NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Taring Pertama Xiao Bai

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik ufuk timur, memancarkan berkas cahaya keemasan yang menembus sela-sela rindangnya Hutan Bambu Ungu. Di sebuah area tanah lapang yang sepi di lereng bawah Gunung Han, rutinitas pelatihan fisik Gu Yu kecil kembali berjalan dengan penuh kedisiplinan yang ketat.

Namun fajar ini, pelatihan tersebut tidak hanya dihadiri oleh sang pangeran cilik.

Di atas sebuah batu gunung yang besar dan datar, Xiao Bai—harimau putih kecil bertubuh sekepalan tangan itu—sedang duduk kaku dengan empat kaki kecilnya yang gemetar hebat. Bulu-bulu putih bergaris perak di tubuhnya berdiri tegak, dan sepasang mata biru kristalnya menatap ketakutan ke arah Gu Jue yang sedang berdiri tegak beberapa langkah di depannya.

"Pria dingin... mengapa kau menyuruh Xiao Bai ikut naik ke atas batu itu?" tanya Gu Yu kecil, menyeka keringat di pelipisnya setelah menyelesaikan latihan kuda-kuda tiga puluh menit tanpa henti.

"Seekor binatang spiritual yang dipelihara di pondokku tidak boleh tumbuh menjadi kucing manja yang hanya tahu cara menghabiskan susu kambing fana, Bocah," jawab Gu Jue datar, suaranya yang rendah dan dingin memancarkan ketegasan seorang tabib sekaligus wibawa absolut seorang penguasa kegelapan.

"Jika suatu saat terjadi situasi darurat di mana aku sedang tidak berada di dekat ibumu atau dirimu, anak kucing ini harus bisa menjadi taring dan perisai pertamamu."

Gu Jue berjalan mendekati batu besar tersebut.

Setiap kali langkah tegap jubah rami abu-abunya mendekat, Xiao Bai secara insting melebarkan cakar kecilnya di atas batu, mengeluarkan suara cicitan takut yang teramat konyol seolah sedang menghadapi maut.

"Perhatikan napasnya, Yu'er. Jalur meridian sebuah siluman harimau berpusat di antara otot belikat depan mereka," ujar Gu Jue, beralih memberikan petunjuk anatomi medis fana di depan putranya.

Namun, di saat yang bersamaan, ketika jemari panjang dan kokoh milik Gu Jue menyentuh tengkuk berbulu halus Xiao Bai, sekerat fenomena spiritual senyap terjadi. Gu Jue diam-diam menyalurkan sebagian kecil esensi energi dingin murninya yang telah disaring selembut sutra malam langsung menembus masuk ke dalam inti jiwa harimau kecil tersebut.

Energi iblis murni milik Mo Jue bertindak sebagai stimulan rahasia yang luar biasa kuat, seketika membakar dan menyalakan bakat dewa perang purba yang selama ini tidur lelap di dalam garis darah Xiao Bai.

Ngiiaungg!

Xiao Bai melengkungkan punggung kecilnya, sepasang mata biru kristalnya berkilat memancarkan pendaran cahaya ungu kehitaman yang pekat selama sepersekian detik sebelum diredam kembali oleh jepitan jari Gu Jue. Rasa takut di dalam jiwa harimau kecil itu mendadak menguap, digantikan oleh gelombang rasa patuh, rasa hormat yang teramat dalam, dan kekuatan fisik baru yang membuat kuku-kuku kecil di cakarnya mendadak tumbuh menjadi setajam belati baja.

Melalui ikatan energi rahasia tersebut, Mo Jue menanamkan satu perintah sakral langsung ke dalam relung sukma Xiao Bai: "Gunakan seluruh taring dan cakarmu untuk menjadi perisai bagi putraku. Jika dia terluka seujung kuku saja karena kelalaianmu... aku sendiri yang akan merobek sukmamu menjadi abu."

Xiao Bai menundukkan kepala kecilnya yang berbulu putih di atas batu, mengeluarkan suara lenguhan rendah yang sarat akan sumpah setia mutlak kepada sang Raja Iblis.

"Lihat? Dia sudah mengerti bagaimana cara menahan napasnya dengan benar sekarang," kata Gu Jue acuh tak acuh, menarik kembali tangannya dan berpura-pura memeriksa keranjang obat di dekatnya.

"Yu'er, bawa anak kucing ini bersamamu masuk ke lereng bukit sebelah timur untuk mencari beberapa ikat daun mint liar untuk ibumu. Aku akan kembali ke pondok untuk menjerang air fajar."

"Baik, pria dingin! Ayo, Xiao Bai, mari kita buktikan hasil latihan kita hari ini!" seru Gu Yu kecil dengan binar mata yang berkilau penuh semangat, memanggil harimau putih kecilnya yang kini langsung melompat lincah bertengger di atas bahu jubah rami abu-abunya.

Gu Jue menatap punggung kecil putranya dan harimau putih yang berjalan menjauh menembus kabut hutan bambu dengan sepasang mata sehitam tinta yang menyipit tajam. Investasi perlindungan berlapis telah ia kunci dengan sempurna di tubuh Xiao Bai, memastikan anaknya memikul benteng pertahanan rahasia tingkat tinggi.

