NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 - Bukan Salahku Lagi

Dua hari sebelum akad Bella, Bu Ratna datang lagi.

Kali ini ia datang pagi-pagi, saat Nadia baru selesai menyiram tanaman di halaman. Raka masih di kamar, melakukan latihan napas ringan yang dianjurkan dokter. Mesin jahit belum berbunyi. Rumah kecil masih tenang.

Nadia melihat Bu Ratna berdiri di pagar, wajahnya kusut.

"Ada apa?"

Bu Ratna tidak menjawab langsung.

"Boleh Ibu masuk?"

Nadia menatapnya beberapa detik.

"Di teras saja."

Bu Ratna menelan sesuatu, lalu mengangguk.

Mereka duduk berhadapan. Nadia tidak membuat teh. Ia sedang belajar bahwa adab tidak selalu berarti menyajikan minuman untuk setiap orang yang datang membawa beban.

"Bella tidak mau memakai baju akadnya," kata Bu Ratna.

Nadia diam.

"Dia menangis sejak subuh. Katanya bajunya terlalu ramai. Katanya semua orang akan menertawakannya. Dia ingin model seperti baju buatanmu."

Nadia hampir tertawa, tapi bukan karena lucu.

Karena hidup memang punya cara aneh membuat orang berputar kembali ke pintu yang pernah mereka hina.

"Lalu?"

Bu Ratna menatapnya.

"Nadia, bisakah kamu bantu?"

Nadia bersandar.

"Bantu apa?"

"Ubah baju Bella. Tidak perlu banyak. Mungkin kurangi payet, rapikan potongan, buat lebih sederhana. Kamu bisa, kan?"

"Bisa."

Wajah Bu Ratna langsung sedikit lega.

"Tapi aku tidak mau."

Lega itu pecah.

"Nadia..."

"Bu Ratna, dua hari sebelum akad, Ibu datang meminta aku memperbaiki baju perempuan yang merebut calon suamiku karena dia ingin terlihat seperti desainku?"

"Jangan selalu ungkit itu."

"Kenapa? Sudah kedaluwarsa?"

Bu Ratna menahan napas.

"Ini bukan tentang masa lalu. Ini tentang akad Bella. Kalau dia terus menangis, semua bisa kacau."

"Akad Bella bukan tanggung jawabku."

"Dia adikmu."

"Kalimat itu hanya muncul saat Bella butuh sesuatu."

Bu Ratna memejamkan mata.

"Ibu tahu kamu marah. Tapi kamu sekarang sudah bahagia. Kamu punya Raka, punya rumah, punya usaha. Bella tidak punya apa-apa selain akad ini."

Nadia menatapnya dingin.

"Bella punya Arman. Bukankah itu yang dia rebut?"

Bu Ratna terdiam.

Di dalam rumah, pintu kamar terbuka. Raka keluar pelan, tidak langsung mendekat. Ia berdiri di ruang tamu, cukup dekat untuk mendengar kalau Nadia butuh, cukup jauh untuk tidak mengambil alih.

Bu Ratna melihatnya.

"Mas Raka, tolong nasihati Nadia. Ini hanya soal baju."

Raka menatap Bu Ratna.

"Kalau hanya soal baju, Bu Ratna bisa mencari penjahit lain."

"Waktunya mepet."

"Berarti masalahnya waktu, bukan Nadia."

Nadia menunduk menyembunyikan senyum.

Bu Ratna mulai putus asa.

"Saya akan bayar."

Nadia mengangkat wajah.

"Dengan uang siapa?"

Bu Ratna tersentak.

"Uang saya."

"Bukan uang seserahan yang dulu ingin Ibu ambil dariku?"

"Nadia, cukup."

"Belum."

Nadia berdiri.

"Dulu Ibu datang meminta barangku untuk biaya Bella. Sekarang datang meminta tanganku untuk menyelamatkan tampilan Bella. Besok kalau rumah tangganya bermasalah, Ibu akan datang meminta aku bicara dengan Arman. Lusa kalau Bella kekurangan uang, Ibu akan datang meminta aku membantu. Kapan selesainya?"

Bu Ratna memandangnya dengan mata merah.

"Kamu benar-benar keras."

"Aku belajar dari hidup yang keras padaku."

"Ibu tidak pernah ingin hidupmu susah."

Nadia tertawa pelan.

"Tidak ingin, tapi membiarkan. Kadang itu bedanya tipis sekali."

Bu Ratna seperti ingin membalas, tapi tidak ada kata.

Raka berkata, "Bu Ratna, Nadia punya pesanan yang harus selesai. Kalau dia menerima pekerjaan mendadak pun itu haknya menentukan harga dan waktu. Tapi kalau dia menolak, itu juga haknya."

Bu Ratna menatap Raka.

"Mas Raka selalu membelanya."

"Iya."

Jawaban itu terlalu jujur sampai Bu Ratna terdiam.

Raka melanjutkan, "Karena terlalu lama tidak ada yang membela dia."

Nadia tidak menoleh, tapi dadanya terasa hangat dan sakit sekaligus.

Bu Ratna berdiri.

"Baik. Ibu mengerti."

Nadia tahu ia tidak benar-benar mengerti.

Benar saja, sebelum turun dari teras, Bu Ratna berkata, "Kalau Bella malu di akadnya, Ibu harap kamu puas."

Nadia menatapnya.

"Kalau Bella malu, itu bukan salahku lagi."

Bu Ratna pergi.

Kalimat itu tertinggal di teras seperti debu.

Bukan salahku lagi.

Nadia mengulangnya dalam hati.

Berapa banyak hal dulu ia anggap salahnya? Arman marah, salahnya. Bu Lilis menyindir, salahnya. Tidak hamil, salahnya. Bella miskin, salahnya. Bu Ratna menangis, salahnya. Eyang Marni kecewa, salahnya.

Sekarang ia mengembalikan semua beban ke pemiliknya.

Raka mendekat.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Yakin?"

Nadia menatap pagar yang baru saja dilewati Bu Ratna.

"Aku lebih baik daripada tadi."

Raka mengangguk.

"Kalimat terakhir bagus."

"Yang mana?"

"Bukan salahku lagi."

Nadia tersenyum kecil.

"Aku juga suka."

Siang itu, kabar penolakan Nadia sampai ke rumah Pak Darto. Bella mengamuk. Ia melepas baju akad, melemparkannya ke kasur, dan menangis sampai napasnya tersengal.

"Dia sengaja! Dia ingin aku terlihat buruk!"

Bu Ratna mencoba menenangkan.

"Kita cari penjahit lain."

"Dua hari lagi, Bu! Siapa yang bisa?"

Eyang Marni marah.

"Pakai saja baju itu. Pengantin jangan banyak mau."

Bella menatap neneknya.

"Kalau Kak Nadia yang minta, Eyang pasti bela."

Eyang Marni terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Semua orang sekarang membela dia! Pak Hendra, Om Raka, Tante Mira, bahkan tetangga. Aku yang hancur, tapi dia yang dipuji."

Bu Ratna memeluk Bella.

"Jangan bicara begitu."

"Kenapa? Benar, kan?"

Bella menangis makin keras.

Di saat yang sama, Arman datang. Ia masih memakai baju bengkel. Bau oli masuk ke kamar sebelum tubuhnya.

"Ada apa lagi?"

Bella menatapnya, lalu baju akad di kasur.

"Aku tidak mau pakai baju itu."

Arman melihat sekilas.

"Kenapa? Bagus."

"Kamu bahkan tidak melihat."

"Aku capek, Bella."

"Aku juga capek!"

"Capek apa? Duduk di rumah memilih baju?"

Bella membeku.

Bu Ratna langsung berkata, "Arman, jangan begitu."

Arman mengusap wajah.

"Maaf. Aku benar-benar lelah."

Bella menatapnya.

Ada permintaan maaf, tapi tidak ada kelembutan.

Ia tiba-tiba teringat Raka yang bertanya boleh sebelum menggenggam tangan Nadia di KUA. Kenangan itu menusuk karena bukan miliknya.

"Mas," kata Bella pelan, "apa kamu masih ingin menikahiku?"

Arman diam terlalu lama.

Bu Ratna menahan napas.

Eyang Marni berdiri di ambang pintu.

Arman akhirnya menjawab, "Kita sudah sejauh ini."

Bukan iya.

Bukan aku ingin.

Kita sudah sejauh ini.

Bella merasa sesuatu di dalam dirinya retak lebih keras daripada sebelumnya.

Sementara itu, Nadia menyelesaikan pesanan keempat. Pelanggan datang mengambil sore hari dan langsung memesan satu lagi untuk saudaranya. Sari mengirim pesan penuh tanda seru. Raka mencatat pemasukan. Rumah kecil mereka sibuk, tapi tidak kacau.

Malamnya, Nadia duduk di depan mesin jahit, tidak langsung bekerja.

Raka meletakkan teh di sampingnya.

"Memikirkan Bella?"

"Sedikit."

"Menyesal menolak?"

"Tidak."

"Tapi?"

Nadia menyentuh kain di depannya.

"Aku dulu sering berharap ada seseorang yang menolongku saat terpojok. Hari ini Bella terpojok dan aku menolak. Ada bagian kecil yang bertanya apakah aku sama kejamnya dengan mereka."

Raka duduk di seberangnya.

"Kamu memberi Bella air malam itu. Kamu memberi peringatan di jalan. Kamu tidak menyebarkan rahasia yang bisa menghancurkannya lebih cepat. Menolak menjahit bajunya bukan kekejaman."

"Mas Raka yakin?"

"Yakin."

"Kenapa?"

"Karena menolong orang tidak harus berarti membiarkan mereka terus memakai tanganmu."

Nadia menatapnya lama.

Lalu mengangguk.

Di luar, malam turun.

Dua hari lagi Bella akan menikah dengan Arman.

Nadia tidak tahu apakah Bella akan memakai baju merah muda itu, menggantinya, atau menangis sampai pagi.

Yang Nadia tahu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memperbaiki kekacauan yang dibuat orang lain.

Ia menginjak pedal mesin jahit.

Tak-tak-tak.

Suara itu menjawab lebih tegas daripada kata-kata.

Hidup Nadia berjalan terus.

Tanpa meminta izin dari masa lalu.

Malam semakin larut, tapi Nadia menyelesaikan satu lengan lagi sebelum berhenti. Raka tidak memaksa, hanya meletakkan segelas air di sisi mesin.

"Terakhir?" tanyanya.

"Terakhir untuk malam ini."

"Bagus."

"Mas Raka terdengar seperti mandor."

"Mandor yang takut penjahitnya lupa tidur."

Nadia mematikan mesin.

Keheningan setelah suara jahit berhenti terasa nyaman. Bukan kosong. Hanya istirahat.

Ia menatap kain di pangkuannya dan tersenyum kecil. Besok Bella akan tetap menghadapi akadnya. Arman akan tetap menjadi Arman. Bu Ratna mungkin akan tetap menangis. Tapi Nadia tidak lagi berdiri di tengah lingkaran mereka.

Ia punya rumah.

Punya kunci.

Punya mesin jahit.

Dan yang paling penting, ia punya hak untuk berkata: bukan salahku lagi.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!