Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9- Panik
Lanjut...
Darah masih mengalir dari luka di sisi tubuh Alena, hingga membasahi pakaian dan tangan Max yang terus menekannya dengan gemetar. Wajah Alena yang biasanya tenang kini terlihat pucat, napasnya melemah, dan matanya perlahan kehilangan fokus.
“Alena… hey, tetap sadar. Dengar gue,” kata Max.
Di sisi lain, Bara berdiri kaku, seolah kakinya tertancap di lantai. Pandangannya terpaku pada darah yang terus merembes dan wajahnya pun memucat penuh penyesalan.
“Ini… ini salahku…” gumamnya lirih seraya mendekat.
Max mengangkat wajahnya dengan tajam dan tatapan penuh amarah.
“Jangan sentuh dia!” bentaknya. “Lo nggak jauh lebih baik dari si brengsek itu! Dasar pengecut!”
Seketika Bara membisu. Kata-kata itu seperti pukulan yang menghantamnya dengan keras, namun ia tidak membalas. Tangannya hanya mengepal, menahan diri dan menahan rasa bersalah yang semakin menyesakkan dadanya.
Namun, saat melihat Alena yang bergerak lemah di pelukan Max, akhirnya Bara berkata dengan suara yang bergetar. “Nona Alena… Anda harus bertahan."
Max tidak menoleh lagi ke Bara, ia hanya fokus pada Alena yang semakin lemah.
“Bertahan… lo harus bertahan, ngerti?” bisiknya yang hampir memohon.
Namun darah tidak berhenti dan ambulans pun belum juga datang.
“Lama banget!” geram salah satu teman Max yang berdiri di pintu.
Max mengangkat kepalanya dengan cepat lalu berteriak, “Mobil! Kita bawa dia sekarang!”
Tanpa menunggu lagi, mereka pun segera bergerak.
Max mengangkat tubuh Alena dengan hati-hati, meski darah terus menetes di lantai toko yang kini berantakan. Bara akhirnya memberanikan diri membuka pintu mobil di luar, meskipun tangannya masih gemetar.
“Cepat!” teriak Max.
Mereka memasukkan Alena ke kursi belakang, lalu Max langsung masuk sambil memangku tubuh Alena dan tetap menekan luka itu dengan tangannya. Bara pun ikut masuk dan duduk di samping tubuh Alena, sementara teman Max menginjak gas secepat kilat, dan mobil pun melaju kencang membelah jalanan malam.
Di dalam mobil suasana terasa mencekam.
“Alena… jangan tutup mata,” ucap Max. “Lo denger gue, kan?”
Namun Alena tidak menjawab, bahkan napas lemahnya pun semakin tidak teratur.
“Alena!” kali ini suara Max meninggi.
Kelopak mata Alena sedikit bergerak dan terbuka setengah. Pandangannya buram, namun ia masih bisa melihat siluet wajah di hadapannya.
“...berisik…” bisiknya lirih.
Max terdiam sejenak lalu tanpa sadar, ia tersenyum tipis. “Iya… gue emang berisik. Jadi jangan mati dulu sebelum lo bosen denger suara gue.”
Bara yang duduk di samping Alena menggenggam kursi dengan kuat. Rahangnya mengeras karena menahan emosi yang bercampur antara rasa takut dan bersalah.
“Nona Alena… bertahanlah,” ucapnya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya lampu rumah sakit terlihat di kejauhan.
“Udah dekat!” teriak pengemudi.
Lalu, mobil pun berhenti mendadak di depan pintu UGD.
“Dokter! Tolong!” teriak Max begitu pintu dibuka.
Beberapa perawat pun langsung berlari mendekat dengan tandu.
“Apa yang terjadi?” tanya salah satu perawat.
“Luka tusuk, banyak darah!” jawab Max panik.
Alena segera dipindahkan ke atas tandu, hingga tangannya terlepas dari genggaman Max dan membuat pria itu seolah kehilangan pegangan.
“Tolong selamatkan dia,” ucap Max.
“Silakan tunggu di luar,” jawab perawat.
Tandu itu pun segera didorong masuk ke ruang penanganan darurat hingga pintunya tertutup.
Max berdiri diam di depan pintu UGD, dengan tangannya yang masih berlumuran darah. Sementara Bara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia ingin mendekat namun tidak berani.
“Kalau dia kenapa-kenapa… Gue nggak akan maafin siapa pun yang terlibat," ancam Max seraya menoleh ke arah Bara.
Bara pun menunduk lalu tangannya mengepal. “Kalau harus disalahkan… itu aku," lirihnya.
