Seorang penulis Novel terkenal asal prancis bernama Rempis Pieter Mark, terpaksa harus mendekam di salah satu rumah sakit gangguan jiwa yang terletak di sudut kota Le Mans. Rumah sakit jiwa yang jaraknya cukup jauh dan sangat terpencil itu bernama The Crazy Hospital. Insiden tahun 2004 silam, mengharuskan Niki sebagai seorang istri lebih memilih untuk mengirimkan sang suami ke rumah sakit gila di banding harus kehilangannya. Sebelumnya Rempis telah di tuntut hukuman mati, namun karena perjuangan Niki yang luar biasa, Rempis dikirim ke RSJ dengan masa tahanan yang tak tau sampai kapan. Bagi Rempis sendiri, memilih mati atau RSJ itu sama saja, tak berbeda. Meski mendekam, ambisi gila Rempis dalam menciptakan sebuah karya demi melawan ketidak adilan bagi hidupnya tak pernah pupus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PB#35
Satu jam lebih telah berlalu, penyelidikan terus berlanjut.
"Bagaimana...sudah ada perkembangan?" tanya Miler menghampiri sebagian regu penyelam yang beristirahat sejenak.
"Maaf, Pak. Selain melihat bangkai kapal di kedalaman 610 meter (2.000 kaki) yang masih melayang terombang-ambing, kita belum menemukan bukti lainnya," jelas salah seorang petugas melepas pakaian atmosferik.
Miler terus mencari cara mengenai sikap lanjutannya. Ia juga kerap memikirkan kondisi atau resiko fatal jika dirinya salah mengambil tindakan.
"Begitu ya," singkat Miler kembali menoleh sisi lautan.
Tak berapa lama, seorang penyelam naik ke atas permukaan, memberi suatu isyarat pada petugas yang bersiaga di tepi pelabuhan dan dengan cepat kapal patroli bergerak mendekat.
Dari sudut kejauhan, terlihat penyelam tersebut membantu menaikan sesuatu ke atas kapal patroli, memasukkan kedalam kantong jenazah dan kapal tersebut bergegas kembali menuju tepian.
"Sepertinya, tim A telah berhasil menemukan sesuatu, Pak," ujar petugas berdiri di samping Miler menatap arah yang sama.
Kapal patroli menepi, beberapa petugas menghampiri Miler dengan membawa kantong jenazah yang mereka temukan.
"Lapor, Pak. Tim A berhasil menemukan satu jasad korban dengan penuh luka bakar, berjarak 200 meter dari bangkai kapal, melayang di kedalaman 60 meter," ujarnya meletakkan dan membuka kantong berisi jenazah di hadapan Miler.
"Bawa mayat tersebut ke ruang autopsi sekaligus beritahukan tim forensik untuk segera melakukan tugasnya," jelas Adams masih memandangi betapa hancurnya wajah jenazah tersebut.
"Aneh, kenapa tidak ada luka tembak terlihat di bagian tubuhnya? Bukannya kabar yang beredar saling berbagi tembakkan...berujung hancurnya sebuah kapal?" pikir Miler masih mensiasati perihal tersebut.
Kemudian, Miler kembali mengumpulkan seluruh tim yang bertugas di kawasan tersebut setelah ia selesai memecahkan misteri dalam pikirannya.
"Dari semua yang telah saya amati dengan cukup yakin dan percaya diri, masih ada beberapa mayat yang tertinggal di bangkai kapal tersebut. Periksa kembali setiap ruangan maupun sudut yang masih belum terjamah. Jasad korban yang di temukan tim A sebelumnya, mungkin hanya dia satu-satunya yang mencoba melarikan diri dari ruang tersembunyi."
Benar saja, sedikitpun pikiran Miler tak meleset menebak tragedi yang terjadi. Jasad yang mereka temukan tersebut ialah seorang yang bertugas menjaga kapal selama transaksi di lakukan.
Setelah suara baku tembak terjadi, ia lari bersembunyi dalam ruangan kecil tempat penyimpanan barang.
Ketika kobaran api perlahan mengganas kian membesar, dirinya menerobos paksa kobaran tersebut berniat menyelamatkan diri. Namun, beberapa bongkahan kapal jatuh menghantam tepat di bagian wajah dan tubuhnya.
Kembali ke sisi Delson yang baru tiba di area tambang bersama Gilbert dan rombongannya.
"Panggil seluruh petinggi untuk segera menghadap!" Tegas Delson berdampingan dengan Gilbert.
