Bagai mana jika seorang pembunuh bayaran yang keji dan semena mena tiba tiba saja menjadi sangat baik dan sopan santun. bahkan dia memiliki kemampuan medis yang sangat genius.
Ya itulah yang di alami Xue Shen, setelah di bunuh oleh ke lima suaminya. Ternyata jasad Xue Shen Shen telah di rasuki Oleh roh Lin Zhu, Lin Zhu sendiri adalah dokter genius di abad 20 yang tewas akibat plustrasi di selingkuhi sang tunangan.
Tubuh sang dokter tersebut nyatanya menyinggahi seorang wanita tak cantik, kotor, pemabuk, suka judi dan main laki laki. bahkan kelima suaminya merencanakan pembunuhan berulang kali hanya untuk melenyapkan wanita tersebut.
Akankah Lin Zhu selamat dari rencana pembunuhan itu? atau kah para suami mulai menyukai pribadi lembut dan penolog tersebut? Yuk simak...
Novel ke dua autot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqishe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan
Saat situasi di pembangunan gubuk reyot sedang tegang tegangnya... Huan bersaudara mulai sampai sebuah hotel mewah yang indah megah dan besih "Inikah hotelnya?" tanya Lian membelalakang matanya kala menatap front hotel yang sungguh luar biasa kala di pandang mata.
"Menurut plakatnya ini tempatnya..." Balas Huan tak habis pikir. Ia juga takut salah lokasi, karna mau bagai mana pun. Orang yang telah memesan hotel itu tak ada di sini.
"Mana mungkin si iblis itu menempatkan kita disini Huan. Jangan jangan dia ingin menjual kalian lagi pada para wanita haus darah" Respon Mei Liung ketakutan.
"Tenanglah bu. Istriku tak akan sejahat itu pada kita" Jawab Zhua seraya mengelus punggung ibunya.
"Kenapa kau begitu percaya diri. Sedangkan kau sendiri sudah enam kali di gadaikan dan di paksa tidur dengan para bos tempat bordir" Balasan sang ibu sungguh tepat sasaran hingga Zhua pun menjatuhkan pundaknya lesu.
"Eehh... Itu... Aku..." Zhua pun di buat mati kutu oleh umpatan ibunya yang terkesan blak blakan dan pedas itu.
"Adik. Sudahlah... Jangan di ambil hati. Lagi pula ibukan tak tahu sekarang Mastress seperti apa. Lambat laun waktu akan menjawab segalanya kita tak perlu panjang lebar menjelaskannya... Kau paham kan maksudku adik..." Tegas Xiao.
"Aahh... Begitu ya"
"Benar. Santai saja... Waktu nya pasti lebih cepat dari dugaan kita" Sambung Xian seraya menepuk punggung Zhua.
"Kakak benar juga..." Zhua yang tadinya terpuruk pun lekas menggaruk kepalanya dan melontarkan senyum ringan ke arah kaakk kakak nya.
"Ayo... Kita masuk... Jangam terlalu lama di luar. Aku lelah" Lian mulai masuk ke area hotel megah yang terbuat dari kayu yang kokoh itu.
"Tunggu Lian... Jangan tinggalkan aku" Huan menyusul Lian
"Jangan lari lari Huan. Nanti ibu jatuh" Oceh Mei Liung yang kala itu di gendong Huan. Nampaknya ia tak nyaman jika Huan berlari lari begitu.
Sampailah mereka di ruang resepsionis Hotel... "Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya sang pelayan resepsionis tersebut...
"Ah ya. Saya sudah pesan kamar" Huan menyerahkan kunci hotel itu pada petugas.
"Oh ruangan anda ada di lantai dua... Silahkan tulis nama anda tuan' Pintanya. Huan pun bergegas menulis namanya... dan mereka pun di antar ke kamar tersebut.
Sesampainya di kamar... Lian beserta saudara saudaranya menatap hingga menelisik seluruh ruangan megah dengan kasur yang empuk dan segala sarana lainnya. Seperti kamar utama dan enam kasur yang berjajar rapi bertilam putih bersih. Ruang tengah juga di lengkapi dengan tempat berendam air hangat.
Tak bisa mereka mengedipkan matanya hingga mereka tetap mematung di daun pintu "I-ini mimpi kan. Kak Huan... Tolong cubit aku" Pinta Lian dengan pandangan berbinar karna terlalu senang.
"Kau yakin Lian?" Tanya Huan.
