NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Terpaksa satu atap

Hari di sekolah berjalan seperti biasanya. Bagi orang lain, hari itu tampak seperti hari-hari sebelumnya. Begitu pula dengan Tya, atau setidaknya begitulah yang berusaha ia tunjukkan.

Sepanjang hari, Tya mencoba bersikap biasa saja. Namun hanya Tya yang tahu, pikirannya sama sekali tidak berada di kelas. Pikirannya terus kembali pada percakapan dengan ayahnya semalam.

Mulai hari ini, ia akan tinggal di rumah Faris. Tya bahkan belum sempat menceritakan hal itu kepada Megan dan Starla. Entah mengapa, ia belum siap mendengar reaksi kedua sahabatnya.

Lagi pula, Tya sendiri masih belum bisa menerima keadaan itu sepenuhnya. Baginya, semuanya terasa terlalu cepat. Dan terlalu sulit untuk dipahami.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Sore hari, cahaya matahari mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui jendela kamar.

Tya berdiri diam di depan cermin. Ia sudah berganti pakaian sederhana setelah pulang sekolah. Rambutnya yang masih sedikit lembab setelah mandi terurai di bahunya.

Namun sejak beberapa menit yang lalu, Tya hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Jemarinya perlahan merapikan beberapa helai rambut yang jatuh di dekat wajahnya.

Hari ini, Tya harus meninggalkan kamar yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Ia menghela nafas pelan.

"Kenapa semuanya berubah secepat ini?" Gumamnya lirih.

Tya menundukkan pandangan. Hari ini, ia akan meninggalkan rumahnya, dan memulai kehidupan baru yang bahkan belum siap ia jalani.

Jemarinya mulai mengepal. Semakin erat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Dadanya terasa sesak oleh berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu.

Terlalu banyak yang berubah dalam waktu singkat. Terlalu banyak hal yang dipaksakan padanya. Dan entah mengapa, nama Faris muncul begitu saja di benaknya.

Tatapan Tya perlahan terangkat, kembali menatap cermin. Rahangnya sedikit mengeras. "Semua ini," suaranya lirih, nyaris seperti berbisik. "Semua ini makin rumit gara-gara lo."

Tya sedang kehilangan dan merasa hidupnya diambil alih oleh keadaan, ia membutuhkan tempat untuk melampiaskan perasaannya. Dan tanpa sadar, nama Faris menjadi sasaran dari semua kekalutan itu.

"Lo menyebalkan, Faris!"

Kalimat itu keluar begitu saja. Setelah mengatakan itu, Tya terdiam. Lalu perlahan ia menghela nafas panjang.

Tokk... Tokk...

Tya sedikit tersentak dan mengalihkan pandangannya dari cermin. Tak lama kemudian, suara ayahnya terdengar dari luar kamar.

"Tya, udah siap, nak?"

Tya terdiam beberapa saat, lalu kembali menghela nafas pelan, berusaha mengendalikan perasaannya. "Iya, Pa."

"Papa cuma mau bilang, barang-barangnya udah dimasukkan ke mobil." Ujar ayahnya. "Kalau sudah siap, turun ya, nak."

Tya menundukkan pandangan. Ternyata waktunya sudah benar-benar tiba. Hening, lalu terdengar langkah kaki yang perlahan menjauh dari kamarnya.

Setelah beberapa saat berdiri diam, Tya akhirnya melangkah menuju pintu kamar. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, namun langkahnya terhenti.

Tatapan Tya jatuh pada sebuah bingkai foto di atas meja, foto keluarganya. Perlahan, ia membalik tubuh dan melangkah mendekat. Tangannya terangkat, meraih bingkai foto itu.

Jemarinya menyentuh permukaan kaca, tatapannya berhenti pada wajah ibunya. Senyum itu, kini hanya bisa ia lihat lewat foto. Sudut matanya kembali terasa panas.

"Ma," panggilnya pelan.

