NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Pertama Bengkel

​Pagi itu, Hutan Kematian tampak bermandi cahaya keemasan yang tenang. Langit biru cerah tanpa gumpalan awan mendung, memberikan atmosfer yang begitu damai bagi siapa saja yang menghirup udara segarnya. Haruto keluar dari pintu rumah kayu utamanya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku karena sisa pekerjaan kemarin. Saat ia melangkah turun ke halaman, ia mendapati Brom sudah berada di sana, duduk bersila di depan tumpukan bijih besi yang mereka bawa dari tebing merah.

​Brom memegang satu bongkah batu kemerahan itu di tangan kanannya, memutarnya perlahan, dan menatapnya dengan intensitas yang hampir religius. Ia membiarkan jemarinya meraba tekstur kasar batu tersebut, seolah sedang berkomunikasi dengan rahasia yang tersimpan di dalamnya. Haruto mendekat pelan, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara di atas tanah yang lembap.

​"Sudah bisa langsung dibuat besi?" tanya Haruto dengan nada santai sambil berjongkok di samping sang Dwarf.

​Brom mendengus pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia menggelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangan dari bijih tersebut. "Kalau semudah itu, semua orang di dunia ini bisa jadi pandai besi. Jika besi hanya butuh dibakar sebentar saja untuk jadi pedang, maka tak akan ada lagi perang, karena semua orang sudah punya senjata sendiri."

​Haruto mengangguk-angguk, mencoba memahami logika tersebut. "Masuk akal juga."

​Di latar belakang, desa kecil itu mulai menunjukkan denyut kehidupan yang teratur. Mira dan Fira sudah berada di lapangan latihan darurat, melatih kecepatan lemparan tombak kayu mereka dengan fokus yang tajam. Luna terlihat sibuk membantu Kaelin menyiram petak-petak sayuran yang mulai membesar, sementara Elara duduk di beranda rumah, tangannya yang terampil mencatat persediaan bahan pangan dan peralatan di dalam buku catatannya yang sudah hampir penuh. Haruto merasa terperangah. Dulu, ia selalu harus memikirkan setiap detail sendirian. Sekarang, desa ini telah menemukan ritmenya sendiri.

​Setelah sarapan singkat, Haruto mengajak Brom untuk mensurvei lokasi pembangunan bengkel. Mereka berjalan mengelilingi area desa, mencari tempat yang paling strategis. Akhirnya, mereka berhenti di bagian timur laut, sebuah lahan kosong yang cukup jauh dari rumah-rumah namun tetap berada dalam area jangkauan pagar.

​"Bagaimana kalau di sini?" tanya Haruto sambil menunjuk tanah yang cukup padat.

​Brom tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah rumah-rumah, memperhatikan posisi lumbung dan arah hembusan angin yang biasa berhembus dari arah sungai. Ia kemudian mengambil segenggam tanah, melemparkannya ke udara, dan memperhatikan bagaimana debu tanah itu terbawa oleh arus angin sebelum jatuh kembali ke bumi.

​"Kau sedang apa?" tanya Haruto dengan kening berkerut.

​"Melihat arah angin," jawab Brom serius. "Bengkel tidak boleh terlalu dekat dengan rumah. Asap dari tungku peleburan itu pekat dan menyesakkan. Lagipula, kalau percikan api dari tungku tidak sengaja mengenai dinding kayu rumah kita saat angin kencang bertiup, semuanya bisa habis dalam satu malam. Kita butuh jarak yang aman."

​Haruto langsung mengangguk setuju. Ia baru sadar betapa cerobohnya ia jika membiarkan pembangunan bengkel dilakukan sembarangan. "Ide yang bagus. Kalau begitu, di sini saja."

​Pekerjaan dimulai segera. Kali ini, hampir seluruh warga desa ikut terlibat. Haruto menebang beberapa pohon yang dibutuhkan untuk tiang-tiang utama. Fina dan Luna dengan cekatan menyeret batang-batang pohon itu ke lokasi pembangunan, sementara Mira dan Fira bertugas mencari batu-batu datar yang stabil untuk dijadikan alas bangunan. Kaelin dan Hana pergi ke tepi sungai untuk mengambil tanah liat yang padat.

