Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerkom With Crush
Sabtu sore seperti yang direncanakan, Arka berdiri di depan gerbang megah Komplek Sanggaria 1 yang senyap.
Komplek elit ini dihuni oleh keluarga mapan.
Tempat di mana bahkan kucing-kucing jalannya pun kelihatan punya sertifikat ras luar negeri.
Arka merogoh ponsel di saku celananya.
Ia menekan satu kontak cepat sebelum menempelkannya di telinga. "Gue di depan," ucapnya singkat.
Cowok itu langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban.
Tak lama, pintu gerbang berderit terbuka.
Lintang muncul dan tampil kontras dengan kaus santai serta celana rumahan motif beruang.
"Heh, cepet banget, dah. Perasaan baru semenit lalu lu nge-WA bilang baru jalan," seru Lintang keheranan sambil menyandarkan bahu di pagar.
"Gue di Sanggaria dua," jawab Arka datar. Matanya menatap lurus tanpa ekspresi.
"Owalah... Pantesan cepet banget. Tinggal kayang juga nyampe ternyata."
Lintang memberikan kedipan mata yang sengaja dibuat genit. "Jangan-jangan emang jodoh nih kita, kompleknya aja tetanggaan."
"Jadi kerkom nggak? Gue balik nih," tanya Arka dengan wajah yang seolah ingin segera balik kanan dan pulang.
"Ya jadi lah! Masukin motor lu, biar nggak digondol babi," ujar Lintang sambil membuka lebar gerbang besi itu.
Arka menstarter motor ninja hitamnya masuk ke halaman.
Ia memarkirkannya tepat di antara mobil Tesla putih dan Baleno merah yang mengkilap.
Lintang segera berbalik arah dan menaiki anak tangga teras dengan santai.
"Ayo masuk," ajaknya tanpa menoleh lagi.
Arka terpaksa mengikuti dari belakang dengan langkah berat, merasa kayak mau masuk ke ruang sidang.
Bruk.
Lintang menjatuhkan diri ke sofa empuk ruang tamu.
Namun, ia segera kembali tegak saat menyadari Arka masih berdiri kaku tak jauh di depannya.
"Ayo duduk, anggep aja rumah sendiri. Ini kan rumah calon mertua lu juga."
"Najis," maki Arka pelan.
Cowok itu memilih menjatuhkan diri di sofa lain yang terpisah jarak cukup jauh. Seolah-olah Lintang mengandung virus menular.
Tak berselang lama, seorang asisten rumah tangga muncul membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk segar.
"Diminum dulu, biar semangat kerja kelompoknya," ucap wanita itu ramah sebelum kembali ke dapur.
"Makasih, Bi!" sahut Lintang dengan senyum lebar, memecah kecanggungan di ruangan yang luasnya mirip lobi hotel tersebut.
"Jadi, kita mau bikin apa?" tanya Lintang sambil menumpukan sikunya di lutut.
Ia menyangga dagu dengan tatapan penuh tanya ke arah Arka.
"Terserah," jawab Arka dengan nada yang benar-benar tidak membantu.
Lintang langsung menghela napas panjang.
"Ck. Lu kayaknya terpaksa banget ya kerja kelompok sama gue?" tanya Lintang dengan nada tersinggung melihat minimnya antusiasme cowok itu.
"Enggak," sanggah Arka.
Namun, cowok itu menyadari kebisuan ini bisa menimbulkan salah paham yang lebih buruk.
"Gue nggak pernah bikin prakarya," lanjut Arka dengan nada yang sedikit melunak. "Jadi gue ngikut aja apa yang lu mau."
"Oh, seperti itu," gumam Lintang sambil mengangguk-angguk kecil.
Detik berikutnya, ia langsung berdiri penuh semangat. "Yaudah, ayok ikut gue ke atas."
Arka mendongak, menatap Lintang dengan ragu. "Kemana?"
