Aku menjalani kehidupan yang baru setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku.
Beruntung ada seseorang yang menolongku dan memberikan kehidupan dengan identitas yang baru.
Akankah kehidupan ku kali ini akan lebih baik?
🌸🌸🌸🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Nyonya!" ucap Niken yang berlari ke arahku.
"Niken?" menengok kebelakang.
Saat ini posisiku sedang berada di ruang makan.
Dia berlari sangat kencang seolah sangat ingin menemuiku setelah mendapat kabar kembalinya diriku.
"Nyonya! hosh.. hosh..Nyonya, tolong maafkan saya" ucapnya sambil berlutut dan menangis.
"Niken nggak perlu seperti itu, bangun" ucapku yang sangat ingin membantunya bangun.
Bekas luka caesar ku masih belum pulih total sehingga aku belum bisa bergerak lebih leluasa dan tidak bisa meraih Niken.
"Saya pantas di hukum karena tidak bisa menjaga Nyonya dengan benar, maafkan saya nyonya"
Dia terus memohon kepadaku meskipun sudah kubilang bahwa tidak apa-apa.
"Niken, bangun ya? semua bukan salahmu, aku terima permintaan maafmu kalau itu memang kesalahanmu"
Niken mendengarkan ucapanku tetapi meskipun dia bangun, dia sama sekali tidak berani menatapku.
"Selama ini, orang yang ingin kutemui saat hilang, salah satunya adalah kamu Niken" ucapku dengan ekspresi sedih
Dia langsung mendongak dan menatapku setelah mendengar ucapanku.
"Saya sangat sedih saat nyonya hilang dan saya sama sekali tidak punya muka untuk menatap wajah nyonya lagi" ucapnya sambil meneteskan airmata
"Niken kemarilah"
Aku memeluknya yang sangat merasa bersalah atas hilangnya diriku sebelumnya.
Dia menangis tersedu-sedu padahal aku bukan siapa-siapa tapi dia merasa sangat khawatir denganku.
"Oh, ya.. apa kamu mau lihat anakku dengan ekspresi sedih?" ucapku sembari menghiburnya
"Haaa.. tidak nyonya, saya sangat ingin menyambut anak nyonya dan sangat senang ingin melihat mereka" mengusap air matanya dengan cepat.
"Haha.. baiklah, setelah aku selesai makan kita kesana! kamu makan juga Niken"
"Terimakasih tapi saya sudah makan nyonya"
Dia merasa canggung setelah hilang diriku tidak seperti saat sebelum aku masih berada dirumah ini yang sudah seperti sahabat sendiri.
Saat ini anakku sedang di jaga oleh 2 orang pelayan yang berpengalaman dalam mengasuh anak sehingga aku tidak khawatir.
Sedangkan Rafael saat ini sedang berada di ruang kerjanya mengurus hal yang penting.
"Max! apa ada petunjuk dimana Leon berada?" ucao Rafael yang merasa kesal.
"Kami sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaannya bos, tidak butuh waktu yang lama dia pasti tertangkap oleh yang lain" jawabnya dengan sangat yakin.
"Tangan kanannya sudah tewas dan anak buahnya hanya tinggal beberapa saja kecuali yang masih berada di kota A"
"Terus awasi dan jangan sampai lengah, aku nggak akan membuat Alexa dalam bahaya lagi karena bajing*n itu" ucap Rafael sangat marah.
"Siap bos"
Setelah melaporkan keadaan Max keluar dari ruang kerja Rafael dibuat khusus di rumah ini saat dia sedang tidak di kantornya.
Dia melanjutkan mengerjakan pekerjaan kantor dan mendapatkan laporan dari sekertarisnya Cristin.
"Pak, besok ada meeting penting dengan perusahaan dari kota C" ucap Cristin di telfon.
"Oke, kamu siapkan saja semuanya dengan benar" jawab Rafael dengan tegas
"Baik Pak"
Cristin bekerja di perusahaan Rafael sekitar 3 tahun dan dia cukup kompeten.
Rafael masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang menumpuk setelah cukup lama menemaniku di kota C selama sebulan penuh.
"Kira-kira istri dan anakku sedang apa ya?" ucapnya yang memikirkan kami.
Sementara itu aku mengajak Niken melihat anakku yang sedang tidur.
Krieett..
Dia terkejut melihat ruangan anakku yang sangat bagus dan cocok untuk kamar bayi.
"Wah, sepertinya Tuan sudah lama menyiapkan ini, saya baru melihatnya hari ini" ucapnya merasa takjub.
