Sejak Ayahnya meninggal 2 tahun lalu, ia hidup berdua dengan ibunya. Dengan uang peninggalan Ayahnya, ia masih bisa bertahan hidup. Sampai pada suatu hari Ia menemukan tawaran di internet untuk menjadi "Rahim Pengganti", dengan bayaran 1Miliar.
Diusia yang masih sangat muda, 19 tahun Lea Shen memutuskan untuk ikut dalam pemilihan rahim pengganti.
Pada saat waktunya melahirkan, tanpa sepengetahuan pihak pertama Lea ternyata mengandung Anak kembar dan dokter kandungan yang menangani persalinan Lea, membantunya untuk menyembunyikan salah satu bayinya.
Setelah beberapa bulan melahirkan, Lea Shen menjalin hubungan dengan Presdir Muda yang tampan. Tidak disangka, pria itu adalah Ayah bologis anaknya.
Akankah Ibu dan Anak itu bisa berkumpul kembali?
(Ini adalah perjalanan cinta Lea dan Willy)
Follow IG author: @rymatusya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Bertemu Jully
Pertemuan para pemilik bisnis kuliner, berkumpul dalam suatu acara jamuan makan malam yang akan di adakan besok malam di Hotel Gold. Pertemuan ini rutin diadakan satu tahun sekali. Tidak terkecuali Leayumi Food yang selalu diundang dalam acara jamuan makan malam tersebut. Kali ini Lea berencan akan membawa Manajernya yang baru untuk mengahadiri undangan jamuan makan malam besok, sekaligus memperkenalkan kepada rekan bisnis yang lain bahwa Evan adalah Manajer Leayumi Food yang baru menggantikan Nathan.
"Emily apakah kamu besok mau ikut ke acara jamuan makan malam di Hotel Gold bersama aku dan Evan?" tanya Lea kepada Emily yang sudah satu minggu ini murung.
Emily tanpa melihat wanita yang berbicara kepadanya ia menjawab
"Entah lah, aku tidak ada mood sekarang"
"Sudah lah, jangan memikirkan Rendra lagi. Mending besok malam kamu ikut dengan kami ke Hotel Gold" ucap Lea menyarankan.
"...."
Dia tidak menjawab. Lea lanjut berkata
"Besok kamu harus ikut, disana akan banyak pria-pria tampan. Kamu bukankah selalu bersemangat?" bujuk Lea sambil tertawa pelan.
Emily hanya mengangguk tanda setuju.
Kring...
Kring...
Ponsel Lea berdering, ia mengangakatnya dengan senyum cerah. Berjalan keruang kerjanya meninggalkan Emily sendiri.
Emily hanya menatap punggung Lea yang perlahan menghilang dibalik pintu kaca itu.
Lea: "Ya besok aku akan menghadiri acara jamuan bersama Evan dan Emily"
Willy: "Bersama Evan?"
Lea: "Karena dia Manajerku, aku akan memperkenalkan dia kerekan-rekan yang lain besok!"
Willy tampaknya kurang senang mendengarnya. Ia meminta Lea menemuinya nanti malam.
Willy: "Datanglah ke apartemenku nanti malam!"
Lea: "Tidak, aku sedang sibuk"
Willy semakin tidak suka mendengarnya. Ia dengan tegas berkata
"Apa kamu ingin aku ketempatmu lagi? menutup gorden dan mematiakn lampu lagi?" ada nada ancan disana.
Benar saja, itu membuat Lea teringat hari itu saat ruangannya tertutup dan menimbulkan banyak pertanyaan dari Emily, bahkan tamu yang makanpun mulai bergosip membicarakannya dan berimajinasi. Lea tidak mau.
"Kamu bisanya hanya mengancam orang! Baiklah nanti jam 7 malam aku ke tempatmu" ucapnya dengan jengkel.
Willy hanya tersenyum puas dan mematikan teleponnya.
Dimalam hari, Apartemen Willy.
Lea duduk disofa sambil menonton Tv, menunggu sang pemilik rumah pulang. Sejak pertama ia mengunjungi rumah ini, Willy mengizinkan Lea bebas masuk kapanpun ia mau. Karena dirumah ini, Willy hanya sesekali tidur disini dan tidak ada orang lain disini. Jadi tidak akan ada orang yang tahu kalau Willy mengundang tamu wanitanya masuk.
Kata sandi pembuka kunci rumah ini sangat mudah diingat, masih paduan tangal lahir Willy dan Lea. Awalnya kata sandinya tanggal lahir Willy, karena Lea telah memasuki kehidupannya, jadi Willy mengubahnya menjadi tanggal lahir mereka berdua.
Ini membuat hati Lea menjadi hangat.
Klek....
Pintu terbuka, terlihat sosok tinggi dan tampan yang dibalut setelan jas buatan khusus yang pas dibadannya. Lea menatapnya lalu ia berdiri dan menghampirinya dipintu.
Willy membuka sepatu dan menggantinya dengan sendal rumah warna Abu khusus untuknya.
Lea membantu membuka jasnya dan berkata
"Kamu telat 60 menit!"
