Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: Konsultasi Tengah Malam
Data lab pasien #0047 masuk saat Keira masih berdiri di gerbang SMAN 7.
Ia membaca cepat. Hemoglobin turun, tekanan tidak stabil, tanda peradangan melonjak, dan ada pola kecil yang membuat alisnya bergerak. Dokter di ujung sana melihat angka terpisah. Keira melihat urutan.
Pasien itu pernah ia tangani dua tahun lalu dengan nama lain. Seorang pengusaha tua di luar negeri, tubuh penuh riwayat operasi dan kebiasaan keluarga yang terlalu percaya dokter mahal. Keira tidak peduli siapa dia. Di meja operasi, semua nama besar tetap bergantung pada aliran darah dan keputusan yang tepat.
"Mbak?" Bayu bertanya pelan.
Keira mengunci layar. "Pulang."
Sepanjang angkot menuju rumah, ia tidak banyak bicara. Bayu duduk di sampingnya, memegang tas, sesekali melirik wajah Keira. Ia pernah melihat kakaknya dingin pada Bu Sri, tajam pada Nadira, tenang pada Hansel. Namun ekspresi sekarang berbeda. Lebih jauh. Seolah Keira sudah masuk ke ruangan yang tidak bisa ia lihat.
Di rumah, Bu Sri sedang menunggu dengan wajah buruk.
"Kamu tahu Laras hari ini dapat nilai jelek? Gara-gara guru kasih soal aneh. Sekolah sekarang memang suka bikin anak stres."
Laras duduk di sofa dengan mata sembap, tetapi masih sempat menatap Keira penuh tuduhan.
Keira melepas sepatu. "Kalau soal benar membuat stres, mungkin yang salah bukan soalnya."
"Keira!" Bu Sri membentak.
Keira berjalan ke belakang. "Saya ada urusan."
"Urusan apa? Main laptop lagi?"
"Iya."
Jawaban jujur itu justru membuat Bu Sri kehabisan kata.
Pukul sebelas malam, rumah akhirnya sunyi. Keira mengunci pintu sekat, menumpuk buku sebagai alarm, lalu membuka laptop tua. Ia memasang jaringan berlapis, menghubungkan kamera eksternal kecil, dan masuk ke ruang video terenkripsi.
Layar terbuka.
Tiga wajah muncul. Dua dokter asing, satu asisten lab, dan monitor pasien di belakang mereka. Mereka semua tampak kurang tidur.
"Dr. Seely?" tanya salah satu dokter.
Keira memakai earphone. Suaranya berubah. Lebih rendah, lebih bersih, tanpa sisa remaja Megawan.
"Tampilkan grafik tekanan enam jam terakhir."
Dokter itu langsung bergerak.
Di layar, angka naik turun seperti gelombang rusak.
"Kalian memberi vasopressor dosis kedua?"
"Ya, tekanan sempat naik."
"Itu yang membuat kalian hampir kehilangan dia."
Ruangan di layar hening.
Salah satu dokter menegang. "Kami mengikuti protokol rumah sakit."
"Protokol tidak membaca perubahan pasien. Dokter yang membaca."
Tidak ada suara. Bahkan melalui layar, Keira bisa melihat ego mereka tertahan di belakang gigi. Ia tidak punya waktu mengurus harga diri orang dewasa.
Keira memperbesar hasil lab. "Bukan perdarahan utama. Ini reaksi inflamasi sekunder dan kemungkinan kontaminasi dari jalur infus lama. Cek kultur, ganti akses vena, turunkan dosis bertahap, dan hentikan formula kedua."
Dokter senior di layar tampak ragu. "Formula kedua adalah protokol yang Anda kirim sebelumnya."
"Untuk kondisi enam jam lalu. Sekarang sudah berubah."
Ia mengetik cepat, mengirim formula modifikasi ketiga. Asisten lab membaca dan wajahnya memucat.
"Dosis ini sangat rendah."
"Karena kalian bukan sedang memaksa tubuhnya bangun. Kalian sedang mencegah tubuhnya menyerang dirinya sendiri."
