NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Janji

Bukan Sekedar Janji

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:38.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nhay_23

Hubungan persahabatan yang terjalin antara Reyhan dan juga Nehta, harus berubah karena sebuah ikatan pernikahan yang terjadi karena keinginan Hanifah, neneknya Reyhan.
Hanifah ingin sekali melihat Reyhan menikah sebeluk akhir hayatnya. Karena Reyhan telah gagal menikah sebanyak dua kali. Maka dari itulah, Hanifah meminta Nehta agar menikah dengan Reyhan.
Tidak ingin membuat Hanifah kecewa, akhirnya Reyhan menuruti keinginan neneknya.
Lalu bagaimana kelanjutan pernikahan mereka, setelah kepergian Hanifah? Akankah berakhir bahagia atau tidak? Terutama dengan kehadiran Sara, perempuan yang begitu terobsesi dengan Reyhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhay_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berusaha Bangun dan Menghindar

Sebelum Nehta membuka matanya, indra pendengarannya lebih dulu menangkap suara dari sekelilingnya.

Begitu matanya terbuka, dia terkejut dengan keadaannya yang duduk terikat di sebuah kursi. Bukan hanya itu, ternyata dia berada di sebuah ruangan gelap.

Ingin berteriak tapi tenggorokannya kering. Air. Dia butuh air untuk sekedar membasahi tenggorokannya.

Nehta bisa mendengar dengan jelas suara tawa laki-laki dari luar ruangan dimana dia di sekap. Rasa takut mulai menyelimuti perasaannya.

Semakin sering mereka tertawa, kilasan-kilasan memori seolah tengah di putar layaknya kaset. Bayangan dirinya dan juga dua anak laki-laki pernah di sekap, kemudian di kejar-kejar segerombolan anjing penjaga.

Kepalanya berdenyut nyeri, seakan-akan otaknya tengah berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal ingatannya. Tapi ingatan itu begitu kuat dan mulai terlihat dengan jelas. Rasanya seperti baru saja merasakan semua itu.

“Kak Nathan...” Lirih Nehta.

Air matanya terjun bebas, mengucur tanpa henti, membasahi pipinya.

Bukan hanya kepalanya yang sakit, tapi juga hatinya. Hancur, sehancur-hancurnya, mengingat kembali kejadian yang dua puluh tahun silam dia alami. Bahkan sampai membuat kakaknya meninggal.

Dia merasa jadi adik yang tidak berguna, kakaknya sudah mengorbankan dirinya untuknya, tapi dengan gampangnya dia melupakan keberadaan Nathan. Meskipun yang Nehta tahu, dia sudah meninggal.

“Reyhan...” Nama kedua yang keluar dari mulut Nehta adalah nama suaminya.

Setelah sakit kepalanya mereda, Nehta berusaha meminta air. Meski terdengar lirih, tapi itu lebih baik, daripada dia tidak berusaha sama sekali.

“Air...” Hanya satu kata itu saja yang mampu Nehta ucapkan saat ini.

Sekuat tenaga, Nehta mengangkat kepalanya, saat pintu ruangan itu terbuka. Samar-samar dia bisa melihat, bahwa laki-laki yang ada di hadapannya adalah Gibran.

“Nehta? Kamu nggak apa-apa?” Gibran mencoba melepaskan tali yang mengikat tubuh Nehta.

“Gibran... Air...”

“Kita keluar dulu dari sini.” Gibran menggendong Nehta tanpa ada penolakan darinya.

Kemana perginya para penjaga? Apa Gibran yang membuat mereka pergi? Jadi dia bisa masuk dan menolongku? Batin Nehta.

Gibran mendudukkan Nehta di kursi samping pengemudi. Lalu memberikan sebotol air mineral kemasan pada Nehta.

“Tidurlah, kamu pasti lelah. Nanti aku bangunkan setelah kita sampai.” Ucap Gibran dengan lembut.

Nehta tak menyahut, tapi matanya terpejam. Mungkin efek sakit kepalanya atau bisa jadi karena kelelahan, Nehta tertidur begitu saja.

...*****...

Enam jam sebelumnya

“Kamu masih hidup? Lalu siapa yang dikuburkan oleh orang tuamu?” Reyhan merasa ada hal yang tidak diketahuinya.

“Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, kita harus mencari Nehta!” Alex atau laki-laki yang memiliki nama asli Nathan itu tidak ingin membahas hal lain dulu.

Baru saja Alex bicara begitu, Arman dan juga Jordan masuk ke dalam ruangan. Keduanya mendapatkan titik terang di mana keberadaan Nehta. Namun titik yang mereka temukan berbeda. Meskipun Arman dan Jordan serta anak buahnya  sama-sama mengandalkan CCTV jalanan, dan kemungkinan-kemungkinan orang yang terlibat dalam penculikan Nehta.

“Shitt. Mereka pasti sengaja mengecoh anak buah kita.” Alex meninju udara sambil mengumoat

“Kita berpencar, cari Nehta sesuai titik yang mereka dapatkan. Dengan begitu peluang untuk menemukannya lebih mudah.” Saran Reyhan.

“Arman. Hubungi ayah, minta padanya untuk menghandle perusahaan. Tapi untuk sementara ini jangan beritahu siapapun soal Nehta!”

“Baik, tuan.” Arman begitu karena ada Alex dan juga Jordan di sana.

Alex dan juga Reyhan pergi menuju ke titik yang di temukan, beserta dengan beberapa anak buahnya dan juga asisten tentunya.

Setengah jam mereka tempuh untuk sampai ke tempat itu. Tapi ternyata, lagi-lagi mereka di bohongi. Baik Reyhan maupun Alex menahan kesal dan juga khawatir. Karena yang bisa dia lakukan hanyalah mengumpat dan meninju udara yang tak bersalah.

Reyhan menemui Alex di mansionnya, untuk pergi ke suatu tempat.

Reyhan menatap sebuah foto keluarga yang menggantung kokoh di ruang tengah. Foto itu terdiri dari sepasang suami istri dan tentunya Alex sendiri.

“Ada tamu rupanya.” Sapa seorang perempuan paruh baya.

“Ah iya, selamat sore tante. Saya Reyhan.” Reyhan menundukkan kecil kepalanya.

“Tante Veronica, mamanya Alex. Kamu, cucunya nyonya Hanifah, kan?”

“Tante kenal nenek saya?”

“Hmmm... Dulu tante, langganan di butiknya. Tapi semenjak Nehta tidak bekerja di sana lagi, saya tidak pernah datang lagi. Bunda dan adikmu itu sudah membuat tante kecewa.” Sesalnya.

“Maaf kalau sudah membuat tante kecewa.”

“Tidak apa-apa. Mau minum apa?” Tawar Veronica.

“Tidak perlu ma. Setelah ini, Alex dan Reyhan mau pergi ke Semarang.”

“Semarang? Kok mendadak?”

“Nanti Alex cerita. Tapi sekarang, Alex harus pergi dulu.” Pamitnya.

Alex dan Reyhan memilih perjalanan menggunakan pesawat terbang, menurut mereka lebih cepat lebih baik.

Mereka sampai di bandara Jenderal Ahmad Yani menjelang maghrib. Sebelum melanjutkan misi, mereka menyempatkan diri untuk sholat dan makan.

“Kenapa titiknya ada di hotel?”

...*****...

Terbangun dari tidurnya, Nehta sudah berada di kasur empuk dengan nuansa putih dan krem di sekelilingnya. Kasur empuk, suhu ruangan yang nyaman. Nehta pikir dia tengah tertidur di apartemennya. Tapi ternyata bukan, ini bukan kamarnya.

Nehta terduduk, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.

Ceklek

Gibran terlihat keluar dari kamar mandi dengan keadaan bertelanjang dada dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Nehta baru ingat, bahwa yang menolongnya tadi adalah Gibran. Tapi melihat Gibran yang baru saja mandi, Nehta buru-buru mengecek pakaiannya. Sedetik kemudian dia merasa lega, karena pakaiannya masih lengkap.

Laki-laki itu mendekat dan duduk di samping Nehta. Setelah meme

“Kamu udah bangun? Gimana, apa masih ada yang sakit?”

“Aku nggak apa-apa, Gibran. Makasih udah nolongin aku. Apa boleh aku pinjam ponsel kamu?”

“Untuk apa?”

“Aku mau menelpon, Reyhan. Aku mau pulang. Reyhan pasti khawatir sama aku.”

Brak

Pyarr...

Nehta sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Gibran. Karena laki-laki itu melampiaskan kekesalannya dengan mengacak-ngacak meja nakas yang ada di samping Nehta. Membuat lampu meja dan juga gelas yang berisi air putih jatuh berserakan ke lantai.

“Reyhan. Reyhan, selalu Reyhan yang kamu sebut. Padahal aku pacar kamu. Aku yang menolong kamu. Tapi ini balasan kamu?” Teriak Gibran.

“Gibran...” Nehta mulai ketakutan.

“Tolong hargai aku, Nehta!” Gibran semakin diliputi amarahnya.

Nehta sampai terjingkat karena bentakan dari Gibran. Saat Gibran lengah, Nehta berlari menuju pintu untuk keluar.

“Mau kemana?” Gibran mencekal tangannya.

“A-aku mau pulang. Tidak. Aku harus pulang.”

“Kamu tidak boleh pulang. Sebelum aku memiliki kamu seutuhnya.” Gibran menggendong Nehta seperti membawa karung beras.

Melemparkan tubuh yang lebih kecil darinya itu ke atas tempat tidur.

Begitu terhempas di sana, Nehta langsung berusaha bangun dan menghindar dari Gibran.

Gibran menarik kaki Nehta, hingga kini tubuh perempuan itu berada di bawah kungkungannya.

1
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
fatimatuz zuhriyah
👍
Nhay_23: /Rose/
total 1 replies
Yenni Lestari
next
Nhay_23: siap kak 🤗
total 1 replies
Sallymach Zahra
bagus lanjutkan 👍
Nhay_23: makasih kak, siap lanjutkan 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!