NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Batalkan Pertunangan

"Biarkan mereka datang."

Kalimat itu membuat Oscar di seberang telepon terdiam.

"Ma... maksud Mama apa?"

"Maksudku, jangan kamu urus. Kamu kerja seperti biasa. Aku yang bicara dengan keluarga Teo."

"Tapi ini urusan pertunanganku."

Margaret menatap kaca jendela koridor rumah sakit. Bayangannya di sana tampak lebih kurus setelah semalam tidak tidur, tetapi matanya justru semakin terang.

"Justru karena ini hidupmu, Mama yang harus turun tangan."

Oscar tidak menjawab. Anak itu sejak kecil memang paling mudah bingung kalau ibunya sudah bicara dengan nada seperti mengetuk meja. Dalam kehidupan sebelumnya, kebingungan itulah yang membuatnya digiring Felicia bertahun-tahun. Ia selalu mengira sabar berarti baik, mengalah berarti sayang, dan memberi uang berarti bertanggung jawab.

Sampai semua yang ia punya habis.

"Oz," suara Margaret sedikit melunak, "dengar Mama. Akhir minggu ini kamu pulang. Jangan menemui Felicia sendirian."

"Kenapa?"

"Karena kamu terlalu bodoh kalau perempuan sudah menangis."

"Ma..."

"Aku tidak sedang memuji."

Di sampingnya, Daniel hampir tersedak air minum. Ia menoleh ke istrinya, tetapi Margaret sudah menutup telepon.

Lima hari kemudian, Natalie masih dirawat di RS Telogorejo. Kondisinya membaik, Ethan sudah boleh berada di dekat ibunya, sementara Mia masih keluar masuk ruang bayi untuk pemantauan. Margaret membagi waktu antara rumah sakit dan rumah Lim, tidur seadanya, makan seadanya, tetapi pikirannya tidak pernah kabur.

Pada pagi ketika keluarga Teo seharusnya datang ke rumah Lim, Margaret justru berdiri di ruang tamu dengan blus gelap, rambut disisir rapi, dan dompet kain di tangan.

Daniel baru selesai menyalakan motor bebeknya ketika melihat istrinya membawa Oscar keluar.

"Kita mau ke mana?" tanya Daniel.

"Rumah Teo."

Oscar langsung berhenti. "Ma, bukannya mereka yang mau datang?"

"Kalau kita menunggu mereka datang, mereka akan duduk di ruang tamu kita, minum teh kita, lalu bicara seolah-olah mereka sedang memberi kehormatan pada keluarga Lim." Margaret menatap putranya dari ujung kepala sampai kaki. "Kita datang lebih dulu. Kita yang membuka mulut. Kita yang menutup urusan."

Oscar menelan ludah. "Menutup?"

"Pertunangan ini batal."

Wajah Oscar berubah seperti orang disiram air dingin.

"Ma!"

Daniel menaruh helm pelan. "Maggie, jangan terlalu mendadak. Anak-anak muda ini sudah saling kenal lama."

Margaret menoleh pada suaminya.

"Lama bukan berarti benar."

"Tapi alasanmu apa?"

"Nanti kamu dengar sendiri."

Rumah keluarga Teo berada di gang yang lebih padat, tidak jauh dari deretan ruko kecil. Di depan rumah, ada pot bunga plastik, kursi rotan, dan papan nama toko jahit milik Mama Felicia. Begitu mereka tiba, Felicia sendiri yang membuka pintu.

Gadis itu memakai blus merah muda dan celana panjang putih. Rambutnya diikat setengah, bibirnya diberi lipstik tipis. Wajahnya manis, persis seperti dalam ingatan Margaret. Manis seperti gula yang disimpan di atas perangkap semut.

"Ko Oscar?" Felicia tampak terkejut sekaligus senang. "Kok datang pagi-pagi? Tante, Om, silakan masuk."

Oscar terlihat goyah begitu mendengar suara lembut itu.

Margaret melangkah melewatinya tanpa senyum. "Panggil orang tuamu."

Felicia membeku sebentar.

Dari dalam, Mama Felicia keluar sambil mengelap tangan dengan kain. Papa Felicia menyusul dari ruang belakang, wajahnya ramah tetapi matanya cepat menghitung situasi.

"Ci Margaret, wah, kami malah mau ke rumah nanti siang," kata Mama Felicia. "Silakan duduk dulu. Felicia, buatkan teh."

"Tidak perlu teh," jawab Margaret. "Kami datang untuk membatalkan pertunangan."

Ruangan itu langsung senyap.

Oscar seperti lupa cara bernapas. Daniel menunduk sedikit, jelas kaget meski sudah diberi tanda. Felicia mematung di dekat pintu, wajah manisnya retak.

Mama Felicia tertawa kaku. "Ci Margaret bercanda, ya? Masalah anak-anak jangan dibuat seperti dagang sayur."

