Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Ke Kantor
Sudah,” jawab Karel. “Aku sudah punya pacar.”
Jawaban yang membuat Yuna melebarkan matanya dengan bahagia.
“Benarkah?” tanyanya untuk meyakinkan.
“Huum.” Karel mengangguk.
Senyum Yuna semakin mengembang. Dia bahagia mendengar ini. “Aku berdo’a semoga kalian berjodoh,” ucapnya.
“Aamiin,” jawab Karel pun dengan senyum.
“Katakan padaku siapa gadis beruntung itu. Apakah dia dari kalangan artis atau model?”
Karel menggeleng. “Bukan keduanya,” jawabnya.
Yuna menatapnya. “Apa Kak Er tidak berniat mengenalkan dia padaku?”
“Bulan depan, aku akan membawa dia datang ke rumahmu dan mengenalkannya langsung padamu,” ucap Karel.
“Janji ya.”
“Janji. Aku memang berencana untuk mengenalkannya padamu dan Leo," jawab Karel.
“Apa aku mengenalnya?” Yuna bertanya lagi. Dia sangat penasaran.
“Rahasia,” jawab Kerel yang membuat Yuna cemberut.
“Jahat, Kak Er.”
“Hahaaaaa. Bukan kejutan jika aku memberitahumu.”
“Ok. Jadi bawa dia segera ke rumahku.”
“Siap.”
“Apa dia bule?” Yuna masih saja penasaran. Sementara Karel tertawa lebar.
“Sabar gadis kecil,” ucapnya. Gadis kecil … panggilan yang masih tersemat untuk Yuna.
“Ok, okey.”
Setelah waktu menunjukkan pukul 11.00. Yuna pamit pada Kerel. Dia memesan beberapa makanan dan minuman untuk dibawa ke kantor Leo.
“Hati-hati,” ucap Karel saat mengantar Yuna.
“Baik,” jawab Yuna. “Kak Er, sehat-sehat ya. Semangat.”
Karel mengangguk. “Semangat,” jawabnya. “Salam buat Tuan muda Leo.”
“Ok, nanti aku sampaikan. Aku juga titip salam buat Tante dan Om, ummm buat calon Kakak ipar juga,” ucap Yuna.
“Siap.”
Karel melambai saat mobil Yuna perlahan menjauh.
Tepat saat itu. Ponselnya berdering.
"Aku berangkat," ucap seseorang di seberang sana.
"Hati-hati," jawab Karel. "Aku akan menjemputmu melalui pintu belakang bandara," lanjut Karel.
Seseorang di sana tertawa kecil. "Ohh memang beda kalau pacarnya seorang artis," ucapnya.
Karel tertawa. "Cepat atau lambat kau harus siap berhadapan dengan kamera dan banyak pertanyaan."
Sementara itu, mobil Yuna melenggang dengan kecepatan sedang menuju kantor suaminya. Dalam hati ia bersyukur, Karel sudah memiliki pacar. Awalnya dia ingin menjodohkan Karel dengan Adel jika Kakaknya itu belum memiliki pacar. Tapi syukurlah, ternyata sudah ada tambatan hati.
Albar sangat hati-hati dalam berkendara. Supir satu ini sangat hafal situasi. Bagaimana ia harus santai, ngebut atau waspada. Dia bukan hanya seorang supir tetapi dia adalah seorang penjaga. Pada kedua sisi jas yang ia kenakan, tersimpan senjata tajam yang siap digunakan kapan saja saat bahaya mengancam.
Seperti biasa, Albar menyalakan audio untuk menemani perjalanan. Dia hanya berani melakukan ini jika dia bersama Nyonya muda atau Tuan kecil. Tidak tidak akan berani menyalakan audio jika bersama Tuan mudanya. Dia sangat tahu jika Tuan mudanya tidak suka kebisingan. Tuan muda lebih suka ketenangan. Saat bersama Tuan muda, Albar menjadi seperti patung.
Sesampainya di perusahaan Leo. Dion sudah menunggunya disana. Lobi khusus untuk kedatangan big boss dan nyonyanya. Sekarang, Yuna tahu jika Leo tidak melewati lobi utama tetapi dia memiliki lobi khusus.
“Selamat siang, Nyonya muda,” sapa Dion sopan sambil membungkukkan badannya setelah ia membukakan pintu untuk Yuna. “Yang cantik,” imbuhnya pelan. 'Kapan lagi bisa memuji Nyonya,' batinnya. Dia akan mati jika Tuan mudanya tahu jadi dia sengaja mencuri waktu untuk memuji Nyonya mudanya.
Yuna tersenyum geli mendengar ucapan Dion. Dia mengelengkan kepalanya. Dan merasa jika Dion memang sangat cocok menjadi asisten Leo. Agar wajah beku itu sesekali tersenyum saat di kantor.
“Siang, Dion,” jawab Yuna.
Itu membuat Dion meleleh. Dia ingin memuji lagi tapi Albar lebih dulu memukul bagian belakang kepalanya.
“Aku akan melaporkannya pada Tuan muda jika kau berani macam-macam.” Gertak Albar dengan suaranya yang galak.
“Ah, kau ini,” jawab Dion kecewa.
