Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Bel masuk pun berbunyi. Para siswa mulai kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran.
Sementara itu, Alesha berjalan bersama Dinda.
"Din, gue ke toilet dulu, ya," ucap Alesha santai.
Dinda hanya mengangguk.
"Oke."
Namun, bukannya menuju toilet, Alesha justru berbelok ke arah taman belakang sekolah.
Sesampainya di sana, ia menghela napas lega melihat suasana yang lebih sepi. Tanpa ragu, Alesha duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon.
"Sebentar aja istirahat," gumamnya.
Baru beberapa menit duduk, Alesha mulai merasa matanya berat. Ia merebahkan tubuhnya di kursi panjang sambil menatap langit.
"Ngantuk banget..."
Tak lama kemudian, ia pun memejamkan mata.
Tanpa sadar, Alesha tertidur di taman belakang sekolah, jauh dari keramaian kelasnya.
Sementara itu, di kelas, guru sudah mulai menjelaskan materi pelajaran.
Dinda yang duduk di tempatnya beberapa kali melirik ke arah pintu kelas.
"Les lama banget ke toiletnya," gumamnya pelan.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan, tetapi setelah beberapa menit berlalu, Dinda mulai merasa aneh.
"Jangan-jangan..."
Dinda menepuk dahinya sendiri.
"Jangan bilang dia malah kabur."
Di sisi lain, di taman belakang sekolah, Alesha masih tertidur dengan tenang di atas kursi panjang. Angin yang berhembus pelan membuat suasana semakin nyaman baginya.
Bahkan suara bel masuk dan keramaian sekolah seolah tidak mampu membangunkannya.
Sampai seseorang tanpa sengaja melewati taman belakang itu.
Langkah kaki berhenti saat melihat seorang siswi sedang tidur dengan santainya di tempat yang seharusnya tidak digunakan untuk istirahat.
Orang itu ternyata Arka.
Sebagai ketua OSIS, Arka memang sering berkeliling sekolah sebelum kembali ke kelas. Ia memastikan keadAan sekolah tetap tertib dan tidak ada siswa yang melanggar aturan.
Namun, kali ini langkahnya berhenti saat melihat seseorang berada di taman belakang.
Matanya menyipit ketika mengenali seragam yang dikenakan gadis itu.
"Alesha?"
Ia berjalan mendekat dan melihat lebih jelas. Benar saja, murid baru yang beberapa hari ini menjadi perhatian banyak orang itu sedang tertidur santai di kursi panjang.
Arka menatapnya datar.
"Baru masuk beberapa hari sudah berani bolos?"
Ia melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Alesha yang masih tertidur tanpa merasa bersalah.
Beberapa detik ia hanya diam.
Entah bagaimana, gadis itu bisa tidur dengan begitu tenang di saat jam pelajaran berlangsung.
Arka menghela napas kecil.
"Bangun."
Namun, Alesha sama sekali tidak bergerak.
Arka menatapnya beberapa saat.
"Bangun."
Tetap tidak ada respons.
Gadis itu bahkan hanya mengubah posisi tidurnya sedikit, seolah suara Arka hanyalah angin lewat.
Arka mulai mengernyitkan kening.
"Serius?"
Ia akhirnya mengetuk pelan sisi kursi panjang itu.
"Alesha."
Baru kali ini Alesha bergerak. Matanya terbuka perlahan, masih terlihat mengantuk.
"Hmm... udah bel pulang?"
Arka terdiam.
"Bel pulang?"
Alesha yang masih setengah sadar mengangguk kecil.
"Iya... soalnya biasanya kalau tidur dibangunin pas pulang."
Arka menatapnya datar.
"Ini bukan jam pulang. Ini jam pelajaran."
Perlahan kesadaran Alesha kembali. Ia langsung duduk dan melihat sekeliling.
"Hah?"
Arka menyilangkan tangan di depan dada.
"Jadi alasan lo ke toilet tadi adalah tidur di taman?"
Alesha terdiam.
Ia menggaruk pipinya pelan.
"Kalau dijelasin kedengarannya memang nggak bagus."
Arka hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Memang tidak bagus."
Alesha menghela napas kecil.
"Ketahuan, ya."
"Jelas."
Suasana taman kembali hening. Arka masih menatap Alesha dengan wajah datar, sementara Alesha mulai sadar kalau dirinya sedang berhadapan dengan ketua OSIS yang terkenal disiplin.
