Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
...Ulos Pertama untuk Sang Putri...
..."Sehelai ulos tidak pernah menghangatkan tubuh semata. Ia menghangatkan hati yang hampir kehilangan harapan."...
^^^—Petuah Nai Tonun^^^
Balai Tenun Langit kembali dipenuhi bunyi yang menenangkan. Tak... Tak... Tak...
Suara kayu penenun yang saling bersahutan terdengar seperti detak jantung Banua Ginjang. Tidak tergesa. Tidak pula terlalu lambat.
Setiap hentakan memiliki irama yang sama, seolah seluruh penenun sedang mengikuti napas Hariara Bolon.
Deak Parujar duduk bersila di samping Nai Tonun. Tatapannya tidak lepas dari jemari tua yang menari di antara benang-benang cahaya. Semakin lama ia memperhatikan, semakin ia menyadari bahwa tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia. Setiap tarikan benang disertai bisikan doa. Setiap simpul diikat dengan harapan. Dan setiap helaian disusun dengan kasih yang begitu sabar.
"Apakah semua ulos dibuat seperti ini?" tanya Deak polos.
Nai Tonun mengangguk dan menjawab: "Di Banua Ginjang, ya."
"Lalu di tempat lain?" tanya Deak lagi.
Sang nenek tersenyum dan kembali menjawab: "Kelak... Manusia akan menenunnya dengan kapas, kulit kayu dan pewarna dari bumi. Tetapi bila hati mereka tetap dipenuhi kasih... ulos itu akan tetap membawa kehangatan langit."
Deak terdiam.
Ia mengusap perlahan benang merah yang terletak di pangkuannya. Benang itu terasa hangat. Bukan karena cahaya. Melainkan karena seolah menyimpan denyut kehidupan.
"Benang merah ini... Terbuat dari apa Nai?" tanya Deak lagi.
Nai Tonun memandangnya lama, lalu menjawab: "Dari keberanian."
"Keberanian?" tanya Deak dengan raut wajah yang aga bingung.
"Ya. Karena tidak ada kasih yang dapat bertahan tanpa keberanian." jawab Nai Tonun lugas. Beliau lalu mengambil benang putih, "Yang ini adalah ketulusan." Kemudian benang hitam, "Dan ini... adalah keteguhan."
Deak mengernyit, "Hitam melambangkan keteguhan Nai?"
"Banyak makhluk takut pada gelap." jawab Nai Tonun dengan lembut dan kemudian menambahkan, "Tetapi justru dalam kegelapan lah akar pohon dapat tumbuh. Benih bisa berkecambah. Dan kehidupan dipersiapkan. Jangan pernah menghakimi warna hanya dari apa yang tampak."
Kalimat itu melekat dalam hati Deak.
Sementara itu, di sudut balai, Mulajadi Nabolon berbincang pelan dengan Parbaringin.
"Apakah waktunya sudah tiba?" tanya sang tetua.
Mulajadi memandang putrinya yang masih larut memperhatikan tenunan.
"Belum. Tetapi benangnya sudah mulai dipintal." Parbaringin menjawab dengan lugas karena memahami maksud pertanyaan itu.
Takdir tidak pernah datang sekaligus. Ia selalu dimulai dari satu helai benang yang tampak sederhana.
Nai Tonun lalu bangkit. Beliau berjalan menuju sebuah peti tua yang terbuat dari kayu Hariara. Peti itu tidak memiliki kunci. Tidak pula berengsel. Ketika telapak tangan beliau menyentuh permukaannya, peti itu membuka sendiri.
Di dalamnya tersimpan gulungan-gulungan ulos yang memancarkan cahaya lembut. Setiap helai memiliki corak berbeda. Ada yang menyerupai aliran sungai. Ada yang seperti gugusan bintang. Ada pula yang berpola akar pohon yang saling bertaut.
Namun di dasar peti... terbujur sehelai ulos yang belum selesai.
Coraknya masih kosong. Benangnya belum seluruhnya teranyam.
Deak memandangnya penuh heran dan bertanya: "Nai... Mengapa ulos itu belum selesai?"
Nai Tonun mengangkatnya dengan kedua tangan dan kembali menjawab: "Karena ia sedang menunggu."
"Menunggu siapa?" tanya Deak lagi.
"Pemiliknya." jawab Nai Tonun dengan perlahan. Lalu beliau mendekati Deak.
