NovelToon NovelToon
Nafkah Batin Yang Terbagi

Nafkah Batin Yang Terbagi

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:46.9k
Nilai: 5
Nama Author: Walet Biru

Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.

Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.

Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?

Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata

Tokkk...tokkk...tokkk...

"Assalamu'alaikum!" Salam Bu Hamidah ketika berdiri di depan pintu rumahnya Bu Maya.

"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang perempuan dari dalam rumah. Tidak berapa lama, pintu itu terbuka dengan perlahan. Terlihat seorang perempuan cantik dan berhijab, berdiri di balik pintu.

"Sovia, Guntur ada di rumah?" Tanyanya.

"Ada Bu. Silahkan masuk Pak, Bu." Jawabnya perempuan yang bukan lain adalah Sovia. Bu Hamidah dan Pak Santoso pun masuk ke dalam rumah dan duduk di atas sofa dengan perasaan tak menentu.

"Mas, ada Bapak Ibunya Wina datang kesini." Ucap Sovia pada suaminya.

"Mau apalagi mereka datang kesini? Apa mereka datang sama Wina?" Guntur tampak marah.

"Nggak Mas. Mereka cuma datang berdua. Tadi kata Bu Hamidah, mereka mencari Mas." Jawabnya. Dengan amarahnya yang kembali menguasai dirinya, Guntur berjalan dengan cepat menuju ruang tamu.

"Mau apa lagi, Kalian datang kesini?" Tanyanya dengan keras.

"Kami mau bicara soal Wina, Guntur." Jawab Pak Santoso.

"Nggak ada lagi yang harus dibicarakan! Kalian sudah tega menjebakku agar mau menikah dengan Wina!"

"Semua ini kesalahanku, Guntur! Akulah yang menyuruh Wina untuk menjebakmu!" Jawab Bu Hamidah.

"Apa Ibu bilang? Jadi Ibu yang telah tega menipuku? Gila! Pantas aja Wina jadi cewek murahan! Ternyata Bu Hamidah sendiri kelakuannya sungguh biadab!" Seru Guntur sangat marah.

"Aku menyesal Guntur! Aku hanya ingin Wina punya suami yang baik sepertimu! Dari lubuk hatiku yang paling dalam, Aku minta maaf sebesar-besarnya." Katanya.

"Setelah terbongkar semuanya, baru minta maaf! Kalau semua belum terbongkar kebusukan Kalian, mana mungkin Kalian mau berterus terang! Nggak sudi Aku punya istri murahan seperti Wina! Sedangkan Aku sudah punya istri yang jauh lebih baik dan shalihah! Aku akan menceraikan Wina!"

"Kalau memang itu keputusanmu, Aku akan terima. Tapi perlu Kamu tahu, Guntur. Begitu Wina pergi dari sini, Dia batinnya sangat terguncang. Wina nekad untuk bunuh diri dengan cara meminum obat nyamuk, sampai bayi dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan." Cerita Bu Hamidah. Air matanya kembali menetes di pipinya.

"Cukup!!! Jangan lagi Kamu mengarang cerita! Aku nggak akan kemakan cerita busukmu itu!"

"Demi Allah Aku bicara jujur, Guntur! Anaknya Wina kemarin baru dimakamkan! Kalau Kamu bisa datang ke pemakaman untuk membuktikannya sendiri."

"Jangan sebut nama Allah hanya untuk berdusta!!! Bisa aja Kalian sudah membuat makam palsu! Aku sudah nggak percaya lagi sama orang licik seperti Kalian!" Seru Guntur dengan gejolak amarahnya yang membara.

"Kesalahanku padamu memang sudah tidak terhitung! Kalau Kamu tidak mau memaafkan Aku dan Wina, Aku terima semua itu. Tapi maksud kedatangan Kami kesini yaitu Kami ingin mengatakan kalau Wina sekarang mengalami gangguan pada kejiwaannnya. Wina sekarang di rawat di rumah sakit jiwa. Keadaannya sangat mengkhawatirkan. Dia selalu menyebut namamu, Guntur. Jadi Aku mohon sekali kepadamu. Agar Kamu mau menjenguk Wina. Kalau Wina sudah sembuh, Kami ikhlas kalau Kamu mau menceraikannya."

"Rencana apalagi yang Kalian susun untuk menjebakku?" Guntur tidak percaya dengan cerita dari Bu Hamidah.

"Kami hanya ingin agar Wina sembuh seperti sedia kala, Guntur! Kami minta tolong kepadamu. Karena hanya namamu yang selalu disebutnya! Hanya Kamu yang bisa membantu Wina, Guntur!" Jawab Pak Santoso. Guntur tidak menanggapi ucapannya. Mulutnya terkunci rapat. Kedua matanya menatap ke arah lain.

"Kalau Kamu memang sekarang belum mempercayai cerita yang telah Kami sampaikan, Kami bisa mengerti. Tapi Kami mohon dengan sangat kepadamu Guntur! Agar Kamu mau datang untuk menjenguk Wina. Karena hanya dirimu harapan Kami satu-satunya." Bu Hamidah meratapi nasibnya.

"Hanya itu aja yang Kami sampaikan, Guntur. Kalau begitu Kami mohon pamit dulu." Pak Santoso pun bangkit berdiri.

"Kami pamit dulu, Guntur. Kami percaya Kamu itu orang baik." Bu Hamidah ikut berdiri.

"Assalamu'alaikum." Pak Santoso dan istrinya keluar dari rumah itu dengan perasaan kecewa dan kesedihan yang mendalam.

