Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kode dan Sandiwara Siang Hari
Aroma sup ayam herbal yang mengepul dari dapur penthouse menandakan bahwa Pelayan Zhang mulai menguasai rutinitas harian di sana. Wangi jahe, kurma merah, dan rempah khas Tiongkok memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma teh yang baru diseduh. Bagi Gavin, kehadiran pembantu senior itu adalah berkah karena perutnya akhirnya dimanjakan dengan makanan bergizi setiap hari. Namun bagi Tiffany, setiap sudut apartemennya kini terasa seperti dipasangi kamera pengintai yang bisa bergerak ke mana saja.
Pelayan Zhang memang tidak banyak bicara, tetapi ketelitian wanita paruh baya itu jauh lebih mengintimidasi daripada puluhan kamera CCTV. Tatapannya selalu memperhatikan detail sekecil apa pun, mulai dari cara mereka berbicara, kebiasaan makan, hingga jarak saat duduk berdampingan.
Siang itu, Tiffany duduk tegak di meja makan kecil yang telah disulap menjadi ruang kerja darurat. Laptopnya terbuka lebar, beberapa map dokumen tersusun rapi di sampingnya, sementara secangkir kopi yang tadi pagi dibuatnya sudah dingin tanpa sempat disentuh lagi. Jemarinya terus mengetik laporan bisnis dengan kecepatan tinggi, sesekali berhenti untuk memeriksa grafik penjualan di layar.
Pelayan Zhang melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia meletakkan secangkir teh krisan hangat di samping laptop Tiffany.
"Nona Muda, ini teh krisan kesukaanmu sejak lulus kuliah dua tahun lalu," ujar Pelayan Zhang dengan suara datar. Meski terdengar biasa saja, matanya diam-diam mengamati setiap perubahan ekspresi Tiffany.
Gavin yang sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponsel barunya tanpa sengaja mendengar kalimat itu. Tangannya berhenti menggulir layar.
Lulus kuliah dua tahun lalu? batin Gavin langsung berpikir secara logis.
Wah, hebat juga si Tante Judes ini. Di usianya yang sudah kepala tiga, ternyata baru menyelesaikan pendidikan S2 atau mungkin S3 di luar negeri dua tahun lalu. Pantas saja otaknya kaku seperti robot. Isinya pasti cuma belajar, rapat, dan kerja terus.
Tanpa disadari Gavin , kalimat sederhana dari Pelayan Zhang justru menunjukkan bahwa usia Tiffany jauh lebih muda daripada yang selama ini ia bayangkan. Namun, karena pikirannya sudah terlanjur yakin bahwa Tiffany adalah wanita berusia lebih dari tiga puluh tahun, petunjuk itu sama sekali tidak ia curigai.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara ketikan keyboard, denting sendok dari dapur, dan dengungan pendingin ruangan yang terdengar memenuhi penthouse.
Tak lama kemudian, Tiffany menutup laptopnya sambil mengembuskan napas panjang. Ia bermaksud mengambil beberapa berkas penting yang tertinggal di kamarnya sebelum melanjutkan rapat daring sore nanti.
Baru beberapa langkah memasuki koridor menuju kamar, Gavin tiba-tiba bangkit dari sofa. Dengan gerakan cepat yang sama sekali tidak diduga, ia menghadang langkah Tiffany.
"Apa lagi—"
Kalimat Tiffany belum sempat selesai.
Gavin mengulurkan tangan kanannya dengan tenang, lalu merapikan beberapa helai rambut Tiffany yang sedikit berantakan di dekat keningnya. Sentuhannya lembut dan tidak berlebihan, seolah-olah memang sudah terbiasa melakukan hal itu. Ibu jarinya bahkan sempat menyapu perlahan pipi Tiffany, sementara tatapan matanya berubah hangat dan penuh perhatian.
"Sayang..." bisik Gavin dengan suara yang sengaja dibuat rendah, serak, dan terdengar sangat romantis. "Kalau sudah bekerja, kamu selalu lupa waktu."
Ia tersenyum tipis sambil tetap mempertahankan kontak mata.
"Lihat, rambutmu sampai berantakan begini karena terlalu stres memikirkan pekerjaan. Sini, biar aku rapikan sedikit."
Tubuh Tiffany langsung menegang.
Jantungnya sempat berdegup lebih cepat karena jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Aroma parfum Gavin yang lembut bercampur dengan wangi sabun mandi memenuhi indra penciumannya.
Namun rasa terkejut itu hanya bertahan sesaat.
Detik berikutnya, rasa kesal langsung mengambil alih.
Pria sialan ! gerutu Tiffany dalam hati. Pasti sedang memanfaatkan kesempatan untuk memegangku. Dasar tidak tahu malu!
Rahang Tiffany mulai mengeras. Ia sudah bersiap mendorong Gavin dan menyebutnya "bodoh" seperti biasanya.