Dengan penuh kelembutan, ulos itu dibentangkan.
Anehnya... begitu berada di dekat sang putri, benang-benang yang semula diam mulai bergerak sendiri. Helai demi helai cahaya saling menjalin. Corak yang semula kosong perlahan terisi. Muncul gambar pusaran air. Lalu gunung. Kemudian akar Hariara yang menjulur ke segala penjuru. Di bagian tengahnya tumbuh sebuah pohon kecil dengan tujuh cabang.
Jonggi mengepakkan sayapnya pelan. Bulunya memancarkan cahaya perak yang ikut menyatu ke dalam tenunan.
Seluruh penenun berhenti bekerja. Mereka berdiri. Menundukkan kepala. Tak seorang pun berbicara.
Mereka tahu sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Nai Tonun menyelimuti bahu Deak dengan ulos itu.
Begitu kain itu menyentuh tubuh sang putri... kehangatan lembut mengalir dari bahu Deak hingga ke ujung jemari.
Namun yang membuat Deak terkejut bukanlah kehangatan itu. Melainkan sebuah suara. Ia kembali mendengar sebuah bisikan. Bukan hanya satu. Melainkan banyak. Suara para penenun. Suara para tetua. Suara angin. Suara air. Bahkan suara Hariara Bolon.
Semuanya berkata dengan kalimat yang sama: "Jangan pernah menciptakan sesuatu tanpa kasih."
Air mata menggenang di pelupuk mata Deak. Ia tidak tahu mengapa. Kalimat itu terasa begitu indah. Sekaligus begitu berat.
Nai Tonun menggenggam kedua tangan Deak ketika berkata: "Anakku, mulai hari ini... Engkau bukan hanya putri Banua Ginjang. Engkau adalah pembawa benang kehidupan. Setiap keputusanmu kelak... akan menjadi simpul bagi banyak kehidupan."
Nai Tonun sempat mengambil nafas sejenak untuk kemudian kembali berkata: "Ingatlah... Benang yang putus dapat disambung. Tetapi hati yang diputus oleh kesombongan... akan sangat sulit ditenun kembali."
Deak mengangguk perlahan. Ia belum memahami sepenuhnya nasehat Nai Tonun. Namun ia dapat merasakan bahwa setiap kata itu sedang menenun sesuatu di dalam dirinya. Bukan pada tubuhnya. Melainkan pada jiwanya.
...****************...
Di luar Balai Tenun, langit mulai berubah warna. Cahaya senja menyelimuti Hariara Bolon dengan warna keemasan.
Seekor Burung Erung tampak bertengger di cabang tertinggi. Ia tidak berkicau. Ia hanya memandang Deak yang keluar dengan ulos cahaya pertama di bahunya. Burung tua itu kemudian menjatuhkan sehelai bulu putih. Bulu itu melayang perlahan. Tidak jatuh ke tanah. Melainkan menempel pada ujung ulos yang dikenakan Deak.
Sesaat kemudian... bulu itu berubah menjadi motif kecil berbentuk sayap.
Nai Tonun tersenyum dan berujar, "Itu pertanda baik."
Parbaringin memandang ke langit dengan wajah penuh haru ketika bergumam: "Ramalan tidak lagi sekadar diucapkan. Ramalan telah mulai dikenakan."
...****************...
Malam itu, sebelum tidur, Deak duduk sendirian di bawah Hariara Bolon. Ia membelai lembut ulos cahaya di bahunya.
Jonggi hinggap di pangkuannya.
"Aku belum mengerti semua yang diajarkan hari ini, Jonggi." ujar Deak pada sang burung kecil.
Burung itu berkicau lirih. Deak tersenyum dan kembali berujar, "Tapi aku tahu satu hal. Aku ingin... jika suatu hari nanti ada dunia baru... tidak seorang pun akan merasa sendirian."
Angin malam membawa kalimat itu menembus akar Hariara. Turun melewati Banua Tonga. Hingga akhirnya mencapai samudra purba.
Di dasar kegelapan, Naga Padoha yang sudah kembali terlelap, menggerakkan ekornya perlahan. Seakan ada bagian kecil dari hatinya yang mendengar doa seorang putri.
Dan untuk pertama kalinya sejak awal penciptaan... kesunyian di Banua Toru terasa sedikit berkurang.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 6 – Bagian III: Lagu yang Dijaga Hariara Bolon.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/