Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Klan Xie
Asap belerang dan bau amis darah merayap pelan di antara reruntuhan Aula Utama Sekte Awan Langit. Di atas panggung pualam yang hancur berantakan, mayat Zhao Zhentian terbaring kaku tanpa nyawa. Kematian sang pakar tingkat Core Formation dari Kota Megah meninggalkan keheningan mencekam yang menindih jiwa siapa pun di dalam ruangan tersebut.
Langkah kaki Zhao Gou terdengar amat teratur saat ia berjalan menuruni puing-puing panggung. Setiap pijakan sepatunya di atas batu pualam yang retak memicu getaran halus yang membuat jantung para petinggi Klan Xie berdegup kencang secara gila.
Di sudut aula yang terisolasi, Tetua Xie Ba, orang tua Xie Yanfeng, dan belasan pengawal elit Klan Xie berlutut gemetaran di atas tanah. Wajah-wajah yang tiga minggu lalu memancarkan kesombongan tak terhingga di Desa Hutan Kabut kini kehilangan seluruh warnanya. Di samping mereka, Xie Lin yang duduk di kursi roda kayu menangis tanpa suara, membasahi kain gaun mewahnya akibat ketakutan naluriah yang meremukkan sisa-sisa kewarasannya.
Zhao Gou menghentikan langkahnya lima tindak di hadapan barisan Klan Xie. Jubah hitamnya yang koyak melambai lembut tertiup angin malam, dan sepasang mata berwarna ungu keemasan miliknya menatap turun bagaikan seorang penguasa abadi yang menatap serangga di tanah.
"Zhao... Zhao Gou..." suara Tetua Xie Ba bergetar hebat, air mata dingin meleleh melewati kerutan wajah tuanya. "Klan Xie kami... kami tahu kami telah melakukan kesalahan besar! Kami buta! Kami tersesat oleh kesombongan masa lalu!"
Brak Brak Brak
Tetua Xie Ba menghantamkan dahinya berulang kali ke atas batu pualam hingga berkeringat darah. "Ampuni kami, Zhao Gou! Ampuni Klan Xie! Kami rela menyerahkan seluruh tambang batu spirit, seluruh kediaman, dan delapan puluh persen harta kekayaan klan kami kepada keluarga Zhao! Kami mohon... sisakan jalan hidup bagi klan kami!"
Orang tua Xie Yanfeng ikut membungkuk rapat ke tanah, meratapi keputusan mereka tiga minggu lalu yang memilih memutus pertunangan dengan cara yang begitu hina.
Zhao Gou menatap adegan berlutut itu tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di matanya. Rasa iba telah lama hangus dibakar oleh Kitab Pembakar Jiwa Naga.
"Lima puluh batu spirit murah..." bisik Zhao Gou pelan, suaranya jernih menembus keheningan aula. "Tiga minggu lalu di pekarangan rumah panggung kami, kalian melempar lima puluh batu spirit murah ke dada Ayahku, menyuruh kami tahu diri, dan menyebut bahwa keluarga kami adalah sampah buangan yang tidak pantas berada di dunia yang sama dengan kalian."
Setiap kata yang meluncur dari mulut Zhao Gou terasa bagaikan belati es yang menancap dalam-dalam ke dada para petinggi Klan Xie.
"Hari ini, kalian menawarkan seluruh harta klan untuk membeli nyawa kalian?" Zhao Gou terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang sarat akan penyesalan gila. "Kalian pikir harga diri orang tuaku dan air mata Ibuku bisa dibeli dengan harta murah kalian?!"
BUMMM
Zhao Gou mendadak menghentakkan tumit kakinya ke tanah!
Gelombang tekanan aura keemasan dari Tulang Naga Kuno meledak mendatar, menghantam tepat ke dada Tetua Xie Ba dan para petinggi klan!
"Khmm!"
KREKKK
Suara retakan meridian bergema mengerikan secara serentak! Tetua Xie Ba memuntahkan darah segar dan terlempar mundur tiga meter, memegangi dadanya yang mendadak kosong dari seluruh energi Qi. Meridian utama dan Dantian miliknya hancur total dalam sekejap mata!
"Kultivasiku... Dantianku...!" jerit Tetua Xie Ba histeris, menyadari bahwa ia kini telah menjadi orang cacat permanen.
"Membantai kalian semua hanya akan mengotorinya tanganku," ujar Zhao Gou dingin, menatap para petinggi klan yang kini kehilangan seluruh kultivasi mereka. "Mulai hari ini, Klan Xie dicabut dari seluruh hak kebangsawanan di Kota Awan Biru. Seluruh aset klan kalian disita untuk memulihkan penderitaan rakyat yang selama ini kalian tindas."
