Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Dapur Garuda
Setelah Garuda Mart buka kembali, Rian Prasetyo menghadapi kenyataan pahit.
Bisnisnya sehat lagi.
Lebih buruk lagi, bisnisnya kini sehat dengan dukungan pemerintah kota, simpati publik, dan struktur grup yang lebih rapi.
Dalam rapat pagi di kantor PT Garuda Emas Group, laporan Darmawan terdengar seperti daftar bencana pribadi bagi Rian.
"Garuda Mart kembali ke 132 persen volume pelanggan normal, Pak Bos. Restoran Rasa Nusantara sudah penuh reservasi tujuh hari ke depan. Es Madu Kopi di Kota Tanjung Emas naik 48 persen karena efek dukungan publik."
Bagas bertepuk tangan. "Mantap!"
Rian tersenyum tipis.
Mantap sekali.
Kalau diteruskan, ia bisa menjadi orang pertama yang kalah dari bisnisnya sendiri berkali-kali.
Ia menutup laporan itu.
"Kita butuh proyek baru."
Ruangan langsung tenang.
Darmawan menegakkan punggung. Putri Larasati, yang duduk di ujung meja dengan laptop, ikut mengangkat kepala. Luka di bibirnya hampir hilang, tetapi kebiasaan gugupnya belum pergi. Bagas menyipitkan mata.
"Proyek baru lagi, Bos?"
"Ya. Nama brand-nya Dapur Garuda."
Rian menekan remote. Di layar muncul logo sederhana: gambar sayap garuda di atas piring.
"Konsepnya makanan harian untuk keluarga biasa. Nasi, lauk, sayur, sambal, menu rumahan berkualitas. Harga satu porsi: Rp 15.000."
Darmawan mengerutkan kening.
"Rp 15.000? Dengan standar Garuda Emas?"
"Benar."
Bagas langsung menghitung dengan jari. "Kalau pakai bahan bagus, margin-nya tipis banget. Bahkan bisa minus."
Dalam hati Rian mengangguk penuh kasih.
Itulah intinya, sahabatku.
"Kualitas bahan tidak boleh turun," kata Rian. "Minyak terbaik. Sayur segar. Bumbu tanpa bahan tambahan murahan. Protein harus layak. Kita jual makanan murah, tapi tidak menjual makanan murahan."
Putri mengetik cepat, lalu mengangkat tangan ragu.
"Pak, kalau begitu... bagaimana cara menutup biaya?"
Rian menatapnya.
"Dengan aturan."
Bagas bersandar. "Aku mulai takut kalau Bos ngomong begitu."
Rian menekan slide berikutnya.
Empat Aturan Besi Dapur Garuda.
Aturan pertama muncul.
Semua pelanggan wajib membeli paket alat makan khusus Dapur Garuda seharga Rp 200.000 sebelum transaksi pertama.
Bagas membaca dua kali.
"Tunggu. Satu porsi Rp 15.000, tapi alat makannya Rp 200.000?"
"Bisa dipakai ulang," kata Rian dengan wajah tenang. "Ramah lingkungan. Membentuk rasa kepemilikan."
Dalam hati, ia tertawa.
Rasa kepemilikan? Tidak. Rasa kabur sebelum masuk.
Pelanggan normal akan melihat angka Rp 200.000 dan pergi. Sempurna.
Aturan kedua muncul.
Paket alat makan harus digunakan di gerai minimal satu kali dalam 15 hari. Jika tidak, dikenakan biaya penyimpanan dan sterilisasi.
Darmawan tampak makin bingung.
"Pak Bos, bukankah ini membuat pelanggan merasa terikat?"
"Justru itu. Kita ingin pelanggan yang disiplin."
Rian menambahkan dalam hati: dan kalau bisa, pelanggan yang tidak ada.
Aturan ketiga muncul.
Layanan antar dikenakan biaya tambahan Rp 20.000 per pesanan.
Bagas hampir tersedak. "Biaya antar lebih mahal dari makanannya?"
"Biaya logistik harus dihargai," jawab Rian.
Jawaban itu terdengar seperti prinsip bisnis.
Padahal maksud sebenarnya: tolong jangan pesan antar.
Aturan keempat muncul.
Dapur Garuda tidak bekerja sama dengan GoFood, GrabFood, ShopeeFood, atau platform pihak ketiga mana pun. Semua pengantaran dilakukan oleh tim internal.
Kali ini Darmawan benar-benar terdiam.
"Pak Bos, tanpa platform, jangkauan awal akan sangat terbatas."
Rian mengangguk puas.
"Kita mulai dari komunitas sendiri."
Bagas menatap layar seperti melihat pintu menuju dunia lain.
"Bos, empat aturan ini kalau digabung... siapa yang masih mau makan?"
Rian menatapnya dengan mata tenang.
"Ini strategi diferensiasi brand."
Di dalam hati, ia mengepalkan tangan.
Tepat sekali. Tidak ada yang mau. Akhirnya kalian mengerti.
Namun Rian belum selesai.
"Untuk karyawan, standar makan siang harus lebih tinggi. Mereka bekerja di dapur, jadi harus makan layak. Menu rotasi: lobster, kepiting, ikan premium. Akhir pekan tambahkan abalon jika suplai ada."
