Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Tatapannya kemudian beralih pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di sebelah rekan kerjanya itu. Wanita itu terlihat sangat anggun dan bersahaja, memancarkan aura bijak yang sangat selaras dengan penampilan matang Pak Beni. "Ini Ibu Beni?"
"Benar, dia istri saya," jawab Pak Beni dengan nada bangga yang hangat.
Fela segera mengulurkan tangannya dengan sopan. Ibu Beni membalasnya dengan genggaman yang tak kalah hangat. Keduanya saling bertukar sapa dengan sangat baik dan ramah. Fela dalam hati memuji betapa serasinya pasangan di hadapannya ini.
Saat mereka sedang berbincang ringan, Pak Beni sedikit menundukkan kepala dan berbisik pelan seraya mengarahkan pandangannya ke zona VIP. "Ada owner Zeus Advertising," ujar Pak Beni memberi tahu. Beliau tahu itu atasan Fela.
Fela refleks mengikuti arah pandang Pak Beni menuju pintu masuk. Sepertinya mereka baru datang. Benar saja, di sana berdiri Pak Wisnu pemilik agensi tempatnya bekerja. Namun, detak jantung Fela mendadak berhenti sesaat ketika matanya menangkap siluet lain di sekitar Pak Wisnu.
Kenzo?
Fela tertegun. Ia sempat menangkap sosok bocah magang itu sedang berdiri tegap di dekat Pak Wisnu. Anak itu mengenakan setelan jas yang tampak sangat pas dan mahal. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Fela buru-buru mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mempertegas indra penglihatannya.
Namun ketika ia membuka mata kembali, bayangan Kenzo di sana lenyap begitu saja. Hanya ada Pak Wisnu yang sedang berbincang dengan kolega bisnisnya.
Tidak. Tidak mungkin aku teringat-ingat bocah itu terus, batin Fela terkejut sekaligus merutuki dirinya sendiri. Mengapa di tempat seperti ini aku malah membayangkan anak magang? Lagipula tidak mungkin bocah magang itu ada disini. Ini acara orang dewasa. Fela mencoba merasionalisasi pikirannya yang mulai kacau karena gugup menghadapi Dion.
"Ayo, Manajer. Kita sama-sama menyalami beliau," ajak Pak Beni, membuyarkan lamunan singkat Fela.
Fela segera menguasai diri dan mengangguk pelan. "Iya, Pak. Ayo."
Dengan langkah yang tetap dijaga agar terlihat tenang dan profesional, Fela berjalan bersama Pak Beni dan istrinya untuk menghampiri Pak Wisnu.
****
"Selamat malam, Pak Wisnu," sapa Pak Beni dengan nada hormat dan ramah. Fela dengan sopan sedikit memundurkan langkah, mempersilakan rekan seniornya itu untuk lebih dulu menyapa sang bos besar.
Pak Wisnu berbalik, lalu tatapannya langsung tertuju pada wanita di sebelah Pak Beni. "Ini Fela?" Beliau menyadari karyawannya.
Fela menyunggingkan senyum terbaiknya. "Malam, Pak."
"Iya, Pak Wisnu. Saya kebetulan bertemu dengan manajer Anda ini. Jadi, langsung saya ajak bareng saja untuk menemui Anda," jelas Pak Beni dengan nada bergurau.
Fela kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan sopan, yang langsung disambut hangat oleh Pak Wisnu.
"Sendirian, Fela?" tanya Pak Wisnu setelah melepas jabat tangan mereka, matanya mengedar mencari sosok pendamping di sekitar Fela.
"Iya, Pak," jawab Fela jujur dengan nada tenang.
"Lho, mana pasangannya?" tanya Pak Wisnu lagi tampak sedikit heran.
Fela tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan secuil rasa canggung di hatinya. "Saya masih sendiri, Pak."
"Wah, itu tidak mungkin. Wanita secerdas dan secantik kamu masa masih sendiri?" canda Pak Wisnu menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Benar, Pak," sahut Fela santai ikut tertawa kecil.
Pak Beni yang melihat kesempatan itu langsung menimpali dengan kelakar hangat. "Sepertinya Manajer Fela ini ingin mengabdi sepenuhnya dulu pada perusahaan Anda, Pak Wisnu. Sebelum akhirnya mengabdi pada suaminya nanti."
