalung itu dari Nona Meng. Saat Nona Meng mencoba menghentikannya, Ric mendorongnya hingga membentur rak pajangan. Sebuah vas jatuh dan mengenai kepala Nona Meng,” lapor Mark.
Tatapan Howard langsung berubah dingin.
“Beri pelajaran pada Ric. Datangi rumah mereka. Sepertinya pelajaran yang mereka terima selama ini masih belum cukup.”
“Baik, Bos.”
Howard kembali berkata, “Ric kemungkinan akan menjual kalung itu.”
Mark tersenyum tipis.
“Apakah ada orang yang berani membelinya?”
“Orang yang tidak tahu asal-usulnya mungkin akan berani. Tapi belum tentu mereka sanggup membayar harganya.”
Mark mengangguk.
“Kalung itu hanya ada satu di dunia. Dirancang khusus oleh desainer perhiasan paling terkenal dan dibuat dengan bahan terbaik. Harganya tidak ternilai.”
“Temukan Ric,” ujar Howard dengan suara dingin. “Dan jangan ragu memberinya pelajaran.”
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya