Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Predator " Boss Kecil "
Tiga hari berlalu sejak malam interogasi yang mendebarkan di rumah orang tua Aruna. Bagi Aruna, itu harus menjadi malam terakhir ia sudi berurusan dengan Gavin Alexander. Begitu melangkah masuk ke dalam kamar apartemen pribadinya malam itu, hal pertama yang Aruna lakukan adalah membuka aplikasi chat, menekan profil nomor Gavin, dan mengetuk tombol Block dengan sekuat tenaga hingga layar ponselnya berbunyi klik.
Aruna menarik napas lega, melepaskan seluruh ketegangan yang menghimpit dadanya.
"Selesai. Kembali ke kehidupan normal," gumamnya sembari melempar ponsel ke atas kasur empuknya.
Namun, Aruna terlalu naif. Memblokir nomor seorang Gavin Alexander ternyata sama sekali tidak menghentikan pria itu untuk menginvasi hidupnya.
Pada hari ketiga ini, Aruna baru saja pulang kerja dari kantor Mahesa Group dalam kondisi lelah luar biasa. Sembari melempar tas kerja dan melepas blazer-nya di sofa, ponselnya mendadak berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama "Kanjeng Ratu". Aruna menghela napas, bersiap menerima teror pertanyaan "kapan nikah" atau sindiran seperti biasa. Namun, begitu tombol geser hijau ditekan, dugaan Aruna meleset total. Ibunya menelepon justru untuk memuji habis-habisan berondong berusia sembilan belas tahun itu.
"Aruna! Kamu kok keterlaluan banget, sih? Nak Gavin telepon Mama, katanya nomor dia diblokir sama kamu karena kamu lagi ngambek?" suara ibunya melengking tinggi, penuh dengan nada pembelaan dari seberang telepon.
Aruna terbelalak, nyaris tidak percaya dengan apa yang didengarnya. " Dia.... Telepon Mama?!"
"Mama nggak mau tahu, ya, buka blokirnya sekarang! Kemarin Gavin baru saja mengirimkan satu keranjang besar buah impor segar dan paket suplemen kesehatan premium untuk Papa. Papa kamu senang banget, loh! Katanya tahu saja kalau pinggang Papa sering pegal setelah pulang dari kantor!"
Aruna memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Sifat perfeksionis dan analisis tajamnya mendadak lumpuh menghadapi kelakuan ajaib Gavin.
"Ma, Aruna baru pulang kerja, capek banget. Hubungan Aruna sama dia itu tidak seperti yang...."
"Jangan banyak alasan! Pria baik, muda seperti Gavin itu langka, Aruna. Papa kamu bahkan sudah menjadwalkan main golf bareng Gavin akhir pekan ini"
Pip.
Sambungan diputus sepihak oleh ibunya tanpa memberikan kesempatan bagi Aruna untuk membela diri.
Aruna menggeram frustrasi. Ia membanting tubuhnya ke sofa dengan perasaan jengkel yang memuncak. Kedua orang tuanya sudah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap pesona berondong Sterling itu. Diabaikan, diacuhkan, bahkan diblokir oleh Aruna ternyata sama sekali tidak membuat posisi Gavin goyah. Pemuda itu justru memotong jalur dan menyerang langsung ke jantung pertahanan keluarga Erros di malam hari seperti ini.
***
Sementara Aruna sibuk mengutuknya di apartemen, di sudut lain kota yang remang dan tertutup dari jangkauan hukum, Gavin Alexander sedang menghadapi situasi yang jauh lebih dingin dan mematikan.
Di dalam sebuah gudang kontainer terbengkalai di kawasan pelabuhan logistik, atmosfer terasa sangat mencekam. Aroma oli, karat, besi tua, dan mesiu menyengat udara yang lembap. Beberapa pria berjas hitam rapi dengan senjata api jenis Glock terselip samar di balik pinggang mereka berdiri siaga, membentuk formasi melingkar mengelilingi sebuah peti kayu besar yang baru saja dibongkar paksa.
Gavin berdiri di tengah kegelapan malam itu. Jaket denim longgar yang dikenakannya kontras dengan setelan mahal para anak buah kakaknya. Namun, tatapan phoenix eyes-nya yang intens dan senyum miring asimetrisnya yang biasanya tengil, kini berubah menjadi sedingin es. Di tangannya, sebuah laptop militer berspesifikasi tinggi menyala, menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat, meretas sistem manifes kapal kargo asing yang baru saja merapat di pelabuhan milik Mahesa Group.
Langkah kaki berat terdengar dari balik bayangan kontainer. Dominic Sterling, sang tiran dunia bawah sekaligus kakak kandung Gavin, melangkah maju dengan cerutu yang menyala di jemarinya.
