NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Sebulan berlalu seperti air yang mengalir.

Lin Chen menyapu. Lin Chen makan. Lin Chen tidur. Lin Chen menyapu lagi.

Dari luar, tidak ada yang berubah dari rutinitas pelayan paling tidak penting di Sekte Pedang Taixuan. Tapi di dalam kepalanya, selama tiga puluh hari terakhir, satu pertanyaan terus berputar di antara semua kalkulasi dan rencananya yang lain.

Pedang hitam itu.

Dia belum menyentuhnya. Belum mendekatinya lagi secara sengaja. Setiap kali jadwal menyapu membawanya ke Makam Pedang Leluhur, Lin Chen hanya meliriknya sekali dari sudut mata—pedang itu selalu ada di tempat yang sama, berdiri sendirian di tengah jalan setapak, seolah tidak peduli dengan waktu yang berlalu.

Dan setiap kali, Mata Dewa Kekacauan-nya menangkap hal yang sama.

Energi di dalam bilah hitam itu bergerak sangat pelan—seperti sesuatu yang sabar menunggu. Tidak mendesak. Tidak mengancam. Hanya... menunggu.

'Nanti,' selalu jadi kesimpulan Lin Chen setiap kali. 'Ada yang lebih mendesak dulu.'

Hari ini, yang lebih mendesak itu adalah sebuah jam pasir virtual di dalam benaknya yang baru saja mengosongkan butiran terakhirnya.

[DING!] ⟨ Waktu pendinginan 30 hari telah selesai ⟩ ⟨ Fungsi 'Check-In Jejak Kuno' siap digunakan ⟩ Peringatan: Host hanya dapat check-in SATU kali per 30 hari. ⟨ Pilih tempat dengan jejak sejarah purba terkuat untuk memaksimalkan hadiah ⟩

Lin Chen membaca notifikasi itu di tengah-tengah aktivitas menyapunya, lalu berhenti sejenak.

Selama sebulan terakhir, sambil menjalankan rutinitas sehari-harinya, dia sudah memetakan satu lokasi yang belum pernah dia sentuh sebelumnya. Bukan karena tidak mau—tapi karena membutuhkan persiapan.

Di dalam arsip rahasia yang dia baca malam setelah kemenangan atas Harimau Ganas, di antara dokumen-dokumen tentang kejatuhan sekte, ada satu catatan kecil yang hampir terlewat. Hanya dua baris, ditulis dengan tinta yang sudah sangat memudar di pojok halaman terakhir gulungan tertua yang dia buka.

"Puncak Taixuan. Tempat tujuh Dewa kembali ke langit. Energinya tidak pernah benar-benar padam—hanya tidur."

Hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Tapi bagi Lin Chen, dua baris itu sudah lebih dari cukup.

Dia pergi sebelum fajar.

Bukan karena harus diam-diam—tidak ada aturan yang melarang pelayan mendaki gunung. Tapi karena Lin Chen lebih suka bergerak saat dunia masih tidur. Lebih sedikit pertanyaan. Lebih sedikit wajah yang perlu dia beri salam.

Jalur pendakian ke Puncak Taixuan tidak seperti jalur biasa. Tidak ada tangga batu yang dipahat rapi, tidak ada pegangan tangan di tepi jurang, tidak ada tanda penunjuk arah. Hanya lereng terjal yang ditumbuhi pohon-pohon kuno dengan akar yang mencuat dari tanah seperti tulang-tulang raksasa yang terkubur setengah badan.

Murid biasa yang mencoba mendaki ke sini akan berbalik setelah seperempat jalan—bukan karena fisik tidak kuat, tapi karena tekanan niat pedang yang meresap di setiap batu dan pohon di lereng ini semakin pekat semakin tinggi. Seperti mendaki ke dalam sebuah pedang yang sangat besar dari dalam.

Lin Chen mendaki dengan tangan di saku dan sapu bambu disandang di bahu.