"Tya gak tau kenapa semuanya terjadi seperti ini," lanjut Tya sembari mengusap foto ibunya. "Tya udah turuti keinginan Mama. Tya udah menikah sama Faris."

Tya terdiam sesaat, lalu kembali menunduk. "Jujur, Tya masih berat menjalani semua ini." Lanjutnya dengan suara yang bergetar. "Tya juga masih belum mengerti, kenapa harus Faris?"

Tatapannya kembali tertuju pada senyum ibunya di foto itu. "Tapi kalau ini permintaan terakhir Mama... Tya akan mencoba menjalaninya. Meski berat, tapi ini demi Mama."

Tya menarik nafas panjang, lalu kembali meletakkan bingkai itu di atas meja. Tatapannya tertahan beberapa saat pada foto keluarganya. Lalu, ia berbalik.

Tya meraih ransel yang sedari tadi tergeletak di atas tempat tidur, lalu menggendongnya di punggung. Langkahnya terasa sedikit berat saat berjalan menuju pintu kamar.

Tya menuruni tangga perlahan. Di ruang tengah, ayahnya sudah menunggu dengan pakaian rapi. Sementara Pak Rahmat berdiri di dekat pintu sambil membawa beberapa barang yang belum dimasukkan ke dalam mobil.

Ayah Tya tersenyum, "Sudah siap, nak?"

Tya terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Iya, Pa."

Ayahnya memperhatikan Tya beberapa saat. Meski Tya berusaha tetap tenang, ia tahu ada banyak hal yang sedang dipendam gadis itu. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memaksa putrinya berbicara.

"Kalau begitu, kita berangkat." Ujar ayahnya.

Tya kembali mengangguk kecil. Lalu, mereka bertiga keluar dari rumah. Udara sore terasa sejuk. Langit mulai berwarna jingga keemasan, pertanda hari perlahan berganti malam.

Pak Rahmat membuka pintu mobil untuk keduanya. "Silakan Pak, non."

"Terima kasih, Pak," ujar Tya pelan.

Setelah semuanya masuk, mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Tya duduk di kursi belakang bersama ayahnya.

Pandangan Tya mengarah keluar jendela. Rumahnya semakin jauh, semua objek yang dikenalnya perlahan tertinggal di belakang membawa mereka menuju ke rumah Faris.

Sementara itu, di kediaman keluarga Alzavian, Faris berdiri bersandar di kusen pintu ruang tengah. Kedua tangannya terlipat di dada, wajahnya terlihat ditekuk, seolah seluruh masalah sedang dibebankan padanya.

Tatapan Faris lurus ke depan, kosong. Bahkan sejak beberapa menit yang lalu, posisinya nyaris tak berubah. Jujur saja, ia ingin kabur dari situasi ini, kalau saja kunci motornya tidak disita.

Sejak tadi pagi, Faris sudah beberapa kali mencari kesempatan untuk mengambil kembali kunci motornya. Namun hasilnya nihil, ibunya terlalu waspada.

Bahkan, saking tidak percayanya, pagi tadi Faris sampai tidak bisa berangkat sekolah dengan motornya sendiri. Ia harus dijemput Dhyo, dan itu sangat memalukan. Bayangan kejadian tadi pagi langsung terlintas di benaknya.

"Buset, akhirnya ketua kita nebeng juga," ujar Dhyo. "Itu juga karena kunci motornya disita."

"Diam Dhyo." Jawab Faris dingin.

Dhyo justru tertawa sepanjang perjalanan. Dan sampai sekarang, Faris masih kesal mengingatnya. Ia mengacak rambutnya kasar, lalu menghela nafas panjang.

Sekarang, masalahnya bertambah. Sebentar lagi, Tya akan datang. Dan mulai hari ini, gadis itu akan tinggal di rumah yang sama dengannya.

"Kenapa hidup gue jadi begini?!"