------------------------------

Beberapa puluh menit kemudian, di lereng bukit timur yang sunyi, Gu Yu kecil sedang memetik tanaman obat ketika hawa di sekelilingnya mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Xiao Bai yang bertengger di bahunya tiba-tiba menegakkan tubuhnya, mengeluarkan geraman rendah yang sarat akan kewaspadaan.

Sret! Brak!

Dari balik semak belukar lebat, lima orang pengintai dari aliansi sekte manusia fana melompat mengepung posisi Gu Yu dari segala penjuru. Tiga di antaranya mengenakan zirah perak dari Sekte Sembilan Pedang, sementara dua lainnya adalah tetua berjubah hijau dari Sekte Lembah Racun. Di bawah pengaruh hasutan fitnah Dewa Tinggi Ling Cang, mata mereka semua berkilat merah dipenuhi oleh keserakahan yang luar biasa pekat untuk menangkap sang "Benih Kutukan".

"Hahaha! Lihat anak kecil ini! Matanya benar-benar sehitam malam, dia adalah benih kutukan yang membawa kiamat itu!" bentak salah satu pengintai Sekte Sembilan Pedang sembari menghunus pedang bajanya yang berkilau tajam.

"Tangkap dia hidup-hidup! Kenaikan tingkat menjadi dewa sudah di depan mata kita!"

Gu Yu kecil tidak mundur satu langkah pun. Ia memasang posisi siaga rendah, tangan kanan kecilnya bergerak secepat kilat ke balik punggung, menghunus pedang kayu kecil miliknya ke udara.

Namun, sebelum musuh sempat melangkah maju, Xiao Bai mendadak melompat turun dari bahu Gu Yu. Anak harimau yang tadinya sekecil kucing manja itu kini menegakkan kakinya di atas tanah fana, mengeluarkan raungan bariton yang teramat berat dan bergema kaku di antara batang bambu.

ROAAARRR!

Bulu-bulu perak di tubuh Xiao Bai berkilat memancarkan hawa es yang mematikan. Mengingat sumpah sakralnya pada sang Raja Iblis fajar tadi, harimau putih itu melesat maju bagaikan kilatan cahaya putih di udara. Cakarnya yang sekecil kelingking manusia mendadak memanjang memancarkan sulur energi ungu kehitaman—sisa dari energi dingin murni Mo Jue yang memicu bangkitnya kekuatan dewa perang purbanya.

Sret! Sret!

"AAAKHH!"

Dua jeritan kesakitan pecah seketika. Cakar tajam Xiao Bai mencabik telak zirah perak dan memotong urat nadi pergelangan tangan dua pengintai terdepan Sekte Sembilan Pedang dengan kecepatan yang luar biasa lincah. Pedang-pedang baja di tangan mereka seketika terlepas, jatuh berdenting di atas tanah berlumpur saat kedua tubuh dewasa itu terjerembap menahan perih yang membeku.

Gu Yu kecil yang melihat celah serangan dari sahabat bulunya, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam melalui perut, memusatkan seluruh ketetapan hatinya, lalu melompat maju mengayunkan pedang kayu kecilnya.

Penyatuan emosi Gu Yu seketika mengaktifkan Segel Pelindung Iblis tak kasat mata di dalam pedang kayu tersebut.

KLANG!

Pedang kayu biasa itu berbenturan keras dengan pedang baja milik pengintai ketiga. Suara hantamannya berdentum dahsyat bak ledakan meriam gaib. Senjata baja kualitas tinggi milik sekte manusia tersebut seketika hancur berkeping-keping menjadi belasan serpihan logam di udara. Hantaman getaran energi dari pedang kayu Gu Yu bahkan membuat pria zirah perak itu terlempar lima meter ke belakang, menghantam pohon bambu hingga patah sebelum akhirnya jatuh tersungkur memuntahkan darah segar.

"M-Monster! Bocah kecil dan harimau putih ini... mereka bukan makhluk fana biasa!" Dua pengintai tersisa dari Sekte Lembah Racun berteriak panik, wajah mereka berubah pucat pasi seketika saat melihat tiga rekan mereka dilumpuhkan dalam hitungan detik oleh kombinasi cakar Xiao Bai dan pedang kayu Gu Yu.

Keserakahan di mata mereka lenyap total, digantikan oleh rasa takut yang teramat sangat. Mereka buru-buru meraba kantung pinggang mereka, bersiap melemparkan jimat asap beracun untuk melarikan diri demi memanggil pasukan utama di kaki gunung.

Xiao Bai mendarat kembali di samping kaki Gu Yu kecil, memasang posisi merunduk dengan taring kecilnya yang menyeringai mengeluarkan uap es dingin, bertindak sebagai perisai pertama yang kokoh demi melaksanakan sumpah sakralnya.

Namun, sebelum jimat racun musuh sempat dilemparkan, seluruh udara di lereng bukit itu mendadak membeku total. Suara gemercik angin badai dan siulan daun bambu hilang dalam sekejap, menyisakan kesunyi pekat yang teramat mencekam, seolah-olah waktu di dalam hutan tersebut baru saja dihentikan paksa oleh tangan raksasa tak kasat mata saat sesosok kehadiran raksasa sepekat malam—Gu Jue—perlahan melangkah keluar dari balik pekatnya kabut hutan bambu untuk mengunci sisa pelarian para musuh.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!