Tidak ada yang membantah lagi.
Selama dua jam berikutnya, Keira memimpin dari ruang belakang sempit yang dindingnya tipis dan lampunya redup. Di layar, perawat mengganti jalur infus. Dokter memeriksa ulang data. Monitor berbunyi stabil, lalu kembali turun, lalu pelan-pelan menemukan ritme yang lebih tenang.
Hujan turun di Megawan. Air memukul atap seng, membuat suara monitor dari laptop terdengar semakin jauh. Di satu sisi layar ada ruang ICU steril dengan lampu putih dan alat mahal. Di sisi lain ada Keira dengan kaus rumah, rambut diikat asal, duduk di lantai karena meja terlalu rendah.
Tidak ada yang cocok.
Namun semua orang di ruang ICU itu menunggu instruksinya.
Di luar sekat, Bayu terbangun karena haus.
Ia berjalan pelan menuju dapur. Kakinya masih berat, tetapi malam ini ia bisa menapak tanpa memegang dinding terlalu lama. Saat melewati ruang belakang, ia mendengar suara Keira.
Bukan bahasa Indonesia.
"No. Not that dose. Listen carefully."
Bayu berhenti.
Suara Keira tetap tenang, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat orang dewasa di seberang dunia patuh.
"If the pressure drops again, do not repeat the same mistake. Send me the updated panel every fifteen minutes."
Bayu memegang gelas kosong.
Ia tidak tahu siapa Dr. Seely. Ia tidak tahu apa itu panel lab. Ia hanya tahu kakaknya, yang kata orang bodoh dan malas, sedang memberi perintah kepada dokter asing pada tengah malam.
Ia mundur pelan.
Di dapur, ia menuang air dengan tangan gemetar. Nama Dr. Seely berputar di kepalanya. Ia pernah membaca nama itu sekilas di forum medis saat mencari informasi kaki. Dokter legendaris. Sulit dihubungi. Katanya menangani kasus orang kaya di luar negeri.
Tidak mungkin.
Tapi di rumah ini, kata tidak mungkin mulai terlalu sering kalah.
Buku yang ditumpuk Keira di dekat pintu bergerak sedikit. Keira menoleh.
"Siapa?"
Bayu membeku.
"Aku. Mau minum."
Keira menatap pintu beberapa detik. "Minum. Lalu tidur."
"Mbak... kamu oke?"
Di layar, dokter memanggil, "Dr. Seely?"
Bayu mendengar nama itu.
Keira menjawab Bayu tanpa membuka pintu. "Aku baik-baik saja. Mimpi buruk saja."
Bayu tahu itu bohong.
Namun ia juga ingat janjinya. Ia tidak akan bertanya kalau Keira belum mau cerita.
"Iya. Tidur lagi ya, Mbak."
Ia pergi.
Di dalam ruang belakang, Keira menutup mata satu detik. Lalu kembali ke layar.
"Continue."
Menjelang pukul tiga pagi, tekanan pasien #0047 stabil. Dokter senior di layar akhirnya menghela napas panjang.
"You saved him again, Dr. Seely."
"Belum. Dua puluh empat jam pertama masih menentukan. Kirim laporan setiap tiga puluh menit sampai pagi."
"Understood."
Keira memutus sambungan, membersihkan jejak jaringan, lalu menutup laptop. Tangannya baru terasa gemetar setelah layar gelap. Adrenalin turun terlambat, seperti biasa.
Ia duduk diam selama hampir satu menit.
Di Shadow, setelah misi selesai, selalu ada laporan, pembersihan senjata, instruksi berikutnya. Tidak ada ruang untuk gemetar. Tidak ada yang bertanya apakah ia takut. Sekarang, di ruang belakang rumah Prasetyo, tubuh barunya menagih semua reaksi yang dulu tidak pernah diberi tempat.
Keira menekan telapak tangan ke lantai sampai getarannya berhenti.