Ya... Lea tadi jam 7 sudah sampai disini dan sekarang Willy baru pulang jam 8. Lea hanya meniru apa yang pernah diucapkan Willy padanya.
Mereka duduk disofa, Willy tersenyum dan menatapnya. Ia berkata
"Baru selesai bertemu dengan Klien!"
Lea dengan ketusnya menjawab
"Aku tidak suka menunggu!"
Willy tersenyum samar menatapnya. Itu adalah kata-kata yang pernah dia ucapkan padanya. Ini menjadi senjata makan tuan namanya.
Willy menundukan badannya, jarak mereka sangat dekat. Tercium samar harum sampo dan sabun dari tubuh Lea, membuat Willy sedikit tegang.
Willy mendekatinya, wajahnya hampir menempel padanya. Lea menyadarai akan situasi ini, ia mendorong dada Willy pelan dan bertanya dengan gugup
"Will... Willy, kudengar kemarin-kemarin kamu mencari informasi tentang kelahiran anaku? Kenapa? Kalau memang ingin mengetahuinya kenapa tidak kamu tanyakan langsung padaku?" Lea pura-pura marah.
Willy sejenak menatapnya, mengerutkan kening seolah berfikir dalam.
"Dari mana kamu tau?"
"Pokoknya kamu tidak perlu tau aku tau dari mana! Aku kecewa padamu! Apa kamu ingin mengusik masa laluku yang pahit itu? Hemmh? Kalau kamu seperti ini, itu sama saja kamu menyentuh lukaku yang dulu" ucap Lea, serasa tubuh bergetar hebat karna gugup.
Ia ingin membuat willy merasa bersalah padanya dan nanti Lea akan meminta ia membawa anaknya kesini. Itu yang sangat Lea tunggu-tunggu.
Willy panik mendengar Lea berkata seperti itu, ia benar-benar tidak ada maksud untuk menyentuh lukanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Lea wanita yang melahirkan Jully atau bukan. Karena begitu banyak kebetulan antara anaknya dan Jully, membuat Willy sebagai ayah merasa penasaran.
Willy memeuknya dan brkata dengan suara lembut
"Maaf... Maaf, bukan itu maksud ku, aku hanya penasaran saja kenapa anakmu begitu mirip dengannnnn....."
Willy diam sejenak, ia bingung harus mengatakannya atau tidak. Disisi lain semua anggota keluarga sudah sepakat bahwa sebelum waktunya tiba, Jully tidak boleh dipublikasikan keluar.
Lea semakin marah
"Mirip apa? Sudah lah, kalau tidak mau menjelaskan aku pulang saja!" ia melepaskan diri dari pelukannya dan berdiri, pura-pura mau pulang.
Tapi sebelum ia melangkah lebih jauh, Willy memegang tangannya dan memeluknya dari belakang. Ia berbisik
"Iya... Maaf aku salah. Sebenarnya aku juga memiliki seorang putra yang sama dengan putramu, bukan hanya wajah yang mirip tapi juga tanggal lahir anakmu dan anakku sama 1Juli"
Willy melanjutkan
"Itulah mengapa aku mencari informasi tentang anakmu! Maaf tidak seharusnya aku melakukan itu!"
Lea pura-pura bodoh, ia berkata
"Benarkah?"
Lea berfikir dan lanjut berkata
"Kalau memang seperti itu, aku jadi penasaran! Bisakah kamu mempertemukan anakmu dan aku?" ada nada memohon disana.
Lea sangat berharap Willy akan membawa anaknya kesini. Kalau Lea yang ke rumah besar Gu, ia juga tidak mau.
Willy merasa ini diluar dugaan. Bahkan Lea mengetahui dirinya mempunyai anak, ia sama sekali tidak merasa kaget atau marah. Apa lagi merasa penasaran bahwa dirinya seorang duda atau masih memiliki istri. Lea tidak ada fikiran itu, kenapa?
Bahkan Rendra seorang duda. Begitu mengetahuinya Emily ada rasa kecewa sampai saat ini. Itulah yang Lea ceritakan padanya. Kenapa Lea tidak ada respon apapun.
Mengetahui tidak ada tanggapan dari Willy, Lea berputar dan menatapnya. la menatap mata hitam yang terlihat dalam. Mata hitam yang begitu banyak keraguan. Lea berfikir sejenak. Apa yang salah dari ucapannya!
Lea: "Willy, kamu kenapa? Apakah kamu tidak suka aku menemui anakmu. Tidak masalah, aku tidak akan memintanya!
Lea juga tidak ingin Willy marah. Walau rasa ingin bertemu Jully sangat besar, tapi lebih tidak ingin Willy marah padanya.
Akhirnya Willy menjawab
"Baiklah, lain kali aku akan membawanya kesini!"
Lea senang mendengarnya
"Benarkah"
Willy tersenyum hangat dan mengangguk tanda setuju, memeluk Lea penuh sayang. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan sekarang, hanya ingin wanitanya bahagia.
Lea: "Aku tunggu janji kamu! Kamu tidak boleh mengingkarinya"