"Ikut aja dulu, jangan banyak nanya. Nggak bakal gue apa-apain kok, belum sah!" perintah Lintang.
Gadis itu langsung melangkah menuju tangga tanpa menunggu jawaban Arka.
Ruangan rahasia milik Lintang itu penuh dengan tumpukan benang rajut berbagai ukuran dan kawat bulu warna-warni.
Berbagai hasil karyanya tersusun rapi di rak kaca layaknya koleksi museum seni pribadi.
"Kebetulan hobi gue bikin kerajinan tangan, jadi kita nggak perlu repot patungan bahan," jelas Lintang sambil melangkah lebih dalam ke ruang kerja tersebut.
Arka menoleh ke sana kemari. Ia mengamati ruangan yang penuh dengan nuansa warna-warni itu dengan saksama.
"Lu udah punya ide mau bikin apa?"
"Banyak, makanya gue bingung milihnya," jawab Lintang sembari berkacak pinggang. "Kan Bu Rihka cuman ngizinin satu kelompok buat satu jenis karya aja."
Arka memperhatikan deretan boneka rajut, gantungan kunci, baju-baju kecil, hingga bando berkarakter di sekelilingnya.
"Ini... lu semua yang bikin?"
Lintang mengibaskan rambutnya dengan gerakan dramatis yang penuh percaya diri.
"Iyalah... lu pikir siapa lagi? Siluman pesugihan? Makanya kalau punya cewek kayak gue, nggak akan malu-maluin karena bakat gue banyak."
Arka hanya bisa mendengus kesal.
Ia menyesal telah mengajukan pertanyaan yang justru memancing ego Lintang naik ke langit ketujuh.
"Yaudah, bawa aja koleksi ini buat nilai prakarya kita," usul Arka sambil menunjuk sekumpulan boneka kecil segenggam.
"Dih, enak aja! Nanti kalau laku gimana?!" protes Lintang dengan nada keberatan yang sangat jelas.
"Ya dapet duit," jawab Arka singkat dengan logika yang sangat realistis.
"Nggak, nggak! Kita harus bikin yang baru, jangan pakai koleksi gue," tegas Lintang bersikeras.
"Lagipula kalau buat prakarya, mending yang simpel tapi rapi. Kan Bu Rihka nggak minta yang estetik banget."
"Ya terserah," jawab Arka yang seketika membuat Lintang merasa ingin meremas ginjal cowok menyebalkan itu.
"Hiihh, untung gue naksir. Kalau enggak, udah gue hanyutin ke sungai amazon dari tadi," gerutu Lintang dengan muka memerah.
"Yaudah, ayo kita bikin boneka kawat bulu aja."
"Gue nggak bisa," aku Arka dengan jujur.
Baginya, kerajinan tangan serumit belajar prosedur bedah organ manusia.
"Nanti gue ajarin, ganteng. Udah sekarang duduk dulu, sini!"
Lintang menarik tangan Arka dengan paksa hingga cowok itu terduduk di sampingnya.
"Kita bikin boneka kawat bulunya sepuluh aja. Lu lima, gue lima. Nggak usah banyak-banyak, kita cuman mau ngambil nilai bukan ikut komunitas UMKM," celoteh Lintang.
Ia mulai menyiapkan bahan kawat bulu jumbo.
Lintang mengambil sebatang kawat bulu berwarna cokelat, lalu melipatnya membentuk telinga kelinci yang lucu.
"Perhatiin nih. Lu tekuk bagian ujungnya kayak gini, terus puter biar kenceng," instruksinya sembari membimbing tangan Arka.
Arka menatap kawat itu dengan dahi berkerut. Ia mencoba mengikuti gerakan tangan Lintang yang sangat lincah.
"Susah," keluhnya saat kawat itu justru terlihat berantakan di tangan kasarnya.
"Pelan-pelan, jangan pakai otot, pake perasaan," sahut Lintang sambil terkekeh melihat wajah serius Arka.
