CERITA MASIH ACAK-ACAKAN AKAN AUTHOR REVISI SATU PER SATU.
-DALAM PROSES REVISI -
Sejak kecil Rania hidup bersama keluarga yang telah mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Segala hal akan Rania lakukan agar keluarganya bangga terhadap Rania, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
Sampai kakak tirinya divonis tidak bisa memiliki anak. Sejak itu Rania ditunjuk untuk menikahi suami dari kakak tirinya agar bisa memiliki keturunan. Tetapi dengan perjanjian setelah memberinya anak Rania akan diceraikan.
Apakan Rania menyanggupi permintaan kakak tirinya? atau Rania memilih untuk pergi menghilang dari keluarga yang telah mengadopsinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 (revisi)
Rania menelungkupkan wajahnya disofa. Ia duduk dibawah membelakangi televisi yang menyala menayangkan berita badai yang sedang terjadi.
Rania menoleh pada jendela, benar saja angin kencang disertai petir mulai saling bersahutan.
Sedari kecil ia selalu takut jika badai sedang berlangsung. Rania pernah dituduh menyakiti Salsa yang membuat Ica meninggalkan nya didepan rumah saat sedang terjadi badai yang besar.
Dan itu benar-benar membuat-nya trauma. Bermalam dibawah badai dengan petir yang saling menggelegar benar-benar menyisakan kenangan pahit tersendiri bagi seorang Rania.
"huahhh" kantuk semakin menyerang Rania, rasanya ia ingin meng-istirahatkan diri agar tidak mendengar petir yang semakin kencang disertai hujan
Sudah berulang kali Rania menghubungi Dimas, tetapi hanya suara operator yang menjawab. Kalau sejak tadi pagi Dimas bilang akan lembur, Rania pasti tidak berharap seperti ini.
Makanan sudah dingin sejak tadi, Rania memilih menelpon Dimas kembali. Kali ini nada dering, terdengar
"mas angkatt, dongg...." ucap Rania bergetar
Telepon dimatikan sepihak, tetapi Rania mendapat pesan dari Dimas.
'jangan hubungi saya dulu, saya sedang dirumah Salsa. Jangan nunggu saya pulang, kamu langsung istirahat saja sana'
Rania tersenyum getir, Kalau Dimas sudah bilang sejak tadi. Rania tidak akan sesakit ini, rasanya seperti sudah diberi harapan tetapi langsung disanggah begitu saja.
Rania memasukkan kembali makanan-makanan yang telah ia siapkan kedalam kulkas.
"awww" Perutnya terasa melilit, sakit sekali. "mas Dimas sakit sekaliii" Rania meremas perutnya.
.
.
.
.
Sementara dirumah Salsa, Dimas merasa khawatir dengan Rania. Semenjak tadi, Dimas membujuk Salsa agar mengijinkan dirinya untuk pulang ke Rania. Tetapi bukan memperbolehkan Salsa malah mencak- mencak.
"semenjak Rania hamil, kamu udah gak sayang lagi sama aku lagi. Pokoknya, aku gak mau tau saat Rania lahiran kamu harus langsung usir Rania!"
Dimas hanya mengangguk saja, Salsa tersenyum senang. Padahal Dimas tidak sadar dengan apa yang Salsa bicarakan. Ia hanya meng-iyakan saja, supaya cepat.
"Dan mulai besok, kamu gak boleh lagi tinggal bareng Rania. Aku cemburu sama Rania, dia dapet perhatian lebih dari kamu. Sementara aku gak bisa apa-apa, karena orang tua kamu selalu ikut campur"
Dimas mendelik, "aku gak bisa kalau harus tinggal bareng kamu. Kamu harus ngerti, Rania sedang hamil besar dan kamu kan sehat-sehat saja. Maka dari itu, aku harus lebih memberi perhatian kepada Rania yang lebih membutuhkan" ucap Dimas lembut mencoba memberi pengertian kepada Salsa
"kamu udah gak sayang lagi sama aku!!" Salsa membanting barang-barang disekitarnya, "aku nyesal menyuruh kamu menikahi Rania. Dia perempuan gak bener, dia udah goda kamu habis-habisan sampai kamu udah gak sayang sama aku lagi"
"bukan gitu sayang" Dimas menaruh handphonenya yang sedari tadi menjadi sumber kekhawatiran lalu membawa Salsa ke pelukannya yang sedang menangis tersedu-sedu, "kamu jangan lihat ke- belakang lagi, kita harus sabar. Tinggal 2 bulan lagi loh, Rania melahirkan. Setelah itu kita akan merawat anaknya lalu menyuruh Rania pergi" Ucap Dimas membuat Salsa sedikit tenang
"janji ya sayang" Salsa bangkit dari pelukan Dimas, "kalau ternyata ditengah-tengah sebelum lahiran Rania, aku hamil bagaimana?"
Dimas merenung, "kalau memang seperti itu, aku janji akan meninggalkan Rania dan kita akan tetap bersama" lalu laki-laki itu tersenyum, tanpa rasa bersalah sama sekali
"dan anak kamu?"
"Aku tidak akan memperdulikannya, bukankah aku akan mendapatkan anak dari kamu. Sepertinya itu lebih menyenangkan"
Salsa tersenyum sinis tanpa sepengetahuan Dimas.
"mas aku tidur duluan ya, kamu mau tidur sekarang apa bagimana? hujan diluar benar-benar besar, kamu jangan kemana-mana dulu"
"iya sayang, kamu tidur duluan saja. Aku masih ada kerjaan" alibi Dimas
Salsa meninggalkan Dimas. Dimas langsung membuka HP kembali, "kenapa dari tadi saya tidak melihat CCTV yang dipasang di apartemen" Dimas merutuki dirinya. CCTV nya sudah tersambung dengan handphone miliknya.
"Rania!!!!" teriak Dimas lalu menutupi mulutnya yang sudah teriak. Dimas tidak ingin membangunkan Salsa.
Dimas buru-buru menghubungi kontak Arkan. Mau tidak mau ia butuh bantuan dari Arkan. Ia tidak mungkin meninggalkan Salsa, bisa-bisa perempuan itu marah-marah saat pagi mendatang.
Nada dering tersambung,
"haloo. Ada apa hubungin gue?"
"Arkan, saya minta tolong dong untuk mengecek Rania Di apartamen saya. Saya melihat ia menelungkup diatas sofa, saya tidak tahu Rania pingsan apa ketiduran. Saya sedang dirumah Salsa dan tidak bisa meninggalkannya " mohon Dimas
Dari seberang telepon terdengar suara grasak-grusuk, "gue akan langsung ke apartemen lu. Kirim alamatnya dan jangan lupa pin-nya"
"Gue kirim sekarang. Saya benar-benar berterima kasih kepada kamu. Hati-hati dijalan, badai sedang berlangsung"
Arkan langsung mematikan telefon setelah mendapat kiriman alamat dan pin dari Dimas.
kalau tidak bisa adil terhadap 2 istri, untuk apa lu nikah. Kalau sampai terjadi apa-apa kepada Rania, gue gak akan memafkan elu, tutuk Arkan.
😡😡😡😈😈😈
😡😡😡
😡😡😡
tokoh laki-laki.y juga gampang dibohongin pokok.y nambah beban pikiran dah
plis deh jangan goblok 😩 gak usah cari penyakit fokus aja ke karir Ama si kembar😑