NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Titik Nol

Aroma nasi goreng mentega menguar di udara, namun suasana di meja makan itu terasa lebih dingin dari lemari es. Savira menghentikan langkahnya di balik pilar pualam besar yang membatasi koridor utama.

Tangan kanannya mencengkeram tali ransel kanvas di bahunya kuat-kuat. Kuku-kukunya memutih menekan serat kain yang kasar.

Suara denting garpu perak yang beradu dengan piring keramik terdengar ritmis. Bunyi itu disusul oleh tawa kecil yang melengking manja. Savira menahan napasnya, membiarkan matanya merekam pemandangan di balik pilar.

Wijaya Dharma duduk tegap di kursi kebesaran berlapis beludru hitam. Kemeja putihnya terlipat sempurna tanpa satu pun kerutan. Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya perlahan ke sisi kanan.

Tangan besarnya memegang sebuah garpu kecil, menusuk sepotong melon madu yang sudah dipotong dadu presisi.

"Buka mulutmu sedikit lagi, Sayang," ucap Wijaya. Nada suaranya dilapisi kehangatan buatan yang terdengar seperti beludru mahal.

Nadia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Gadis berbalut gaun sutra krem itu menengadahkan wajah, menerima suapan buah tersebut dengan senyum lebar. "Papa memperlakukanku seperti anak balita."

"Kamu selalu jadi putri kecil Papa," balas Wijaya pelan.

Sudut bibir Wijaya melengkung membentuk senyum kebapakan yang tampak begitu tulus. Namun, Savira bisa melihat kekosongan absolut di balik sepasang mata hitam pria itu. Senyum itu bukan ekspresi kasih sayang, melainkan kalkulasi dingin seorang pemilik modal yang sedang merawat aset investasi terbaiknya.

Dada Savira berdenyut nyeri. Denyut itu menjalar cepat ke pangkal tenggorokannya, meninggalkan rasa pahit yang membuat perutnya mual.

Di garis waktu sebelumnya, pemandangan ini adalah racun yang ia telan setiap pagi. Dulu, ia akan berdiri di titik yang sama dengan tubuh gemetar, menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuannya menarik perhatian sang ayah. Ia pernah berpikir nilai ujian sempurnanya atau piala olimpiade sainsnya bisa membeli satu tatapan hangat dari Wijaya.

Kini, melihat senyum palsu itu, asam lambungnya bergolak naik. Ia menekan perutnya dengan telapak tangan kiri, memaksa rasa mual itu turun kembali.

Aroma melati samar tercium dari saku kardigannya, tempat ia menyimpan jepit rambut patah peninggalan ibunya. Wangi tipis itu bekerja seperti jangkar penambat kesadarannya. Ia tidak butuh senyum sosiopat itu. Ia tidak akan pernah mengemis lagi.

Savira melangkah maju meninggalkan pilar perlahan. Sol sepatu ketsnya bergesekan dengan lantai marmer, menciptakan bunyi decit yang halus.

Tawa Nadia terhenti seketika. Suasana hangat di meja makan menguap ditarik gravitasi bumi.

Wijaya menarik kembali postur tubuhnya, duduk tegak dan bersandar kaku. Senyum kebapakannya lenyap tak bersisa. Wajahnya kembali menjadi topeng porselen yang tak tersentuh.

Nadia melirik dari sudut matanya. Gadis itu mengambil serbet linen di pangkuannya dan mengusap sudut bibirnya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat.

"Tumben sudah bangun pagi, Vira," tegur Nadia. Suaranya terdengar riang, tetapi sorot matanya tajam memindai celana jins pudar dan ransel lusuh Savira. "Bukannya hari ini libur ujian? Mau ke mana pakai baju kusam begitu?"

Savira tidak merespons. Ia terus berjalan mendekati meja makan panjang tersebut.

Hawa dingin menguar dari tubuh Wijaya. Pria itu mengangkat cangkir teh kamomilnya, meniup permukaan uap panasnya, dan menyesapnya pelan. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Savira. Kehadiran putri kandungnya itu diperlakukan sama persis dengan keberadaan debu di atas meja.

Dulu, penolakan diam-diam ini akan membuat mata Savira panas. Ia akan mematung di samping kursi, menunggu dipersilakan duduk.

Hari ini, Savira menggeser kursi kayu di ujung meja dengan kasar. Bunyi kaki kursi yang bergesekan dengan lantai marmer membuat alis Wijaya berkedut pelan. Savira duduk tegak, menatap lurus ke tumpukan makanan mewah di tengah meja.