"Nih, kalau udah jadi polanya, tinggal lilit pakai kawat bulu yang lebih kecil biar rapi."
Arka mencoba lagi dengan lebih hati-hati. Ia mengikuti setiap instruksi Lintang dengan ketelitian tinggi.
Tak disangka, ia mulai bisa membentuk kaki boneka yang meski belum sempurna, setidaknya terlihat seperti seekor hewan.
"Tuh, bisa kan? Lu cuman kurang sabar aja," puji Lintang.
Pujian itu sempat membuat suasana mendadak hening selama dua detik.
Arka hanya diam. Fokusnya kembali tertuju pada kawat di tangannya agar tidak terlihat kikuk di depan gadis itu.
"Satu selesai," gumamnya pelan, merasa sedikit puas dengan hasil karya pertamanya yang aneh.
"Nah, tinggal empat lagi," ujar Lintang ceria.
Ia menyadari bahwa sore itu mereka akan menghabiskan banyak waktu dengan kawat bulu.
"Mau dijual berapaan?" tanya Arka tanpa mengangkat pandangannya.
Jemarinya terus bergerak kaku menyulap kawat bulu menjadi bentuk boneka yang masih samar.
"Goceng aja," jawab Lintang enteng.
Gadis itu sudah menyelesaikan kawat bulu kelimanya dengan gesit, sementara Arka masih bergelut dengan kawat bulu kedua yang tampak tidak karuan.
"Kemurahan," keluh cowok itu dengan nada datar. Suaranya terdengar tidak puas dengan angka yang baru saja disebutkan Lintang.
"Lah, ngapain mahal-mahal? Kita udah kaya, warisan kita banyak."
Lintang mencerocos dengan nada sombong yang khas. "Lagian kalau laku semua kan dapet gocap, lumayan banget buat beli bensin eceran."
Memang tidak bisa dipungkiri, fakta bahwa keduanya lahir dari keluarga konglomerat membuat nominal uang bukanlah masalah besar bagi mereka berdua.
Hening menyelimuti ruangan selama beberapa detik, hanya menyisakan suara gesekan kawat yang sesekali beradu.
Lintang memanfaatkan waktu tersebut untuk memperhatikan Arka yang tampak benar-benar kebingungan saat mencoba membuat pola.
"Bisa kagak? Lama amat dari tadi, gue aja udah selesai semua nih," ujar Lintang sambil memamerkan deretan lima boneka kawat bulu yang rapi di atas meja.
"Sabar. Susah banget ini," gumam cowok itu pelan.
Ia masih berusaha keras mengatur tekanan tangannya agar kawat bulu tersebut tidak terlalu penyok atau terlihat aneh.
Nyatanya, di mata Lintang, hasil karya Arka sudah terlalu banyak bagian yang bengkok tidak beraturan.
"Anjir! Gak usah pake tenaga dalam nekuknya. Buset, ini kawat bulu, bukan kerangka besi buat bangunan, Arka!"
Arka melepaskan kawat itu dari tangannya.
Ia menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan ujian matematika yang sulit.
"Bahan ini emang gampang banget melintir kalau kesenggol dikit," pembelaannya terdengar sangat tidak meyakinkan.
Lintang terkekeh melihat wajah kesal Arka yang jarang sekali tertangkap kamera, apalagi hanya karena sebatang kawat bulu.
"Ya makanya, lu harus main cantik. Jangan kayak lagi mau ngebongkar mesin motor ninja lu itu."
Gadis itu kemudian bergeser lebih dekat ke sisi Arka. Jemarinya yang lentik meraih kawat yang sedang dikerjakan sang cowok.
"Sini, gue benerin dikit biar nggak kayak korban tabrak lari," ucapnya lembut sembari membenahi lengkungan pada bagian kaki boneka tersebut.
Arka terdiam sejenak, membiarkan Lintang melakukan tugasnya dengan sangat teliti.
