NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Baru

"Rina...? Kamu sedang apa di sana?" ulang Adrian tapi lidah Rina masih kelu.

"I...ini, Om,"

Adrian yang tak kunjung mendapatkan jawaban kemudian melangkah masuk ke ruang kerja sambil menyalakan lampu.

"Om... tolong Rina..." rintih Rina sambil memegangi perutnya dan terduduk di lantai, sengaja memecahkan sisa pajangan di dekatnya untuk mengalihkan perhatian. "Perut Rina tiba-tiba sakit sekali, Om... Rina tidak sengaja menyenggol patung ini saat mau mencari obat di laci."

Adrian yang masih setengah mengantuk setelah permainan panas mereka sebelumnya sontak mengerutkan kening.

"Obat di laci?" Adrian menatap Rina lekat-lekat. "Obat apa?" tanya Adrian lagi.

"Ngak tau, Om. Tapi aku malah pecahin patung ini. Maaf, ya. Aku mau ke kamar mandi dulu,"

Rina berlari masuk toilet meninggalkan Adrian yang masih kebingungan dengan ulahnya malam ini.

Meski curiga Adrian yang masih mengantuk tidak mengintrogasi Rina lagi. Dia memilih untuk kembali tidur sedang Rina yang ketakutan segera menghubungi dosen killernya untuk melapor.

"Bu Prof, saya gagal malam ini. Adrian terbangun karena saya tidak sengaja memecahkan patung saat brankas terbuka. Dokumennya belum berhasil saya bawa keluar. Tolong beri saya waktu satu hari lagi, saya bersumpah akan menyelesaikannya besok malam."

Tidak butuh waktu lama ponselnya kembali bergetar.

Balasan dari Profesor Eliza begitu dingin. Dengan ketus dosen killer itu menjawab. "Bodoh! Kamu hampir menghancurkan rencana matangku! Tapi baiklah, satu kesempatan terakhir besok malam. Jika kamu gagal lagi, bersiaplah angkat kaki dari universitas."

Rina bisa bernafas lega malam ini tapi seperti janjinya pada ibu dosen killer dia harus kembali ke ruangan kerja Adrian besok malam.

Hari itu dilalui Rina dengan wajah yang pucat. Bagaimana tidak, dia harus kembali ke ruangan yang mengerikan itu untuk menyelesaikan misi atau hidupnya benar-benar tamat.

Setelah seharian berakting baik-baik saja di depan Adrian malamnya Rina kembali mengajak om tampannya ke apartemen.

Dengan bujuk rayu akhirnya mereka berdua mulai berpelukan.

“Om, ayo,” rayu Rina lalu duduk di atas tempat tidur.

Adrian tersenyum tipis lalu mengecup kening Rina. “Kamu tidak seperti biasanya,” keluh Adrian. “Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku.”

“Ih, mana ada aku sembunyikan darimu, Om. Aku ini cinta matimu,” desah Rina sambil menurunkan celana panjang yang dia kenakan. “Ayo kita mulai, Om.”

“Mmm! Baiklah, mari kita mulai,”

Adrian lalu mendudukkan Rina di atasnya kemudian tangan Rina mulai meraba bagian tubuh Adrian yang sensitif.

Sesekali pria paruh baya itu menatap Rina penuh gairah tapi sesekali pula dia menatap Rina dingin seakan sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini.

“OH! Yes! AH! AH!” Adrian meremas pinggul Rina dengan kuat membuat keringat di tubuh gadis muda itu semakin deras mengalir.

“Duh! Mmmm! Ahhh!”

Rina tersenyum puas lalu membaringkan tubuhnya di atas dada Adrian yang kelelahan.

Saat Adrian berpura-pura terlelap setelah percintaan mereka mata Rina segera menyipit. "Ih, cepet kali dia malam ini," desisnya lalu bersiap untuk misi utamanya.

Rina kembali bergerak masuk ke ruang kerja.

Untuk kesekian kalinya dia membuka brankas yang ada di dalam ruangan kerja Adrian mencari map berbahan kulit berlambang perusahaan Keluarga Profesor Eliza tapi...

Kosong!

Rina terbelalak, dia tidak menyangka kalau benda yang seharusnya ada di dalam brankas ini sudah raib.

"Kemana?" bisik Rina.

"Mencari ini, Rina?"

Klik!

Lampu utama ruang kerja mendadak menyala terang benderang, membutakan mata Rina sejenak.

Adrian berdiri di ambang pintu dengan setelan jubah mandi dengan melipat tangan di dada sambil senyuman seperti iblis yang mengerikan.

Rina terperanjat saat tau map yang dia cari sudah ada di tangan Adrian. "O-Om Adrian..."