​Haruto, yang melihat Kaelin membawa beban tanah liat yang cukup besar, merasa heran. "Kenapa harus tanah liat? Bukankah menyusun batu saja sudah cukup?"

​Brom sedang sibuk mengatur posisi balok kayu saat mendengar pertanyaan itu. "Batu saja tidak akan cukup, Haruto," jelas Brom dengan sabar. "Tungku itu harus menahan panas yang luar biasa tinggi untuk melelehkan bijih besi. Kalau kita hanya menyusun batu biasa, panas akan membuat batu itu retak, bahkan meledak. Tanah liat berfungsi sebagai perekat sekaligus isolator agar panas tetap terkonsentrasi di dalam tungku."

​Haruto baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu meremehkan proses konstruksi. Ia selalu mengira bahwa asal benda bisa disusun, maka benda itu akan berfungsi.

​Kini, semua orang bisa melihat keahlian Brom yang sebenarnya. Sang Dwarf itu bekerja dengan efisiensi yang menakjubkan. Ia tidak perlu membuang waktu untuk berpikir lama; satu batu diletakkan, jika dirasa kurang pas, ia menggesernya sedikit, lalu menambahkan batu kedua dengan presisi yang sempurna. Kayu dipotong sesuai ukuran, balok-balok disusun dengan kunci sambungan kayu yang kokoh tanpa perlu banyak paku atau pengikat. Luna, yang sedang mengamati dari dekat, berbisik pada Elara, "Dia sangat hebat... Gerakannya terasa seperti Haruto saat sedang merawat tanaman, tenang dan sangat yakin."

​Elara tersenyum kecil. "Setiap orang punya bidangnya, Luna. Itulah alasan kenapa kita bisa membangun desa ini bersama-sama."

​Haruto sendiri sempat mencoba membantu. Saat ia melihat sebuah balok besar yang menurutnya bisa diletakkan lebih cepat di bagian atas rangka, ia mencoba mengangkatnya. "Kalau dipasang di sini saja mungkin lebih cepat, Brom!" seru Haruto.

​Brom segera menjatuhkan alatnya dan menghampiri Haruto, memegang balok tersebut agar tidak jatuh. "Jangan! Jangan ditaruh di situ."

​"Kenapa? Bukankah itu akan menahan atap dengan baik?"

​"Kalau balok penyangga diletakkan di sana, beban atap justru akan menekan titik sambungan yang paling lemah. Dalam beberapa bulan saja, sambungan itu akan longgar, dan seluruh bangunan bisa roboh saat tertimpa salju atau angin besar," jelas Brom.

​Haruto berkedip. Ia benar-benar merasa seperti orang bodoh di bidang bangunan. "Aku benar-benar tidak mengerti tentang konstruksi bangunan," akunya sambil tertawa kecil.

​Brom membalas tawa itu dengan nada yang bersahabat. "Itulah sebabnya aku ada di sini, bukan?" Seluruh Ras Kelinci yang mendengarnya pun ikut tertawa, suasana kerja menjadi sangat cair.

​Menjelang sore, rangka bengkel sederhana sudah selesai berdiri. Tidak ada dinding yang tertutup rapat, hanya tiang-tiang kayu yang kokoh, atap kayu yang miring untuk membuang air hujan, dan ruang terbuka agar sirkulasi udara bisa mengalir dengan baik saat asap keluar. Di bagian tengah, sebuah tungku batu yang kokoh telah berdiri dengan bentuk yang unik, dirancang khusus untuk memfokuskan panas ke pusat pembakaran. Brom mengelilingi tungku itu berkali-kali, mengetuk setiap bagian untuk memastikan tidak ada celah, dan akhirnya mengangguk puas.

