SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 PERTENGKARAN
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Bu Fitri sedang mengangkat jemuran di depan rumah sederhananya itu. Seluruh jemuran cepat kering karena matahari yang sangat panas siang ini.
Ketika hendak masuk ke dalam rumah sambil memegangi jemuran, langkah Bu Fitri tertahan di depan pintu.
Ia melihat anaknya yang pulang, tapi sambil menangis. Memegangi mata butanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan anaknya itu terus meraba jalan menggunakan tongkat.
"Hiks hiks hiks... Huhuuu... Huuu... Hiks hiks..." isak tangis Gendis.
"Loh? Gendis? Kamu kenapa?"
Lantas Bu Fitri masuk ke ruang tamu, menaruh jemurannya, dan segera melangkah cepat menghampiri anaknya itu.
"Gendis?! Ya Alloh, kamu kenapa Nak?" tanya Bu Fitri, sambil berjongkok dan membuka tangan kiri Gendis yang menutupi matanya.
"Ya Alloh... Kamu kenapa Gendis? Kenapa kotor begini mukamu Nak?" tanyanya sambil membersihkan sisa-sisa tanah dan debu yang mengotori wajah anaknya itu.
"Hiks hiks hiks... Huhuuu... Ibuuu... Matakuuu..."
Dengan cepat Bu Fitri membuka ke dua mata Gendis. Dan kaget melihat dua mata anaknya yang putih itu kini berubah merah.
Terdapat banyak pasir dan debu di mata Gendis.
"Ya Alloh Nak... Kamu habis ngapain sih? Kamu jatoh di jalan?" tanya sang Ibu sambil berusaha membersihkan pasir-pasir di mata Gendis.
"Hiks hiks hiks..." Gendis hanya terus terisak sambil merasakan perih yang amat menyiksa matanya.
"Ayok Nak, sini Ibu bersihin."
Bu Fitri segera menuntun tangan anaknya itu, bergegas ke rumah.
Gendis dibantu untuk duduk di bangku ruang tamu olehnya, dan segera saja Bu Fitri ke dapur. Mengambil air menggunakan mangkuk, dan mengambil sebuah kain bersih.
"Hiks hiks hiks... Aduuuhhh..." Gendis masih terisak, sesekali ia mengucek matanya yang perih.
"Jangan dikucek Nak, nanti makin sakit matanya..." ucap Bu Fitri.
Dan dengan pelan-pelan, Bu Fitri membersihkan wajah dan mata Gendis menggunakan kain bersih yang sudah dibasahi.
Bahkan sampai sedikit menyiram mata anaknya itu dengan sisa air bersih di mangkuk.
Gendis mengedipkan matanya saat sudah tak terlalu perih dan sudah bersih dari semua sisa pasir serta debu.
"Kamu habis ngapain tadi di jalan?" tanya sang Ibu.
"Eng... Enggak ngapa-ngapain Bu..." jawab Gendis sambil menggeleng pelan.
"Jangan bohong sama Ibu Nak..." sanggah Bu Fitri.
"Kamu jatoh di jalan?" tambahnya.
Sebenarnya Gendis ingin menceritakan yang sebenarnya. Tentang pembullyan tiga orang siswi tadi. Tapi justru Gendis malah menjawab...
"Iya Bu... Aku jatoh tadi di jalan..." Gendis menutupi kejadian sebenarnya.
Karena ia tahu, kalau sampai cerita, maka Bapaknya pasti tidak akan terima. Dan pasti Bapaknya akan mencari anak-anak itu. Gendis tak ingin terjadi keributan antara Bapaknya dengan keluarga anak-anak itu.
"Kok bisa jatoh sampe mukamu penuh tanah gitu sih Nak? Lain kali ya lebih hati-hati jalannya..." ucap sang Ibu.
"Iya Bu..." jawab Gendis.
"Ya udah, ayok ganti baju dulu. Terus kamu mandi. habis itu kita makan ya..." kata Bu Fitri.
Akhirnya Gendis dibantu berganti pakaian oleh Ibunya. Dan segera ia mandi.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Singkat waktu...
Malam pun tiba...
Bulan purnama yang mulai menanjak lebih tinggi di langit malam ini, mengiringi suara detak jam dinding di rumah Gendis.
Bu Fitri duduk sendirian di ruang tamu. Sedangkan Gendis sudah tertidur di kamar.
Bu Fitri duduk termenung. Matanya menatap ke arah surat di tangannya. Surat dari kepala TU yang tadi siang diberikan oleh anaknya.
