SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Malam ke-60 menjadi angka yang sangat sakral di dalam unit apartemen mewah milik Gala. Waktu dua bulan menitipkan sang Tuan Putri Adytama terbukti telah mengubah total seluruh poros hidup sang aktor terbaik peraih Piala Citra. Malam ini, Gala tidak ingin ada daster sapi, tidak ada masakan rumahan dingin, dan tidak ada ruang tamu apartemen yang biasa.
Malam ini, Gala membawa Aira ke sebuah restoran rooftop privat VVIP yang terletak di lantai tertinggi salah satu gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Pusat. Restoran itu sengaja disewa penuh oleh Gala demi mendapatkan privasi. Hembusan angin malam Jakarta bertiup lembut, membawa gemerlap jutaan lampu kota citylight yang membentang indah bagaikan hamparan berlian di bawah langit malam yang pekat.
Suasananya begitu megah. Aira tampil luar biasa cantik mengenakan silk dress berwarna merah marun yang memperlihatkan bahu indahnya, membuat aroma stroberi dari tubuhnya berpadu sempurna dengan wangi lilin aromaterapi di atas meja marmer. Sementara Gala duduk di hadapannya dengan setelan jas kasual hitam tanpa dasi, tampak sangat matang, berwibawa, dan ketampanannya malam ini benar-benar tidak masuk akal.
"Om... ini beneran makan malamnya cuma buat kita berdua aja?" tanya Aira dengan mata berbinar-binar, menatap hamparan citylight di balik dinding kaca besar restoran. "Gak ada orang lain, gak ada kamera publikasi lagi kan?"
Gala terkekeh rendah—suara tawa bariton berat yang selalu sukses membuat jantung Yaya auto-dugem. Pria itu meletakkan gelas kristalnya pelan, lalu menatap lekat sepasang mata sayu milik Aira dengan pandangan yang teramat pekat dipenuhi kabut cinta.
"Gak ada, Sayang. Malam ini dunia cuma milik gua dan lu," bisik Gala lembut, suaranya berat
dan seksi di antara alunan musik klasik yang mengalun samar. Gala tiba-tiba berdiri dari kursinya, melangkah tegap memangkas jarak lalu berdiri tepat di samping tempat duduk Yaya.
"Yaya... tutup mata kamu sekarang," perintah Gala rendah, nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh penekanan misterius.
Aira mengernyitkan dahi indahnya di bawah tatanan rambutnya yang anggun. "Ih, Om mau ngapain sih? Sok misterius banget pake tutup mata segala. Mau ngerjain Yaya ya?" tuduh Aira manja, namun diri-nya yang penasaran tetap menuruti perintah itu. Aira perlahan memejamkan kedua matanya rapat-rapat, menahan kedutan di bibirnya yang tersenyum manis.
Dalam kegelapan itu, Aira bisa merasakan kehangatan tubuh tegap Gala yang mengurungnya dari belakang. Aroma parfum maskulin Gala menyerbu indra penciumannya, disusul sentuhan lembut tangan besar Gala yang hangat meraih jemari mungil tangan kirinya.
Sreeet...
Sebuah benda logam dingin yang melingkar perlahan disusupkan masuk melewati ujung jari manis Aira. Begitu posisinya pas, Gala mengecup punggung tangan Aira dengan sangat lama dan penuh perasaan kasih sayang yang membuncah.
"Sekarang, buka mata kamu, Tuan Putri," bisik Gala parau tepat di telinga Yaya.
Aira membuka kelopak matanya perlahan. Begitu matanya menangkap siluet jari manisnya sendiri, napasnya mendadak tercekat di tenggorokan. Di sana, sudah melingkar dengan sangat pas sebuah cincin emas putih dengan mata berlian berukuran kecil namun pancaran kilaunya luar biasa jernih memantulkan cahaya citylight Jakarta.
Cincin itu tampak minimalis dan elegan di jari lentik Yaya, namun sebagai anak dari Elang Adytama, Aira tahu betul spek barang mewah. Potongan berlian pigeon-blood atau timeless clarity modelan begini harganya gak main-main—sanggup buat beli ginjal satu kecamatan atau setara harga mobil sport mewah keluaran terbaru!
"O-Om Gala... ini..." Aira terbata-bata, matanya melotot lebar tidak percaya dengan jantung yang berdetak ribuan kali lebih cepat, serasa mau copot dari rongga dadanya. Wajah cantiknya langsung memerah padam, sepanas kepiting rebus saking syok dan bahagianya dapet kejutan se-ekstrem ini.
Gala berlutut di sebelah kursi Yaya, satu tangannya tetap menggenggam erat jemari yang sudah dipasangi cincin pengikat tersebut. Mata elang sang aktor menatap lurus ke dalam manik mata Yaya, memancarkan keseriusan seorang pria dewasa yang sudah resmi mengunci takdirnya.
"Ini tanda kepemilikan, Airaya. Biarpun tantangan ada di depan mata, tapi om mau kamu seumur hidup yaya," ucap Gala serius. Suara baritonnya yang berat, rendah, dan seksinya gak ada obat bener-bener membuat seluruh persendian tubuh Yaya mendadak meleleh tak bertulang.
Gala mengusap pipi mulus Yaya yang mulai basah oleh air mata haru. "Om sengaja pasang malam ini, tepat di hari ke-60 kita bersama. Biar kamu tahu, di mata Galasky Ardayana, kamu bukan lagi keponakan, bukan lagi formalitas biologi, tapi calon istri dan masa depan gua. Jangan pernah berpikir buat lepasin cincin ini, dan jangan pernah sekalipun berani berpaling ke laki-laki lain. Karena lu... udah resmi gua kunci jadi milik gua selamanya."
Aira langsung menubruk leher tegap Gala, menangis sesenggukan menumpahkan seluruh rasa bahagia dan haru yang menyesakkan dadanya. Kedua tangan mungilnya meremas kuat pundak jas kasual Gala, menyembunyikan wajah matangnya di ceruk leher wangi maskulin pria itu.
"Y-ya mau lah, Om... Yaya gak akan pernah lepasin cincin ini seumur hidup Yaya! Om Gala bener-bener curang... mainnya gak pake rem bikin Yaya jantungan!" isak Aira manja di sela tangis bahagianya.
Gala tersenyum sangat tipis. Gala merangkul pinggang ramping Yaya, mengangkat tubuh gadis itu dalam dekapannya, lalu menundukkan kepala untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman lembut, dalam, dan lambat di bawah pendar jutaan cahaya citylight kota Jakarta. Malam ke-60 itu resmi menjadi saksi bisu bahwa galasky telah melamar airaya
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