​"Sudah selesai," ucapnya singkat.

​"Langsung dipakai?" tanya Haruto yang sudah tidak sabar.

​"Bisa. Tapi Haruto," Brom menarik napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Kalau percobaan pertama ini gagal, jangan kecewa. Peleburan besi adalah proses yang rumit, dan seringkali gagal pada percobaan pertama."

​Haruto memiringkan kepalanya dengan heran. "Memangnya bisa gagal?"

​"Sering sekali," jawab Brom singkat.

​Proses penyalaan pun dimulai. Kayu-kayu kering dimasukkan ke dalam tungku, diikuti dengan arang yang mereka buat sehari sebelumnya. Brom menyalakan api dengan teknik yang ia pelajari di kerajaan. Api kecil mulai menari-nari di dasar tungku, memerah seiring berjalannya waktu. Semua orang berdiri mengelilingi tungku itu, menahan napas. Perlahan, api semakin membesar, menciptakan panas yang mulai terasa di wajah mereka. Asap mulai mengepul, mengalir lancar melalui lubang udara yang dibuat Brom, tidak ada batu yang retak, tidak ada tanah liat yang runtuh.

​Brom memejamkan matanya, menikmati suara deru api yang stabil. Sudah sangat lama ia tidak merasakan atmosfer seperti ini—suasana di mana ia memegang kendali atas api dan besi. Haruto yang berdiri di sampingnya menepuk pundak sang Dwarf dengan bangga. "Berhasil, Brom!"

​Brom membuka matanya, menatap bara yang menyala terang di dalam tungku. Ia tersenyum tipis. "Ya... berhasil."

​Malam mulai turun, menyelimuti desa dengan keheningan. Haruto kembali ke rumah, namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi membawa tempat minum kayu kecil. Ia memberikannya pada Brom yang masih duduk menatap bara api.

​"Ini," kata Haruto.

​Brom menerima cangkir itu, mengendusnya sedikit. Cairannya bening. Ia mengira itu adalah alkohol yang disuling dengan teknik Dwarf yang langka. Namun saat ia meminumnya, rasanya manis dan segar.

​"Apa ini?" tanya Brom.

​"Air," jawab Haruto datar. Lalu ia tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah kecewa Brom. "Bercanda! Itu jus buah liar buatan Kaelin."

​Brom menghela napas panjang, merasa sedikit malu. Elara yang berada di dekat mereka berkomentar pelan, "Katanya bangsa Dwarf memang sulit dipisahkan dari alkohol, ya?" Brom hanya menggaruk kepalanya, sedikit tersipu karena tertangkap basah.

​Sebelum tidur, Haruto berdiri di depan gerbang desa menghadap ke selatan, ke arah di mana hutan masih terbentang luas. Ia menoleh ke belakang, melihat desa kecilnya yang kini memiliki semuanya: rumahnya, rumah besar para Ras Kelinci, dapur, lumbung, kebun sayur, sawah yang baru saja dipanen, ladang kedelai, dan kini, sebuah bengkel sederhana dengan api yang masih menyisakan bara merah di dalamnya.

​"Pelan-pelan..." bisik Haruto pada dirinya sendiri. "Desa ini mulai terasa lengkap."

​Di kejauhan, Brom masih duduk di depan tungku yang mulai meredup. Ia menggenggam palu warisan ayahnya dengan sangat erat, tidak lagi sebagai simbol pelarian, tapi sebagai instrumen pekerjaannya. Besok, untuk pertama kalinya sejak ia menjadi buronan yang tak punya masa depan, ia akan kembali menempa. Api dalam tungku itu adalah saksi bahwa masa lalu telah mati, dan hari esok adalah sesuatu yang akan mereka bentuk dengan tangan mereka sendiri. Haruto masuk ke dalam rumah, meninggalkan malam yang tenang, siap untuk menyambut hari esok di mana desa ini tidak lagi hanya sekadar tempat singgah, melainkan sebuah rumah yang benar-benar hidup.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!