Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Di kawasan kampus, Salma tengah duduk di kantin kampus dengan ponsel yang menempel di telinganya. Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak membagikan berita super penting ini kepada sang ayah.
"Halo, Papah! Pah, tahu tidak? Ada perkembangan luar biasa dari pengantin baru kita!" seru Salma bersemangat.
Dari seberang telepon, suara berat namun hangat menyahut, "Wah, ada apa, Salma? Sakti bikin ulah lagi?"
"Lebih dari itu, Pah! Kemarin siang Salma main ke asrama mereka bawain empek-empek. Dan papah tebak coba apa yang terjadi? Salma pergoki mereka berdua di ruang tamu. Si komandan galak itu bibirnya sampai robek berdarah, terus hijabnya Rahma sudah acak-acakan! Kayaknya Kak Sakti main paksa, terus digigit sama Rahma untuk pertahanan diri. Tadi saja di taman kampus, Kak Sakti datang ngamuk-ngamuk pas melihat Rahma duduk sama pria lain. Padahal itu cuma salah paham!" cerita Salma berapi-api.
Mendengar penuturan putri bungsunya, Pak Wira dari seberang telepon langsung tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggelegar. "Hahahaha! Benar itu, Sal? Bagus, bagus! Biar tahu rasa si Sakti. Sok jual mahal di depan, ujung-ujungnya kena batunya sendiri karena cemburu. Papah dukung Rahma kalau harus menjinakkan singa galak seperti kakakmu itu!"
Sementara itu, di dalam mobil dinas yang masih terparkir di bawah pohon rindang kampus, suasana di antara Sakti dan Rahma justru kembali memanas. Kalimat pengakuan Sakti yang mengatakan bahwa ia cemburu tadi ternyata memicu gumpalan pertanyaan yang selama ini tertahan di benak Rahma.
Rahma menatap lurus ke dalam bola matanya Sakti, mencari jawaban. "Kakak bilang barusan cemburu? Lantas cemburu karena apa, Kak? Bukankah Kakak tidak memiliki perasaan apa pun terhadapku? Dan Kakak sendiri yang pernah bilang, jangan harap Kakak bisa men...!"
Belum sempat Rahma menyelesaikan kata terakhir dari kalimat "mencintaimu", Sakti yang merasa harga dirinya terpojok sekaligus gemas, kembali bertindak nekat. Pria tegap itu condong ke depan, menarik tubuh Rahma, dan langsung membungkam bibir mungil istrinya dengan sebuah ciuman dalam.
Tangan kanan Sakti bergerak cepat mengunci bagian tengkuknya Rahma, menahan kepala sang istri agar tidak bisa menjauh, sementara tangan kirinya mencengkeram erat sandaran jok. Ciuman kali ini tidak se-kasar kemarin siang, melainkan penuh dengan letupan emosi yang menuntut pembuktian.
"Kak... lee...lepas...!" Rahma mencoba memberontak. Di sela-sela pagut4n suaminya, ia memukul dada bidangnya Sakti dan berusaha keras memalingkan wajahnya.
Sakti akhirnya menyudahi ciuman itu, menarik wajahnya hanya beberapa sentimeter di depan wajah Rahma. Napasnya tampak memburu dan terengah-engah, membelai permukaan kulit wajah istrinya yang merona hebat.
"Aku suka kamu, Rahma!" ujar Sakti dengan nada rendah, tegas, dan napas yang masih ngos-ngosan.
Rahma tertegun sejenak, namun sedetik kemudian senyum miris terbit di bibirnya. Rasa tidak percaya diri dan bayang-bayang masa lalu Sakti kembali menyeruak di kepalanya.
"Apa? Suka?" sahut Rahma ragu. "Oh... mungkin Kak Sakti suka aku sedikit, tapi pasti lebih banyak sukanya dengan mantan kekasihnya Kakak yang kemarin itu, iya kan?"
Keningnya Sakti seketika mengerut dalam mendengar kalimat sinis yang keluar dari bilah bibir istrinya. Dadanya terasa seperti dicubit. "Maksudmu apa berkata seperti itu, Rahma? Jangan membawa-bawa orang yang sudah tidak ada hubungannya dengan kita."
"Sudahlah, Kak. Tidak perlu dibahas lagi. Kepalaku mendadak pusing, aku ingin pulang sekarang!" pinta Rahma final, memalingkan wajahnya ke arah jendela samping sambil memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut hebat.
Sakti menatap nanar wajah samping istrinya. Lidahnya mendadak kelu. Sebenarnya, ia belum menjelaskan semuanya. Ia tidak hanya sekadar suka seperti yang ia ucapkan secara impulsif tadi, melainkan sudah mulai tumbuh rasa cinta yang nyata di hatinya. Namun melihat gurat kelelahan dan benteng pertahanan Rahma yang meninggi, Sakti sadar bahwa saat ini bukanlah momen yang tepat untuk berdebat soal perasaan. Ia harus menunggu waktu yang lebih tenang.
Dengan helaan napas berat, Sakti melepaskan tangannya dari tubuh Rahma. Ia memposisikan diri kembali di balik kemudi, menyalakan mesin mobil, dan mulai menginjak pedal gas. Mobil dinas itu pun perlahan bergerak, melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota menuju asrama militer, meninggalkan area kampus dengan sejuta tanya yang masih menggantung di antara mereka.
*
*
Setibanya di pekarangan rumah dinas asrama, mobil baru saja berhenti sempurna, Rahma langsung membuka pintu. Tanpa menunggu suaminya, ia buru-buru keluar dari dalam mobil dan melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, ingin segera mengunci diri dari suasana canggung yang menyesakkan dada. Sakti hanya bisa menghembuskan napas panjang, mematikan mesin, lalu menyusul langkah istrinya masuk ke dalam.
