NovelToon NovelToon
Ratap

Ratap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Erwan Saputra

Banyak cerita yang ingin kubagi bersama mu.

Hari-hari saat kau tak ada .
Aku selalu cemas bagaimana aku melewati hari tanpa mu.
Tapi, semestinya hidup harus terus berjalan bukan?
Bayangmu di tengah-tengah cahaya senja, gelak tawamu di sela candaanku, dan senyum di kala sore itu.
Aku senang jika waktu berhenti seperti itu.

Bahkan jauh sebelum semua ini bermula, aku telah membayangkan beberapa kemungkinan.
Entah aku atau kau mengucapkan pisah lebih dahulu atau diam yang menjelaskan keadaan.
Jika kelak kita memang tak lagi bersama, tetaplah menjadi tempat teramat rahasia dan mimpi besar ku yang kubagi hanya padamu saja.
Aku harap itu benar-benar mewakili untuk membuat mu sedikit terhanyut pada ingatan masa lalu.
Kau tahu? Aku masih berkunjung sesekali, meski tanpa mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwan Saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kiri

...****************...

Di rumah Pakde Rahmat....

Putra, Rahmat, Satria dan Yoga yang baru saja selesai berwudhu menuju ke atas untuk menunaikan sholat magrib. Febi dan Akhil menuju ke bawah untuk berwudhu disusul Dika di belakang mereka.

Sementara Zul tinggal di dalam ruangan lantai atas rumah pakde sendirian sibuk bermain-main dengan handphone-nya. Sedangkan Billa dan Chika masih di dalam kamar menemani Wanda.

Di dalam kamar rumah pakde lantai dua ...

Wanda tengah berbaring di atas kasur dengan ditemani Chika dan Wanda disampingnya. Billa dan Chika masih sering memperhatikan Wanda yang tengah berbaring tersebut. Wanda hanya diam tanpa ekspresi. Badannya dingin serta pucat. Hal tak biasa tersebut membuat rasa khawatir antara Billa dan Chika terus berkecamuk.

Chika menyentuh Billa dengan tangannya. Billa menoleh ke arah Chika yang tengah duduk di sebelahnya.

"Bill ... kenapa Wanda masih seperti ini terus ya ...?" tanya Chika dengan rasa sedih

Billa coba menenangkan Chika. "Sudah ... gak kenapa-kenapa kok. Nanti pasti Wanda bakal cepat balik lagi kayak biasa," ucap Billa sembari tersenyum kepada Chika.

"Tapi ... Bill ... apa kita gak usah ikut aja ya nanti. Kita temani Wanda aja dulu disini sampai sembuh kalau nanti Akhil dan kawan-kawannya ngotot mau tetap mendaki?" tanya Chika kepada Billa.

"Soal itu ... gak usah di pikirkan dulu, Chik. Yang penting Wanda cepat sembuh dulu. Itu yang perlu kita pikirkan," jawab Billa coba menenangkan kembali Chika.

Billa tampak sesekali mengusap kening Wanda yang berbaring di hadapannya. Wanda masih tetap tanpa ekspresi apapun.

"Kamu jangan seperti ini terus ya, Wan. Kita kan rencananya mau senang-senang kesini. Tapi ... kamu malah jadi seperti ini," gumam Billa dalam hati.

Billa dan Chika masih duduk di kamar tersebut sembari menunggu giliran untuk sholat.

Di luar kamar ...

Di dalam ruangan lantai dua rumah pakde. Putra, Rahmat, Satria dan Yoga tampak sedang mempersiapkan diri untuk sholat. Mereka sedang mencari perlengkapan sholat mereka masing-masing. Ada yang mencari sarung dan ada juga yang mencari peci atau yang lainnya.

"Yok ... siapa jadi imam. Sudah siap ni ... di imami," ucap Rahmat sambil menoleh ke arah Putra, Satria dan Yoga yang masih berjibaku mencari peralatan sholat mereka.

"Tunggu lah ... masih cari sarung ini," ucap Satria sambil mengorek-ngorek isi tasnya.

Sementara Yoga dan Putra tengah bersiap memakai sarung.

Setelah beberapa menit, mereka akhirnya siap untuk sholat berjamaah. Mereka berempat membentangkan sajadah di lantai berdiri untuk menjadi makmum semua.

"Lah ... kalau jadi makmum semua siapa yang jadi imamnya?" ucap Rahmat kepada Putra, Satria dan Yoga.

Yoga berkata, " Kamu aja Satria ...." Yoga mendorong Satria yang berdiri di sampingnya.

