Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Di sepanjang lorong sekolah, langkah kaki Lay terdengar terburu-buru. Napasnya memburu setelah berlari tanpa henti dari kelas menuju UKS. Air mata yang tadi sempat ia tahan kembali mengalir tanpa disadari.
"Gue minta maaf, Berr..."
"Gara-gara gue lo dipukul habis-habisan sama Kay."
"Semoga lo baik-baik aja."
"Lo nggak boleh kenapa-kenapa."
"Harusnya dari awal gue nggak kenal Andkay."
Semakin dekat dengan UKS, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi hatinya.
Tak lama kemudian, Lay tiba di depan pintu UKS.
Tangannya langsung meraih gagang pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka perlahan.
"Ahber..."
Suara Lay langsung terhenti.
Di hadapannya...
Ahber yang baru saja membuka mata tiba-tiba memeluk seseorang dengan erat.
Pelukan itu begitu hangat dan penuh rasa lega.
Sedangkan gadis yang dipeluk Ahber tampak terkejut.
"Ahber..."
"Itu gue..."
Suara lembut Eskay terdengar pelan.
Namun Ahber yang penglihatannya masih buram sama sekali belum menyadarinya.
"La-Lay..."
gumam Ahber lirih.
"Gue kira lo..."
Belum sempat kalimatnya selesai...
Mata Lay membulat.
Tangannya yang masih menggenggam gagang pintu perlahan melemas.
Wajahnya berubah pucat.
"Ahber..."
Suaranya terdengar hampir tak terdengar.
Eskay mencoba melepaskan pelukan itu secara perlahan.
"Ahber..."
"Lo salah orang."
Barulah Ahber tersadar.
"Ha?"
Ia langsung menjauh.
Pandangannya mulai kembali jelas.
"Lo?"
"Eskay?"
Wajah Ahber langsung berubah panik.
Sedangkan Lay...
Masih berdiri di depan pintu.
Tatapannya kosong.
Dadanya terasa sesak.
Entah kenapa, pemandangan di depannya terasa begitu menyakitkan.
"Dasar..."
Suara Lay bergetar.
"Pria brengsek."
Ia langsung berbalik.
Bruk!
Langkah kecilnya berubah menjadi lari.
"Lay!"
Ahber yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arah pintu.
Namun Lay sudah pergi.
"Hah?"
"Lay?"
Ahber buru-buru turun dari ranjang.
Namun tubuhnya kembali limbung.
"Ahber!"
Eskay segera menahan bahunya.
"Lo masih lemah."
"Lepasin, Eskay!"
"Lay salah paham!"
Ahber berusaha mengejar, tetapi kepalanya kembali terasa pusing.
Tubuhnya hampir terjatuh.
Eskay kembali menahannya.
"Kalau lo maksa sekarang, lo malah pingsan lagi."
Ahber mengepalkan tangannya.
"Sial..."
"Lay..."
Di balik tembok luar UKS...
Seseorang berdiri sambil memperhatikan semuanya.
Andkay.
Sejak tadi ia ternyata mengikuti Lay dari kejauhan.
Tanpa sengaja, ia juga melihat kejadian di dalam UKS.
"Ck..."
Tatapannya berubah tajam.
"Lo nggak pantas ada di samping Lay."
"Ahber..."
"Gue tandai lo."
Andkay mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu...
Lay terus berlari tanpa tujuan.
Air matanya terus mengalir.
"Semua cowok sama aja..."
gumamnya lirih.
"Brengsek."
Ia berhenti di salah satu lorong yang sepi.
Tangannya mengepal.
"Gue benci lo, Berr."
"Benci."
"Benci."
"Benci!"
Suara terakhirnya menggema di lorong sekolah.
Air matanya semakin deras.
Ia tidak pernah menyangka.
Hubungan yang bahkan baru berjalan satu hari...
Sudah membuat hatinya sehancur ini.
Di dalam UKS...
Ahber masih terduduk di tepi ranjang.
Tatapannya kosong mengarah ke pintu.
Eskay berdiri beberapa langkah di depannya.
"Ahber."
"Lo salah orang tadi."
Ahber mengusap wajahnya pelan.
"Gue kira..."
"Itu Lay."
Eskay tersenyum tipis.
"Gue tau."
Beberapa detik mereka sama-sama terdiam.
Ahber akhirnya mengangkat kepalanya.
"Lo kenapa bisa ada di sini?"
"Gue cuma jagain lo."
jawab Eskay singkat.
"Lay..."
"Lay ke mana?"
Eskay menggeleng pelan.
"Gue nggak tau."
"Tapi sekarang lo harus istirahat dulu."
"Kalau keadaan lo udah membaik..."
"Baru cari Lay."
Ahber menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian...
Ia kembali berbicara.
"Eskay."
"Hm?"
"Kenapa..."
"Lo masih mau nolong gue?"
Eskay terdiam.
Ahber menarik napas panjang.
"Gue udah nyakitin lo."
"Bahkan mental lo."
"Tapi lo masih jagain gue."
Eskay tersenyum tipis.
Tatapan matanya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan dulu.
"Ahber."
"Memang lo pernah nyakitin gue."
"Itu benar."
"Tapi itu semua masa lalu."
"Hidup cuma sekali."
"Gue nggak mau terus hidup di masa lalu."
"Gue juga nggak mau benci seseorang seumur hidup."
"Capek."
"Jadi..."
"Gue memilih buat maafin."
Ahber perlahan menundukkan kepalanya.
"Gue minta maaf."
Eskay mengangguk pelan.
"Gak apa-apa."
"Yang penting sekarang..."
"Lo sembuh dulu."
"Gue ke kelas ya."
"Takut orang salah paham."
Eskay berbalik hendak keluar.
Namun...
Ahber menggenggam pelan pergelangan tangannya.
"Eskay."
Gadis itu menoleh.
"Kalau suatu hari nanti..."
"Lo butuh bantuan."
"Gue bakal bantu."
Eskay tersenyum kecil.
"Janji?"
Ahber mengangguk mantap.
"Janji."
"Baik."
Eskay melepaskan genggaman itu perlahan.
Lalu berjalan keluar UKS.
Sementara Ahber masih duduk terdiam.
Pikirannya kini hanya dipenuhi satu nama.
Lay.
Ia sama sekali tidak tahu...
Bahwa kesalahpahaman kecil beberapa menit yang lalu akan menjadi awal dari hancurnya hubungan mereka.
like + bunga biar semangat deh/Smile/