yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 13 Kenangan Yang Tersisa
Terlihat Kesya sedang tertidur di atas ranjangnya. Ia terlihat tidur dengan nyenyak dan juga sangat damai. Seketika ia di bangunkan dengan bunyi alarm dari ponselnya dan seketika ia terbangun dengan pelan. Ia membuka ponselnya, mematikan alarm lalu kemudian membuka grup Kelasnya. Ia mendapat kabar bahwa kelasnya hari ini libur karena beberapa guru sedang pergi acara dan kelasnya di pastikan libur. Mendengar itu, Kesya langsung tersenyum dan kemudian ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan dengan piamanya ke dapur.
Saat menuruni tangga, ia melihat ayahnya yang sedang sarapan dengan ibunya namun dirinya hanya diam dengan wajah datar kemudian pergi ke dapur. Di sana ia mengambil bahan-bahan dari kulkas dan kemudian mengeluarkan bahan-bahan bikin bubur seperti wortel, beras dari tempat penampungan beras di sebelah kulkas dan juga beberapa sayuran dan telur rebus. Kesya memasang celemek berwarna coklat dan kemudian memulai membuat bubur untuk Yovada.
Di sisi lain, Yovada di rumah sakit masih tertidur pulas. Perlahan ia terbangun dengan adanya seseorang di sebelahnya berbicara dengan kasar. Orang itu adalah pasien di sebelahnya karena seorang pacarnya yang datang memarahinya karena kecelakaan yang membuat kakinya harus di rawat. Pria di malah memarahinya balik karena bukannya khawatir malah marahin dirinya yang sedang di rawat. Mereka berbicara dengan keras seakan tidak ada orang di sana kecuali mereka.
Yovada yang mendengar perkelahian itu merasa muak dan sedikit terganggu dengan hal itu. Ia langsung menatap mereka dengan tatapan yang aneh seakan membenci sikap mereka yang tidak bisa tenang di rumah sakit. Dalam hati, Yovada menatap mereka sambil ngesatir dalam hatinya. “astaga, apa rumah sakit ini membawa hewan seperti ini juga ke dalamnya? Ya, aku tidak berharap banyak ketika mereka akan membuat ulah di sini. Orang tua mereka pasti lupa apa itu sopan santun.” Seketika Yovada terhenti ketika mengucapkan kalimat itu. Ia terdiam sambil menatap dirinya dengan bingung namun ada kesedihan dalam dirinya seakan satir itu langsung menyerang dirinya.
Ia merenung dengan bingung dan juga penuh kesedihan. Ia mengingat dirinya yang dulu di didik dengan kejam dan juga penuh teriakan dan juga amarah orang tua. Ia menatap langit-langit sambil mengingat masa-masa itu. Ia mengingat rasa bagaimana ia tidur di sana dan penuh amarah dan juga pukulan dari mereka. Seketika ia kembali ke masa itu, ia mengingat bagaimana rasanya di benci dan juga kejamnya didikan mereka. Ia kembali membuka mata dan merasakan kasur rumah sakit dan kemudian ia merasakan kasur rumah sakit dan kemudian ia sadar bahwa ia tidur di sini lebih nyaman dari pada harus tidur bersama orang tuanya di kasur yang sama atau di rumah yang sama.
Setelah ia kembali tersadar, ia kembali melihat kedua orang itu berkelahi. Sang wanita dengan mata yang penuh air mata menangis sambil berbicara dengan suara yang parau. “Den, kamu tidak tahu kalau aku khawatir sama kamu. Kamu tidak kangen sama anak kita? Tiap malam ia nanyain mana papah? Aku hanya bisa jawab lagi kerja, kamu harusnya sadar kamu sudah punya anak dan aku yang harus kamu hidupi. Kamu itu tulang punggung keluarga tahu.” Ucap wanita itu dengan suara yang lantang dengan penuh amarah. Matanya merah seperti setelah menangis hebat karena sesuatu hal.
Pria itu kemudian menyilangkan tangannya dan menatap dengan penuh amarah dan juga seperti tidak peduli dengan keluarganya. “astaga, kamu itu cuman istri. Harusnya kamu lebih perhatian dengan suami. Kamu malah sibuk sama anak terus, eh, itu orok kalau kagak ada gua juga kagak bakal nongol tahu. Lagian apa-apa di kasih ke anak terus. Uang rokok di potong, uang slot juga kena. SEMUA SAJA KENA. ABIS INI JUAL SAJA SEMUA ORGAN GUA DEMI TU OROK. MALES GUA JADINYA.” Ucap pria itu dengan penuh amarah kepada istrinya dengan kasar. Matanya melotot dengan tajam dan sangat menakutkan.