Brak!
Dominic Sterling, sang tiran dunia bawah yang terkenal berwajah dingin tanpa ekspresi, menggebrak meja besi di depannya hingga suaranya menggema memekakkan telinga di dalam gudang. Sepasang netra miliknya berkilat murka, menatap lurus ke arah Max, tangan kanan kepercayaannya yang kini tertunduk kaku.
"Bagaimana bisa jalur hijau kita di pelabuhan bocor?!" geram Dominic.
Suaranya rendah, parau, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.
"Dua puluh unit senapan otomatis pesanan khusus dari Eropa tertahan di bea cukai malam ini. Siapa pengkhianatnya?!"
Di sudut ruangan yang remang, Gavin Alexander Sterling tidak lagi menampilkan wajah polos, tatapan tengil, atau senyum miring jenaka yang biasa ia gunakan untuk menggoda Aruna. Jaket denim longgarnya sudah berganti dengan kemeja hitam legam yang lengannya digulung rapi hingga ke siku, menampilkan guratan otot lengan yang tegap dan kokoh. Ekspresi wajahnya kini dingin, tajam, dan penuh perhitungan memancarkan darah murni keluarga mafia berkedok pengusaha legal yang sesungguhnya.
Gavin melangkah tenang mendekati peti kayu besar yang terbuka, memeriksa sisa nomor seri pengiriman yang tercetak samar di sisi palet kayu.
"Ini bukan kebocoran dari dalam, Kak," ucap Gavin. Suara baritonnya yang tenang seketika menginterupsi badai kemarahan Dominic.
Dominic tidak menyahut, memberikan ruang bagi adik bungsunya untuk berbicara.
"Kelompok rival dari Barat sengaja memasukkan manifes palsu atas nama perusahaan rintisan logistik digital milikku untuk memancing aparat bergerak," lanjut Gavin, jemarinya bergerak cepat memeriksa data di layar laptop militernya.
"Mereka tahu, kalau sistem logistikku lumpuh, jalur distribusi senjata legal maupun ilegal milik keluarga kita akan macet total. Ini taktik adu domba."
Dominic menoleh penuh, menatap adik bungsunya dengan pandangan menilai yang pekat.
"Lalu apa rencanamu? Kita tidak bisa membiarkan barang itu disita, atau bisnis bawah tanah kita akan dipertanyakan oleh aliansi tiga dinasti."
Gavin menarik ponsel dari saku celananya. Sebelum bertindak, ia sempat melirik sekilas ruang obrolannya dengan Aruna. Layar masih menunjukkan tanda centang satu abu-abu, bukti mutlak bahwa ia masih berada di dalam daftar blokir sang manajer cantik. Gavin mendengus geli sesaat, sebuah kilatan emosi manusiawi yang tipis, sebelum akhirnya ia mematikan seluruh perasaan pribadinya dan kembali fokus pada mode tempur.
"Biar aku yang turun tangan langsung malam ini," ucap Gavin dingin. Netra phoenix nya berkilat mematikan saat beralih menatap Max.
"Gunakan jalur logistik cadangan tersembunyi milik starup-ku yang belum pernah terdaftar di sistem pemerintah mana pun. Max, siapkan sepuluh orang terbaikmu. Kita amankan seluruh pengiriman senjata itu sebelum fajar menyingsing."
Gavin melangkah ke meja besi. Dengan satu gerakan tangan yang luar biasa cepat, presisi, dan terlatih, ia menyambar dan mengokang sebuah pistol berperedam yang tergeletak di sana.
Cklek.
"...dan untuk kelompok Barat yang berani bermain-main dengan namaku," Gavin menatap lurus ke kegelapan malam di luar gudang pelabuhan,
"pastikan mereka tahu kalau berondong yang sedang mereka usik ini bisa bertindak jauh lebih kejam daripada kakaknya."
***
Pukul dua dini hari. Hujan badai mengguyur kawasan pelabuhan logistik Mahesa Group dengan brutal. Suara gemuruh langit dan derasnya air menyamarkan suara deburan ombak serta deru mesin kontainer raksasa. Di sudut dermaga yang terisolasi dan gulita, sebuah kapal kargo kecil berbendera asing bersandar dalam senyap tanpa lampu penerangan.
Di bawah guyuran hujan yang membutakan, tampak beberapa pria dari kelompok Barat, rival abadi keluarga Sterling, sedang bergerak tergesa-gesa. Mereka memindahkan peti-peti kayu panjang dari dalam kontainer menuju sebuah truk boks. Di dalam peti-peti itulah dua puluh unit senapan taktis pesanan keluarga Sterling sengaja disembunyikan untuk memicu sanksi aparat.