Ia mengambil kotak jarum perak dari tempat persembunyian dan menatapnya.
Dulu, ia memakai tangan ini untuk membunuh.
Malam ini, ia memakai tangan yang sama untuk menarik seseorang menjauh dari kematian.
Pagi datang terlalu cepat.
Bu Sri sudah mengomel di dapur karena kopi habis. Laras duduk dengan wajah muram. Pak Prasetyo membaca pesan kerja sambil pura-pura tidak mendengar apa pun.
"Ya ampun, Keira," kata Bu Sri begitu melihatnya. "Matamu merah. Begadang lagi? Jangan nanti pingsan di sekolah terus nyalahin orang rumah."
Keira mengambil air putih. "Tidak akan."
"Anak perempuan itu harus tahu batas."
"Saya tahu."
Bu Sri mendengus, merasa menang karena Keira tidak membalas panjang. Ia tidak tahu bahwa sepanjang malam, orang-orang dewasa di belahan dunia lain menunggu satu kalimat dari gadis yang ia anggap pemalas.
Bayu melihat Keira dari seberang meja.
Ia tidak bertanya.
Ia hanya mendorong telur dadar kecil ke piringnya.
Keira menatap telur itu, lalu Bayu. Anak itu menunduk, pura-pura sibuk mengikat tali sepatu.
Di sekolah, suasana masih dipenuhi rumor nilai kuis. Laras berjalan dengan dagu terangkat, tetapi matanya bengkak. Bayu membawa buku catatannya seperti membawa barang bukti. Keira berjalan di antara mereka tanpa memperlambat langkah.
Di dekat mading, kerumunan siswa berkumpul.
"Try Out UTBK Akbar?"
"Kerja sama SMAN 7 sama Bimbel Prestige Jakarta."
"Peserta terbaik dapat rekomendasi langsung ke UI?"
Nama di bagian bawah poster membuat Keira berhenti.
Panitia kehormatan:
Prof. Dr. Dharma Kusuma.
Bayu membaca nama itu keras-keras. "Prof. Dharma? Siapa, Mbak?"
Keira menatap poster.
Nama itu tidak asing. Di salah satu jaringan akademik lama, Prof. Dharma pernah muncul sebagai matematikawan yang keras kepala, orang yang bisa mencium jawaban palsu dari jarak jauh. Jika ia terlibat dalam try out ini, maka permainan Laras dan Bu Sri akan menjadi jauh lebih menarik.
Di bawah poster, ada catatan kecil bahwa soal esai opsional akan dinilai langsung oleh tim pusat.
Keira hampir tersenyum.
Bayu melihat nama UI di poster lebih lama daripada yang ia sadari. Dulu, universitas itu terasa seperti gedung tinggi di televisi, tempat anak-anak kaya atau genius yang tidak pernah tinggal di rumah sempit. Sekarang, setelah nilai sembilan puluh lima dan setelah melihat Keira menatap poster itu tanpa gentar, jaraknya terasa sedikit berubah.
"Mbak ikut?" tanyanya.
"Tentu."
"Laras juga pasti ikut."
"Bagus."
Bayu mulai memahami bahwa kata bagus dari Keira sering berarti seseorang akan segera menyesal.
Di sisi lain koridor, Laras dan Rika juga membaca poster itu. Wajah Laras masih pucat akibat kuis, tetapi saat melihat bagian rekomendasi UI, matanya kembali menyala. Bu Sri pasti akan menyuruhnya mengambil kesempatan ini. Kepala sekolah sudah diatur. Jalur prestasi sudah dibicarakan.
Yang tidak Laras tahu, nama Prof. Dharma di poster itu mengubah seluruh papan permainan.
Keira menyentuh ujung kertas poster yang tertempel di mading. Dalam semalam ia menjadi Dr. Seely untuk orang-orang jauh. Pagi ini, ia kembali menjadi siswi SMA yang diremehkan.
Pergantian peran itu seharusnya melelahkan.
Namun kali ini, ia merasa sedikit terhibur.
Matanya menajam.