NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Pekerjaan dari Utang Darah

Naya tidak tidur malam itu.

Suara anak kecil itu terus berputar di kepalanya.

Mama.

Ia tahu anak demam bisa mengigau. Ia tahu Rayyan mungkin hanya memanggil Rania. Ia tahu ia tidak berhak menggantungkan diri pada satu kata dari anak orang lain.

Tetap saja, kata itu menempel di dadanya seperti luka baru.

Pagi menjelang, Naya duduk di kursi plastik dekat ranjang Nenek Sari. Ia menghitung sisa uang dari Arkan, lalu menghitung tagihan rumah sakit lagi. Angkanya tidak berubah. Kekurangannya tetap menatapnya seperti dinding.

Nenek Sari masih tidur. Napasnya pelan. Wajahnya lebih tenang setelah obat malam diberikan.

Yuni datang membawa bubur.

"Kamu belum makan, kan?"

Naya menggeleng.

Yuni duduk di sebelahnya. "Aku dengar dari temanku. Semalam kamu donor darah untuk anak orang kaya?"

"Anak Arkan Wiratama."

Sendok Yuni berhenti di udara.

"Arkan Wiratama yang itu?"

"Ada yang lain?"

"Naya." Yuni merendahkan suara. "Dia keluarga besar, Nay. Jangan dekat-dekat. Orang seperti itu kalau memberi satu kali, besok bisa mengambil sepuluh kali."

Naya tersenyum pahit. "Aku sudah tahu."

Orang kaya memang begitu.

Keluarga Pradipta sudah mengajarinya lebih dulu.

Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.

Naya mengangkat.

"Bu Naya Prameswari?" suara pria di ujung sana formal. "Saya Raka, asisten Pak Arkan Wiratama. Pak Arkan meminta Anda datang ke kantor pusat Wiratama Holdings jam sepuluh."

"Untuk apa?"

"Membahas kompensasi donor darah semalam."

Naya menatap tagihan rumah sakit.

"Saya datang."

Yuni langsung memegang lengannya. "Nay."

"Aku butuh uang."

"Aku tahu. Tapi..."

"Aku tidak akan percaya siapa pun. Aku cuma akan ambil yang bisa dipakai menyelamatkan Nenek."

Kantor pusat Wiratama Holdings berada di SCBD, tinggi dan mengilap. Naya berdiri di lobi dengan jaket lusuh yang terasa makin lusuh di antara lantai marmer dan orang-orang bersepatu mahal.

Resepsionis menatapnya ragu sampai Raka datang menjemput.

Raka masih muda, rapi, dan cukup sopan untuk tidak menunjukkan keterkejutannya.

"Silakan, Bu Naya."

"Jangan panggil Bu. Saya belum setua itu."

Raka tersenyum tipis. "Baik, Mbak Naya."

Lift naik terlalu cepat. Perut Naya mual. Bukan karena lift, melainkan karena ia akan bertemu Arkan lagi.

Ruang kerja Arkan luas, tetapi tidak penuh hiasan. Meja hitam, kursi kulit, rak dokumen, jendela besar menghadap kota. Arkan berdiri membelakangi pintu, bicara di telepon dengan suara rendah.

Naya berhenti di ambang pintu.

"Duduk," katanya tanpa menoleh.

Naya duduk.

Ia meletakkan tas di pangkuan, jari-jarinya saling mengunci.

Arkan menutup telepon, lalu berbalik.

Pagi ini ia tampak lebih dingin daripada di rumah sakit. Kemejanya bersih. Rambutnya rapi. Wajahnya seperti tidak pernah panik semalaman.

"Rayyan selamat karena darahmu."

"Syukurlah."

"Berapa?"

Naya menatapnya.

Arkan mengambil buku cek.

"Kamu butuh uang. Sebutkan."

Ada masa ketika Naya mungkin akan tersinggung. Sekarang ia terlalu lelah untuk marah pada cara orang kaya menyelesaikan rasa terima kasih.

"Saya tidak mau kompensasi satu kali."

Tangan Arkan berhenti.

Raka yang berdiri di samping pintu ikut menatap.

Arkan menyipitkan mata. "Lalu?"

"Saya butuh pekerjaan."

"Kamu?"

"Iya, saya."

"Kualifikasi?"

"Saya bisa bersih-bersih, arsip, bantu dapur, apa saja. Saya tidak minta jabatan bagus."

"Kamu mantan narapidana."

"Saya tahu."

"Perusahaan ini punya standar keamanan."

"Anak Bapak punya standar darah yang cocok dengan saya," jawab Naya cepat. "Kalau sewaktu-waktu dia butuh donor lagi, Bapak akan lebih mudah mencari saya kalau saya bekerja di sini."

Raka menunduk, menyembunyikan reaksi.

Arkan menatap Naya lama.

Perempuan ini berani.

Bukan berani karena tidak takut. Ia jelas takut. Setiap kali Arkan bergerak mendekat, bahunya menegang. Tapi ia tetap duduk di sana, menjual satu-satunya nilai yang ia punya dengan cara paling tenang.

"Kamu memeras saya?"

"Saya bernegosiasi."

"Dengan darah?"

"Dengan kenyataan."

Arkan hampir tersenyum, tetapi tidak jadi.

"Kamu tahu berapa banyak orang ingin bekerja di sini?"

"Mungkin banyak. Tapi tidak semuanya bisa menyelamatkan anak Bapak semalam."

Raka benar-benar batuk kecil kali ini.

Arkan meliriknya. Raka langsung diam.

"Baik," kata Arkan akhirnya.

Naya tidak langsung lega. "Baik apa?"

