Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di balik Dusta
Langkah kaki Rian terdengar memecah keheningan koridor belakang penthouse. Sebagai asisten pribadi Bara Mahendra yang merangkap mengawasi sistem keamanan domestik, sore itu ia bermaksud memeriksa inventaris logistik yang baru dikirim ke gudang belakang. Namun, baru saja ia berbelok di dekat lorong sempit area cuci pakaian satu-satunya sudut mati yang tidak terjangkau oleh lensa kamera pengawas langkah kakinya mendadak terhenti kaku.
Suara isak tangis yang teramat lirih, tertahan, dan sarat akan keputusasaan terdengar memantul di dinding lorong yang sunyi.Rian menajamkan pendengarannya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sesosok wanita sedang duduk bersimpuh di lantai marmer yang dingin, meringkuk memeluk lututnya sendiri. Itu Senja Amartya. Tubuh mungilnya berguncang hebat, kedua bahunya melunglai, dan rambut hitamnya terurai berantakan menutupi wajah pucatnya.
"Nona Senja?" panggil Rian dengan nada penuh kecemasan. Ia langsung melangkah cepat dan berjongkok di samping istri sah bosnya itu.
Saat Senja mendongak, Rian seketika menahan napasnya karena terkejut. Pipi kiri Senja tampak memerah padam membentuk bekas tamparan yang kentara, dan matanya yang biasa jernih kini bengkak digulung air mata. Namun, yang paling mengerikan adalah tangan kanan Senja yang gemetar di atas pangkuan. Punggung tangan lembut itu tampak robek, membiru memar, dengan darah segar yang masih menetes, ternoda oleh debu lantai dan sisa manik-manik mutiara yang berantakan.
"Ya Tuhan, Nona! Apa yang terjadi dengan tangan Anda?!" pekik Rian panik. Tanpa membuang waktu, ia berlari cepat ke ruang depan untuk mengambil kotak pertolongan pertama, lalu kembali berlutut di samping Senja.
Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Rian meraih pergelangan tangan Senja. Ia mengambil kapas berlapis cairan antiseptik, lalu mengusap luka robek di punggung tangan gadis itu dengan perlahan. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang terbuka, tubuh Senja refleks tersentak, merintih menahan rasa perih yang teramat sangat dari tulang jarinya yang terasa remuk akibat injakan hak sepatu Olivia.
"Nona, katakan pada saya yang sebenarnya," ucap Rian, suaranya merendah penuh penekanan sembari membalut luka itu menggunakan kain kasa putih. Tatapan matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Siapa yang melakukan ini pada Anda? Apakah Nona Olivia? Tempat ini adalah area buta CCTV, dan saya tahu betul dia baru saja berjalan keluar dari lorong ini dengan wajah puas."
Senja menarik napasnya dengan susah payah, dadanya naik turun tersengal-sengal menahan sisa isak tangisnya. Bayangan ancaman pembunuhan terhadap Darma Amartya di rumah pinggiran kota yang dibisikkan Olivia tadi seketika berputar di kepalanya bagai teror yang mematikan. Ketakutan yang teramat luar biasa kembali mengunci lidahnya. Ia tidak boleh egois. Jika ia jujur pada Rian, dan kabar ini sampai ke telinga Bara tanpa bukti digital yang kuat, Olivia pasti akan melaksanakan ancamannya untuk melenyapkan ayahnya malam ini juga.
Senja menarik tangan kanannya yang sudah selesai diperban dari genggaman Rian, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terkesan sangat kaku dan hampa.
"Tidak ada yang melakukannya, Rian," bohong Senja, suaranya bergetar parau di tenggorokan yang kering. Ia menghapus sisa air matanya menggunakan punggung tangan kirinya.
"Aku... aku hanya kurang hati-hati tadi. Saat ingin mengambil beberapa botol cairan pembersih di rak atas, aku terpeleset dan jatuh menghantam sudut rak besi ini. Pipi dan tanganku terbentur keras. Ini murni kesalahanku sendiri."
Rian mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Senja. Sebagai pria yang bertahun-tahun menganalisis gestur tubuh manusia di dunia bisnis, Rian tahu betul bahwa Senja sedang berdusta. Luka robek dan memar linier yang melingkar di punggung tangan Senja tidak terlihat seperti benturan rak besi, itu adalah bekas tekanan benda tajam yang diputar paksa, menyerupai ujung hak sepatu wanita. Ditambah lagi, binar mata Senja saat ini dipenuhi oleh kabut ketakutan yang absolut, bukan sekadar rasa sakit fisik akibat kecerobohan.
"Nona Senja, Anda tidak pandai berbohong," sergah Rian lembut namun tegas.
