“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Diamnya Victor
Nathan dan Arin berhenti di depan pintu. Nathan menarik napas singkat sebelum menggenggam gagang pintu dan mendorongnya perlahan.
Dengan langkah mantap, ia memasuki ruangan sambil tetap menggenggam tangan Arin.
Seketika, seluruh pasang mata di dalam ruangan tertuju kepada mereka.
Victor yang duduk di kursinya, mengangkat pandangannya saat Nathan muncul di ambang pintu.
Andre dan istrinya Niken turut menoleh. Tatapan mereka bergantian mengarah kepada Nathan dan Arin, menyimpan ekspresi yang sulit ditebak.
Beberapa pengacara serta pemegang saham yang turut hadir atas panggilan Victor pun ikut memperhatikan, tatapan mereka berpindah dari Nathan ke Arin.
Keheningan mencekam. Tak seorang pun berani bersuara, bahkan Andre sekalipun. Sesekali ia hanya melirik ke arah ayahnya, mencoba menebak apa yang akan dikatakannya.
Namun di sisi lain, Victor tetap diam. Pandangannya tak pernah lepas dari Nathan sejak putranya itu melangkah masuk. Begitu pula Nathan sejak menjejakkan kaki di ruangan itu, matanya hanya tertuju pada Victor, seolah dunia di sekitarnya menghilang.
Tanpa aba-aba, Nathan tiba-tiba berlutut.
Semua orang yang hadir sempat terkejut, meski tak ada satupun yang menunjukkan reaksinya secara terang-terangan. Dalam sekejap, seluruh pandangan di ruangan itu kembali tertuju pada Victor.
Namun suasana tetap sunyi. Victor belum juga berbicara.
Di sisi lain, Arin yang masih berdiri merasa kikuk. Ia menunduk, tidak berani menatap siapa pun. Namun tak lama, dengan cepat ia ikut berlutut di samping Nathan suaminya.
Nathan sempat melirik ke arahnya. Sejak berbicara dengan Paman Sam, berlutut memang sudah termasuk dalam rencananya. Tapi ia tidak pernah berharap Arin akan melakukan hal yang sama. Karena bagaimanapun, ialah yang membawa Arin ke dalam masalah ini. Nathan tahu, seharusnya hanya dia yang bertanggung jawab penuh.
"Marcus, bacakan" ucap Victor akhirnya, suara yang tenang namun tajam, sementara matanya sama sekali tidak berpaling dari Nathan.
Marcus adalah penasihat hukum pribadi sekaligus eksekutor wasiat Victor di Regen Corporation. Selama bertahun-tahun, ia menjadi tangan kanan Victor dalam urusan hukum dan bisnis, sosok yang selalu hadir di balik setiap keputusan besar keluarga Regen.
"Aku tidak tidur selama tiga hari Ayah. Aku menjalani hipnoterapi selama bertahun-tahun" ucap Nathan cepat, memotong sebelum Marcus sempat membaca dokumen di tangannya.
Sekejap, semua mata di ruangan itu tertuju pada Nathan. Bahkan Arin yang berlutut di sampingnya kini menoleh ke arahnya, menatap Nathan dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Dokterku terus mengawasiku, memberiku obat setiap hari. Bahkan dengan semua obat itu, aku tetap tidak bisa tidur. Setiap bulan, bahkan setiap minggu, jika tubuhku tidak sanggup menahan, aku harus melakukan check-up secara menyeluruh" lanjut Nathan, menatap Ayahnya dengan tatapan tegas namun terlihat kesedihan di sana.
"Aku jauh lebih sakit daripada yang Ayah lihat. Dokter dan obat-obatan terus menyokongku hingga hari ini," tambahnya, sambil meraih tangan Arin dan menggenggamnya erat.
"Ayah, aku salah. Sejak bertemu dengannya, semuanya terasa begitu ringan untukku. Aku mencintainya Ayah. Maafkan aku," ucap Nathan, menundukkan kepalanya menunjukkan rasa bersalah yang mendalam.
Setelah Nathan selesai berbicara, keheningan di ruangan itu semakin terasa. Apa yang dikatakan Nathan seolah membuat semua orang ikut merasakannya. Bahkan Arin yang berlutut di sampingnya menatap wajah Nathan dengan intens, mencoba membaca apa yang tersimpan di balik kata-katanya.
Tiba-tiba, Victor berdiri. Sontak, satu per satu orang di ruangan itu ikut bangkit, kecuali Nathan dan Arin, yang masih tetap berlutut di lantai.
"Keluar" ucap Victor, namun tatapannya tetap tertuju pada Nathan.
Nathan menatap Ayahnya, tapi ia tetap diam tak bergerak.
"Semua orang keluar. Termasuk dirimu," lanjut Victor, suaranya tegas, masih menahan tatapannya pada Nathan.
Mendengar itu, Andre segera mengerti maksud Ayahnya. Ia melangkah keluar pertama, diikuti Niken istrinya, lalu semua orang lainnya. Nathan dan Arin tetap diam, masih berlutut di lantai.
Ketika ruangan itu telah kosong, tersisa hanya mereka bertiga, Victor, Nathan, dan Arin. Victor masih menatap Nathan, hening tanpa sepatah kata pun.