"Kamu bekerja di bagian umum. Kontrak percobaan tiga bulan. Gaji standar staf cleaning dan administrasi ringan. Tidak ada akses ke data penting. Tidak ada hubungan dengan Rayyan kecuali atas perintah saya."

"Gajinya?"

Arkan menyebut angka.

Naya hampir kehilangan ekspresi tenangnya.

Angka itu tidak besar untuk perusahaan ini, tetapi cukup untuk tagihan Nenek dan makan sederhana.

"Saya terima."

"Raka urus."

Naya berdiri. "Terima kasih, Pak."

Arkan menatapnya. "Jangan berterima kasih dulu. Aku tidak memberi pekerjaan karena kasihan."

"Saya juga tidak menerima karena merasa dikasihani."

Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Lalu Naya cepat menunduk dan keluar.

Hari pertama bekerja dimulai dua hari kemudian.

Seragamnya abu-abu, sederhana. Tugasnya membersihkan pantry lantai direksi, merapikan ruang rapat kecil, mengantar dokumen fisik, dan membantu arsip non-rahasia. Beberapa karyawan menatapnya penasaran setelah tahu ia masuk atas surat langsung dari kantor Arkan.

Seorang supervisor bernama Bu Lestari menjelaskan singkat.

"Di sini kerja cepat, tidak banyak drama. Kamu jangan sok dekat dengan lantai atas. Paham?"

"Paham."

"Dan satu lagi. Kalau ada yang tanya kamu masuk karena apa, jawab rekrutmen outsourcing. Jangan bawa-bawa nama Pak Arkan."

"Baik."

Naya bekerja tanpa banyak bicara.

Ia membersihkan meja rapat sampai mengilap, mengisi ulang gula dan kopi, mengangkat kardus arsip yang membuat punggungnya sakit. Saat staf lain mengeluh pantry kotor, ia membersihkannya lagi. Saat ada yang sengaja menumpahkan kopi di dekatnya, ia mengepel tanpa bertanya.

Ia sudah pernah membersihkan toilet lapas.

Kopi tumpah bukan apa-apa.

Sore itu Arkan melewati pantry bersama Raka. Ia berhenti ketika melihat Naya duduk di bangku kecil sambil makan roti tawar kering.

"Itu makan siangmu?"

Naya hampir tersedak. Ia berdiri cepat.

"Istirahat saya sudah selesai."

"Aku tanya itu makan siangmu?"

"Iya."

"Kantin perusahaan tidak cukup murah?"

Naya ingin menjawab jujur bahwa uangnya dipakai untuk rumah sakit, tetapi ia tidak mau memberi bahan kasihan.

"Saya tidak terlalu lapar."

Perutnya berbunyi.

Raka menatap langit-langit.

Arkan melihat roti itu, lalu melihat wajah Naya yang pucat.

"Mulai besok makan di kantin staf. Raka, potong dari gaji kalau dia keberatan."

Naya langsung berkata, "Saya bisa bayar sendiri."

"Aku tidak bertanya."

Nada itu membuat bahu Naya menegang. Arkan menyadarinya lagi. Ia berhenti satu langkah lebih dekat dari yang seharusnya, lalu mundur.

"Jangan pingsan di kantorku. Repot."

Setelah berkata begitu, ia pergi.

Naya duduk lagi perlahan.

Ia seharusnya marah.

Tapi yang ia rasakan justru bingung.

Malamnya, saat ia hendak pulang, Raka menunggu di lobi.

"Mbak Naya, Pak Arkan minta Anda ikut ke rumah sakit."

Naya langsung waspada. "Rayyan kenapa?"

"Tidak apa-apa. Tapi sejak sadar, dia menolak makan dan terus menanyakan perempuan donor darah."

"Kenapa saya?"

Raka tersenyum kaku.

"Karena katanya, dia ingin bertemu Mama yang baunya seperti obat pahit."

Naya mematung.

Di lantai atas, Arkan berdiri di balik kaca ruang kerjanya, menatap ke bawah.

Ia tidak bisa mendengar percakapan itu.

Tapi ia melihat wajah Naya berubah.

Dan untuk alasan yang tidak ia mengerti, perubahan itu membuat dadanya terasa tidak enak.

Di mobil menuju rumah sakit, Naya duduk di kursi belakang dengan kedua tangan saling mencengkeram.

Raka melirik lewat kaca spion. "Mbak tidak perlu takut. Pak Arkan hanya ingin Rayyan makan."

"Saya tidak takut pada anak kecil."

"Lalu?"

Naya melihat lampu jalan berlari di kaca. "Saya takut pada orang dewasa yang menggunakan anak kecil untuk membuat perempuan patuh."

Raka tidak bisa membantah.

Saat mereka tiba, Rayyan duduk di ranjang dengan wajah pucat dan mangkuk bubur utuh di meja. Begitu melihat Naya, matanya menyala.

"Mama obat pahit!"

Naya berhenti di pintu.

Panggilan itu seperti tangan kecil yang meraih bagian paling kosong di dadanya.

Arkan berdiri di dekat jendela. "Namanya Naya."

Rayyan mengangguk patuh, lalu tetap berkata, "Mbak Naya, aku lapar kalau Mbak Naya yang pegang sendok."

Naya ingin menolak. Ia benar-benar ingin.

Tetapi anak itu menatapnya bukan seperti majikan kecil. Ia menatap seperti anak yang sudah lama menunggu seseorang pulang.

Naya mengambil mangkuk.

"Kalau saya suapi, kamu makan sampai habis?"

"Iya."

"Tidak muntah?"

"Kalau buburnya tidak ada daun seledri."

Naya hampir tersenyum.

Di dekat jendela, Arkan melihat perubahan itu dan menyadari satu hal yang membuatnya gelisah.

Rayyan tidak pernah semudah ini dengan Rania.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!