Arin adalah gadis tomboi yang suka bercanda, sebagai anak SMA yang merayakan kelulusan. Arin atau Rin Rin bertamasya bersama rombongan sekolah nya, tanpa sengaja Arin menginjak kucing berbulu putih yang begitu cerah, setelah itu sebuah kejadian membuat Rin Rin terjatuh di sebuah lubang yang membawanya kesebuah dimensi lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan berani menindasku.
Brakk..
Brukk..
Bugg..
Dua pengawal itu tersungkur.
"Beraninya kamu!" seru ratu Zivara.
"Dengarkan aku muka topeng, aku ini bukan bawahanmu, aku tidak suka di ancam dan di gertak!" seru Arin yang kemudian membantu Xan-bium dan pelayan yang lain.
"Nona." ucap pelayan yang merasa tersentuh oleh kebaikan Arin.
"Ayo kita pergi." ajak Arin.
"Beraninya kamu melawanku!" seru ratu Zivara murka.
Arin membawa ketiga pelayan yang bersamanya, dia terlihat begitu kesal dan marah. Saat berada di kamarnya dia nampak menepuk dadanya. "Hais... Wanita itu benar-benar menakutkan, dia mirip banget sama zombie." ucap Arin bernafas lega.
"Dia itu wanita kesayangan Yang mulia Kaisar, nona. Nanti pasti ratu Zivara mengadu pada Yang mulia Kaisar." kata Xan-bium.
"Heh.. Ngapain aku takut? Aku kan gak melakukan kesalahan." jawab Arin.
Di istana utama, kaisar Qianro sedang melihat beberapa laporan dari para prajuritnya. Sesaat kemudian salah satu prajurit datang memberi informasi.
"Ada apa?" tanya kaisar Qianro.
"Hamba melihat nona Arin berdebat dengan ratu Zivara." jawab prajurit.
"Lalu?" tanya kaisar kembali.
"Ratu Zivara mencoba memaksa nona Arin untuk memberi hormat, namun nona Arin tidak mau." jawab prajurit.
"Hem..., menarik. Ternyata dia tidak takut dengan ratu Zivara, ini menarik." jawab kaisar Qianro.
Mendapat informasi dari salah satu prajuritnya, Kaisar Qianro nampak tersenyum. Baru kali ini ada orang yang berani melawan ratu Zivara, wanita yang sudah dia nikahi semenjak berusia remaja itu.
"Bagaimana Yang mulia?" tanya pengawal Zeros.
"Biarkan saja." jawab kaisar Qianro.
"Bagaimana jika ratu Zivara mengadu kepada Yang mulia?"
"Biarkan saja, dia sudah berkuasa selama ini. Jadi, biarkan dia merasakan di lawan."
Kaisar Qianro kemudian meminta prajurit untuk melihat batas dunia iblis yang mulai terbuka.
"Yang mulia, Yang hamba dengar segel naga mulai retak." lapor salah satu prajurit.
"Bagaimana mungkin?" tanya kaisar Qianro.
"Yang hamba dengar.. Ada sebuah ramalan kalau sumur keramat itu membawa gadis suci." jawab pengawal Zeros.
"Gadis suci?" tanya kaisar Qianro.
"Dulu ada ramalan yang mengatakan akan ada gadis dari dunia lain yang akan membuka empat gerbang dimensi. Dan katanya gadis itulah yang membuat pergolakan dimensi." jawab pengawal Zeros.
"Gadis suci?"
Kaisar Qianro kemudian melihat ramalan empat alam, ramalan yang mengatakan dunia akan mengalami perubahan yang begitu besar.
"Siapa gadis itu? Gadis dari dimensi lain?" Kaisar Qianro terus memikirkan ramalan empat alam.
"Aaaa!!!! Beraninya wanita murahan itu melawanku!" teriak ratu Zivara.
"Tenanglah ratu." kata selir Avara. Dia mencoba menenangkan ratu Zivara. padahal dalam hati selir Avara juga sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Arin. Bagaimana tidak, dengan begitu percaya diri Arin bahkan melawan ratu Zivara dan istri Kaisar Qianro yang lain.
"Seistimewa apa wanita itu hingga dia berani melawan kita, ratu. Apakah dia sangat yakin yang mulia Kaisar akan menjadikannya istri barunya?" ucap selir Avara.
"Iya, aku benar-benar tidak suka dengan wanita itu, berani sekali dia melawan ratu. Padahal seluruh kerajaan ini tahu kalau ratu adalah wanita kesayangan dari yang mulia Kaisar. Ratu adalah wanita pemimpin kerajaan bumi." sahut selir Mia.