Faris mengusap wajahnya, lalu beralih mengacak rambutnya asal hingga semakin berantakan. Ia benar-benar frustasi, rasanya ingin Faris protes ke semesta.

Tangan kanannya bahkan sudah mengepal di samping tubuh. Ia menoleh ke arah tembok dekat pintu, lalu mengangkat tangannya seolah ingin memukulnya.

Namun sesaat kemudian, tangannya terhenti di udara. Faris menghela nafas kasar, tangannya turun kembali. Percuma, meninju tembok juga tidak akan mengubah keadaan, justru tangannya nanti yang sakit.

Tepat saat itu, sebuah mobil terdengar dari luar lalu berhenti tepat di depan rumah. Ibunya yang sedari tadi duduk di sofa perlahan berdiri, sementara ayahnya yang baru keluar dari ruang kerja langsung mengalihkan pandangannya ke pintu depan.

Mereka seolah tahu siapa yang datang, kecuali satu orang yang mendadak berharap itu hanya kurir paket. Faris ikut menatap ke halaman rumah.

"Jangan bilang itu mereka," ujar Faris.

"Sayangnya, itu mereka," sahut ibunya sambil berlalu keluar rumah.

Mata Faris langsung terpejam sesaat. Kepalanya perlahan mendongak ke atas, seolah sedang mencari kesabaran yang tersisa. Sial, ternyata momen yang sedari tadi berusaha ia tunda akhirnya benar-benar datang.

Mau tidak mau, Faris akhirnya mendorong tubuhnya menjauh dari kusen pintu. Dengan langkah malas dan wajah yang masih ditekuk, ia ikut berjalan keluar.

Begitu tiba di teras, langkah Faris langsung berhenti. Pemandangan di depannya terasa aneh. Ibunya sudah berdiri di dekat mobil dan menyambut Tya dengan senyum hangat. Bahkan, begitu Tya turun dari mobil, ibunya langsung menggenggam kedua tangan gadis itu.

"Tya, akhirnya sampai juga," ujar ibu Faris lembut. "Mama senang kamu tinggal di sini."

Tya tersenyum samar, nyaris tak terlihat. "Iya Tante."

Ibu Faris tersenyum lagi, lalu mengusap pelan lengan Tya penuh perhatian. "Mulai sekarang, anggap rumah ini rumah kamu sendiri, ya."

"Iya Tante," ujar Tya dengan senyum sopan, tapi jelas terlihat sedikit kaku.

Namun, ibu Faris tampak tidak mempermasalahkannya. Wajahnya justru terlihat semakin lembut saat memandang Tya.

Faris yang berdiri beberapa langkah dari sana hanya berkedip pelan. Ekspresinya berubah menjadi bingung, satu alisnya bahkan sedikit terangkat. Ini, ibunya yang sama, kan?

Nada suara ibunya berubah drastis, lembut dan hangat. Bahkan, terdengar seperti tidak pernah marah seumur hidup. Faris menyipitkan mata, "Perasaan tadi pagi gak gini, deh." Gumamnya.

Tak jauh dari sana, ayah Tya dan ayah Faris juga terlihat berbincang dengan hangat. Pandangan Tya perlahan tertuju pada mereka. Lalu bergeser pada ibu Faris yang masih menggenggam tangannya dengan hangat.

Pemandangan itu terasa begitu kontras, mereka terlihat akrab. Hanya dirinya dan Faris yang terasa janggal. Tya melirik ke arah pemuda itu, Faris juga kebetulan menatap ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, lalu keduanya sama-sama mengalihkan pandangan. Tya menghela nafas pelan. Jujur saja, ia tidak berharap hubungan mereka berubah menjadi akrab hanya karena tinggal satu rumah.

Ibu Faris akhirnya menoleh ke arah putranya. "Faris!" Panggilnya.

"Apalagi, Mah?" Jawab Faris datar.

"Bantu bawakan barang-barang Tya," titah ibunya.