Sosis panggang, telur setengah matang, dan tumpukan panekuk disajikan cantik di atas piring emas. Savira mengabaikan semuanya.

Ia mengulurkan tangannya, mengambil selembar roti gandum tawar dari keranjang anyaman terdekat. Ia melipat roti kering itu menjadi dua, lalu menggigitnya tanpa menambahkan selai atau mentega.

Tekstur kasar gandum itu melukai kerongkongannya. Terasa seperti menelan serbuk gergaji basah, tetapi ia terus mengunyahnya dengan tatapan kosong.

Nadia tersenyum miring melihat tingkah Savira. "Oh iya, Vira. Papa baru saja memesan tiket liburan musim panas ke Swiss bulan depan. Kamu mau ikut, kan?"

Nadia sengaja menjeda kalimatnya, memutar gelas jus jeruknya perlahan. "Tapi kamu pasti sibuk mencari beasiswa masuk universitas. Sayang sekali ya."

Pameran kekuasaan yang murahan. Nadia tidak pernah peduli soal beasiswa. Gadis itu hanya ingin menegaskan teritorialnya di depan Wijaya.

Savira menelan kunyahan rotinya susah payah. Ia meraih gelas kaca berisi air putih di hadapannya dan meminumnya hingga tandas. Rasa dingin air itu membasuh sisa roti di kerongkongannya.

"Aku ada urusan di luar," jawab Savira pendek. Suaranya kering, datar, dan sama sekali tidak memiliki emosi.

Ia bangkit berdiri. Tangannya merapikan posisi ransel di bahunya.

Wijaya meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan porselen. Benturan dua benda keramik itu menghasilkan bunyi "klitik" tajam. Sebuah peringatan non-verbal yang selalu ia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya.

Savira menoleh. Matanya bertemu langsung dengan mata hitam pekat Wijaya selama dua detik penuh.

Tidak ada lagi tatapan anak anjing yang memohon untuk disayang. Tidak ada sisa ketakutan atau rasa hormat yang buta. Mata Savira memantulkan ruang hampa yang jauh lebih gelap dari mata ayahnya.

Wijaya sedikit mengernyit. Pria itu menyadari ada sesuatu yang patah dan berubah total dari sorot mata putrinya pagi ini, tetapi egonya terlalu besar untuk peduli. Bagi Wijaya, Savira hanyalah aset pasif yang tidak butuh perhatian ekstra.

Savira memutus kontak mata itu lebih dulu. Ia memutar tubuhnya dan melangkah menjauhi ruang makan.

Pikirannya kini berpacu menyusun rencana bertahan hidup. Buku tabungan bersampul biru milik almarhum ibunya tersimpan aman di resleting terdalam ranselnya. Tabungan rahasia itu berisi sisa warisan pribadi yang tidak pernah diketahui oleh Dharma Group.

Hari ini adalah hari terakhir sebelum sistem audit internal Wijaya mulai memantau pengeluaran semua anggota keluarga menjelang proyek besar bulan depan.

Ia harus pergi ke bank independen di pusat kota siang ini juga. Ia harus memindahkan seluruh dana tersebut ke rekening baru yang benar-benar lepas dari pelacakan sistem perbankan ayahnya. Ia butuh modal uang tunai segar. Uang yang tidak akan membeku saat Wijaya memutuskan untuk membuangnya sebagai kambing hitam.

Logistik waktu mulai terbentuk di kepalanya. Jika urusan bank selesai sebelum pukul dua siang, ia masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan logistik malam nanti.

Uang tunai itu krusial untuk membeli informasi dan menyewa orang di luar radar keluarga Dharma. Malam ini adalah titik nol. Garis awal yang akan menentukan apakah rencananya bisa berjalan atau hancur sebelum dimulai.

Malam merayap pekat di sepanjang jalan layang yang sepi, tempat takdir berdarah keluarga Jayanegara seharusnya dimulai.

Baskara Jayanegara. Kakak kandung Aaron Jayanegara itu dijadwalkan melintasi jalan layang protokol malam ini. Jika sejarah dibiarkan berulang, sebuah truk kargo dengan pelat nomor palsu akan menghantam sisi kanan mobil Baskara, meremukkan tulang rusuk pria itu hingga tewas di tempat.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!