"Tentu..." Balas Lian.
Huan pun mencubit pipinya sekeras mungkin. Hingga Lian berteriak "Aawww! Kak... Apa yang kau lakukan?" Amuk Lian pada Huan.
"Lian. Jaga nada bicaramu. Huan adalah kakak mu... Jangan membentak nya begitu... Dasar tidak sopan' Tegas Mei Liung.
"Tapi dia telah menyakitiku bu!" Tuduh Lian pada Huan.
"Dasar bodoh. Bukannya kau sendiri yang memintanya? Dasar aneh..."
"Benarkah? Kenapa aku bisa lupa?" Lian menggaruk kepalanya yang tak gatal itu seraya memikirkan hal apa yang tadi ia katakan pada Huan hingga Huan mencubiti pipinya seperti itu.
"Kak Lian pasti salah tingkah gara gara melihat ruangan itu. Hahahahah" Zhua tertawa senang dengan tatapan berbinar.
"Benar... Karena terlalu senang. Lian pasti lupa... Hahahahaha" Tawa Zhua dan Huan memancing tawa tawa lainnya.
Ke lima saudara itu akhirnya tertawa terbahak sebeluk mereka masuk ke dalam kamar hotel itu "Ini memang seperti mimpi..." Balas Mei Liung seakan tak percaya.
Sedangkan Zhua... Ia mulai berdoa pada dewa "Terima kasih dewa, berkatmu... Istriku menjadi sangat baik. Dan kami bisa merasakan kemudahan dan kenyamanan seperti ini... Dalam sepanjang hidupku. Ini adalah kali pertama... Kami bisa menikmati ke kemewahan seperti ini... Terimakasih dewa..." Doa Zhua yang ia panjatkan sebelum masuk ke kamar hotel itu.
"Kak Huan. Kemari... Rasakan ranjangku. Begitu hangat nyaman dan empuk" Tegas Xiao menekan nekan matras itu dengan pantatnya.
"Sama. Punyaku juga tak gatal dan tak keras. Ini sungguh nyaman" Balas Huan.
"Aaahhh sungguh seperti surga ya..." Xian membaringkan tubuhnyan dan membolak balikannya. Terlentang dan tengkurab.
"Benar... Ini seperti di surga. Matrasnya empuk, wangi dan hangat sangat nyaman. Aku tak sabar ingin segera tidur" Gerutu Lian.
"Hei Zhua. Kau sedang apa di sana... Kemari. Tidurlah di matrasmu lalu cobalah. Ini sungguh nyaman sekali" Tegas Lian berwajah kecut kala bicara demikian.
"Entahlah. Tapi aku rasa aku telah melupakan sesuatu" jelas Zhua berpikir sesuatu lalu menekan dagunya sendiri.
"Jangan menggumam. Tak ada hal yang kau lupakan, yang harus kau lakukan sekarang adalah berbaring lalu tidurlah..." Balas Lian. Setelah bicara demikian. Lian malah terlelap begiru saja...
Deg! Zhua mulai sadar begitu saja...
"Oh ia. Kita melupakan Arnold! Dia pasti sekarang sedang mencuri perhatian istriku" Teriak Zhua.
Huan, Xian dan Xiao juga Lian seketika terbelalak... "Apa??' Pekik mereka...
Bahkan Zhua tak tahu jika di gubuk itu telah terjadi masalah besar gara gara Arnold ikut dengan Xue Shen ke gubuk itu. Bagai mana jadinya pertarungan Xue Shen dan Chang Chun... Sementara meski pun tidur di tempat ternyaman. Pikiran mereka terganggu gara gara Arnold ada di gubuk itu bersama Xue Shen.
"Lantas saja dia menyuruhmu cepat pergi. Rupanya dia ingin berduaan saja bersama selirnya. Sudah sudah, terima saja... Lagi pula, si Arnold memang tampan kok" Goda Lian menyungingkan bibirnya.
"Tapi... Istriku sekarang sudah berubah" Zhua bicara dengan tenang seraya melangkah ke arah pemandian lalu membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Meski Zhua paling bontot di antara saudara saudaranya. Tapi pikiran nya selalu lebih dewasa dari kakak kakak nya...
"Semoga saja. Istriku baik baik saja..." Bisiknya seraya membenamkan kepalanya ke dalam pemandian...
Lets...
next episode...
teruslah berkarya
MC kan dokter, tubuh yg dia rasukk kata nnya cmn beban?