NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23 KEBOHONGAN PERMAISURI

***

Langit malam menggantung kelabu, tapi aula dalam istana kekaisaran Valeria tetap bersinar dengan cahaya lentera dan kilauan permata di rambut para bangsawan. Setelah makan malam usai dan Kaisar Agung Severan beserta para petinggi pria beranjak ke ruang strategi untuk membicarakan urusan negara, para nyonya bangsawan pun dipersilakan berkumpul di paviliun dalam yang disiapkan untuk sesi minum teh dan perbincangan santai.

Kata santai adalah eufemisme, tentu saja.

Paviliun itu megah, dindingnya dihiasi lukisan perburuan kerajaan, vas porselen dari timur jauh, dan kursi empuk berlapis kain brokat. Di tengahnya terdapat meja panjang berisi teko-teko teh dari berbagai wilayah kekaisaran, manisan anggur kering, kue kayu manis, dan cangkir porselen yang terlalu rapuh untuk disentuh dengan tangan gemetar.

Iris duduk anggun di kursinya, gaun safirnya jatuh sempurna tanpa satu lipatan pun meleset. Perutnya yang membuncit perlahan membuat posisinya harus lebih santai, tapi wajahnya tetap tenang, seolah ia duduk di singgasana kecilnya sendiri.

Di sekelilingnya, para Duchess, Countess, dan Baroness berkicau seperti burung merak yang sedang bersolek. Ada yang membicarakan karpet langka dari negeri gurun, ada yang menyombongkan perhiasan zamrud hasil tukar dagang dengan kerajaan laut selatan.

“Dan tentu saja,” suara nyaring seorang Countess menyela, “anakku yang baru saja bertunangan dengan Marquis dari wilayah timur itu akan mendapat pesta tiga hari tiga malam. Kami bahkan menyewa pemusik dari utara, seperti yang Grand Duchess pernah undang dalam pesta pemburuannya, bukan?”

Iris hanya tersenyum tipis. Ya, tentu saja mereka akan menyebut-nyebutnya untuk menambah kredibilitas cerita.

“Bicara soal perburuan,” kata seorang Baroness gemuk, “Grand Duchess pernah menjatuhkan seekor rusa putih hanya dengan satu tembakan, bukan? Ah, betapa mempesona.”

“Keberuntungan,” ucap Iris datar. “Dan rusa itu kebetulan terlalu malas untuk lari.”

Beberapa wanita tertawa kikuk.

Permaisuri istana duduk di ujung meja, mengenakan gaun emas pucat dengan taburan kristal. Rambut emasnya tersusun sempurna, dan dagunya sedikit terangkat. Sejak tadi ia hanya mengamati—menahan diri agar tidak terlihat gelisah oleh kenyataan bahwa terlalu banyak mata yang tertuju pada istri sang Grand Duke, bukan dirinya, sang Permaisuri.

“Aneh ya, betapa mudah kekaguman berpindah,” ucap Permaisuri sambil menuang teh ke cangkirnya sendiri, tanpa menoleh. “Dulu semua bicara soal putri dari selatan... sekarang, rasanya semua mata tertarik pada... Utara.”

Kata Utara dilafalkan dengan nada dingin, seolah menyebut tempat itu seperti menyebut nama penyakit.

Iris tak menjawab. Ia hanya menyesap tehnya pelan. Rasanya seperti bunga melati yang diteteskan di tengah medan pertempuran.

“Tapi memang, Grand Duchess Ravengard berbeda,” sambung Permaisuri, kali ini langsung memandang Iris dengan senyum tipis. “Bukan hanya karena posisinya. Tapi juga... karena daya tahannya. Apalagi dalam kondisi... hamil.”

Beberapa wanita langsung ber-ooh, memuji Iris atas keberaniannya datang ke istana meski tengah mengandung.