Segar sekali.

Satu jam kemudian, dia tiba di puncak.

Dan berhenti.

Bukan karena kelelahan. Bukan karena terkejut dengan pemandangan—meski pemandangannya memang luar biasa, lautan awan putih membentang ke segala arah di bawah kakinya, matahari baru saja muncul di cakrawala timur, mewarnai seluruh langit dengan gradasi jingga dan emas yang terasa terlalu indah untuk nyata.

Dia berhenti karena Mata Dewa Kekacauan-nya hampir langsung aktif sendiri begitu kakinya menginjak tanah puncak.

Di sini, energi purba tidak meresap pelan seperti di Gerbang Batas atau Makam Pedang. Di sini, energi itu hadir—seperti udara yang lebih padat dari udara biasa, seperti gravitasi tambahan yang tidak menekan tubuh tapi menekan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Tujuh titik di permukaan batu puncak yang rata memancarkan cahaya keemasan samar yang bahkan tanpa Mata Dewa pun mungkin bisa dirasakan oleh kultivator yang cukup peka.

Tujuh titik. Tujuh Dewa Pedang.

Di sinilah mereka berdiri sepuluh ribu tahun yang lalu.

Lin Chen berjalan pelan ke tengah tujuh titik itu, tepat di pusat formasi yang mereka tinggalkan. Tanah di sana terasa berbeda di bawah telapak kakinya—lebih padat, lebih hidup, seperti berdiri di atas jantung sesuatu yang sangat tua dan sangat besar yang masih berdetak sangat pelan.

Dia duduk bersila.

Menutup matanya.

Dan berbicara dalam hati dengan sangat tenang.

"Sistem. Check-in."

[DING!] ⟨ Memproses check-in di: PUNCAK TAIXUAN ⟩ ⟨ Jejak terdeteksi: Titik Ascension Tujuh Dewa Pedang Taixuan ⟩ ⟨ Tingkat kepurbaan: ★★★★★ TERTINGGI YANG PERNAH TERDETEKSI ⟩ ⟨ Menghitung hadiah... ⟩

...

...

...

[DING! DING! DING! DING!] HADIAH TINGKAT MELEBIHI LEGENDA DIPEROLEH!

'TUBUH HEGEMONI HONGMENG' (Hongmeng Hegemony Physique — Fisik Primordial Tingkat Paling Puncak) ⟨ Setiap sel tubuh Host menjadi wadah energi primordial tanpa batas atas. Kapasitas dantian diperluas secara permanen dan tak terbatas. Kompatibilitas dengan 'Tubuh Pedang Kekacauan Primitif': SEMPURNA — kedua fisik bergabung dan saling memperkuat ⟩

BOOM.

Tidak ada suara lain yang bisa mendeskripsikannya.

Bukan ledakan yang bisa didengar telinga—tapi ledakan yang terjadi di dalam setiap lapisan keberadaan Lin Chen secara bersamaan. Tulang. Darah. Meridian. Dantian. Jiwa.

Semuanya hancur dan dibangun kembali dalam waktu yang terasa seperti selamanya dan seperti sekejap mata sekaligus.

Tubuh Pedang Kekacauan Primitif yang sudah bersemayam di dalam dirinya selama sebulan—yang selama ini terasa seperti lautan yang luas—tiba-tiba bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih besar. Bukan lautan bertemu lautan. Lebih seperti lautan yang tiba-tiba menyadari dirinya adalah bagian dari samudra yang tidak punya tepi.

Keduanya menyatu.

Bukan saling menghancurkan—saling melengkapi. Seperti dua sungai yang mengalir dari gunung yang sama dan akhirnya bertemu kembali di muara yang sudah menunggu mereka sejak awal.

Dantian Lin Chen yang sudah luas seperti samudra...

Tiba-tiba tidak punya batas sama sekali.