"Ehh jangan aku ... entar salah semua lo kalo aku jadi imamnya," Satria menjawab.

"Ya udah kalau begitu." Rahmat menarik sajadahnya dan berjalan ke depan mereka untuk menjadi imam.

Rahmat menoleh ke belakang lalu tersenyum. "Heheheh ... kamu aja ya, Put", ucap Rahmat menyuruh Putra.

Putra pun menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran dengan kelakuan Rahmat. Sementara, Satria dan Yoga tertawa.

Rahmat kembali menarik sajadahnya dan berpindah ke belakang.

"Aku pikir tadi kamu mau jadi imam," ucap Putra yang mengambil sajadahnya untuk pindah ke depan mereka.

"Heheheh ... gak jadi ahh takut salah," ucap Rahmat sambil tersenyum dengan polosnya.

Putra pun akhirnya berdiri tegak di depan mereka bertiga. Mereka melaksanakan sholat di sudut ruangan tersebut.

Di sudut lain lantai dua rumah pakde ...

Zul yang di tinggalkan oleh Dika masih berjibaku dengan Hp nya. Sesekali ia menoleh ke arah Putra, Rahmat, Satria dan Yoga yang sedang melaksanakan sholat.

"Ahh ... gabut banget ini. Aku di tinggalkan sendiri mana yang lain sholat," ucap Zul sambil memegang Handphone-nya.

Zul mematikan layar handphone-nya dan meletakkannya di atas meja tak jauh dari tempat ia duduk.

Zul lalu mengambil posisi pindah ke lantai untuk berbaring. Ia tidur menghadap langit-langit atap rumah tersebut.

Di lain tempat ...

Akhil dan Febi tengah berjalan mencari sumur ke sebelah kanan rumah tersebut. Sementara, Dika coba menyusul mereka yang sudah berjalan duluan.

Setelah beberapa menit akhirnya Akhil dan Febi menemukan sumur tersebut.

"Tampaknya ini ... sumurnya, Khil," kata Febi sambil mendekat ke arah sumur tersebut.

Akhil coba mendekat juga dan menoleh ke dalam sumur. "Iya ... Feb. Ini sumurnya."

Lantas, Akhil mengambil tali katrol berwarna biru yang telah terpanting ke katrol sumur itu. Ia ulurkan secara perlahan agar ember yang di ujung lain sumur itu menyentuh permukaan air. Setelah, terasa oleh Akhil ember tersebut menyentuh air ia coba mengulurkan sedikit lagi agar air masuk ke dalam ember. Kemudian, ia tarik tali tersebut untuk menarik ember yang telah terisi air.

"Ngik-ngik...," bunyi katrol itu ketika talinya di tarik.

"Ayo semangat, Khil. Masa narik ini aja udah kewalahan," ucap Febi mengejek Akhil.

Akhil tampaknya sedikit kelelahan menariknya. Mengingat ember yang mereka pakai berukuran cukup besar ditambah Akhil yang termasuk anak orang kaya tidak biasa mengambil air seperti itu.

"Sabar ... berat ini Lo," ucap Akhil menggerutu.

Akhil terus menguji otot-otot tangannya hingga membuat urat tangannya sampai keluar dan kelihatan.

Tak lama kemudian ember itu sampai ke atas.

"Cepetan ambil, Feb. Berat nih .... Aduh!!" ucap Akhil kepada Febi.

Febi yang melihat jelas Akhil menggerutu seperti itu tertawa terkakak. Febi pun sengaja untuk melambatkan tangannya untuk mengambil ember tersebut.

"Hahahah ... ambil gak ya?" ucap Febi yang mengangkat tangannya. "Ya udah ambil aja ... kasihan."

Akhil melepaskan tali dari tangannya dan memindahkan tangan ke pinggang.

"Berat juga ya ...." Akhil mengeluarkan napas cepat. "Bahaya ini kalau tiap hari gini. Bisa-bisa berotot tanganku nantinya." Akhil menunjukkan lengan tangannya kepada Febi.

Febi mengambil ember tersebut dan ia letakkan di atas lantai semen di sekitar sumur tersebut.

"Ya udah bukannya bagus kalau berotot, Khil. Nanti tambah lagi 10 ember kamu tarik airnya ya," ucap Febi sambil menunjukkan sepuluh jarinya.

Sontak Akhil langsung menjawab, "Gila Lu, ya .... Kalau memang perlu yang boleh aku ambil banyak-banyak airnya. Seratus juga bila perlu aku ambil airnya. Kalau gak ada perlunya sepuluh ember itu buat apa."