Akhirnya, dengan pelan Nathan berdiri. Ia menoleh, membantu Arin untuk ikut berdiri di sampingnya. Tatapan Nathan dan Victor bertemu, lama, intens, seolah ingin membaca satu sama lain.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nathan meraih tangan Arin. Bersama-sama, mereka meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Victor sendirian di sana.
...*****...
Victor masih duduk di kursinya, pandangannya menatap ke depan, tapi pikirannya entah berada di mana.
Beberapa saat berlalu, hingga terdengar ketukan di pintu. Pintu itu kemudian dibuka, dan yang masuk adalah Paman Sam.
Dari depan pintu, Paman Sam melihat Victor yang termenung di kursinya. ia segera menghampiri, menempatkan secangkir teh di meja Victor, teh kesukaan tuannya, yang baru saja dibawanya.
"Tuan, minumlah" ucapnya, masih berdiri di dekat Victor.
Victor tetap menatap ke depan. "Ia mengatakan semua terasa ringan saat bertemu wanita itu" gumamnya pelan.
"Dia benar-benar putra Anda," balas Paman Sam, tetap berdiri di samping kursi Victor.
Mendengar itu, senyuman tipis muncul di wajah Victor, bukan senyuman bahagia melainkan senyuman getir yang sulit diartikan.
"Wanita itu, dia tidak bisa mendukungnya. Kenapa dia tidak mengerti maksudku? Kenapa dia mengikuti jejakku?" ucap Victor, suaranya bergetar tipis.
"Tuan muda Nathan memiliki Anda sebagai pendukungnya," jawab Paman Sam, tenang namun tegas.
"Kau tau itu tidak cukup Sam!" ucap Victor, kini menatap Sam dengan mata tajam.
"Tuan muda Nathan, dia sama seperti Anda. Ia bisa membangun dirinya sendiri. Ia hanya perlu sedikit dukungan dari Anda, maka ia akan berdiri kokoh. Jangan khawatir, Tuan," ucap Sam, berusaha menenangkan Victor.
"Dari kedua putraku, yang paling aku takuti adalah kepribadian Nathan. Andre memiliki ambisi yang kuat, ia mementingkan dirinya di atas segalanya. Aku tidak khawatir, karena dia sama sepertiku. Tapi Nathan, dalam berbisnis kami memang punya pandangan yang sama, tapi hatinya, hatinya memiliki sifat yang sama dengan-Nya."
Sam mengerti siapa yang dimaksud Victor. Ia tau Victor berbicara tentang Elena, wanita yang dicintainya dan tak lain adalah ibu Nathan.
"Tuan muda memiliki hati yang lembut, Ia mendapatkan itu dari ibunya. Dan dalam kehebatan berbisnis, ia mewarisi itu dari Anda" ujar Sam dengan tenang.
"Dia tidak boleh memiliki hati seperti itu" tegas Victor lagi, suaranya dipenuhi ketegasan sekaligus getir.
"Pernikahan ini, kita lihat saja dulu. Kita bisa membujuk Tuan Muda nanti. Keras kepalanya sama seperti Anda Tuan. Dia tidak akan bisa dihentikan sekarang, Ia sudah menjalankan semua rencananya sampai sejauh ini. Jangan mendorongnya menjauh, itu hanya akan menyakitimu" ucap Sam, memberikan nasihat dengan tenang.
Victor mendengarkan tapi tetap diam, wajahnya tak menunjukkan reaksi apa pun.
"Jangan mendorongnya menjauh dari keluarga ini. Kau tau, kedua putramu hanya memilikimu. Terutama Nathan, ia hanya memiliki dukunganmu sekarang," ulang Sam, menekankan kata-katanya.
Mendengar itu Victor masih tetap diam. Untuk beberapa Saat, ia hanya tenggelam dalam pikirannya.
"Panggil Marcus ke ruanganku" ucap Victor akhirnya setelah menimbang beberapa saat, suaranya tegas dan dingin.
Sam tersenyum mendengar itu. Ia mundur beberapa langkah membungkuk sebentar, lalu keluar dari ruangan untuk memanggil Marcus.
Sesaat setelah Sam keluar, Marcus yang telah menunggu di depan pintu segera memasuki ruangan Victor. Begitu dipersilakan duduk, ia langsung menempati sofa di hadapan Victor sambil tetap menjaga sikap profesional.
"Semua perubahan wasiat dan saham yang aku lakukan hari ini, kembalikan seperti semula. Aku membatalkan keputusan untuk mencabut hak putraku Nathan," ucap Victor, suaranya tenang tapi tegas.
"Saya mengerti Tuan" jawab Marcus, menundukkan kepala hormat.
"Dan tentang perubahan hari ini, jangan sampai ada yang tau, termasuk putraku Andre dan Nathan" lanjut Victor, nada suaranya dingin dan tegas.
"Baik Tuan. Saya mengerti," jawab Marcus, cepat dan sigap.
*Catt: *Meskipun dipanggil "Paman Sam" di rumah ini, usianya sebenarnya hampir sebaya dengan Victor. Victor hanya lebih tua tiga tahun darinya. Sejak bergabung pada usia tiga puluh, Sam telah menjadi sosok dekat yang memahami banyak hal tentang masa lalu Victor*.*