Tertulis dengan jelas di surat itu sebuah pemberitahuan jumlah total tunggakan SPP Gendis yang belum dibayarkan 7 bulan ke belakang.
Tunggakan SPP itu sebesar 2.100.000,- rupiah.
Jumlahnya mungkin untuk sebagian orang terasa ringan...
Akan tetapi...
Sama sekali tidak terasa ringan bagi keluarga Gendis...
Bu Fitri duduk merenung, menarik napas dalam-dalam, dihembuskan dengan terasa berat. Sambil dirinya menyiapkan kata-kata yang akan ia sampaikan kepada sang suami.
Tak lama...
Pak Diki pun pulang...
"Krieeettt"
Suara pintu depan yang terbuat dari papan terbuka, Pak Diki masuk, melihat istrinya sedang duduk termenung sendirian di ruang tamu.
"Loh, belom tidur Bu?" tanya Pak Diki.
"Belom Pak." jawab istrinya singkat.
Pak Diki segera menuju dapur, menaruh handuk kotor yang ia pakai untuk mengelap keringat selama kerja di proyek bangunan seharian ini.
Dan, ia kembali ke ruang tamu sambil membawa segelas air putih.
Pak Diki duduk di sebelah istrinya, meminum air yang ia bawa. Dan ia bersandar di bangku.
Menarik napas dalam-dalam, napas penuh rasa lelah karena bekerja.
Sedetik kemudian, ia melihat istrinya sedang memegang sebuah surat di tangannya.
"Apa itu Bu?" tanyanya penasaran.
Bu Fitri tak menjawab. Ia tetap diam duduk tak bergeming sambil menatap surat itu.
Pak Diki pun mengambil surat itu dari tangan istrinya...
Dan dia baca...
Seketika, setelah membaca isi surat tersebut, Pak Diki kembali menarik napas dalam-dalam.
"Gimana Pak?" tanya Bu Fitri.
"Gimana apanya Bu?" Pak Diki malah balik bertanya, sambil menatap sinis ke wajah istrinya itu.
"Ya itu... Gimana bayarnya?" tegas Bu Fitri, juga dengan ekspresi sebal pada suaminya.
"Ya udah, nanti ajalah bayarnya." jawab Pak Diki dengan ketus.
Bu Fitri menatap wajah suaminya, semakin kesal ia mendengar jawaban sang suami.
"Bisa gak sih? Kamu tuh jangan anggap sepele terus urusan begini!" ucap Bu Fitri.
"Siapa sih yang anggap sepele hah?! Aku juga kan kerja! Cari uang!" jawab Pak Diki.
"Iya aku tau kamu kerja. Tapi kapan bisa bayar tunggakan sebesar itu?!"
"Bisa gak kamu diem dulu! Aku baru aja pulang kerja! Capek!" jawab Pak Diki sedikit tinggi suaranya.
"Ya namanya hidup itu emang capek Pak! Tapi kamu jangan jawab enteng begitu terus dong! Minimal cari solusi kek, apa kek!" balas Bu Fitri.
Pak Diki hanya diam, mencoba sabar mendengar ocehan istrinya itu. Sambil memegang surat tunggakan SPP Gendis itu.
"Kamu tau gak? Hutang kita sama tetangga juga udah banyak! Aku udah malu kalo sampe harus ngutang lagi buat bayar SPP Gendis Pak!" tambah Bu Fitri.
"Ya siapa juga nyuruh kamu ngutang terus?! Kan itu juga kemauan kamu Bu!"
"Hah?! Apa?! Kamu ngomong apa Pak?! Kemauan aku?!"
"Iya! Itu kan kemauan kamu buat ngutang! Aku gak nyuruh tuh!"
Semakin kesal dan mendidih darah Bu Fitri mendengar jawaban suaminya yang terasa menyalahkan dirinya.
"Heh! Sadar kamu Pak! Aku ngutang juga buat siapa?! Buat keluarga kita! Buat Gendis bisa makan! Buat Gendis bisa sekolah! Buat kamu juga! Emang kamu pikir kalo kamu lagi gak kerja, semua makanan di atas meja itu aku pungut di jalan?! Aku beli pakek uang ngutang!!" jelas Bu Fitri dengan meledak-ledak.
"Terus kamu sekarang mau apa hah?! Kamu mau apa?! Mau nyalahin aku terus?! Aku juga gak mau sampe gak punya kerjaan!! Aku capek!! Cape!!" teriak Pak Diki.
