NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Tuhan, CEO kita tampan sekali!

Justru karena Bastian pernah mengucapkan kalimat sekejam itu di awal, aku sama sekali tidak pernah merasa bersalah selama tiga tahun kami bersama.

Mengenai kartu kredit black card yang diberikan Bastian, aku tidak pernah menyentuh atau menghabiskan uangnya sepeser pun. Dalam benakku, logikanya sangat sederhana: dia memanfaatkan tubuhku, dan aku memanfaatkan wajahnya. Hubungan kami murni hanya barter suka sama suka, jadi posisi kami sama.

Jadwal liburan ke luar negeri akhirnya tiba seminggu kemudian.

Hari itu, aku sudah berada di bandara bersama seluruh staf divisi administrasi. Beberapa karyawan junior tidak bisa menyembunyikan rasa gembira mereka. Mereka sibuk saling mengambil foto untuk kemudian diunggah ke status media sosial masing-masing.

Aku memilih berdiri sedikit menjauh di sudut, mengamati interaksi seru mereka dengan senyum tipis yang tersungging di bibir.

"Memang ya, kita tidak bisa melawan usia! Dulu waktu pertama kali masuk kantor ini, kita sama-sama masih segar dan kelihatan awet muda. Coba lihat sekarang, rasanya sudah mulai layu dan pudar," celetuk Bu Ratna yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia datang sambil menyeret koper kulit berwarna biru muda, lalu merangkul bahuku dengan satu tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.

"Yang mulai layu dan pudar itu cuma kamu, bukan aku," sahutku cepat sambil menoleh ke arahnya dengan senyum meledek. "Bu Ratna, kudengar akhir-akhir ini ada karyawan baru dari divisi sebelah yang sedang rajin mendekatimu, ya?"

"Aduh, jangan dibahas," sahut Bu Ratna. Begitu topik itu diangkat, dia langsung melepaskan rangkulannya dari bahuku dengan ekspresi lesu. "Setiap kali musim penilaian kinerja karyawan tiba, pasti ada saja daun muda yang mendadak mendekatiku. Awalnya aku sempat percaya kalau mereka benar-benar naksir, tapi ujung-ujungnya aku tahu mereka cuma mau cari muka biar nilai rapor kerjanya aman."

Mendengar keluhannya, aku tidak bisa menahan tawa. "Bukankah itu bagus? Setidaknya kamu punya kesempatan untuk cuci mata melihat daun-daun muda yang tampan. Walaupun tidak sampai pelaminan, minimal kamu bisa menikmati prosesnya, kan?"

Karena aku terus menggodanya, Bu Ratna menyenggol lenganku dengan sikutnya agak kencang. "Jangan malah membahas aku. Hubunganku tidak ada yang bisa diandalkan. Bagaimana dengan nasibmu sendiri? Pak Bastian sekarang kan sudah resmi menikah dengan orang lain. Kamu tidak berencana untuk terus menunggu dia seperti orang bodoh, kan?"

Aku menoleh ke arahnya, hanya tersenyum tipis tanpa berniat memberikan jawaban apa pun.

Ternyata di mata orang-orang kantor, citraku diidentikkan dengan sosok wanita yang sangat setia?

Menunggu dengan sabar. Ungkapan itu terdengar sangat romantis sekaligus menyedihkan jika diterapkan padaku.

Melihatku hanya diam membisu, Bu Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. "Ah, memang benar ya kata orang. Seorang wanita sebaiknya jangan pernah bertemu dengan pria yang terlalu sempurna di awal masa mudanya. Kalau tidak, standar pemikirannya akan terlalu tinggi dan dia akan kesulitan menemukan pria lain yang bisa memikat hatinya. Kamu ini terlalu ambisius, Mara."

Tepat saat Bu Ratna sedang asyik menasihatiku, suara teriakan heboh mendadak terdengar dari arah kerumunan anak-anak divisi administrasi. Kami berdua otomatis menoleh bersamaan. Di sana, di belakang kerumunan karyawan, Bastian tampak baru saja berjalan masuk. Dia terlihat sangat berbeda hari ini; hanya mengenakan jaket bomber putih casual dan celana santai, ditemani Rian yang berjalan di sampingnya sambil membawakan koper.

