NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Palsu & Tamparan Kenyataan

Di dalam gedung mewah itu, suasana pesta terasa megah. Hampir semua tamu mengenakan busana berkelas bak bangsawan sejati. Meja-meja tersusun rapi, di atasnya peralatan makan dan hiasan berkilau terawat. Para pelayan, baik pria maupun wanita, bergerak lincah dan profesional — berkeliling membawa nampan, menyajikan minuman dan makanan, atau membereskan meja seketika agar selalu terlihat sempurna.

Di salah satu sudut terlihat Nyonya Elina sedang duduk mengobrol santai dengan para wanita terhormat, senyumnya lebar dan ramah. Di mata orang lain dia tampak begitu baik, anggun, dan mulia — padahal tak seorang pun tahu sisi gelap dan kejam yang tersembunyi di balik senyum itu.

Saat itu, di pintu masuk utama, semua pandangan seketika tertuju ke sana.

Muncul sepasang sosok yang terlihat begitu serasi. Adrian melangkah masuk, tangan kirinya memegang lengan Fara erat namun halus, seolah mereka adalah pasangan yang diciptakan untuk satu sama lain.

Ia mengenakan jas hitam yang pas di badan, sedikit terbuka sehingga memperlihatkan kemeja putih yang dikancing longgar di bagian atas — cukup untuk memperlihatkan lekukan otot dadanya yang padat dan terbentuk alami, memancarkan kekuatan tanpa terlihat berlebihan. Jam tangan mewah berkilau di pergelangan tangannya, bahunya tegap, langkahnya tenang dan pasti membawa wibawa yang membuat siapa pun menunduk hormat. Cahaya lampu gantung kristal menyapu tubuhnya, membuat jas itu memantulkan kilau lembut, meski tatapan matanya tetap sedingin es — ada jarak yang tak terlihat, seolah hatinya terkunci rapat.

Di sampingnya, Fara berusaha mengukir senyum selebar mungkin, berusaha terlihat bahagia agar tak ada yang curiga. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menyapa setiap tatapan dengan anggukan sopan. Gaun malam berwarna biru laut pekat yang dikenakannya terbuat dari bahan istimewa — halus, ringan, dan berkilau bagaikan air laut terkena cahaya bulan. Bagian pinggang terikat rapi menegaskan lekuk tubuhnya, lalu menjuntai ke bawah membentuk lapisan-lapisan lebar yang melambai anggun mengikuti setiap langkahnya. Setiap kali cahaya lampu menyentuh kain itu, ia memancarkan kilauan kebiruan keemasan yang memukau, seolah menyimpan cahayanya sendiri. Anggun, mewah, tak ada yang tahu di balik senyum itu jantungnya berdegup kencang menahan gugup.

Adrian sempat berhenti sebentar untuk menyapa beberapa tamu penting, sampai suara Nyonya Elina terdengar memanggil dengan nada riang: “Adrian, nak, kemarilah! Izinkan aku memperkenalkan kerabat jauh keluarga kita.”

Semua orang yang mendekat memandang mereka dengan kekaguman. Melihat itu, Elina tersenyum puas dalam hati. Inilah alasannya aku memilih membawa Fara saja, pikirnya. Kalau Zara ikut, mereka pasti mulai bertanya dan menyelidiki. Jika sampai ketahuan dia masih di bawah umur, nama keluarga Romanov akan menjadi bahan ejekan semua bangsawan. Itu tak boleh terjadi.

Tak lama kemudian, saat Adrian sibuk terlibat dalam percakapan panjang, Fara duduk sendirian di sudut ruangan. Seorang pelayan mendekat dan mengulurkan nampan berisi gelas minuman. Fara mengangguk memberi isyarat terima kasih, tapi saat tangannya hendak menjangkau gelas itu, tiba-tiba hidungnya menangkap bau khas yang tajam. Tangannya berhenti melayang, lalu ia mengerutkan kening pelan bergumam: “Ini… wine? Aku kira cuma minuman biasa. Untung saja Zara tidak ikut, pasti dia akan meminumnya tanpa curiga.” Ia segera meletakkan kembali gelas itu dan menggeleng kecil, merasa bersyukur.

Karena merasa bosan dan sepi, Fara bangkit berjalan pelan keluar dari ruang utama, melangkah menyusuri lorong luas dengan dinding kaca tinggi. Ia berhenti sejenak memandang ke luar, terpesona melihat kerlap-kerlip lampu kota yang terhampar indah di kejauhan. Namun perasaannya berubah saat ia menyadari ada bayangan yang terus mengikuti gerakannya.

Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya, tubuhnya agak gemuk, mengenakan jas mewah tapi tatapan matanya tak sopan. Awalnya Fara tak memedulikannya, tapi saat ia melanjutkan langkah, pria itu tetap berjalan mengikuti. Yakin bahwa ia sedang diikuti, Fara berhenti mendadak dan berbalik menatap tajam.

Pria itu malah tersenyum lebar, wajahnya terlihat licik dan penuh niat buruk lalu mendekat perlahan: “Nona cantik, melihatmu berjalan sendirian, aku jadi penasaran. Apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

Fara hanya memaksakan senyum tipis dan berniat berjalan pergi, tapi pria itu langsung melangkah cepat menghalangi jalannya, suaranya makin rendah dan penuh godaan kotor: “Mau ke mana? Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Kita bisa bersenang-senang berdua saja.”

Rasa takut seketika menjalar ke seluruh tubuh Fara. Jantungnya berdegup kencang, suaranya bergetar saat ia berteriak lirih: “Tolong! Ada orang di sini? Tolong aku!” Tapi lorong itu sepi, tak ada satu pun orang yang lewat. Ia mulai mundur selangkah demi selangkah, napasnya memburu, sementara pria itu makin bersemangat dan terus mendekat sambil tersenyum mesum: “Tak perlu takut, sayang… kemarilah saja.”

Saat tangan kotor itu sudah hampir menyentuh bahunya, tiba-tiba suara berat dan menggelegar membelah keheningan: “BERHENTI!”

Adrian muncul dari belakang, langkahnya cepat dan amarahnya meledak. Tanpa ragu ia melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah pria itu hingga jatuh terhuyung mundur. Tatapannya membara dingin saat ia mendesis: “Beraninya kau melecehkan istriku di depanku!”

Beberapa orang yang mendengar keributan segera berlari mendekat dan berusaha menahan Adrian agar tak melukai pria itu lebih parah. Setelah menarik napas panjang dan sedikit menenangkan diri, Adrian berbalik dan berjalan mendekati Fara. Suaranya masih berat tapi terdengar lembut saat ia bertanya: “Apakah kau terluka?”

Fara mendongak perlahan, matanya berkaca-kaca penuh rasa lega dan harapan. Ia hanya menggeleng pelan, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Elina yang dari tadi melihat ada keributan di luar segera bergegas menghampiri. Matanya membelalak melihat Adrian sudah melukai orang itu, dan Fara berdiri di sampingnya dengan wajah pucat ketakutan, disaksikan oleh banyak pasang mata.

Amarahnya meledak seketika, geram dalam hati: Apa yang sudah dilakukan wanita sial ini! Jari-jarinya mengepal erat hingga meremas kain gaunnya sendiri, tapi ia segera menahan diri — memaksakan wajah berubah seolah panik dan khawatir. Ia berjalan mendekat, memeluk bahu Fara dengan gerakan lembut, berbicara lirih menenangkan seolah benar-benar peduli, sampai perlahan para tamu kembali masuk ke dalam aula.

Begitu suasana agak sepi, Elina menoleh ke Adrian dengan senyum tipis yang terasa palsu: “Pergilah, Nak. Biar aku yang menenangkan Fara di sini.”

Setelah Adrian melangkah pergi kembali ke dalam ruangan, ekspresi Elina berubah seketika. Tanpa peringatan, ia langsung melayangkan tamparan keras tepat di pipi Fara. Suaranya berubah tajam dan marah, ditekan pelan agar hanya terdengar oleh mereka berdua:

“Apa yang sudah kau lakukan, wanita sial! Apa susahnya duduk diam, tersenyum, dan bersikap layak istri dari keluarga besar ini? Kenapa hal sesederhana itu terasa sulit bagimu? Malah bikin keributan dan mempermalukan nama keluarga Romanov di depan semua orang!”

Ia mendekatkan wajahnya, tatapan matanya penuh ancaman dingin: “Dengar baik-baik. Jangan sampai kau ulangi hal ini lagi. Kau benar-benar pembawa sial yang tak tahu diri.”

Setelah melontarkan kata-kata itu, Elina berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam pesta seolah tak terjadi apa-apa.

Fara berdiri terpaku di tempatnya, tubuhnya terasa membeku. Tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya yang terasa perih dan panas, matanya berkaca-kaca. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir turun perlahan, membasahi pipi yang masih menyisakan bekas kemarahan itu — hatinya terasa hancur, menahan rasa sakit yang tak terucapkan.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!