Ia tidak bisa menyangkal kalau berada sedekat ini dengan gadis yang sering bawel itu ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.
"Nih, kalau udah bener bentuknya, tinggal lu tambahin mata sama hidung dari manik-manik," instruksi Lintang sambil memberikan kembali boneka setengah jadi itu ke tangan Arka.
"Tangan lu aja yang nerusin, gue males kalau harus nempel-nempel gitu," sahut Arka dengan nada malas yang dibuat-buat, meskipun sebenarnya ia mulai menikmati kegiatan tersebut.
"Dih, ogah! Kita kan harus bagi tugas biar nilai prakaryanya adil."
Lintang melempar tatapan jenaka ke arah Arka. "Lagian ini kan buat modal nikah kita nanti."
"Sinting," umpat Arka.
Meski begitu, tangannya tetap bergerak fokus melilit kawat bulu berikutnya.
Akhirnya, sepuluh ekor boneka beruang dari kawat bulu jumbo berhasil diselesaikan dengan susah payah.
Nyatanya, selama proses pembuatan, Arka jauh lebih sering bertanya, "Ini gimana?" daripada mengerjakan bagiannya sendiri.
Tangan kekar yang biasanya lihai mengunci lawan di matras silat itu benar-benar tak berdaya menghadapi kawat bulu.
Lintang tersenyum puas sambil menata sepuluh boneka beruang berukuran mini itu di atas meja kerjanya.
Di tengah kesunyian ruangan yang mendadak melingkupi mereka, sebuah suara asing tiba-tiba memecah keheningan.
Rrrrr.
Lintang refleks menolehkan kepalanya, menatap tajam ke arah perut Arka. "Lu laper, Ka?"
"Nggak," sanggah Arka cepat dengan wajah sedatar papan tulis.
Cowok itu membuang muka, berpura-pura sibuk merapikan sisa-sisa potongan kawat bulu di lantai. Padahal, memang benar perutnya baru saja berdemo meminta haknya.
Rrrr.
Suara denguran dari dalam perut itu kembali terdengar untuk kedua kalinya. Kali ini bahkan jauh lebih nyaring daripada yang pertama.
Lintang langsung tertawa terbahak-bahak sampai pundaknya naik-turun.
"Nggak usah bohong kali, Ka. Gue nggak bego-bego amat buat bedain suara kentut sama suara perut laper," ledek Lintang dengan mata menyipit jenaka.
Arka hanya terdiam kaku. Ada sedikit semburat tipis yang samar di pangkal lehernya karena menahan malu, namun ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak runtuh.
Lintang bangkit berdiri dari karpet, menepuk-nepuk bagian belakang celana beruangnya.
"Ayo, makan di rumah gue aja. Bibi pasti udah masak banyak di dapur bawah," ajak Lintang penuh semangat.
"Nggak usah, gue pulang aja," tolak Arka langsung.
Ia bersiap untuk mengemas ponselnya dan bangkit berdiri dari posisinya.
"Udah sih, nurut aja kenapa," ujar Lintang, menghalangi langkah Arka.
"Lagian lu cuma disuruh makan siang, bukan diajak maling jemuran. Tenang aja, makanannya nggak bakal gue kasih sianida cinta kok."
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Lintang langsung menyergap dan menarik pergelangan tangan Arka dengan paksa.
"Udah, ayoo! Jangan banyak drama, nanti kalau lu maag gara gara telat makan, gue juga yang repot ditanyain calon mertua," cerocos Lintang sambil menyeret cowok itu keluar dari ruang kerjanya.
Arka sempat menahan kakinya selama satu detik.
Namun, melihat tarikan Lintang yang begitu bersikeras dan rasa lapar di perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi, cowok itu akhirnya mengembuskan napas pasrah.
Ia membiarkan dirinya dituntun menuruni anak tangga oleh gadis mungil berisik di depannya.