"Siap, Bos."
Sebelumnya, Delson telah mencari sedikit informasi dari para budak, menyuap beberapa budak tersebut sembari menjanjikan kebebasan jika ada yang bisa memberikannya informasi penting mengenai sosok pengkhianat dalam bisnisnya.
Namun setelah dirinya mendapatkan informasi, bukannya menepati janji, ia justru membunuh informan tersebut.
10 menit kemudian, seorang petugas kembali menghadap Delson dengan membawa beberapa petinggi kawasan tambang.
Delson mengangkat rendah tangannya, memberi perintah pada pengawal untuk segera menyekap 2 orang petinggi yang menjadi targetnya.
Dengan sigap, para pengawal langsung membekuk tubuh target, menekan sejajar lantai ruangan.
"Bos, kenapa....,"
"Diam!" sahut pengawal memukul cukup keras bagian kepala belakang salah seorang petinggi tersebut.
Delson perlahan bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dengan pistol dalam genggamannya, "Sekarang katakan, siapa dalang di balik pengkhianatan yang kalian lakukan!" lanjutnya menodongkan pistol.
"Bos....kami tidak ada..."
Tak menunjukkan belas kasih, jika jawaban di luar dari pertanyaan Delson, pengawal langsung menghakimi target dengan pukulan-pukulan keras.
Bug...!
Bag...!
Bug...!
"Sekali lagi ku ulangi perkataanku, siapa dalang di balik pengkhianatan yang telah kalian lakukan!" jelas Delson semakin mendekatkan jarak pistol dengan salah satu kepala petinggi tersebut.
"Cepat katakan!" sahut pengawal menendang keras perut tersangka.
"Kami tidak ada melakukan pengkhianat...."
Door..!
Door..!
2 peluru Delson mengarah tepat di bagian kepala, menewaskan salah seorang pengkhianat dalam bisnis gelapnya.
Gilbert tertawa kecil, memberikan tepukkan tangan, "Sungguh hiburan yang sangat menyenangkan."
Menyaksikan perlakuan kejam Delson, membuat satu orang tersisa merasakan takut teramat dalam.
Delson melirik ke arah kiri, "Apa kalian tau seberapa besar kerugian yang kuterima dari tindakkan yang kalian lakukan itu? Belum lagi dampak pemberontakkan para budak yang mulai berani menentang kebijakanku!" lanjutnya bangkit berjalan mendekat.
Dengan wajah bersimbah darah, menekan hawa ketakutan dalam diri, meludahi wajah Delson, "Kau pikir...seluruh budak yang bekerja secara paksa itu senang atas perlakuan sikap busukmu selama ini? Baik aku ataupun dia, kami melakukan ini semua atas dasar diri kami sendiri, bukan karena adanya seseorang yang telah mengendalikan kami!" kecamnya menatap Delson penuh amarah.
Delson menarik nafas dalam, menghela kasar nafasnya, mengusap ludah di wajahnya, "Ok baiklah. Aku terima jawabanmu itu," jelasnya langsung mengeksekusi.
Duar...!
Duar...!
Kedua petinggi tersebut yang telah kehilangan nyawanya, tak lain ialah bagian dari sisa-sisa organisasi Revolusi tersembunyi yang di dirikan Rempis pada tahun 90 an.
Meski Rempis sendiri telah membubarkan organisasi tersebut karena suatu alasan pada 2 tahun setelah berdiri, nyatanya gerakkan tersebut tetap di lanjutkan dengan segelintir simpatisan yang masih tersisa.
Bahkan pada masa itu, Delson sendiri tak mengetahui jika Rempis terlibat sebagai ketua sekaligus pendiri organisasi tersebut.
"Kubur mayat mereka bersamaan dengan pembangunan pondasi gudang belakang," lanjut Delson kembali duduk di samping Gilbert.
"Siap, Bos."
Setelah para pengawal pribadi pergi, hanya menyisakan Gilbert dan Delson dalam ruangan.
"Sudahlah, tenangkan dulu pikiran itu. Lagian, kita telah berhasil melenyapkan tikus-tikus penggangu jalannya bisnis kita," ucap Gilbert menepuk lembut pundak Delson.
Disisi lain yayasan, Reus sedang berada di kamar Rempis.
"Aku ingin menanyakan sesuatu," ujarnya duduk di hadapan Rempis.