"Jika dia tidak mau tunduk kepada kita, maka kita akan membuatnya tunduk, bagaimana ratu?" tanya selir Xinxi.
Ratu Zivara menganggukkan kepalanya. "Kalian benar sekali, istana ini adalah tempatku, kerajaan ini adalah kekuasaanku. Tidak ada yang boleh melawanku." ujar ratu Zivara yang kemudian mengambil segelas air kemudian menekuknya dengan amarah yang begitu luar biasa.
"Tenang saja yang mulia ratu, bagaimana kalau kita berkunjung ke tempat yang mulia Kaisar? kita akan membicarakan mengenai wanita itu, setelah itu kita buat wanita itu menjadi bahan olok-olokan di istana ini." kata selir Avara yang nampak berniat untuk menabur garam dan menyulut amarah ratu Zivara.
Sore itu Kaisar Qianro mendatangi istana mungil milik Arin, istana yang tidak terlalu jauh dari istana utama milik sang Kaisar. Arin sedang berbicara dengan dua pelayan yang lain pelayan Yul dan pelayan Cia.
"Cia, umurmu berapa?" tanya Arin kepada pelayan Cia. pelayan itu nampak berwajah begitu imut dan Arin mengira kalau umurnya masih di bawahnya.
"Umur hamba 15 tahun nona." jawab Cia.
"Jadi umurmu 15 tahun ya, berarti aku lebih tua dong kalau begitu. Kamu begitu kamu panggil aku kakak ya." kata Arin yang membuat pelayan cia tersenyum.
"Kalau pelayan Yul umurnya berapa?" tanya Arin sembari mengusap mengupas buah apel.
"Umurku sudah 20 tahun nona, sama seperti umur Xan-bium." jawab pelayan Yul.
"Oh begitu ya, kalau begitu umur kalian berdua lebih tua dariku, sedangkan umur Cia lebih muda dariku." ucap Arin yang membuat ketiga pelayan itu menganggukkan kepalanya.
"Umurmu berapa nona?" tanya pelayan Cia.
"Umurku 17 tahun, aku baru lulus SMA di duniaku." jawab Arin yang kemudian menceritakan mengenai dunianya, dunia yang sangat berbeda di zaman ini, dunia yang begitu modern ada beberapa tempat beberapa barang yang tidak ada di tempat ini. "Dunia ini dunia kuno, dunia yang berhadapannya sangat jauh dari duniaku. Apa kalian tahu kalau aku di duniaku itu naik sepeda, naik bus bahkan salah satu temanku ada yang punya mobil." kata Arin.
Ketiga pelayan itu nampak benar-benar sangat penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Arin.
"Kelihatannya kalian sedang membicarakan sesuatu?" tiba-tiba Kaisar Qianro sudah berada di tempat Arin.
Arin yang sedang makan buah apel dengan begitu lahapnya itu dia langsung menoleh ke asal suara.
"Hormat kami yang mulia." ketiga pelayan itu bergegas membungkuk memberi hormat. Kaisar Qianro kemudian duduk di samping Arin.
"Apa yang sedang kamu lakukan Arin?" tanya Kaisar Qianro saat melihat Arin sedang mengupas buah-buahan sendiri tanpa menyuruh pelayannya. Sedangkan ketiga pelayannya itu sedang menyulam untuknya.
"Aku sudah mengupas buah apel ini, Yang mulia. Apakah yang mulia mau makan juga?" tanya Arin yang kemudian menyodorkan buah apel yang tadi barusan dia kupas.
Kaisar Qianro membuka mulutnya, sedangkan Arin langsung memasukkan buah itu ke mulut sang Kaisar. Kaisar Qianro sangat terkenal dengan sikapnya yang selalu tenang bahkan dia jarang sekali memperlihatkan kemesraannya bersama dengan para istrinya. Namun saat ini di depan ketiga pelayan istana, pria itu malah disuapi oleh Arin.
"Apakah kamu ada yang mengganggu, Arin?" tanya sang Kaisar.
Arin menggelengkan kepalanya, toh kejadian kemarin Arin anggap itu bukanlah masalah sama sekali. "Tidak yang mulia, memangnya ada apa?" tanya Arin. Dia kemudian mengusap tangannya dengan sapu tangan yang ada di sampingnya.
"Kalau kamu ada masalah katakan saja padaku, aku pasti akan membantumu." jawab sang Kaisar. namun Arin menggelengkan kepala dan mengatakan kalau dia baik-baik saja.
*bersambung*