Tanpa kekuatan kultivasi dan tanpa perlindungan Faksi Utama Kota Megah, Klan Xie yang bangkrut akan hancur dan dilahap oleh klan-klan musuh mereka di Kota Awan Biru secara alami. Ini adalah pembalasan yang jauh lebih menyiksa daripada sekadar kematian instan.
Tiba-tiba, sebuah langkah kaki bergaun putih melangkah maju melewati barisan petinggi klan yang tersungkur.
Xie Yanfeng.
Gadis yang dulu dipuja sebagai dewi tanpa cela di Kota Awan Biru itu melangkah dengan bibir gemetaran dan mata yang bengkak oleh air mata. Di hadapan ribuan murid sekte, Ketua Sekte Feng Wuji, dan para tetua, Xie Yanfeng perlahan-lahan melipat kakinya... lalu berlutut penuh di hadapan Zhao Gou!
Ia menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh lantai batu yang dingin.
"Aku... aku tidak memohon ampunan atas namaku sendiri, Zhao Gou," bisik Xie Yanfeng dengan suara emosional yang pecah, terisak pelan di bawah pendaran cahaya bulan. "Dosa keluargaku dan kesombonganku di masa lalu adalah hal yang tak terampuni. Jika kau membutuhkan nyawa untuk memadamkan sisa amarahmu... ambillah nyawaku."
Xie Yanfeng merogoh lengan gaunnya, mengeluarkan seikat kunci emas dan segel resmi penguasaan seluruh jaringan informasi rahasia Klan Xie, menyodorkannya ke atas tanah dengan kedua tangan yang gemetaran.
"Mulai malam ini, aku... Xie Yanfeng... secara sukarela melepaskan statusku sebagai murid inti dan dewi klan," lanjut Xie Yanfeng dengan ketetapan hati yang teramat pasrah. "Aku rela menjadi pelayan bayangan seumur hidup bagi keluarga Zhao... menanggung rasa malu ini sampai napas terakhirku."
Zhao Gou menatap gadis yang kini berlutut pasrah di bawah telapak kakinya. Rasa penyesalan yang begitu pekat dan kepasrahan murni di mata Xie Yanfeng menandakan bahwa kesombongan klan yang dulu membelenggunya telah hancur total tanpa sisa.
Zhao Gou mengibaskan lengannya, mengendalikan angin tipis untuk menarik segel informasi rahasia itu ke dalam genggamannya.
"Pelayan?" bisik Zhao Gou dingin. "Tetaplah hidup di dalam penyesalanmu, Xie Yanfeng. Jagalah orang tuamu di tanah buangan, dan saksikan bagaimana aku meratakan seluruh musuh keluargaku hingga ke Puncak Kota Megah."
Zhao Gou membalikkan badannya, melangkah meninggalkan rombongan Klan Xie tanpa menoleh kembali.
Ketua Sekte Feng Wuji melangkah mendekati Zhao Gou dengan wajah penuh rasa hormat yang teramat sangat tinggi. Pria pakar Core Formation itu membungkukkan badannya sedikit di hadapan Zhao Gou—sebuah gestur yang membuat seluruh murid sekte terperanjat kaku.
"Saudara Muda Zhao Gou," ujar Feng Wuji dengan suara lantang yang menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Atas nama Sekte Awan Langit, aku mengucapkan terima kasih atas jasamu membongkar muslihat Faksi Utama Kota Megah! Mulai malam ini, aku secara resmi menunjukmu sebagai Murid Inti Tertinggi sekaligus Calon Penerus Ketua Sekte Awan Langit!"
Pernyataan itu adalah kehormatan tertinggi yang pernah diberikan di sepanjang sejarah Sekte Awan Langit. Seluruh murid dan tetua siap bersorak menyambut pengumuman sakral tersebut.
Namun, Zhao Gou menghentikan langkah kakinya. Ia melirik Ketua Sekte Feng Wuji dari sudut matanya, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Ketua Sekte Feng," suara Zhao Gou meluncur tenang, memotong sorak-sorai yang baru saja hendak meledak. "Namun... Sekte Awan Langit terlalu kecil untuk menampung langkahku."
Feng Wuji tersentak kaku, begitu pula para tetua sekte.
Zhao Gou mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang bertabur bintang di atas atap aula yang runtuh. Kota Awan Biru dan Sekte Awan Langit hanyalah panggung kecil dalam perjalanan pembalasan dendamnya. Dalang sejati dari kejatuhan Ibunya dan ancaman pada keluarganya masih bertengger anggun di dalam benteng-benteng megah ibu kota.
"Urusan di kota ini telah selesai," bisik Zhao Gou, pendaran warna ungu keemasan di matanya menyala dalam pendaran niat membunuh yang baru. "Tujuanku selanjutnya... adalah Kota Megah."
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
ttp semangt...💪💪💪
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
adu taktik...bikan tiktok...