"Apa aku memiliki kewajiban untuk menjawab semua pertanyaanmu itu?" sambut Rempis menghembuskan kepulan asap ke wajah Reus.
"Aku tidak tau lagi harus menanyakan tentang ini pada siapa selain kamu. Karena di dalam yayasan ini, cuma kamu yang mempunyai kemampuan berpikir di luar batas manusia."
Mendengar ucapan Reus, Rempis justru tertawa sembari menggelengkan kepala, "Aduh aduh...kamu ini, sejak kapan mulai pintar merayu?"
"Aku mengatakan fakta sebenarnya, bukan semata merayu membujukmu menuruti apa yang ku ucapkan."
"Baiklah, aku akan mendengar dan menuruti ucapanmu. Bahkan jika di perlukan, aku akan memberikan solusiku kalau itu memang kamu butuhkan. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat...apa?"
Rempis menuang segelas anggur, menyodorkan di hadapan Reus, "Aku mempunyai satu tradisi ketika ingin menjalin kerjasama dengan seseorang. Tradisi itu ialah bertukar gelas minuman sebagai awal terbentuknya ikatan baru."
Reus bukanlah tipe lelaki yang suka bermabuk-mabukan atau melakukan hal buruk lainnya. Keta'atannya dalam beribadah, menjadikannya pribadi yang lebih baik.
Namun karena ia butuh seseorang untuk membantu memecahkan beberapa kebuntuan dalam pikirannya, ia mengambil uluran gelas Rempis.
"Bagaimana? Jauh lebih baik bukan?" lanjut Rempis tertawa kecil melihat Reus meneguk minuman tersebut.
Setelah selesai mengikuti syarat yang Rempis berikan, Reus mulai menuangkan segala jenis pikiran yang sulit ia pecahkan.
Dimulai dengan hadirnya pihak Adams, perasaannya pada Wury, bahkan idenya ingin menyulap bangunan kosong menjadi tempat pertunjukan teater.
Terus saling berbagi obrolan, membuat keduanya hampir memiliki sisi pemikiran yang sama, terlebih ketika membahas perihal seni.
"Ada baiknya ketika ingin memecahkan suatu masalah, fokus saja pada satu titik masalah itu dahulu, jangan mencampur dengan masalah lainnya," balas Rempis kembali menuang minuman untuk Reus.
"Mengenai teater yang ingin ku bangun, apa kamu bersedia membantuku melatih beberapa pasien terpilih dan juga memberikan beberapa ide yang muncul dalam pikiranmu? Nantinya teater tersebut akan kita buka seminggu sekali dan pemasukkan yang di dapat di bagi menjadi 3 bagian, para pemain, yayasan dan kamu."
Rempis meregangkan tubuhnya, "Ahhh...sepertinya mulai besok rutinitasku bakal semakin sibuk. Soal dana pemasukkan, bagi saja menjadi dua, aku tidak perlu ikut dalam daftar pembagian pendapatan."
Berlalu kesisi Julius yang baru selesai menjalankan tugasnya di kantor pengadilan pusat.
"Hari ini cukup melelahkan, mungkin tidak ada salahnya mencari sedikit hiburan," ujarnya berjalan memasuki mobil.
Julius beranjak pergi menuju danau buatan yang tak begitu jauh dari kantor pengadilan tempatnya bekerja. Setelah sampai di tempat tersebut, bersantai sejenak di kursi pinggiran sembari mengingat kenangan lampau.
Tempat tersebut ialah tempat pertama kalinya ia mengenal Niken. Pertengkaran dalam rumah tangga, membuat Niken enggan berbicara dengannya dalam beberapa hari.
Disatu sisi yang sama, tanpa sepengetahuan Julius, Niken telah berada di tempat itu terlebih dahulu, terduduk saling membelakangi.
"Andai kamu tau apa yang ada dalam pikiranku, betapa hancurnya hati ini mendapat perlakuan sikapmu yang terus mengabaikanku," lirih Julius menatap lurus sisi danau.
"Sepertinya, suara itu terdengar tidak asing bagiku," batin Niken mendengar suara dari arah belakang.
"Semua yang terjadi, kuakui itu memang kesalahanku yang terlibat dalam dunia gelap, hingga akhirnya menjeratku dengan lilitan hutang yang begitu besar. Aku tak punya pilihan lain selain menerima tawaran yang Delson berikan itu," lanjut Julius meremas erat bagian kepala.
Cieee Vio mulai akting genit🤭
itulah takdir.😕