Aku sudah mendengar dari Max selama aku menghilang, Niken menjadi tidak terkendali dan terus mencariku kemana pun meskipun hasilnya nihil sehingga dia tidak tahu keadaan di rumah ini sampai akhirnya dia kembali setelah mendengar kabarku sudah di temukan.
"Ayo, kita lihat si kembar" ucapku sambil menggandengnya.
"Ya ampun.. lucu sekali Tuan muda dan Nona muda, mereka sangat mirip dengan Tuan"
Ekspresi Niken sangat mirip dengan pegawai lain saat pertama melihat anakku.
Mereka semua juga berpikir bahwa anakku sangat mirip dengan Rafael terutama Adelio.
"Bukannya nggak adil, aku yang melahirkan mereka tapi semuanya mirip dengan papa nya.. hemm" memasang raut wajah sedih
"Nyonya, kenapa sedih bukannya karena mereka anak Tuan? wajar kalau mereka mirip ayahnya tapi bisa jadi sifatnya mirip Nyonya"
"Niken! kamu sekarang malah membela Rafael ya, hemm.." ucapku sambil merajuk.
"Haha.."
Akhirnya Niken bisa tertawa karena aku bertingkah seperti sekarang.
"Hemm.. sepertinya ada hal yang lucu" ucap Rafael yang tiba-tiba datang.
"Niken, pelankan suaramu nanti anakku bangun" ucap Rafael dengan hati-hati.
"Maaf Tuan, saya permisi"
Niken dan pelayan yang lain menunggu di luar dan membiarkan kami bersama di kamar anak kami.
"Istriku kenapa cemberut?" ucapnya yang terheran.
"Ya, aku marah sama kamu!" jawabku sambil merajuk.
"Apa aku melakukan kesalahan sayang?" ucap Rafael yang bingung.
"Bukan begitu sayang, aku hanya merasa nggak adil, anak kita semuanya mirip kamu. Kata semua yang disini juga begitu" memasang wajah cemberut.
Rafael menatapku sangat dalam dan mendekat ke arahku.
"Sayang, apa kamu mau kita memiliki anak lagi yang mirip denganmu? apa perlu kita mencobanya berulang kali?" bisiknya dengan suara rendah.
"A, apa maksud dari ucapanmu itu? sayang jangan mengatakan hal seperti itu" merasa gugup.
Rafael memelukku dari belakang dan mencium leher belakangku.
"Sayang, aku ingin mempunyai banyak anak tapi melihatmu kesakitan membuatku nggak tega, maaf karena mereka lebih mirip denganku" ucap Rafael yang menyandarkan dagunya di bahuku.
"Suamiku, maaf karena ucapanku sebelumnya. Akhir-akhir ini aku lebih sensitif setelah melahirkan" ucapku sambil mengusap pipi Rafael.
"Jadi sekarang istriku sudah nggak ngambek lagi kan?" ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Iya suamiku"
Rafael sangat perhatian bahkan sebelumnya dia selalu membantu merawat luka bekas caesarku.
Baik sebelumnya maupun sekarang dia tidak berubah sama sekali saat memperlakukanku meskipun kondisi fisikku masih belum kembali seperti saat belum hamil dan melahirkan.
"Suamiku, apa kamu nggak capek?" ucapku yang khawatir.
"Semua yang berurusan dengan istriku, nggak akan ada capeknya" ucapnya dengan yakin.
"Hemm.. sayang, tubuhku sekarang seperti ini, apa kamu nggak masalah?"
"Memangnya kenapa sayang? aku suka apapun itu, yang terpenting kamu sehat dan ada di sampingku seperti sekarang dan jangan pernah meninggalkanku, ya?"
Rafael kembali memelukku setelah memasang ekspresi yang sedih saat mengucapkan kata seperti itu.
"Tentu saja sayang, aku nggak mungkin ninggalin kamu"
Untuk saat ini tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya.
Apalagi sekarang ada anak kami yang butuh sosok ayahnya.
Kuharap semua baik-baik saja dan Leon tidak menculikku lagi atau membahayakan anak-anakku.
Menatap wajah mereka memang sangat mirip dengan Rafael yang sedang memandang mereka dengan penuh kebahagiaan.
"Rafael apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku di balik sikap manismu yang seperti sekarang?" ucap dalam hatiku.
trus si istri hidup kembali mencoba untuk mencintai suami mafianya ituh.
ada yg tau gak judulnya apa.????
plis penasaran sama endingnya
sgt rapi, ga ada typo