“Luar biasa sekali bisa tetap tampil sempurna meski sedang berbadan dua,” puji seorang Countess. “Saya saja dulu seperti kerbau lumpur waktu mengandung.”

“Dan saya seperti naga lapar!” timpal yang lain, membuat tawa kecil terdengar.

Iris tersenyum. “Saya merasa lebih seperti peri yang kehilangan sayapnya... sedikit goyah, tapi tetap bisa berdiri.”

Tawa mengalun lembut. Tapi belum sempat hening turun, Permaisuri meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klik kecil yang sengaja dibuat.

“Berbicara tentang kehamilan,” katanya, nada suaranya dibuat ringan, “saya pikir sudah saatnya aku mengumumkan... bahwa aku juga tengah mengandung.”

Keheningan langsung menggantung di udara. Seperti permadani yang tiba-tiba ditarik dari bawah kaki semua orang.

“Calon pewaris kekaisaran,” lanjut Permaisuri, menepuk perutnya yang masih datar seperti lantai marmer. “Semoga menjadi Kaisar Agung masa depan... atau permaisuri jika beruntung.”

Reaksi para wanita langsung beragam—ada yang berdiri setengah dan menyalami, ada yang berseru kagum, dan beberapa langsung menjilat seperti serigala kelaparan.

“Oh, Yang Mulia... betapa luar biasanya!”

“Istana akan bersinar kembali dengan bayi pewaris kekaisaran!”

“Berita terbaik tahun ini!”

Iris tetap duduk tenang. Ia menyesap tehnya lagi. Kali ini agak lambat.

Dalam hatinya, ia bergumam,

Ya ampun... ini bukan sesi minum teh, ini kompetisi siapa yang punya rahim paling istana.

Matanya menatap Permaisuri sebentar, lalu menoleh ke arah cangkirnya.

Dan perutnya masih lebih datar daripada meja ini... tapi sudahlah.

Salah satu Duchess yang lebih muda duduk dekat Iris mencoba ikut berbicara.

“Grand Duchess, apakah sudah bisa merasakan gerakan kecil dari sang bayi?”

Iris mengnoduk pelan. “Sudah beberapa kali. Ia tampaknya suka menggeliat kalau saya sedang duduk terlalu tegak. Sepertinya tidak suka protokol.”

“Oh!” Seruan kecil keluar. “Bayi pemberontak!”

“Tentu. Ia anak Grand Duke Darian,” ucap Iris sambil tersenyum simpul. “Pemberontakan itu... warisan dari ayahnya.”

Tawa kembali terdengar. Bahkan beberapa wanita bangsawan tampak menahan senyum geli.

Permaisuri mengedipkan matanya, wajahnya masih tersenyum, tapi jelas ada kilat kecemburuan di sana.

“Tentu kita semua berharap bayi-bayi kita tumbuh sehat,” katanya pelan, “...dan cukup kuat untuk tak hanya menjadi pewaris, tapi pemimpin.”

Iris menatapnya. Tatapannya tenang, tapi ada api halus di baliknya.

“Itu pasti. Tapi... kekuatan seorang pemimpin tidak selalu ditentukan oleh siapa yang lahir lebih dulu. Atau siapa yang berasal dari istana.”

Satu detik hening.

“Kadang,” lanjut Iris sambil menyeka bibir dengan serbet sutra, “yang lahir dari tanah beku... tumbuh menjadi yang paling tangguh.”

Para bangsawan mendesah kagum—beberapa bertepuk pelan, pura-pura memuji kecerdasan verbal, padahal menikmati ketegangan yang memanas.

Permaisuri tersenyum tipis. Tapi kini senyum itu lebih seperti goresan retak pada cermin mahal.

**

Udara malam di paviliun Timur istana Valeria terasa lebih menusuk dibanding biasanya. Musim semi telah mendekati ujungnya, membawa aroma tanah dan angin utara yang mulai menggigit tulang.