Ruangan menjadi sunyi total.
Putri berhenti mengetik.
Bagas membuka mulut. "Bos. Ini restoran Rp 15.000 atau hotel bintang lima yang sedang krisis identitas?"
"Karyawan yang kenyang bekerja lebih stabil," kata Rian.
Darmawan menelan ludah. "Biayanya akan sangat besar, Pak."
"Bagus. Maksud saya, tidak apa-apa. Kita investasi pada manusia."
Putri menatap Rian dengan mata berkaca-kaca.
"Pak... bahkan karyawan dapur pun makan lobster?"
"Kalau pelanggan kita layak makan enak dengan harga murah, karyawan kita lebih layak lagi."
Kalimat itu membuat semua orang tersentuh.
Hanya Rian yang tahu, di balik kalimat itu ada perhitungan gelap: biaya bahan tinggi, harga rendah, aturan menyebalkan, pengantaran mahal, platform ditolak, karyawan makan seafood mahal.
Ini bukan bisnis.
Ini upacara pemakaman laba.
Lalu Rian mengeluarkan map terakhir.
"Untuk CEO Dapur Garuda, saya menunjuk Putri Larasati."
Putri membeku.
Bagas menoleh. Darmawan juga.
"Saya?" suara Putri sangat kecil.
"Ya."
"Pak, maaf, saya... saya masih belajar. Saya dulu hanya pelayan. Saya kadang bahkan lupa sarapan kalau panik."
Rian menatapnya dengan ekspresi penuh keyakinan.
"Itu sebabnya saya memilihmu."
Putri tampak makin bingung.
Dalam hati, Rian menjelaskan kepada dirinya sendiri dengan sangat puas.
CEO yang terlalu ahli akan menghemat biaya. CEO yang terlalu pintar akan memperbaiki aturan. CEO yang terlalu ambisius akan mencari cara membuat pelanggan datang.
Putri jujur, pekerja keras, dan cukup polos untuk mengikuti aturan aneh apa adanya.
Sempurna.
"Gajimu Rp 50.000.000 per bulan," kata Rian.
Putri hampir menjatuhkan laptop.
"Lima puluh juta?"
"Tanggung jawab CEO besar."
"Tapi saya belum pernah jadi CEO."
"Maka jangan jadi CEO seperti orang lain. Jadilah CEO seperti Putri."
Kalimat itu kembali membuat ruangan terharu.
Bagas berbisik, "Bos, lu kalau ngomong kadang berbahaya. Orang bisa langsung percaya."
Tiga minggu kemudian, gerai pertama Dapur Garuda buka di Kota Tanjung Emas.
Bangunannya tidak mewah, tetapi bersih, terang, dan harum nasi baru matang. Di dinding depan, Empat Aturan Besi ditempel besar-besar. Di samping kasir, paket alat makan khusus tersusun rapi dalam kotak putih dengan logo garuda kecil. Desainnya ternyata terlalu bagus: sendok, garpu, mangkuk lipat, kotak nasi, dan botol minum kecil, semua terasa kokoh.
Rian melihatnya dan sedikit khawatir.
"Siapa yang desain kotaknya?"
Putri mengangkat tangan pelan.
"Saya, Pak. Saya pikir kalau harganya mahal, pelanggan harus merasa barangnya pantas."
Rian menatapnya.
Jangan mulai pintar sekarang, Putri.
Hari pertama, banyak orang datang karena penasaran. Banyak juga yang pergi setelah membaca aturan pertama.
"Makan Rp 15.000 tapi beli alat Rp 200.000 dulu? Wah, nanti saja."
Setiap kali ada orang pergi, hati Rian berbunga.
Namun ada juga pelanggan yang tetap membeli.
Ibu-ibu membeli karena kotaknya bisa dipakai anak sekolah.
Mahasiswa membeli patungan, lalu bergantian memakai.
Pegawai kantor membeli karena merasa menjadi "anggota" Dapur Garuda.
Mereka makan nasi hangat dengan lauk yang jauh lebih enak daripada harga Rp 15.000. Setelah makan, beberapa langsung memotret paket alat makan dan mengunggahnya.
Malam itu, Putri berdiri di pintu belakang dapur. Para karyawan duduk makan bersama, tertawa sambil membuka cangkang kepiting dan lobster kecil. Di tangan Putri ada surat pengangkatan CEO yang masih membuatnya pusing.
Ia menelepon Rian.
"Pak Bos, laporan hari pertama."
Rian bersandar santai.
"Bagaimana?"
"Hari ini datang 287 pelanggan dan terjual 287 porsi."
Rian tersenyum.
Hanya 287. Bagus. Sangat bisa rugi.
Putri melanjutkan dengan suara bingung.
"Tapi semuanya juga membeli paket alat makan. Jadi pendapatan dari alat makan saja Rp 57.400.000."
Senyum Rian berhenti di tengah jalan.
Di telepon, Putri masih terdengar polos.
"Pak, apakah ini... bagus?"
Rian menatap langit-langit.
Tentu saja bagus.
Masalahnya, lagi-lagi bagus untuk semua orang kecuali dirinya.