Istrinya yang melihat itu langsung terkejut, matanya mau menangis seperti ada hal yang ia sembunyikan. Dirinya gemetar sambil menahan air mata yang ingin keluar namun sudah terlambat karena air mata itu meluncur dari ujung matanya hingga ke ujung bibirnya. “Den... sabar Den. Kamu harusnya kamu sadar ini bukan hal yang harus di selesaikan seperti ini. Kamu juga... pergi buat balapan... banyak teman-temanmu di sana. Aku mendengarnya langsung dan juga...” suaranya begitu gagap karena ketakutan dengan sikap suaminya.
Belum sempat istrinya menyelesaikan pembicaraan, pria itu langsung memarahinya dan membentaknya. “GILA LU, EH, INGAT OKE. GUA INI TULANG PUNGGUNG KELUARGA OKE. ELU CUMAN TULANG RUSUK. LU GAK BERHAK NGATUR HIDUP GUA. Lagian kamu sendiri kagak bisa ngelayanin suami. Bahkan mereka cewek-cewek jalanan saja bisa bikin aku lebih puas dan hebat di banding sama kamu yang selalu mengurus rumah sama anak terus. Aku jadi butuh yang lain” Ucap pria itu dengan penuh amarah dan juga kebencian kepada Istrinya.
Istrinya yang melihat itu langsung mulai menangis dan mengeluarkan semua kebenciannya. Ia berlari keluar dari ruangan dan kemudian ia menangis sepanjang jalan karena kejadian tadi. Yovada yang melihat itu langsung terdiam dan merasa kesihan dengan istri orang itu dari pada melihat suaminya yang kakinya cedera dan harus di rawat d rumah sakit ini. Awalnya Yovada ingin mengejarnya dan kemudian menjenguknya karena penasaran dengan keadaannya namun ia sendiri tidak mau terikut campur dengan urusan keluarga mereka. Ia kembali beristirahat dan berbaring kembali. Ia terlihat sedang malas melakukan sesuatu dan mungkin hanya akan menunggu Kesya datang dan kemudian mengantarkan makanan kepadanya.
Ketika ia mencoba tidur, tiba-tiba suara pintu rumah sakit terbuka, ia mengira bahwa Kesya datang mengunjunginya namun yang datang rupanya seorang anak dan langsung berteriak dengan kencang memanggil kakek dan menemuinya. Kakek itu terbangun dari tidurnya dan kemudian langsung memusut kepala anaknya dan menciumnya. Anak itu langsung senang dan kemudian langsung memeluk kakeknya. Sepasang suami istri pun masuk ke dalam ruangan dan kemudian ia duduk di sebelah pak tua itu lalu langsung menaruh makanan di atas meja dan kemudian membuka ponselnya dan membalas beberapa pesan dari teman kantor, bisnis dan juga lainnya.
Pak tua itu langsung terdiam melihat sikap anaknya itu. Pak tua itu berusaha menyapa dan kemudian mengajak bicara anaknya dengan suaminya itu namun mereka tidak langsung menjawabnya. Anaknya langsung menjawab dengan singkat tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel lalu ia berdiri dan menitipkan anaknya pada kakek itu. Ia langsung pergi keluar dengan suaminya dan meninggalkan pak tua itu di atas ranjang rumah sakit itu sendirian bersama anaknya.
Pak tua itu hanya bisa menghela nafas kemudian ia memusut lagi kepala anaknya. Anak itu melihat ia di tinggalkan bersama kakeknya langsung terdiam. Ia merasa dirinya seperti tidak diinginkan dan hanya di jadikan sebagai beban oleh keluarganya. Namun pak tua itu langsung menghiburnya dan kemudian bermain dan bercerita pada anaknya tentang banyak hal.
Yovada yang penasaran dengan mereka langsung membuka matanya dan melihat anak itu. Yovada awalnya biasa saja namun ia seketika langsung membuka matanya dan kemudian ia langsung memperhatikan anak itu seperti tidak asing di matanya. Ia terdiam lalu mulai mengingatnya dan ia sadar bahwa anak itu adalah anak yang melihatnya jatuh waktu itu di jalan. Ia langsung terdiam namun ia tidak memikirkan hal yang aneh. Ia hanya mengira itu sebuah kebetulan yang tidak sengaja dengan dirinya.
Anak itu langsung melihat ke arah Yovada dan kemudian berjalan kerahnya. Namun seketika di tengah langkahnya ia merasa takut dan akhirnya berbalik dan kembali ke arah kakeknya dan kemudian ia bersembunyi di balik kakeknya. Kakeknya yang melihat itu hanya tertawa melihat sikap anaknya yang begitu penasaran namun seketika merasa takut juga. Kakeknya memusut kepala anak itu sambil melihatnya yang begitu lucu namun juga agak penakut.
Kakek itu menatap ke arah Yovada dan kemudian ia melihatnya dengan senyum. “Yovada, perkenalkan ini cucuk aku. Namanya Mimi, cucuk aku satu satunya.”