Di dalam kamar pribadi Grand Duke dan Grand Duchess, perapian di sudut ruangan menyala pelan, lidah apinya menari lembut, menciptakan bayangan hangat di dinding marmer pucat. Iris duduk di kursi berlengan tinggi yang dilapisi kain beludru, tubuhnya dibalut gaun tidur satin warna gading yang jatuh lembut mengikuti bentuk tubuhnya yang tengah mengandung. Rambut peraknya dikepang rapi ke samping, sebagian jatuh ke depan bahunya. Selendang wol kelabu tersampir di kedua bahunya, menutupi sebagian leher dan punggung.

Di sisi kirinya, Lisa—pelayan setia itu—berdiri dengan tenang, memegangi secangkir teh hangat yang hampir tak disentuh.

Di sisi kanan, Kapten Arven berjaga di dekat pintu, matanya tajam seperti biasanya, tapi wajahnya menunjukkan rasa hormat penuh. Suasana sunyi, kecuali suara angin sesekali menyusup melalui celah jendela batu dan gelegak kayu yang terbakar di perapian.

Iris menunduk, tangan lembutnya mengusap perut yang mulai bergerak liar dari dalam.

“Kamu tidak berhenti sejak kita kembali ke kamar...” gumamnya pelan, suaranya seperti bisikan angin.

Ia menarik napas perlahan dan kembali mengusap perutnya, kali ini sedikit lebih lama, seolah mencoba menenangkan kehidupan kecil yang sedang protes di dalam rahimnya.

“Apa kamu marah, hm?” tanyanya, nada suaranya seperti berbicara pada anak yang sedang mogok. “Atau mungkin tempat ini membuatmu gelisah?”

Perutnya bergerak lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya, membuat Iris meringis kecil dan melipat kakinya sedikit demi kenyamanan.

Lisa melangkah mendekat. “Apakah Yang Mulia ingin saya panggilkan Tabib Eldric?”

Iris menggeleng pelan, tersenyum tipis. “Tidak, Lisa. Ini bukan sesuatu yang bisa diobati dengan ramuan. Hanya... kerusuhan kecil dari penghuni dalam perutku.”

Kapten Arven mengalihkan pandangan ke luar jendela, pura-pura tidak mendengar candaan lembut itu.

Iris menatap api. Ia berbicara lagi, kali ini lebih lembut, hanya untuk didengar oleh satu makhluk kecil di dalam dirinya.

“Ibu tahu ini bukan tempat yang menyenangkan,” bisiknya. “Ada terlalu banyak suara, terlalu banyak sorot mata... dan terlalu banyak kedok.”

Ia berhenti sejenak, mengelus sisi perutnya lagi, lalu tertawa kecil meski lelah.

“Kau mungkin sedang mencoba memprotes semuanya, ya? Dengan menendang seperti ini. Tapi... jangan khawatirkan ibu. Ibu sudah cukup terbiasa dengan dunia yang tak nyaman.”

Kedua matanya menerawang.

“Hanya... jangan tunjukkan semua itu di hadapan ayahmu, sayang. Walaupun Ibu masih sedikit kesal padanya, ya... tapi ibu juga tidak ingin dia khawatir.”

Lisa menunduk, berpura-pura sibuk merapikan selimut. Ia tahu betul, ada luka yang lebih dalam di balik nada lembut sang Grand Duchess.

“Ayahmu itu... kadang terlalu banyak berpikir, dan terlalu sedikit bertanya. Ia bisa mengatur pasukan dan menaklukkan benteng pertahanan di utara... tapi tidak bisa membaca satu raut wajah istrinya sendiri.”

Perutnya bergerak lagi, membuatnya meringis pelan.

“Aduh, iya, iya... Ibu tahu kamu setuju.”

Ia tersenyum kecil, lalu berbisik lagi, “Tapi jangan bilang siapa-siapa... ibu juga masih menyayanginya, walau sedang ingin mencubit wajahnya sampai merah.”