Gendis yang awalnya tertidur pulas dalam kamar, jadi terbangun karena suara ke dua orang tuanya di ruang tamu.
Gendis terduduk di atas kasur, dengan detak jantung yang mulai cepat...
Dengan perasaan yang takut...
Dengan pikiran yang sudah tahu akan terjadi apa selanjutnya...
"Kan aku udah bilang sama kamu Pak! Cari kerjaan yang lebih baik! Yang bisa dapet bayaran lebih banyak!" kembali suara Bu Fitri terdengar dari dalam kamar.
"Emang kamu pikir cari kerjaan itu gampang?! Emang kamu pikir aku ini siapa?! Anak pejabat?!" jawab sang Bapak.
"Kamu tuh selalu nyari alasan demi alasan terus Pak! Gak pernah ada solusi!!"
"Kamu yang terus-terusan nyalahin aku!!"
Semakin cepat detak jantung Gendis...
Semakin cepat napasnya...
Semakin takut batinnya membayangkan kejadian yang tak diinginkan...
"Kalo kamu begini terus, aku lebih baik pisah sama kamu Pak!!" ucap Bu Fitri dengan penuh emosi.
Dan...
Tanpa aba-aba...
Terjadilah sesuatu yang sudah ditakutkan oleh Gendis...
"NGOMONG APA KAMU?!" teriak sang Bapak.
"AKU MAU PISAH KALO KAMU GINI TERUS PAK!!" teriak Bu Fitri.
PLAKKK!!!
Terdengar dengan jelas di telinga Gendis, sebuah tamparan keras dari Bapaknya kepada Ibunya.
"AAAKKKHHH!!" teriak Bu Fitri merasakan kembali tamparan keras di pipinya itu.
"GILA KAMU PAK!!" teriak sang Ibu.
"KAMU YANG GILA!!" balas sang Bapak.
Gendis dengan jantung yang tak karuan, napas memburu, dan air mata yang sudah mengalir...
Berusaha sekuat tenaga turun dari kasur, sampai terjatuh...
Dengan segera ia menuju ke pintu tanpa ingat dengan tongkatnya...
Masih terdengar suara ribut antara ke dua orang tuanya, saat ia berusaha meraba-raba gagang pintu kamar...
Dan kembali terdengar...
PLAKKK!!!
Suara tamparan keras yang kembali mendarat di pipi sang Ibu.
"Bapak!! Cukup Pak!!" teriak Gendis saat berhasil membuka pintu kamar.
"DIAM KAMU!! GAK USAH IKUT CAMPUR!!" Pak Diki malah membentak Gendis.
"AKU GAK SUKA BAPAK TERUS-TERUSAN MARAHIN IBU PAK!!" Gendis pun berteriak pada sang Bapak.
"BERANI NGELAWAN KAMU SEKARANG HAH??!!" kata Pak Diki.
Dan dengan cepat, penuh emosi mendidih, ia menghampiri Gendis di ambang pintu.
Dan...
Langsung...
PLAKKK!!!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Gendis.
"AAAKKKHHH"
Teriak Gendis sambil terjatuh ke lantai depan kamar. Memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"DASAR KAMU!! ANAK BIKIN SUSAH!! UDAH CACAT, GAK TAU DIRI!!"
Teriak sang Bapak sambil berdiri di dekat Gendis.
"Pak!! Jangan Pak!!" teriak Bu Fitri sambil melangkah cepat, mencoba mencegah kelakuan lebih kasar suaminya pada Gendis.
"APA KAMU??!!"
Dan...
Kembali...
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan lagi mendarat di wajah Bu Fitri, sampai ia terjatuh juga di atas lantai.
"DASAR ISTRI GAK GUNA!! ANAK GAK GUNA!!" teriak lagi Pak Diki.
Dengan emosi yang meledak-ledak, ia segera keluar rumah.
BRAKKK!!!
Suara pintu depan ditutup dengan sangat keras.
.....
.....
"Hiks hiks hiks hiks... Hiks hiks hiks..." Gendis menangis, sambil tergeletak di lantai, memegangi pipinya yang terasa panas.
"Gendiiis... Kamu gak apa-apa Naaak?" ucap Bu Fitri yang segera memeluk anaknya itu.
"Hiks hiks hiks hiks... Ibuuu... Hiks hiks hiks..."
"Hiks hiks hiks Gendiiis..."
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Bulan purnama di atas langit malam ini...
Kembali menjadi saksi bisu...
Atas pertengkaran di keluarga Gendis...
😆😆 lanjut kak👍👍👍