Arka menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Alesha.
"Kamu membolos. Kamu harus dihukum," ucapnya datar.
Alesha yang baru saja melangkah langsung berhenti.
"Hah? Dihukum?"
Arka mengangguk singkat.
"Iya."
"Tapi gue cuma tidur sebentar."
"Itu tetap meninggalkan kelas saat jam pelajaran."
Alesha terdiam. Ia tahu Arka tidak salah, hanya saja ia berharap bisa lolos kali ini.
"Terus hukumannya apa?" tanyanya pasrah.
Arka menatapnya sebentar sebelum menjawab.
"Nanti kamu tahu."
Alesha langsung menghela napas.
"Hari kedua sekolah, dan gue sudah dapat hukuman. Hebat, Les." gumamnya dalam hati.
Arka hanya berjalan kembali menuju gedung sekolah, sementara Alesha mengikutinya dengan langkah malas.
Sesampainya di depan ruang OSIS, Arka berhenti dan membuka pintu.
Alesha yang mengikutinya langsung melihat ke dalam dengan ekspresi penasaran.
"Jadi... hukumannya di sini?"
"Iya."
Arka masuk terlebih dahulu, lalu mengambil sebuah buku catatan dari meja.
"Kamu tulis nama, kelas, dan alasan kenapa meninggalkan kelas saat jam pelajaran."
Alesha menerima buku itu sambil menghela napas.
"Serius cuma nulis?"
Arka menatapnya datar.
"Menurut kamu harus apa?"
Alesha berpikir sebentar.
"Entahlah... bersihin halaman sekolah?"
"Itu bisa jadi pilihan lain."
Alesha langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah. Nulis aja cukup."
Arka hanya diam melihat perubahan sikapnya.
Alesha pun mulai menulis di buku tersebut.
Nama: Alesha Wijaya
Kelas: XI IPA 1
Alasan: Mengantuk dan tertidur di taman saat jam pelajaran.
Saat membaca bagian alasan, Arka terdiam beberapa detik.
"Kamu benar-benar menulis itu?"
Alesha menoleh.
"Iya. Kan itu kenyataannya."
Arka tidak bisa membantah.
Gadis ini memang aneh. Biasanya siswa akan mencari alasan lain, tapi Alesha justru menulis alasan sebenarnya dengan santai.
Setelah selesai, Alesha menyerahkan buku itu kembali.
"Sudah."
Arka menerimanya.
"Kembali ke kelas."
Alesha mengangguk.
"Siap, Arka."
Sebelum pergi, ia sempat berhenti dan menoleh.
"Arka."
"Hm?"
"Jangan bilang ke Kak Kevin, ya."
Arka menatapnya datar.
"Itu tergantung."
Alesha langsung membulatkan mata.
"Tergantung apa?"
"Tergantung kamu mengulangi lagi atau tidak."
Alesha langsung mengangguk cepat.
"Deal."
Alesha pun segera meninggalkan ruang OSIS dan kembali menuju kelasnya.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengingat kejadian tadi.
"Baru hari kedua sekolah, sudah masuk catatan OSIS. Hebat banget, Alesha." gumamnya dalam hati.
Sesampainya di depan kelas, ia menarik napas pelan sebelum masuk.
Dinda yang melihatnya langsung menoleh.
"Les! Dari mana aja? Gue kira lo hilang."
Alesha berjalan menuju tempat duduknya.
"Ke taman belakang."
Dinda langsung membelalakkan mata.
"Jangan bilang..."
Alesha hanya tersenyum kecil.
"Iya."
"Lo tidur?"
Alesha mengangguk santai.
Dinda langsung menepuk dahinya.
"Ya ampun, Les. Baru masuk beberapa hari."
"Kan cuma sebentar."
"Tetap aja."
Alesha hanya tertawa kecil.
Namun sebelum Dinda melanjutkan ceramahnya, guru sudah masuk ke kelas. Mereka pun segera kembali fokus pada pelajaran.
Sementara itu, di ruang OSIS, Arka masih melihat catatan pelanggaran yang baru saja dibuat.
Matanya berhenti pada nama Alesha Wijaya.
"Adiknya Kevin..."
Arka mengingat kembali gadis itu yang bisa tidur begitu tenang di taman, bahkan setelah ketahuan pun masih terlihat santai.
Ia menghela napas kecil.
"Unik."
Setelah itu, Arka menutup buku catatan dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai ketua OSIS.