Energi spiritual dari seluruh penjuru puncak tersedot masuk dalam gelombang yang tidak terkendali—bukan karena Lin Chen tidak bisa mengendalikannya, tapi karena tubuhnya yang baru bisa menerimanya semua tanpa perlu menyaring apapun.

Ranah Inti Emas — Tingkat 1... Tingkat 2... Tingkat 3... Tingkat 4...

Berhenti.

Stabil di Ranah Inti Emas Tingkat 4.

Lin Chen membuka matanya.

Langit di atas puncak Taixuan sudah sepenuhnya terang. Matahari sudah naik satu jengkal di atas cakrawala, mewarnai lautan awan di bawahnya dengan cahaya pagi yang bersih dan dingin.

Dia mengepalkan tangannya.

Kekuatan yang bergejolak di dalamnya terasa berbeda dari sebelumnya—bukan hanya lebih besar, tapi lebih dalam. Seperti perbedaan antara api obor dan api matahari. Keduanya panas, keduanya bercahaya, tapi sumbernya berada di tingkatan yang berbeda secara fundamental.

'Inti Emas Tingkat 4,' Lin Chen mencerna angka itu dengan tenang. 'Su Qingxue ada di Tingkat 1. Murid terkuat Sekte Harimau Ganas yang datang kemarin ada di Fondasi tingkat akhir.'

Dia berdiri, menepuk debu dari celananya.

'Dan aku masih punya sembilan bulan check-in ke depan.'

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Bukan senyum sombong. Lebih seperti senyum seseorang yang baru saja mengkonfirmasi bahwa rencananya berjalan sesuai jalur—tidak lebih, tidak kurang.

Lin Chen memungut sapu bambunya yang disandarkan ke batu di tepi puncak.

Mulai berjalan turun.

Tapi baru tiga langkah, kakinya berhenti.

Mata Dewa Kekacauan-nya yang kini jauh lebih tajam dari sebelumnya—efek samping dari Tubuh Hegemoni Hongmeng yang memperkuat seluruh kemampuannya secara proporsional—menangkap sesuatu di salah satu dari tujuh titik ascension di belakangnya.

Di titik paling timur, yang tadi memancarkan cahaya keemasan paling redup di antara ketujuhnya, sekarang cahayanya sudah sepenuhnya padam.

Seperti sesuatu yang terkuras habis.

Lin Chen berbalik menatap titik itu.

'Titik ini menyumbang energi paling sedikit saat check-in tadi,' ingatnya. 'Tapi sekarang justru yang pertama padam.'

'Kenapa?'

Dia berjongkok, mengaktifkan Mata Dewa-nya penuh ke arah titik itu—dan menemukan sesuatu yang tidak dia antisipasi.

Di dalam batu puncak, tepat di bawah titik paling timur, ada sebuah ruang kosong yang sangat kecil. Tidak terdeteksi dari luar karena dilapisi formasi penyembunyian yang sangat tua—lebih tua dari formasi apapun yang pernah Lin Chen lihat sebelumnya. Tapi energi yang baru saja tersedot selama check-in tadi melemahkan lapisannya dari dalam.

Dan di dalam ruang kosong itu, ada sesuatu.

Sebuah benda. Kecil. Tidak memancarkan energi apapun—benar-benar kosong, benar-benar mati, sama sekali tidak menarik bagi siapapun yang mencarinya berdasarkan aura.

Tapi bentuknya—

Lin Chen memiringkan kepalanya.

'Itu... kunci.'

Jauh di bawah puncak, di dalam pondok kayu Makam Pedang Leluhur, Sesepuh Mo yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya.

Dia menatap langit-langit pondoknya selama beberapa detik.

Lalu, dengan sangat pelan, menggelengkan kepalanya.

"Cepat sekali," gumamnya pada dirinya sendiri.

Tidak ada yang tahu apa yang dia maksud.

Termasuk Lin Chen.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!