NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 20

Pagi itu, seberkas sinar matahari yang tipis menembus celah gorden kamar sewaan Amerta. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dilingkupi rasa cemas, Amerta terbangun bukan karena detak jantung yang berdebar panik, melainkan karena suara kicau burung gereja di dahan pohon luar jendela. Udara di dalam kamar minimalis ini tidak berbau parfum sandalwood yang pekat milik Mahesa. Udara di sini terasa asing, segar, dan berbau kebebasan.

Amerta meregangkan otot-otot tubuhnya di atas kasur single yang sedikit keras. Bagi orang lain, flat berukuran empat kali empat meter ini mungkin terasa sempit dan biasa saja. Namun bagi Amerta, tempat ini adalah sebuah istana perlindungan yang tak ternilai harganya. Di rumah mewah keluarga Dirgantara, setiap sudut ruangan dilengkapi kamera pengawas, dan setiap pintu gerendel bisa dikunci dari luar oleh Mahesa kapan saja ia mau. Di flat kecil ini, kunci pintu sepenuhnya berada di dalam genggaman tangannya sendiri.

Dengan senyuman yang sudah lama sekali tidak terukir di wajahnya, Amerta turun dari tempat tidur. Langkah kakinya terasa ringan saat ia berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan. Ia menyalakan pemanas air, membuka jendela lebar-lebar, dan membiarkan angin pagi yang sejuk menyapu wajahnya. Rasa semangat yang menggebu-gebu langsung memenuhi dadanya. Ia tidak perlu lagi mengendap-endap di koridor rumah, tidak perlu lagi mengatur ekspresi wajah agar tidak memicu kemarahan Mahesa, dan tidak perlu lagi menelan ketakutan saat melangkah keluar.

Kehidupan barunya sebagai mahasiswi yang mandiri berjalan dengan sangat damai selama beberapa hari pertama. Amerta sengaja menyibukkan diri dengan jadwal kuliah, praktikum di laboratorium, dan berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya hingga menjelang sore. Berada di lingkungan kampus tanpa pengawasan ketat dari supir pribadi atau mata-mata Mahesa membuatnya merasa seperti terlahir kembali menjadi manusia seutuhnya.

Sore itu, setelah menyelesaikan kelas terakhir yang cukup menguras energi, Amerta berjalan kaki menyusuri trotoar menuju flatnya. Jarak dari kampus ke tempat sewaannya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Sepanjang jalan, Amerta tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di sepasang matanya. Ia menikmati riuhnya suara klakson kendaraan, melihat pedagang kaki lima menjajakan dagangannya, dan berpapasan dengan orang-orang asing—sebuah interaksi sosial normal yang sempat dirampas darinya selama penyekapan.

Untuk merayakan keberhasilannya lepas dari cengkeraman obsesif kakak tirinya, Amerta memutuskan untuk memanjakan lidahnya. Selama tinggal di rumah utama, Mahesa selalu mendikte apa saja makanan yang boleh masuk ke dalam tubuhnya dengan alasan kesehatan dan kehigienisan. Junk food, makanan berminyak, atau minuman bersoda adalah hal yang sangat tabu di bawah aturan ketat Mahesa.

Amerta mampir ke sebuah gerai warung ayam goreng krispi cepat saji yang terletak di tikungan jalan dekat kompleks flatnya. Bau harum bumbu rempah yang digoreng dalam minyak panas langsung menyapa indra penciumannya, memicu rasa lapar yang luar biasa di perutnya.

"Mbak, pesan paket ayam goreng krispi yang isi lima potong ya. Sama minta es soda kalengan dua," ujar Amerta dengan nada riang kepada pelayan di balik etalase kaca.

"Baik, Kak. Ditunggu sebentar ya," jawab pelayan itu ramah.

Setelah menerima sekotak penuh ayam goreng yang masih mengepulkan uap panas dan dua kaleng besar soda dingin, Amerta berjalan cepat menuju flatnya dengan perasaan tidak sabar. Begitu melangkah masuk ke dalam kamarnya, hal pertama yang ia lakukan adalah memutar anak kunci dari dalam. Tindakan mengunci pintu kali ini tidak didasari oleh rasa takut yang mencekam, melainkan karena ia ingin memonopoli waktu pribadinya tanpa ada gangguan dari siapa pun.