Rahma langsung menuju kamar utama, melempar tas ranselnya ke sembarang tempat, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa pusing yang mendera kepalanya.
Sementara itu, Sakti yang baru masuk ke rumah memilih untuk tidak melangkah ke kamar. Ia sadar istrinya sedang butuh ketenangan dan ruang untuk menyendiri. Dengan tubuh yang terasa rontok akibat tidak tidur semalaman penuh ditambah gejolak emosi sejak pagi, Sakti memilih merebahkan tubuh tegapnya di atas kursi sofa ruang tamu yang sempit. Hanya dalam hitungan menit, rasa kantuk yang luar biasa, akhirnya berhasil menarik kesadarannya. Sang Kapten pun tertidur pulas di sana.
Di dalam kamar, alih-alih terlelap, pikiran Rahma justru berkecamuk hebat. Ucapan Sakti di mobil tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, memicu rasa penasaran yang mendalam.
"Ya, pasti Kak Sakti itu lebih banyak sukanya sama Kak Dinda ketimbang aku. Karena sekarang aku yang selalu ada di sisinya dan statusku istrinya, jadinya dia bersikap seperti itu. Mana mungkin pria sekaku dia bisa melupakan cinta pertamanya semudah itu?" gumam Rahma lirih pada keheningan kamar.
Ia mengubah posisinya menjadi miring, lalu perlahan menyentuh dadanya yang mendadak terasa dihantam rasa sakit dan sesak yang teramat sangat. Air matanya nyaris menetes lagi.
"Ayo Rahma... mulai sekarang kau jangan terlalu berharap dan mudah terlena. Ingat, pernikahan kalian ini terjadi atas dasar perjodohan, tidak ada cinta yang melandasinya sejak awal. Meskipun aku sadar... aku sangat sadar kalau aku sudah suka, bahkan cinta dengan Kak Sakti sejak dulu, tapi aku harus tahu diri. Aku tidak akan mungkin bisa memiliki seutuhnya cintanya Kak Sakti. Menjadi istrinya saja aku sudah sangat beruntung."
Rahma menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya sendiri yang mulai rapuh.
"Sekarang fokuslah pada kuliahmu, Rahma. Bukankah pernikahan ini juga terjadi agar aku bisa menggapai mimpiku menjadi dokter tanpa halangan? Aku harus bisa mempertahankan pernikahan ini, setidaknya sampai aku lulus kuliah nanti. Ayo Rahma, kamu pasti bisa!" ujarnya menyemangati diri sendiri, menghapus sudut matanya yang basah sebelum akhirnya terpejam.
Dua jam berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ketika Rahma terbangun dan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, ia baru tersadar bahwa suaminya sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kamar.
"Loh, Kak Sakti ke mana, ya? Bukankah tadi dia ikut masuk ke dalam rumah juga?" gumam Rahma heran.
Rasa penasarannya membuat Rahma bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan pakaiannya sejenak lalu melangkah keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Namun, begitu langkah kakinya mendekat ke arah ruang tamu, pendengaran Rahma langsung menangkap suara dengkuran yang cukup keras dan berirama tak beraturan.
Kroookkk... Hhffuuu... Kroookkk...
Rahma menjulurkan kepalanya mengintip ke arah sofa. Begitu melihat pemandangan di depannya, pertahanan Rahma runtuh. Kedua tangannya langsung membekap mulut demi menahan tawa yang nyaris meledak.
Di atas sofa yang sempit itu, sang Kapten tangguh Sakti Prawira Kusuma sedang tidur dengan posisi terlentang yang sangat tidak estetik. Tubuh panjangnya tampak menekuk terpaksa, mulutnya menganga lebar, ditambah kedua kelopak matanya yang setengah terbuka alias "melek ayam" akibat saking lelahnya. Wibawa komandan galak yang ditakuti ratusan prajurit di markas seketika sirna tanpa sisa di sofa itu.
'Ya ampun, si komandan galak kalau lagi tidur kok begini amat sih bentukannya? Aku jadi ilfil tapi kok lucu banget!' batin Rahma geli setengah mati, pundaknya sampai berguncang hebat karena menahan tawa agar suaminya tidak terbangun.
Otak jahil Rahma mendadak berputar. Dengan gerakan seringai kucing, ia kembali ke kamar untuk menyambar ponselnya. Setelah kembali ke ruang tamu, Rahma mengambil posisi yang pas, lalu...
Cekrek! Cekrek!
Rahma berhasil mengabdikan beberapa foto wajah kocak Sakti saat tidur pulas dengan berbagai sudut, lengkap dengan video pendek durasi sepuluh detik sebagai bukti nyata. Rahma tersenyum penuh kemenangan menatap layar ponselnya. Foto-foto ini resmi tersimpan di folder rahasia dan siap ia jadikan senjata pamungkas yang sangat ampuh jika sampai suaminya itu berani macam-macam atau bertindak menyebalkan lagi padanya di kemudian hari.
Bersambung...
kira2 siapa kah ya orang nya..
lanjutkan donk Thor
is the best deh friend yg ini.. hihihihihi
terus gali terus biar terbongkar
yg kemaren ketemu sama s dinda s yuda apa bukan si?
aku lupa othorrr.. heheheh
ttp tenang dlm menjalankan misi ini ya sakti..
Untungnya Rahma sudah tidak salah paham kembali..
semangat n semoga rencana kalian berhasil n ttp hati-hati n waspada