Lisa akhirnya tersenyum tipis.

Tanpa suara, pintu kamar terbuka perlahan.

Darian berdiri di ambang, bahunya masih tegak dengan mantel hitam yang belum dilepas, tapi matanya berubah saat melihat pemandangan di hadapannya.

Istrinya, duduk sendirian di depan api, berbicara dengan lembut kepada bayinya yang sedang menggeliat kesal di dalam perut. Ekspresi wajah Iris tidak seperti yang pernah ia lihat di ruang istana—bukan wajah seorang bangsawan, tapi wajah seorang wanita muda yang tengah berusaha kuat dalam keheningan.

Ia berdiri mematung sejenak.

Lisa menoleh, lalu langsung menunduk memberi hormat. “Yang Mulia.”

Iris langsung menegakkan punggungnya, hampir terlalu cepat. Ia tahu betul siapa yang datang, dan instingnya segera menarik jarak.

“Kau sudah selesai?” tanyanya datar, tanpa menoleh. “Urusan negara selesai sebelum urusan pribadi, tentu saja.”

Darian menutup pintu perlahan, lalu melangkah ke arahnya.

“Negara tidak pernah selesai,” jawabnya pendek. “Tapi... aku salah karena membiarkanmu menanggung malam ini sendirian.”

Iris tak langsung menjawab. Ia hanya menatap api lagi. Saat Darian duduk di kursi di sampingnya, ia baru menoleh sekilas.

“Aku baik-baik saja,” katanya cepat. “Kau tidak perlu khawatir.”

Darian menatap perutnya yang masih bergerak lembut di balik satin.

“Itu... terlihat menyakitkan.”

“Tidak lebih menyakitkan daripada mendengar istrimu dijatuhkan secara halus oleh permaisuri di depan sepuluh nyonya bangsawan.”

Darian diam. Lalu, “Aku dengar. Kapten Arven menyampaikan laporan... secara detail.”

Iris mendengus kecil. “Tentu saja. Kau dan pengawasanmu.”

“Aku... ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Tapi sepertinya, kau lebih dari sekadar baik.”

“Aku tidak membutuhkan perlindunganmu di aula penuh senyuman palsu. Yang kubutuhkan hanyalah... kau hadir. Sebagai suami. Bukan sebagai Grand Duke.”

Darian menunduk. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

Iris menatapnya, matanya jernih tapi dingin.

“Aku tahu kau berjuang dalam caramu. Tapi... jangan berharap aku diam hanya karena kau tidak pandai menunjukkan rasa.”

“Aku bukan benda rapuh yang bisa kau tinggalkan karena kau pikir terlalu sibuk untuk menangani.”

Darian menatapnya. Suaranya pelan.

“Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu sendirian, Iris. Aku hanya... belum tahu bagaimana caranya berada di sisimu tanpa membawa semua beban itu juga.”

Iris menghela napas. Tangan lembutnya kembali ke perutnya.

“Belajarlah. Karena dalam beberapa bulan ke depan, akan ada seseorang di sini... yang akan mengajarkanmu tentang cinta. Tapi dia tak bisa mengajarimu tentang cara mencintaiku.”

Sunyi turun lagi di antara mereka.

Darian akhirnya meraih tangan Iris. Ia tidak bicara, tidak memaksa. Tapi kali ini, genggamannya tak sekuat biasanya. Ia tahu ia sedang dihukum dengan halus.

Iris membiarkannya.

“Kau boleh di sini,” katanya pelan, “tapi jangan bicara dulu. Aku belum selesai marah.”

Darian mengnoduk.

Malam itu, mereka duduk berdua di depan perapian. Tak banyak kata, tapi cukup untuk menyadari bahwa meski dingin masih menyelinap, api kecil di antara mereka belum padam.

Dan di perut Iris, kehidupan kecil itu akhirnya mulai tenang.

***

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!