SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
...
Langkah kaki mereka kembali memasuki area hotel resor saat jam di pergelangan tangan Gala sudah hampir menyentuh pukul dua dini hari. Lorong VIP lantai atas yang menuju ke arah kamar mereka tampak sangat sepi dan remang-remang. Sesuai kesepakatan dengan Devan, pintu kamar Aira dan kamar Gala sebenarnya bersebelahan langsung. Namun, begitu tiba di depan daun pintu kayu jati yang kokoh itu, jemari besar Gala yang masih menggenggam erat tangan Yaya sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya.
Tanpa perlu banyak kata atau perdebatan, Gala menempelkan kartu akses digitalnya pada slot kamar utamanya sendiri—klek!—lalu menarik lembut tubuh ramping Aira untuk ikut melangkah masuk ke dalam ruangan pribadinya. Pintu ditutup rapat, dikunci otomatis dari dalam, meninggalkan udara dingin lorong Bandung di luar sana.
Aira tidak menolak, tidak juga protes. Sisa-sisa desiran manis dari kencan sederhana di warung pinggir jalan tadi masih membuat jantungnya jedag-jedug gak karuan. Kamar VIP Gala terasa begitu hangat dengan pendar lampu tidur berwarna kuning temaram yang sengaja dibiarkan menyala, memantulkan bayangan mereka berdua di atas lantai parket.
Mereka berdua melempar jaket tebal dan masker masing-masing ke atas kursi kasual, menyisakan Aira dengan hoodie oversize hitamnya dan Gala dengan kaos oblong tipisnya. Alih-alih langsung beranjak ke kasur kingsize yang rapi, Gala memilih untuk duduk di tepi ranjang, menepuk ruang kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Yaya untuk mendekat.
Aira melangkah pelan, lalu mendudukkan tubuhnya mepet di samping Gala, menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berat karena kantuk di bahu tegap sang aktor. Keheningan malam itu terasa sangat damai, menjadi pengantar yang pas untuk sebuah obrolan mendalam, yang selama ini selalu mereka hindari karena ego dan gengsi.
"Om..." panggil Aira lirih, jemari mungilnya memainkan ujung kaos oblong Gala dengan gerakan abstrak. "Om beneran gak menyesal setelah semua yang terjadi? Maksud Yaya... setelah malam tragedi sabun di dapur kemarin, dan sekarang Om malah nekat bawa Yaya ke Bandung?"
Gala terdiam sejenak, menghela napas panjang hingga dadanya naik turun dengan ritme konstan yang berat. Tangan besarnya terulur, mengusap punggung Yaya dengan gerakan naik turun yang sangat menenangkan.
"Kalau Om menyesal, Om gak akan ada di sini malam-malam, gandeng tangan kamu keliling Bandung sambil makan bubur ayam pinggir jalan, Yaya," ucap Gala, suara baritonnya terdengar begitu berat dan jujur di tengah kesunyian kamar. Pria 35 tahun itu menoleh, menatap lekat mata sayu Yaya dari jarak dekat. "Selama bertahun-tahun, hidup Om cuma berputar di lokasi syuting, skenario, dan kamera. Om sengaja bikin tembok tinggi karena takut terluka lagi sama trauma masa kuliah dulu. Om pikir hidup mati rasa kayak gitu udah paling aman."
Gala menjeda kalimatnya, menarik tubuh Yaya agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. "Tapi begitu kamu datang, bertingkah ugal-ugalan, pura-pura takut kecoak! pura pura sakit.. kamu bener-bener ngerusak semua aturan yang udah Om bikin. Pas tiga hari Om pergi kemarin, Om sadar satu hal. Om tersiksa. Om cemburu setengah mati pas liat kamu disentuh cowok lain. Jadi, gak ada kata menyesal di kamus Om sekarang."
Mendengar curahan hati Gala yang teramat jujur, mata Aira mendadak berkaca-kaca karena rasa haru, Air mata bahagianya perlahan menetes, membasahi pipi polosnya.