Namun tepat sebelum ia bergerak, Gavin perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga Tiffany, berpura-pura hendak mencium pelipisnya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan bergerak " bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Mata Gavin melirik samar ke arah dapur.
"Pelayan Zhang berdiri di balik lemari es sambil membawa kain lap. Kelihatannya dia pura-pura bersih-bersih, padahal sejak tadi terus mengawasi kita."
Kesadaran Tiffany langsung tersambar seperti disiram air dingin.
Tanpa menggerakkan kepala, ia mengalihkan pandangan ke arah lemari pajangan berkaca di samping koridor. Dari pantulan samar itu, benar saja.
Ujung celemek Pelayan Zhang terlihat sedikit menyembul dari balik sudut dapur.
Wanita itu memang sedang mengintai.
Tiffany langsung menelan kembali semua makian yang sudah berada di ujung lidahnya. Jika sekarang ia mendorong Gavin atau kembali memasang wajah dingin, semua sandiwara mereka bisa runtuh dalam hitungan detik.
Tenang... ini hanya akting, batinnya mencoba menenangkan diri.
Menyadari Gavin sebenarnya sedang menyelamatkan situasi dengan improvisasi yang cukup cerdas, Tiffany akhirnya memutuskan mengikuti permainan itu.
Ia menarik napas perlahan.
Lalu, sedikit demi sedikit, tubuhnya yang semula kaku mulai dibuat lebih rileks.
Dengan gerakan yang masih terasa canggung, Tiffany mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di dada bidang Gavin. Ia mendongakkan kepala, menatap mata pria itu sambil memaksakan senyum selembut mungkin.
"Maaf ya, Suamiku..." ucap Tiffany dengan nada manja yang terdengar sangat asing bahkan bagi dirinya sendiri. "Aku terlalu fokus bekerja sampai tidak sadar."
Ia menarik napas kecil sebelum melanjutkan.
"Terima kasih sudah perhatian. Kamu memang suami terbaik."
Kalimat itu hampir membuat Tiffany merinding sendiri.
Sementara itu, Gavin sempat terpana beberapa detik.
Wah... ternyata si Tante Judes kalau mau akting juga lumayan berbakat, pikirnya.
Meski begitu, Gavin masih bisa merasakan bahwa bahu Tiffany tetap sedikit kaku. Senyumnya juga belum sepenuhnya alami. Namun, bagi orang yang tidak mengetahui hubungan mereka, penampilan itu sudah lebih dari cukup.
Gavin lalu tersenyum hangat.
Dengan penuh kasih sayang, ia menepuk pelan puncak kepala Tiffany, kemudian membelai rambutnya sebentar sebelum melepaskan jarak di antara mereka secara perlahan.
" Jangan terlalu memaksakan diri bekerja," katanya lembut. "Kesehatanmu lebih penting daripada semua laporan itu."
Tiffany hanya mengangguk kecil sambil mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
Di sudut dapur, Pelayan Zhang yang menyaksikan seluruh adegan itu dari balik celah lemari es perlahan menarik napas lega.
Ia memundurkan langkah tanpa suara.
Wajahnya yang biasanya datar tampak sedikit melunak.
Namun sorot matanya masih menyimpan kewaspadaan.
Hubungan mereka memang terlihat alami... tetapi aku tetap harus memastikan semuanya, batinnya.
Ia lalu benar-benar kembali mengelap meja dapur, kali ini tanpa lagi terlalu sering melirik ke arah koridor.
Sementara itu, begitu Tiffany dan Gavin berhasil keluar dari jangkauan pandangan Pelayan Zhang, senyum mereka langsung menghilang hampir bersamaan.
Keduanya saling melirik sekilas.
Tidak ada kata-kata yang terucap.
Namun mereka sama-sama memahami bahwa sandiwara barusan berhasil menyelamatkan situasi.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya jingga yang sebelumnya memenuhi ruangan kini berganti dengan kerlap-kerlip lampu kota Taipei yang mulai menyala di balik dinding kaca penthouse. Suasana apartemen menjadi jauh lebih tenang. Hanya suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi peralatan makan dari dapur yang memecah kesunyian.
Seiring waktu bergeser menuju malam, atmosfer di dalam penthouse justru terasa semakin mencekam bagi Tiffany.
Ujian sandiwara di siang hari memang telah berhasil mereka lewati.
Namun tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Di bawah pengawasan ketat Pelayan Zhang, tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tidur di kamar terpisah.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai, Tiffany harus menghadapi kenyataan yang selama ini selalu ia hindari.
Ia harus berbagi kamar dengan Gavin, pria yang di atas kertas adalah suaminya, tetapi di dalam hati mereka berdua hanyalah rekan dalam sebuah kontrak yang penuh kepura-puraan.