"Max, lebih baik Lo cuci tangan dulu gih, ngeri bro, kaya lu yang luka aja," seru temannya.
Namun Max tidak terlalu peduli, ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke pintu UGD dimana lampu merah di atasnya masih menyala, sebagai tanda bahwa pertarungan antara hidup dan mati belum selesai.
____
__________
Detik demi detik telah berlalu, namun waktu terasa berjalan lambat di lorong rumah sakit itu. Max berdiri di depan ruang operasi dengan tangan masih berlumuran darah yang mulai mengering, sementara Bara duduk beberapa kursi darinya dengan menunduk.
Mereka sama-sama diam hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka lalu seorang dokter keluar dengan langkah yang cepat.
“Dok, bagaimana keadaannya?” tanya Max yang langsung berdiri diikuti Bara yang juga ikut berdiri.
Dokter itu menatap keduanya dengan serius lalu berkata, “Pasien kehilangan banyak darah. Kami butuh donor secepatnya.”
“Dokter, ambil saja darah saya,” kata Max tanpa ragu. “Ambil sebanyak yang dibutuhkan.”
“Golongan darah apa yang diperlukan, Dok?” timpal Bara.
“Golongan A negatif,” jawab dokter.
“Saya,” kata Bara cepat. “Golongan darah saya A negatif.”
Dokter menatapnya sekilas untuk memastikan. “Anda yakin?”
"Ya, Silakan ambil darah saya.”
Tanpa menunggu lagi, perawat pun segera datang dan membawa Bara ke ruang donor. Sedangkan Max hanya berdiri terpaku dengan tangan yang mengepal.
Ia menatap ke arah Bara yang menjauh, lalu kembali ke dokter.
“Periksa juga darah saya,” pinta Max. “Kalau cocok, ambil juga.”
Dokter sedikit mengernyit mendengar pernyataan Max tersebut dan menjawab, “Kami sudah punya donor yang sesuai.”
“Tetap periksa,” potong Max. “Kalau masih kurang, saya siap.”
Melihat tekad Max yang kuat, akhirnya dokter pun mengangguk. “Baik. Ikuti perawat ke laboratorium.”
**
Beberapa menit kemudian...
Max sedang duduk di kursi ruang lab, dengan lengan kirinya yang terbuka saat perawat mulai mengambil sampel darahnya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun pada jarum yang menusuk lengannya tersebut.
“Tenang saja, ini hanya pemeriksaan awal,” ujar perawat.
"Suster, aku tidak akan mati karena di suntik bukan?."
Pertanyaan konyol itu spontan membuat sang perawat sedikit tertawa. "Tidak pak, anda akan baik-baik saja."
Sementara itu di ruang donor, Bara berbaring dengan lengan yang terpasang selang transfusi. Darahnya perlahan mengalir ke kantong yang tergantung di sampingnya.
Ia menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang kosong… namun hatinya berkecamuk. “Nona Alena... Anda harus selamat.”
Seorang perawat meliriknya dan melihat kegelisahan Bara. “Kondisi Anda baik. Jangan terlalu tegang.”
Bara pun mengangguk kecil.
____
__________
Kembali ke ruang tunggu. Setelah proses pemeriksaan selesai, Max keluar dari ruang lab. Ia langsung menghampiri dokter yang baru saja kembali dari ruang operasi.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Darah Anda belum tentu diperlukan,” jawab dokter. “Kami akan prioritaskan donor yang sesuai terlebih dahulu.”
Waktu terus berlalu. Menit demi menit pun terasa seperti berjam-jam dan lampu di atas ruang operasi pun masih menyala.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dengan membawa kantong darah dan Max pun memperhatikannya dengan tajam.
“Itu…?” tanyanya.
“Untuk pasien di dalam,” jawab perawat yang kemudian berlalu.
Sementara di tempat lain, Bara akhirnya selesai menjalani donor. Tubuhnya sedikit lemas, namun ia tetap memaksakan bangkit.
“Silakan istirahat dulu,” kata perawat namun Bara hanya menggeleng. "Saya harus kembali.”
Langkahnya sedikit goyah saat keluar dari ruangan, namun ia tetap berjalan menuju lorong ruang operasi.
Dan di sana, Max masih berdiri dan menunggu dengan gelisah. Bara berhenti beberapa langkah darinya dan akhirnya berkata, “Dia… pasti selamat."
Max tidak menjawab perkataan Bara, tatapannya pun hanya tertuju pada pintu ruang operasi.
“Aku tidak peduli siapa kamu,” lanjut Bara. “Tapi… dia tidak pantas menerima ini.”
Max akhirnya melirik Bara. “Dia memang nggak pantas, Makanya… dia harus hidup."