Melihat kerapuhan wanitanya, Gala tersenyum sangat tipis Jemari besarnya bergerak menghapus jejak air mata di pipi mulus Aira, lalu perlahan menyusup di bawah dagu gadis itu, menarik wajah cantiknya mendongak ke atas. Pandangan mereka bertemu, mengunci satu sama lain dalam kabut kepemilikan yang kini sudah tidak lagi dihalangi oleh dinding pembatas moral apa pun.
Gala menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam.
Cup.
Eksekusi bibir malam ini terasa sangat berbeda dengan kebrutalan penuh tuntutan hasrat pada malam tragedi sabun cuci piring kemarin. Kali ini, Gala mencium bibir manis Aira dengan ritme yang lambat, lembut, dan protektif. Setiap lumatan halusnya terasa seolah-olah dia sedang menyalurkan seluruh rasa sayang, rindu, dan komitmen pria dewasa yang sudah resmi takluk sepenuhnya di bawah pesona sang Tuan Putri.
Sentuhan tangan Gala yang besar dan hangat bergerak lambat menyusuri lekuk tubuh Aira, memperlakukan tubuh ramping gadis itu bagaikan sebuah benda pusaka atau piala penghargaan kaca yang paling rapuh dan berharga se dunia.Tidak ada ketergesaan yang menakutkan, yang ada hanyalah kelembutan tanpa batas yang membuat seluruh persendian tubuh Aira mendadak meleleh tak bertulang, memaksanya untuk memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas kuat kaos oblong hitam Gala dengan tangan gemetaran.
Di bawah temaram lampu tidur kamar hotel Bandung malam itu, atmosfer berganti menjadi sangat panas sekaligus intim saat pakaian mereka satu per satu terlepas, menyisakan penyatuan dua anak manusia yang kini tidak hanya didasari oleh gejolak nafsu biologi semata, melainkan oleh ikatan cinta.
Setiap kali Aira merintih pelan karena sensasi manis dan perih yang kembali menjalar di pangkal pahanya, Gala akan langsung berhenti sebentar untuk menghujani wajah, kening, dan leher jenjang Yaya dengan kecupan-kecupan menenangkan, memastikan wanitanya menikmati setiap detik penyatuan mereka dengan nyaman.
Di sela-sela napas mereka yang berantakan dan saling memburu di atas seprai kasur mewah yang kusut, Gala mendekatkan wajahnya tepat di ceruk leher Yaya yang wangi stroberi. Dia berbisik dengan suara bariton yang sangat rendah, berat, serak, dan terdengar begitu seksinya gak masuk akal di kuping Aira. sebuah untaian kalimat janji suci pria dewasa yang resmi mengunci takdir mereka berdua untuk selamanya.
"Dengar, Airaya... Tatap mata Om," perintah Gala , menatap dalam ke sepasang mata sayu Yaya yang dipenuhi kabut cinta. "Om cinta sama kamu. Mulai detik ini, besok, nanti, atau sampai kapan pun... Galasky Ardayana adalah milik Airaya Greline Pradipta seutuhnya. Tidak akan ada wanita lain, dan Om gak akan pernah lepasin kamu lagi."
Untaian janji suci dan kata cinta yang keluar langsung dari mulut sang aktor terbaik Piala Citra sukses membuat tubuh Yaya menegang hebat merasakan sensasi aneh yang menjalar dahsyat ke seluruh organ tubuhnya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, sekencang remasan tangannya pada bahu kokoh Gala yang dipenuhi keringat tipis penyatuan malam itu. Di atas tempat tidur hotel Bandung yang terkunci rapat, mereka berdua resmi menenggelamkan diri dalam malam yang panjang, mengukir sejarah baru bahwa bujang lapuk karatan itu kini sudah resmi melabuhkan hatinya kepada airaya.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