"Kamu pikir aku sebodoh yang Eliza katakan?" Adrian melangkah maju lalu menatap Rina dengan pandangan menghina. "Aku sudah curiga sejak semalam. Dan hari ini, aku memeriksa CCTV tersembunyi di ruangan ini."

"Ma..afkan aku, Om."

"Jadi... Eliza yang menyuruhmu kemari untuk mencuri bukti aset ini agar dia bisa memenangkan persidangan perceraian kami, bukan?"

Rina mundur hingga punggungnya membentur brankas. "Om, maafkan Rina... Rina terpaksa..."

"Diam!" bentak Adrian melampiaskan amarahnya. "Dasar jalang kecil tidak tahu diri! Kamu memanfaatkan tempat tidurku hanya untuk menjadi mata-mata istriku?!"

"Rina mohon, Om... Bu Prof yang mengancam akan menghancurkan karir akademis Rina..." tangis Rina pecah.

Adrian tertawa sinis lalu meraih dagu Rina yang mulai basah oleh air matanya. "Oh, Sungguh? Kalau begitu biar aku yang memastikan karirmu benar-benar tamat."

"Jangan. Om!" Rina bersujud di depan Adrian. Meraih kaki pria mapan itu berharap kata-katanya tidak benar-benar terjadi. "Apa jadinya aku tanpamu, Om,"

"Apa? Dengarkan aku Rina. Karena penghianatan ini, aku sendiri yang akan menekan senat universitas melalui koneksiku untuk memastikan kamu tidak akan pernah lulus kuliah! Kamu akan di-DO!"

"Jangan, Om! Rina mohon! Jangan hancurkan masa depan Rina!" Rina menangis histeris.

"Kamu yang minta, Rina. Jadi ini yang kamu dapatkan."

"Om! Tolong! Aku akan lakukan apapun untukmu, Om. Tapi tolong jangan lakukan ini. Aku terpaksa, Om. Sungguh. Aku terpaksa! Percayalah padaku, Om!" isak Rina dengan air matanya yang tulus.

Melihat air mata itu hati Adrian sontak tak tega. Dia tau benar gadis ini sangat polos sehingga sangat masuk akal kalau Rina terpaksa karena ancaman dari istrinya.

"Oh, gitu. Kalau gitu, kasih tau aku dimana Eliza sekarang?"

Dengan terpaksa Rina memberitahukan keberadaan istri sah dari CEO Matakaki ini dan tanpa menunggu lagi Adrian langsung mendatangi ruangan pribadi Profesor Eliza di sebuah restoran hotel mewah tempat di mana Eliza sedang menunggu kabar keberhasilan Rina.

Pintu ruangan di geser dengan kasar. Adrian melangkah masuk dengan angkuh, lalu melemparkan map kulit hitam itu ke atas meja di hadapan istrinya.

Profesor Eliza terkejut melihat suaminya yang datang. Namun, wanita itu dengan cepat menguasai dirinya dan kembali memasang wajah datar yang dingin. "Adrian. Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Mempermainkanmu, Eliza," ujar Adrian sambil menarik kursi dan duduk di hadapan istrinya dengan senyum kemenangan. "Jalang kecil yang kamu utus itu terlalu amatir. Dia sudah menceritakan semuanya padaku."

Eliza mendengkus remeh. "Lalu apa maumu? Itu adalah aset perusahaanku yang kamu jamin secara ilegal."

"Aku tidak akan memberikan ini padamu. Dan yang paling penting..." Adrian memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata Eliza. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Eliza. Kita akan tetap terikat dalam pernikahan jahanam ini."

Eliza mengerutkan kening merasa mulai tidak nyaman. "Jangan bermimpi, Adrian. Aku punya cukup bukti perselingkuhan untuk menyeretmu ke pengadilan."

"Bukti perselingkuhan?" Adrian terkekeh, lalu mengeluarkan sebuah perekam suara digital dari sakunya dan menaruhnya di samping map.

"Di dalam sini ada rekaman pengakuan Rina bahwa kamu, seorang Profesor dan anggota senat universitas yang telah melakukan pemerasan, ancaman akademik dan menyuruh mahasiswamu sendiri untuk melakukan tindakan kriminal pencurian di properti pribadiku. Jika rekaman ini sampai ke tangan media dan senat bukan hanya gugatan ceraimu yang batal tapi gelar profesormu akan dicopot dan kamu akan membusuk di penjara karena mencoba mencurangiku," ancam balik Adrian sambil tersenyum miring.

“Apa?! Kau berani mengancamku!"

"Kita seri Eliza. Kamu ancam Rina, aku ancam kamu balik. Skor kacamata!" kekeh Adrian lalu melangkah meninggalkan istri sahnya.

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!