“Emmm. Ini untuk kalian,” Yuna memberikan dua box pada Albar. Laki-laki itu segera menerimanya.
“Terima kasih Nyonya muda,” jawab Dion dan Albar serempak.
Yuna mengangguk dan kemudian keluar dari dalam mobil. Dia dengan diantar Dion masuk ke dalam lift khusus yang langsung menuju ruangan Leo.
“Apa beliau masih bekerja?” tanya Yuna.
“Sebentar lagi selesai,” jawab Dion.
Yuna mengangguk dan tak lama pintu lift terbuka. Dion mempersilahkan Yuna untuk masuk dan dia menawari makanan atau cemilan yang mungkin Nyonya mudanya inginkan.
“Tidak ada. Terima kasih,” ucap Yuna.
“Jika begitu, saya pamit, Nyonya muda.”
“Silahkan,” jawab Yuna.
Dion membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan bossnya. Dia kembali ke ruang meeting dan mengatakan pada Leo jika Nyonya muda sudah menunggu di ruangan.
Leo kemudian berbicara beberapa kata sebelum mengakhiri pertemuan siang ini. Setelah itu, ia segera berjalan ke ruangannya.
Pelan, ia membuka pintu dan langsung di sambut senyum cantik yang ia sukai. Leo melangkah ke sofa di mana Yuna duduk disana. Ia mengendurkan dasinya dan kemudian membungkuk untuk mencium bibir Yuna.
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Leo setelah ia duduk disamping Yuna. Dia lebih menunduk untuk mencium perut Yuna.
“Hai, Baby,” sapanya. Dia mencium dengan gemas. Dan sebuah gerakan halus terasa di bibirnya. Itu membuatnya terkejut dan ia semakin menciumnya dengan hati-hati.
“Mom, dia mulai bergerak,” ucapnya dengan degup jantung yang indah. Sentuhan pertama ia dapatkan. Dia sangat bahagia.
Yuna mengangguk dengan binar di matanya.
Leo menaikkan baju Yuna dan mengusap lembut perut Yuna. Ia menempelkan pipinya, berharap mendapat sentuhan lagi.
“Sebenarnya dari kemarin aku merasakan gerakan-gerakan halus tapi hanya sebentar,” ucap Yuna.
Leo mengangguk tetapi tidak beranjak dari perut Yuna.
“Hay, Baby,” sapanya lagi. Ia membuat ciuman kecil lalu mengusap-usapkan pipinya tetapi dia tidak mendapatkan balasan. “Dia menggemaskan sepertimu, hanya menggodaku saja,” komentar Leo.
Yuna terkekeh.
Leo kembali duduk dengan benar dan memperhatikan apa yang Yuna bawa. Sementara Yuna kembali membenarkan bajunya.
“Jangan di tutup,” ujar Leo yang langsung menahan tangan Yuna. Ia menaikkan kembali baju itu.
Yuna membiarkannya. Dia berfikir jika Leo memang masih ingin mengusap perutnya. Dan Leo memang melakukan itu. Dia masih sangat penasaran dengan gerakan imut itu.
“Makan dulu,” ucap Yuna.
Leo mengangguk. Dia lebih mendekatkan dirinya pada Yuna dan ia mencium pipinya.
“Apa tadi Karel membuatkanmu minuman?” tanyanya.
Yuna menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya.
“Hmm, bagus.” Ciuman Leo mulai turun ke leher Yuna. Dan mendorong halus tubuh Yuna hingga bersandar di sofa kulit yang nyaman.
“Daddy,” Yuna berusaha menjauhkan wajahnya. “Jangan menggoda,” cegahnya.
“Tapi aku ingin menggoda,” jawab Leo. Tangannya naik ke atas, dan ia langsung menangkapnya. Membuat Yuna menjerit tertahan.
Leo mencium bibir Yuna, membuat wanita itu tidak bisa berkata apapun selain membalas ciuman panasnya. Leo tidak memainkan waktu seperti saat mereka melakukannya di rumah atau di kastil. Ini lebih terkesan terburu-buru tetapi memiliki keunikan tersendiri. Begitu mendebarkan.
Leo begitu buas tetapi lembut. Membuat Yuna berkali-kali mengigit bibir Leo karena menahan suaranya. Yuna merasa ini benar-benar gila. Tidak terbayangkan olehnya, mereka akan melakukan ini di sofa kantor. Ya, ini adalah pertama kalinya mereka melakukannya di kantor. Yuna selalu menolak untuk tempat satu ini tetapi siang ini, sungguh diluar prediksi. Leo menyerbu begitu saja dan tidak memberinya kesempatan untuk menolak.
“Daddy," leguh suara Yuna begitu merdu. Pada akhirnya suara itu terbebas setelah sedari tadi Leo membungkamnya dengan ciuman.
Leo mencium kening Yuna lalu menyeka sesuatu yang terasa menetes dari bibirnya. Darah.
Yuna terbelalak melihat bibir Leo yang berdarah. Dia segera menyentuhnya.
“Daddy, bibirmu berdarah,” ucapnya cemas.
berhati - hati lah dlam mrangkai kata² wahai tuan suami 🤭