"Memang bukan dagang sayur. Karena itu saya datang sebelum kalian membawa omongan ke rumah saya."

Papa Felicia duduk pelan. "Apa Oscar melakukan kesalahan?"

"Oscar salah karena terlalu percaya." Margaret mengeluarkan buku kecil dari dompet kainnya. "Tapi hari ini saya tidak menghitung salah anak saya. Saya menghitung urusan keluarga Teo."

Felicia menggigit bibir. "Tante, kalau aku ada salah, aku minta maaf. Tapi jangan langsung batal begitu. Aku dan Ko Oscar..."

"Jangan pakai tangisan dulu," potong Margaret. "Air mata itu mahal kalau keluar dari orang yang benar-benar terluka. Kalau keluar untuk menutup salah, namanya modal."

Wajah Felicia memerah.

Oscar menatap ibunya dengan mata membesar. Seumur hidup, ia belum pernah mendengar Mama bicara pada calon menantu seperti itu.

Mama Felicia mulai kehilangan senyum. "Ci Margaret, bicara baik-baik. Anak saya perempuan. Kalau pertunangan dibatalkan begitu saja, nama baiknya bagaimana?"

"Nama baik itu dijaga sebelum menerima uang lamaran orang."

Margaret membuka buku kecil itu. Sebenarnya tidak banyak isi di dalamnya. Beberapa angka ia tulis sebelum berangkat, sisanya berasal dari ingatan yang terbakar terlalu dalam untuk dilupakan.

"Keluarga Lim sudah memberi uang lamaran Rp 8.600.000. Selain itu ada kain, perhiasan kecil, dan mesin jahit yang katanya untuk Felicia mulai usaha setelah menikah. Semua dikembalikan."

Papa Felicia mengerutkan kening. "Uang itu sudah dipakai untuk persiapan."

"Persiapan apa?"

"Sangjit, undangan, baju..."

"Undangan belum dicetak. Baju masih kain. Mesin jahit masih ada di ruang depan. Jangan bicara seolah saya tidak punya mata."

Mama Felicia menepuk meja. "Ci Margaret, jangan menghina kami di rumah kami sendiri."

Margaret mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau saya mau menghina, saya akan datang saat arisan dan bertanya kenapa Felicia masih sering dijemput laki-laki bermotor hitam di dekat toko fotokopi."

Felicia tersentak.

Reaksi sekecil itu cukup.

Daniel melihatnya. Oscar juga melihatnya.

"Motor hitam?" suara Oscar terdengar kosong.

Felicia cepat-cepat menoleh. "Ko, itu teman. Aku cuma..."

"Teman yang membuatmu berdiri di depan wartel hampir satu jam?" Margaret bertanya. "Teman yang kamu temui hari Rabu sore saat katanya menemani ibumu beli kain? Atau teman lain yang kamu simpan namanya dengan huruf depan saja?"

Semua darah seperti hilang dari wajah Felicia.

Margaret tidak tahu semua detail dari masa ini. Tetapi ia tahu cukup banyak dari masa depan. Ia tahu Felicia tidak pernah puas dengan Oscar. Ia tahu setelah menikah, perempuan itu akan merendahkan pekerjaan Oscar, mengirim uang ke keluarganya diam-diam, dan ketika ada laki-laki lebih mapan, ia akan membuat Oscar merasa semua salahnya.

Hari ini, Margaret hanya perlu menggoyang pintu. Kebusukan di dalam akan bersuara sendiri.

Papa Felicia menoleh tajam pada putrinya. "Felicia?"

"Papa, Tante fitnah!"

"Kalau fitnah, panggil laki-laki itu sekarang," kata Margaret. "Biar kita tanya di depan semua orang. Atau kita pergi ke wartel itu. Pemiliknya pasti ingat, gadis cantik yang sering telepon sambil menangis manja."

Mulut Felicia terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

Oscar mundur setengah langkah.

Wajahnya tidak marah. Justru itu yang membuat Margaret sakit hati. Anak bodoh itu tampak seperti baru sadar bahwa tanah yang ia pijak selama ini bukan lantai, melainkan lubang.

"Felicia," panggil Oscar pelan. "Benar?"

Felicia menatapnya. Air mata mulai memenuhi matanya. "Ko, aku cuma takut. Kamu baik, tapi keluargamu banyak sekali. Aku takut setelah menikah hidupku susah. Aku cuma butuh teman cerita."

Di kehidupan sebelumnya, kalimat semacam itu cukup membuat Oscar menyerah.

Margaret tidak memberinya kesempatan.

"Kalau takut hidup susah, jangan ambil uang keluarga Lim."

Mama Felicia bangkit. "Cukup! Kalau memang kalian mau batal, batal. Tapi uang tidak bisa kembali penuh. Kami juga rugi nama baik."