Seketika, tawa ringan pecah di antara mereka berempat.
Bibir Fela terus tersenyum manis dengan kepala yang mengangguk setuju, mengiyakan candaan Pak Beni agar suasana tetap cair.
Di sebelahnya, Ibu Beni yang tampaknya bisa merasakan sedikit getaran canggung dari Fela, langsung mengelus lengan Fela dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang sambil terus tersenyum keibuan. Sentuhan itu diam-diam membuat Fela merasa sedikit lebih tenang.
"Benar sekali. Dia memang salah satu andalan di perusahaan saya saat ini," ujar Pak Wisnu kemudian, matanya memancarkan rasa bangga yang tulus atas pencapaian kerja Fela selama ini.
Di tengah obrolan hangat itu, beberapa kolega bisnis penting lainnya datang menghampiri Pak Wisnu. Fela yang tahu diri segera memisahkan diri dengan sopan untuk memberikan ruang bagi para petinggi tersebut. Pak Beni juga membaur dengan teman satu perusahaan.
Ia melangkah perlahan menuju meja prasmanan. Mengambil piring kecil, dan mencoba menikmati makanan pesta sendirian di sudut ruangan yang agak tenang.
Drrrt... drrrt...
Ponsel di dalam tas kecilnya bergetar. Fela merogoh benda pipih itu dan melihat nama Mirin berkedip di layar. Ia segera menggeser tombol hijau.
"Hai, Mirin."
"Fela, kamu udah ada di pesta Dion?" tanya Mirin langsung di seberang telepon. Suaranya terdengar sedikit bising oleh latar belakang musik kafe.
"Ya. Aku harus ke sini," jawab Fela pelan, matanya menyapu dekorasi bunga yang megah di sekelilingnya.
"Kamu ... enggak apa-apa kan?" tanya Mirin dengan nada yang dipenuhi rasa khawatir.
"Ya. Aku masih baik-baik saja."
"Aku cemas banget dari tadi mikirin kamu di sana."
"Tenang saja, Rin. Aku masih bisa mengendalikan diri kok," Fela mencoba meyakinkan sahabatnya itu meski hatinya terasa sedikit kosong.
"Kamu di sana bersama Pak Rico?"
"Tidak. Dia bersama tunangannya. Kemarin dia memang mengajakku berangkat bareng, tapi aku menolak karena merasa tidak nyaman. Biarlah aku sendirian, yang penting tidak membuat orang lain sakit hati atau salah paham kan?"
"Ya. itu bagus. Jangan buat orang lain sakit hati." Mirin menegaskan dia setuju dengan cara berpikir Fela.
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, aku sekarang lagi sama Bimo dan Siska."
Fela menaikkan sebelah alisnya. "Pesta?"
"Ya. Bukannya proyek W-Corp kita kemarin akhirnya sukses dan sudah usai? Jadi kami memutuskan untuk sedikit bersenang-senang malam ini," jelas Mirin.
Fela tersenyum tipis mendengarnya. "Oh, kalian merayakan itu. Baguslah, kalian memang pantas mendapatkannya setelah kerja keras kemarin. Selamat bersenang-senang."
"Ya. Kamu juga hati-hati pulangnya."
"Oke."
Klik.
Fela menurunkan ponsel dari telinganya setelah sambungan terputus. Senyum tipis yang sempat terukir di bibirnya perlahan hilang. Digantikan oleh kesunyian yang kembali menyergap. Di tengah keramaian pesta yang begitu bising dengan tawa dan denting gelas, Fela justru merasa sangat terasing.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ballroom.
Malam semakin larut, dan acara inti tampaknya akan segera dimulai. Fela tahu, ia tidak bisa terus berdiri di sudut ruangan seperti ini. Ia harus berani memberi selamat pada Dion lalu pulang.
"Sebentar lagi saja," gumamnya lelah.
Kaki Fela kembali melangkah perlahan, melewati barisan meja hidangan untuk mencari makanan penutup yang lain. Sayup-sayup ia mendengar sebuah suara familier yang sangat ia kenal.
Suara berat dengan nada datar yang khas. Suara bocah itu.
semangat Fel....