"Demi Tuhan, CEO kita tampan sekali!" bisik Bu Ratna tepat di telingaku sambil menelan ludah. "Ini pertama kalinya aku melihat Pak Bastian memakai pakaian santai di luar jam kantor. Auranya benar-benar berbeda."

Dia memang harus diakui tampan. Bastian memiliki proporsi tubuh yang atletis. Biasanya dia selalu menampilkan citra pebisnis elit yang kaku dan berwibawa melalui setelan jas formalnya. Pilihan gaya berpakaian kasual hari ini justru membuatnya terlihat jauh lebih muda dan mudah didekati.

"Amara, jujur saja ya. Waktu awal-awal aku masuk perusahaan ini dulu, aku juga sempat naksir berat dengan Pak Bastian. Tapi itu cuma bertahan satu bulan. Setelah tahu wataknya yang sedingin es batu begitu, aku langsung mundur. Membayangkan harus tidur satu kamar dengan pria sekaku itu saja sudah membuatku merinding duluan," ujar Bu Ratna, setengah bercanda namun setengahnya lagi terasa jujur.

Aku hanya membalas ucapannya dengan senyum simpul tanpa niat meluruskan faktanya.

Satu hal yang sama sekali tidak diketahui oleh Bu Ratna adalah bahwa Bastian saat berada di atas ranjang sama sekali tidak memiliki sifat dingin. Dia justru penuh dengan gairah dan kehangatan yang meledak-ledak; lengannya akan melingkar kuat di pinggangku, mengunci tubuhku dalam dekapan yang sangat erat.

Lamunanku tentang memori intim itu mendadak terputus saat ponsel di dalam saku celanaku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat sebuah pesan singkat dari Bastian: "Mau duduk di sebelah saya?"

Aku melirik ke arah area VIP tempat Bastian berada. Dia tampak sedang menunduk menatap layar ponselnya sendiri dengan jemari yang bergerak mengetik. Aku segera mengetik dua kata balasan: "Tidak perlu," lalu menekan tombol kirim.

Setelah mengirimkan penolakan tersebut, aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, lalu menggandeng lengan Bu Ratna dengan santai. "Ayo, sebaiknya kita segera masuk ke dalam untuk melewati pemeriksaan bagasi."

Jika harus menunjuk satu orang di lingkungan Group Wijaya yang paling bisa kuajak bicara secara santai, Bu Ratna adalah orangnya. Wanita ini memiliki usia yang sepantaran denganku. Dia memang tipe orang yang cerdik dan bermulut tajam, tetapi dia sama sekali tidak memiliki niat jahat dan selalu membuka obrolan apa adanya.

Aku masih ingat betul saat awal-awal aku bekerja di kantor ini dulu. Kabar mengenai aku yang terobsesi pada Bastian langsung menyebar luas ke seluruh divisi dalam waktu singkat. Setiap kali aku berjalan menuju kantin kantor, semua pasang mata akan menatapku dengan pandangan aneh yang merendahkan. Beberapa orang yang bermulut lancang bahkan tidak segan-segan berbisik-bisik secara terang-terangan tepat di hadapanku.

Pada saat itu, aku sama sekali tidak peduli dengan semua gunjingan mereka. Bagiku, ketika hati seseorang sudah mati, segala bentuk cibiran dari luar tidak akan pernah bisa melukainya lagi. Waktu itu aku menjalani hidup tak ada bedahnya seperti mayat hidup. Hanya saat menatap wajah Bastian-lah, aku bisa merasakan desiran halus di dadaku yang menandakan bahwa aku masih hidup.

Suatu siang di kantin, ketika beberapa karyawan divisi lain kembali menyindirku dengan kalimat kasar, aku memilih diam dan tidak berniat membalas. Namun Bu Ratna yang kebetulan sedang makan di meja yang sama denganku, mendadak berdiri dan langsung menumpahkan sisa kuah makanan ke atas piring orang-orang bermulut tajam itu.

Sejak kejadian hari itu, hubungan kami otomatis mencair menjadi sepasang sahabat dekat. Meski begitu, batasan pertemanan kami hanya sebatas urusan bergosip tentang kantor, makan siang bersama, atau berbelanja di akhir pekan. Aku tidak pernah sekalipun menceritakan status hubungan rahasiaku dengan Bastian kepadanya, apalagi membagikan trauma masa laluku.

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!