Faris langsung mengernyit. "Apa?"

"Bawakan koper sama tasnya. Cepat!" Lanjut ibunya.

Faris menatap ibunya beberapa saat, lalu melirik koper berukuran sedang di dekat mobil. Ia kembali menatap ibunya, ekspresinya ingin protes namun urung.

Dengan langkah malas, Faris akhirnya berjalan mendekat. Ia mengangkat koper Tya dengan satu tangan, lalu meraih satu tas lainnya.

Sambil berjalan, bibirnya bergerak pelan. "Baru datang, kerjaan gue udah nambah."

Tya yang mendengarnya hanya menoleh sekilas. Sementara ibu Faris langsung melirik tajam.

"Faris."

"Ya... Ya," sahut Faris cepat.

Meski mulutnya mengomel pelan, pada akhirnya pemuda itu tetap membawa semua barang Tya masuk ke dalam rumah.

Beberapa saat kemudian, Tya dan ayahnya duduk di sofa ruang tamu bersama kedua orang tua Faris.

Suasana terasa hangat, setidaknya bagi orang-orang di ruangan itu. Namun tidak dengan Tya. Jujur saja, ia ingin pulang ke rumahnya.

Ayah Tya menatap putrinya dengan lembut. "Tya, mulai hari ini kamu tinggal di rumah ini ya, nak."

Tya menundukkan pandangannya sesaat, lalu mengangguk kecil. "Iya Pa."

"Kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Cerita sama Papa, atau ayah dan ibu mertua kamu di sini." Lanjut ayahnya.

"Iya Pa," jawab Tya singkat.

Ayahnya kembali melanjutkan beberapa nasihat. Tentang menjaga diri, menghormati keluarga Alzavian, dan tentang mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sementara Tya hanya duduk diam dan mendengarkan. Sesekali ia mengangguk pelan. Namun di dalam hatinya, ada perasaan lain justru semakin kuat. Ia ingin kembali ke kamarnya.

Sayangnya, Tya tahu itu tidak mungkin. Kini, kamar itu bukan lagi tempat pulang setiap hari. Jemarinya perlahan saling menggenggam di atas pangkuan. Ia berusaha terlihat tenang, meski dadanya terasa sesak.

Di sisi lain ruangan, Faris baru saja selesai meletakkan barang-barang Tya di kamar. Pemuda itu kini berdiri di dekat tangga dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Tatapan Faris lurus ke arah ruang tamu, tepatnya ke arah Tya. Tatapannya datar, menunjukkan penolakan yang bahkan tidak bisa ia sembunyikan. Seolah keberadaan Tya di rumah itu adalah bukti nyata bahwa hidupnya benar-benar tidak lagi normal.

Tya yang sedang mengangkat pandangan tanpa sengaja menangkap tatapan itu. Ia terdiam, lalu mengernyit kecil.

Faris masih menatapnya dengan ekspresi yang sama. Dan entah mengapa, terasa begitu menyebalkan. Tya langsung mengalihkan pandangannya lagi, lalu menghela nafas pelan.

Setidaknya bukan dirinya saja yang tidak nyaman dengan situasi ini. Karena dari tatapan Faris barusan, pemuda itu juga merasakan hal yang sama.

Perlahan, ruang tamu itu dipenuhi dengan obrolan hangat para orang dewasa. Namun, di tengah kehangatan itu, Faris dan Tya yang justru merasakan hal sebaliknya.

Keduanya kini berada di rumah yang sama. Dan mulai hari ini, mereka akan menjalani kehidupan yang tidak pernah mereka rencanakan. Tanpa cinta, tanpa kesiapan, dan tanpa keinginan.

Kehidupan baru akan segera dimulai. Kehidupan yang dipenuhi keterpaksaan, pertengkaran, dan dua hati yang sama-sama belum siap menerima takdir yang dipilihkan untuk mereka.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!