Mereka mengira jalur pelarian mereka sudah aman. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dari balik tumpukan kontainer setinggi tiga tingkat, sepasang mata elang sedang mengunci pergerakan mereka tanpa ampun.
Gavin Alexander Sterling berdiri tegak di dalam kegelapan. Rambutnya basah kuyup menempel di dahi, mempertegas struktur rahangnya yang kaku dan dingin. Kemeja hitam legamnya kini telah dilapisi oleh rompi antipeluru. Di tangan kanannya, sebuah pistol berperedam suara tergenggam dengan akurasi yang mematikan. Wajah berondong jahil yang biasa menggoda Aruna telah menguap sepenuhnya tanpa sisa, berganti menjadi sosok predator malam yang haus darah.
"Semua posisi sudah terkunci, Bos Kecil," suara parau Max terdengar dari earpiece di telinga Gavin. "Sepuluh orang kita sudah mengepung titik evakuasi mereka."
"Eksekusi," perintah Gavin pendek. Suara baritonnya terdengar datar, dingin, dan melebihi tajamnya angin malam laut.
Pfft! Pfft!
Dua suara desisan pelan merobek keheningan hujan. Dua penjaga kelompok Barat yang berdiri di dekat truk boks seketika ambruk ke lantai beton dermaga. Masing-masing tewas seketika dengan lubang peluru tepat di tengah dada.
"Serangan! Ada serangan!" teriakan panik langsung pecah di kubu lawan.
Suasana dermaga mendadak berubah menjadi medan perang yang bising. Suara tembakan bersahut-sahutan, memercikkan bunga api di antara dinding-dinding besi kontainer yang berkarat. Gavin bergerak dengan kecepatan dan taktik yang luar biasa terlatih. Ia berguling di balik palet kayu, menghindari rentetan peluru musuh yang menghantam beton, lalu bangkit dan melepaskan tiga tembakan beruntun. Setiap peluru yang keluar dari senjatanya selalu menemukan sasaran dengan akurasi mutlak.
Seorang pria bertubuh kekar yang merupakan pemimpin lapangan kelompok Barat, mencoba melarikan diri dengan menghidupkan mesin truk boks yang memuat peti senjata.
Melihat truk itu mulai bergerak, Gavin berlari cepat memanfaatkan tumpukan ban bekas sebagai pijakan. Dengan gerakan akrobatik yang presisi, ia melompat ke atas kap mesin truk yang melaju maju.
Prang!
Menggunakan gagang pistolnya yang berat, Gavin menghantam kaca depan truk hingga hancur berantakan menjadi serpihan tajam. Sebelum si pengemudi sempat mengangkat moncong senjatanya, Gavin sudah lebih dulu menodongkan pistol dinginnya tepat di dahi pria itu melalui pecahan kaca.
"Matikan mesinnya, atau otakmu berserakan di setir ini sekarang juga," desis Gavin. Netra phoenix-nya yang gelap memancarkan ancaman kematian yang membuat nyali pria kekar itu menciut seketika.
Truk berhenti mendadak dengan bunyi decitan ban yang memekakkan telinga. Pria itu langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, tubuhnya gemetar ketakutan melihat kilat iblis di mata Gavin.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh dermaga berhasil dikuasai kembali oleh anak buah Dominic. Max segera mendekati truk, memeriksa isi peti kayu, lalu menoleh ke arah Gavin sembari mengangguk tegas.
"Barang aman, Bos Kecil. Dua puluh unit lengkap tanpa kurang satu pun. Jalur logistik cadangan milik VSDN mu sudah siap memindahkan ini sekarang."
Gavin turun dari kap truk dengan lompatan ringan, napasnya naik turun dengan teratur tanpa riak kepanikan. Ia menyeka sisa air hujan dan cipratan darah tipis di pipinya menggunakan ujung lengan kemeja hitamnya. Pertarungan malam ini selesai, jalurnya kembali bersih.
Gavin merogoh saku celananya yang tahan air, mengambil ponselnya hanya untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda dinding es milik Aruna mencair. Namun, layar gawai itu masih menampilkan status yang sama: pesan-pesannya tetap centang satu abu-abu. Ia masih diblokir.
Gavin mendengus geli. Sebuah senyum miring asimetris yang tipis kembali terbit di wajahnya yang kelelahan namun tetap tampan menawan.
"Kamu sibuk mengacuhkan aku di duniamu yang aman, Kak Aruna," gumam Gavin lirih sembari menatap langit malam yang kelam di atas pelabuhan Mahesa Group.
"Padahal di sini, aku baru saja mempertaruhkan nyawa demi memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengganggu masa depan kita."
***