"Jika Pak Bara pulang malam ini dan melihat luka di tubuh Anda, beliau pasti akan mengamuk. Biarkan saya melaporkan kejadian ini pada beliau—"
"Jangan! Aku mohon jangan, Rian!" potong Senja histeris, mencengkeram lengan kemeja Rian dengan tangan kirinya yang bebas. Tatapan matanya memancarkan kepanikan yang teramat sangat, mengemis belas kasihan.
"Jangan katakan sepatah kata pun pada Bara tentang luka ini. Aku mohon... demi keselamatan semua orang, biarkan masalah ini dianggap sebagai kecelakaan kecil biasa. Berjanjilah padaku, Rian. Jangan buat situasi di rumah ini kian rumit."
Melihat keputusasaan yang begitu mendalam dari Senja yang bahkan rela mengorbankan rasa sakitnya sendiri demi menyembunyikan sesuatu, Rian akhirnya memilih untuk mengalah. Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan dengan berat hati.
"Baik, Nona. Saya berjanji tidak akan mengadu pada Pak Bara malam ini. Mari, saya bantu Anda berdiri dan kembali ke kamar."
______________________________________________
Setelah mengantar Senja masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, Rian kembali ke ruang lobi luar dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Ia berdiri mematung di dekat pintu lift, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap kosong ke arah lantai marmer. Rian tidak percaya sedikit pun pada alibi jatuh dari rak yang diucapkan Senja. Sesuatu yang teramat besar dan mengerikan pasti sedang terjadi di balik punggung Bara Mahendra, sebuah ancaman terselubung yang berhasil membungkam zirah ketangguhan seorang Senja Amartya hingga gadis itu kembali bertekuk lutut dalam ketakutan.
"Nona Senja tidak akan ketakutan sampai seperti itu jika menyangkut dirinya sendiri," batin Rian menebak dengan tajam. "Satu-satunya kelemahan mutlak di hidupnya adalah Pak Darma. Olivia pasti telah mengancam keselamatan Pak Darma di rumah pinggiran kota."
Rian mengepalkan tinjunya kuat-kuat di dalam saku celana. Amarahnya pada kemunafikan Olivia Wijaya kian membara. Namun, ia juga menyadari posisi sulit bosnya. Jika ia melaporkan hal ini pada Bara sekarang tanpa adanya bukti autentik, Bara yang saat ini sedang dilingkupi oleh benteng gengsi dan sisa-sisa dendam masa lalunya mungkin akan menganggap hal itu sebagai perselisihan domestik biasa antar wanita, atau bahkan mengabaikannya demi egonya sendiri. Rian membutuhkan bukti yang kuat dan tidak terbantahkan.
Langkah taktis pun mulai dirancang di dalam otak Rian. Mengingat area lorong belakang adalah sudut mati tanpa jangkauan lensa internet apartemen, Rian memutuskan untuk tidak mengandalkan sistem keamanan internal yang ada.
Malam itu juga, setelah memastikan Bara dan Olivia telah berada di dalam kamar masing-masing, Rian kembali menyelinap masuk ke dalam penthouse dengan langkah tanpa suara. Di bawah pendar cahaya remang lampu koridor belakang, ia mengeluarkan sebuah perangkat elektronik mikro berukuran sebesar kancing baju sebuah kamera pengawas portabel nirkabel (spy cam) dengan lensa sudut lebar beresolusi tinggi yang ia beli dari kolega intelijen pribadinya.
Menggunakan kursi kecil, Rian memasang kamera mikro tersebut di sela-sela lipatan pipa saluran udara atas plafon lorong belakang, menyamarkannya dengan teramat rapi di balik bayangan besi kabinet. Lensa kamera itu kini menyorot lurus, mengunci seluruh sudut mati tempat cuci pakaian tanpa menyisakan satu celah pun.
"Kita lihat, berapa lama lagi kamu bisa menyembunyikan wajah iblismu di rumah ini, Olivia," bisik Rian dengan senyuman dingin yang mengembang di wajah formalitasnya sembari menguji koneksi rekaman itu langsung ke ponsel pintarnya.
Rian membulatkan tekad untuk terus mengawasi pergerakan Olivia selama dua puluh empat jam penuh ke depan. Ia akan membiarkan sandiwara keji ini berjalan satu babak lagi, mengumpulkan setiap tetes bukti kekerasan fisik dan ancaman verbal yang dilakukan wanita itu terhadap Senja. Rian tahu, saat lembaran bukti digital itu lengkap terkumpul di tangannya esok hari, ia akan menyerahkannya langsung ke hadapan Bara Mahendra, meledakkan sebuah kebenaran besar yang tidak hanya akan mendepak Olivia ke dalam sel penjara selamanya, melainkan memaksa sang predator untuk meruntuhkan seluruh sisa egonya demi menyelamatkan jiwa suci wanitanya yang kian hari kian terkikis habis dalam sunyi.
Bersambung