Febi hanya tersenyum melihat jawaban Akhil karena kesal mendengar pertanyaannya. Mereka lalu mengambil wudhu secara bergantian dengan satu buah ember berisi air tersebut.

Sementara ...

Dika yang coba menyusul Febi dan Akhil telah di bawah. Ia kehilangan jejak mereka.

"Lah kemana mereka tadi ya?" ucap Dika sendirian.

Ia menoleh ke kanan dan kiri. "Kanan ... atau ... kiri , ya?" gumam Dika sendirian.

Ia menggaruk-garuk kepalanya. "kayaknya kiri deh ..."

Dika memutuskan untuk berjalan ke arah kiri rumah tersebut. Jalur kiri rumah tersebut menuju ke arah sumur belakang ....

...****************...

...Hayo .... apakah Dika jadi menuju ke sumur bagian belakang yang terlarang itu? atau ia akan berbalik arah mencari kembali keberadaan Febi dan Akhil?...

...Nantikan kelanjutannya di part ke-34...

...Mohon dukungan dan bantuan like, komen, subscribe ataupun yang lainnya untuk terus menambah semangat author dalam menulis....

...Terimakasih sudah datang, bye... bye......

...Salam hangat penulis.......

...Erwan Saputra:)...

1
Friska Qumala
kenapa kesanya bila gitu yach ..
Imursadboy:): Wahh ... bingung juga jadinya kita sama hubungan mereka ya kak😁🙏
total 1 replies
Not Found
Lanjut kakk, penasaran nih sama kelanjutannya gimana hehe 🤩
Imursadboy:): Wihh ... tunggu part selanjutnya ya😁🙏
total 1 replies
Arias Binerkah
lanjut 💪💪💪
Arias Binerkah: komen sesuai judul 😁, ayo semangat lanjut 💪💪💪
total 2 replies
Arias Binerkah
lanjut kak
Imursadboy:): Gas kak lanjut terus ini🤟😁
total 1 replies
ZEROIND
Hujan like untuk "Ratap".

Terima kasih udah selalu dukung novel "Uta & Alber"
😊
Imursadboy:): Bagus kak novelnya, aku bakal berlangganan baca novelnya kakak🙏💪
total 1 replies
Friska Qumala
tulisan rumahnya ada dua Thor.
Imursadboy:): terimakasih sudah mengingatkan, kak🙏
total 1 replies
Cantik Jelita
Jangan jangan suami bu Yesi hilang pas muncak
Imursadboy:): Bisa jadi gitu😄
total 1 replies
“Haha ... aku baru tahu--” kata Putra.

Tanda elipsis pakai spasi.
Imursadboy:): Terimakasih atas koreksinya kk🙏
total 1 replies
“Ke mana?" tanya Putra.


Ke mana adalah yang benar, bukan kemana.
Tanda elipsis itu biasanya pakai spasi.


Eitsss ... Tapi--
Imursadboy:): terimakasih atas koreksinya 🙏😁
total 1 replies
Arias Binerkah
lanjut tor
Imursadboy:): Waduh makin semangat update kalau gitu💪😁
total 3 replies
Zahreeta Jinan
Hy kak, mampir tempat aku juga ya
Imursadboy:): Siap kak nanti coba-coba lihat karya kakak💪😁
total 1 replies
Arias Binerkah
semangat kak, sudah dikontrak ya?
Imursadboy:): Alhamdulillah sudah kak🙏😁
total 1 replies
Arias Binerkah
lanjut kak
Imursadboy:): terimakasih kak🙏😁
total 1 replies
Arias Binerkah
semangat up
Imursadboy:): Siap kak💪
total 1 replies
Not Found
Ceritanya keren ...
semangat terus kak 💕
Imursadboy:): Siap terima kasih. Masih pemula kak🙏😁
total 1 replies
Arias Binerkah
nyicil baca kak
Imursadboy:): Siap kak terimakasih sudah berkunjung. Maaf masih pemula 🙏😁
total 1 replies
Arias Binerkah
semangat kak
Imursadboy:): Semangat terus kak, kalau di semangatin🤟😁
total 1 replies
Alif Firmantara
karena ayah Billa mereka saling berjauhan😢
Imursadboy:): kasihan Billa nya ya kak😭
total 1 replies
Alif Firmantara
Tunggu terus Billa, Putra pasti pulang😢. Jadi ikut mewek baca novel nya:'(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!