"Nama baik kalian murah sekali kalau harganya Rp 8.600.000."

"Ci Margaret!"

"Uang kembali penuh. Mesin jahit kembali. Barang lamaran kembali. Hari ini."

Papa Felicia memejamkan mata.

Ia tahu kalah.

Dalam lingkungan seperti ini, kabar lebih cepat menyebar daripada api di kain kering. Begitu cerita soal laki-laki bermotor hitam keluar, bukan hanya pertunangan Felicia yang rusak. Toko jahit mereka, arisan ibunya, hubungan keluarga besar, semuanya ikut kena.

"Tunggu," katanya akhirnya.

Ia masuk ke kamar belakang. Mama Felicia hendak mengikuti, tetapi satu tatapan dari suaminya membuatnya berhenti. Felicia menangis makin keras, namun tidak ada yang membujuknya.

Beberapa menit kemudian, Papa Felicia kembali membawa amplop cokelat, kotak kecil berisi perhiasan, dan selembar kain batik yang dulu dibawa keluarga Lim saat lamaran.

"Rp 8.600.000," katanya kaku. "Hitung sendiri."

Margaret benar-benar menghitungnya di atas meja.

Lembar demi lembar.

Tidak cepat, tidak malu-malu.

Setiap gesekan uang seperti tamparan kecil di wajah keluarga Teo. Setelah jumlahnya tepat, ia memasukkan uang itu ke dompet kainnya, lalu menunjuk mesin jahit di sudut ruang depan.

"Itu juga."

"Itu..."

"Itu dibeli dengan uang keluarga Lim."

Daniel, yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak. Ia melihat mesin jahit di sudut ruang depan, lalu menatap Papa Felicia. "Saya panggil becak barang."

Nada Daniel tidak keras, tetapi keputusan itu membuat Oscar menoleh. Papa-nya, yang biasanya memilih damai, kali ini berdiri di sisi Mama.

Felicia menangis.

"Ko Oscar, kamu tega?"

Oscar menatapnya lama.

Margaret menahan napas. Ini titiknya. Kalau anak itu goyah, ia akan menyeretnya pulang sekalipun harus menjewer telinganya di depan keluarga Teo.

Tetapi Oscar hanya menunduk.

"Aku tidak tahu harus bilang apa."

Margaret hampir memejamkan mata karena kesal.

Anak ini bahkan saat ditipu pun masih sopan.

Ia menarik lengan Oscar. "Kalau tidak tahu, diam. Mama yang tahu."

Oscar menurut.

Setelah mesin jahit diangkut ke becak barang, mereka keluar dari rumah Teo tanpa menyentuh teh, tanpa pamit manis, tanpa memberi ruang untuk tangisan Felicia bekerja lagi.

Di jalan, Oscar berjalan seperti orang linglung.

Daniel mendorong motor pelan di samping mereka. "Maggie, kamu benar-benar yakin?"

"Aku tidak datang sejauh ini untuk ragu."

"Tapi uang itu..."

"Besok siang mereka kembalikan."

"Kalau tidak?"

Margaret berhenti dan menatap suaminya.

"Kalau tidak, satu gang akan tahu."

Daniel menghela napas. Entah karena takut, entah karena mulai mengenal ulang istrinya.

Oscar tiba-tiba berkata pelan, "Ma, kalau Felicia minta maaf..."

Margaret langsung menoleh.

Oscar mengecil.

"Aku cuma tanya."

"Dengar baik-baik, Oscar. Orang yang salah bisa minta maaf. Tapi orang yang sudah menghitung berapa banyak ia bisa mengurasmu sebelum menikah, tidak sedang salah. Dia sedang memilih mangsa."

Wajah Oscar memucat.

Margaret menepuk dadanya sendiri.

"Selama Mama masih hidup, anakku tidak boleh jadi mangsa siapa pun."

Untuk sesaat, mata Oscar memerah.

Ia menunduk lebih dalam. "Iya, Ma."

Margaret kembali berjalan.

Di tikungan gang, angin membawa bau gorengan dari warung kecil. Hidup tampak biasa saja, seolah hari ini bukan hari ketika masa depan Oscar dibelokkan paksa.

Daniel menyalakan motor. Margaret naik di belakangnya. Oscar duduk di becak barang bersama mesin jahit, wajahnya masih kosong.

Motor mulai bergerak menuju rumah Lim.

Di tengah jalan, Margaret berkata dekat telinga Daniel, "Uang lamaran itu cuma permulaan."

Daniel hampir kehilangan keseimbangan. "Apa lagi?"

"Mulai besok," kata Margaret datar, "semua gaji di rumah harus lewat tanganku."

Motor oleng sedikit.

Margaret memegang besi belakang dengan tenang.

"Jalan yang benar, Daniel. Aku belum selesai."

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!