Amerta melemparkan ransel kuliahnya ke atas kursi belajar, lalu melepas sepatu flatnya dengan santai. Ia mengambil karpet bulu tipis berwarna abu-abu yang baru ia beli, membenturkannya di lantai depan televisi layar kecil miliknya, lalu duduk bersila di sana dengan sangat nyaman.

Ia membuka kotak makanannya. Aroma gurih yang menguar dari kulit ayam goreng krispi yang berwarna cokelat keemasan langsung memenuhi seluruh ruangan flat yang mungil. Tanpa memedulikan etiket makan formal yang selalu ditekankan oleh ayahnya dan Mahesa di meja makan mewah mereka, Amerta langsung mengambil sepotong besar paha bawah ayam menggunakan tangan telanjang.

Kriuk.

Suara gigitan pertama pada kulit ayam yang sangat renyah terdengar begitu memuaskan di keheningan kamar tersebut. Daging ayamnya begitu lembut, berair, dan bumbunya yang gurih meresap hingga ke dalam tulang. Amerta memejamkan matanya rapat-rapat, mengunyah makanan itu dengan lahap sembari menikmati setiap sensasi rasa yang sudah sangat dirindukannya. Bagi Amerta, makanan sederhana di pinggir jalan ini terasa seratus kali lebih nikmat daripada hidangan restoran bintang lima yang sering dibawakan Mahesa ke kamarnya dulu.

Setelah menghabiskan dua potong ayam dengan cepat hingga jarinya berlumuran minyak, Amerta meraih satu kaleng soda yang permukaannya sudah dipenuhi butiran embun air dingin.

Krek!

Bunyi khas dari segel kaleng soda yang terbuka terasa seperti musik kemenangan di telinga Amerta. Tanpa ragu-ragu, ia mengarahkan kaleng itu ke bibirnya dan meminum cairan manis berkarbonasi tersebut dalam beberapa tegukan besar yang serakah. Sensasi tajam dari soda yang menggelitik dinding tenggorokannya serta rasa dingin yang langsung menjalar turun ke perutnya membuat Amerta mendesah lega dengan suara keras.

"Ah... ini baru namanya hidup," gumam Amerta pada dirinya sendiri, menyandarkan punggungnya yang lelah ke tepian ranjang kasurnya.

Ia menatap sisa ayam goreng di dalam kotak dengan senyuman puas. Di ruangan kecil yang sederhana ini, Amerta merasa menjadi penguasa penuh atas eksistensi dirinya sendiri. Tidak ada pria egois berkemeja hitam yang akan merebut makanannya, tidak ada suara bariton yang akan memarahinya karena minum soda dingin, dan tidak ada tangan kekar yang akan menahannya secara paksa di atas kasur. Ia benar-benar bebas.

Amerta menyalakan laptop barunya, memutar daftar lagu-lagu berirama ceria yang biasa ia dengarkan dulu, dan ikut bersenandung kecil mengikuti alunan musik. Sambil mengunyah potongan ayam ketiganya dan sesekali meneguk sodanya hingga tandas, Amerta merasakan kebahagiaan yang sangat murni. Tubuhnya yang tempo hari sempat ringsek dan lemas akibat demam tinggi kini telah pulih sepenuhnya, digantikan oleh energi kehidupan yang membara.

Malam semakin larut, dan rintik hujan mulai membasahi kaca jendela flatnya. Amerta mematikan lampu utama kamarnya, menyisakan lampu meja yang memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Ia meringkuk di atas kasurnya yang empuk, menarik selimutnya dengan perasaan aman yang luar biasa.

Sebelum memejamkan mata untuk tidur, Amerta menatap langit-langit kamarnya yang polos, membisikkan sebuah janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mempertahankan kebebasan yang sederhana ini dengan segala cara yang ia miliki. Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya kembali ke rumah mewah itu, dan ia tidak akan pernah membiarkan Mahesa menyentuhnya lagi. Namun, di bawah ketenangan malam kota yang diguyur hujan, Amerta sama sekali tidak menyadari bahwa di seberang jalan, di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir dalam kegelapan, sepasang mata biru yang sangat dingin sedang menatap tajam ke arah jendela kamarnya yang baru saja padam.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!