"Aku sudah mendengar semua yang diceritakan kedua orang tuanya Wina, Mas. Aku rasa mereka nggak berbohong, Mas." Sovia muncul di hadapan Guntur.

"Kamu nggak tahu Dek! Orang licik seperti mereka, punya seribu cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan! Mereka menghalalkan segala cara agar rencananya berjalan dengan lancar."

"Lebih baik esok hari Kita datang ke rumah sakit jiwa, Mas. Kita buktikan semuanya, apakah mereka berbohong atau nggak."

"Kalau Wina memang beneran jadi gila, mungkin itu balasan dari Allah karena Dia sudah berbuat dzalim kepadaku."

"Mungkin aja yang Mas katakan nggak salah. Tapi Allah aja Maha Pemaaf. Kenapa Mas Guntur nggak mau memaafkan Wina? Aku mohon besok Kita jenguk Wina, ya Mas!"

"Masha Allah Kamu memang istri yang shalihah, Dek! Padahal seharusnya Kamu sangat marah begitu tahu Wina dan Ibunya telah menjebakku. Tapi Kamu nggak Dek! Kamu begitu ikhlas menghadapi ujian ini." Puji Guntur sambil menatap wajah istrinya.

"Aku hanya berusaha untuk ikhlas menghadapi semuanya, Mas. Sebagai manusia biasa, perasaan marah itu pasti ada. Tapi Insha Allah ada hikmah yang bisa Kita dapatkan dengan cobaan yang Allah berikan kepada Kita, Mas." Nasihatnya.

"Iya Aku mau menjenguk Wina, Dek. Terima kasih sudah menjadi istri terbaik untukku Dek!" Guntur pun memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta. Keningnya pun tidak luput dari kecupan manis suaminya.

Seperti yang direncanakan sebelumnya, siang itu Guntur dan Sovia mengunjungi rumah sakit jiwa menggunakan mobil. Sesampainya di tempat yang ditujunya, mereka langsung menuju ke bagian petugas yang berjaga. Mereka pun berjalan mengikuti seorang petugas perempuan, menuju salah satu kamar dimana Wina dirawat.

Ketika sampai di depan Wina, Guntur dan istrinya sangat terkejut saat melihat keadaan Wina yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Rambutnya yang panjangnya sebahu terlihat acak-acakan. Kedua matanya menatap kosong ke arah jendela.

"Mba Wina, ini ada temannya yang datang." Ucap petugas yang berada di belakang Wina. Mendengar ucapannya, perlahan Wina membalikkan badannya. Saat melihat wajah Guntur, Wina langsung dapat mengenalinya.

"Mas Guntur!!! Wina kangen Kamu Mas!!!" Wina berteriak sambil berlari ke arah tubuh Guntur. Tanpa ragu-ragu, ia pun memeluk tubuhnya dengan erat.

"Mas, Aku kesepian disini Mas. Aku mau pulang! Aku nggak betah disini Mas!" Wina meratap sedih.

"Kamu harus tinggal disini ya, Wina! Biar Kamu cepat sembuh." Balasnya.

"Aku nggak sakit kok Mas! Kenapa harus dirawat disini?"

"Kalau mau nurut sama Mas nggak, Wina?" Guntur melepaskan pelukan Wina.

"Mau Mas."

"Kalau mau menuruti keinginan Mas, Kamu harus tinggal disini untuk sementara waktu. Kamu mau kan?"

"Mau Mas. Mas Guntur jangan pergi lagi ya!"

"Kalau Mas nggak boleh pergi, gimana Mas mau bekerja mencari uang?"

"Iya ya! Aku lupa!" Wina pun tertawa.

"Kalau begitu, Aku pamit dulu ya, Wina!"

"Kok cepat banget Mas Guntur jenguk Wina?"

"Kan Mas, mau kerja. Insha Allah kalau sudah ada waktu luang, Mas akan datang lagi kesini."

"Hati-hati ya Mas."

"Iya. Kamu juga disini harus nurut sama suster! Obatnya harus teratur diminum ya!"

"Iya Mas." Balas Wina. Guntur dan Sovia pun pergi meninggalkan Wina yang terus-menerus memandangi kepergian mereka.

......TAMAT......

1
musuh pelakor
suami apaan yang kek gitu? kadang sakit bacanya:(
musuh pelakor
hamidah jadi halimah?
Fianto WB: terima kasih masukannya
total 1 replies
kavena ayunda
maless bgt harusnya kebongkar pas ceraii enak di gunturr laki brengsekk munafikkk pdhl dia uda enak2.ma jalang wina jijik q
Martifahsoemarno
coba tor gabung di fb grup novelton, promosi disono insya allah tambah pembacanya
Martifahsoemarno
ud lama gk mampir karna gk pernah up, sekali mampir ud tamat, ceritanya bagus aku suka
Martifahsoemarno
ud lama gk baca pas baca bikin jantung dekdekan, ceritanya makin seru
Fianto WB: mksh mba
total 1 replies
Martifahsoemarno
ud up lgi ya aku sampe lupa
pipi gemoy
Guntur ogeb nga selidiki dulu masa lalu si pelakor
pipi gemoy
aneh kelakuan Bu Halimah 😒
Martifahsoemarno
smg sovia gk menderita melulu seperti senetron tersanjung
Martifahsoemarno
pengen aku jambak itu rambut sm muka wina
Martifahsoemarno
bikin sovia bahagia tor jngn kalah terus sm wina sm mertua. smgt tor upnya
Martifahsoemarno
jngn bikin sovia terus menderita tor jngn kya senetron tersanjung
Martifahsoemarno
ceritanya makin seru, smngt tor
Martifahsoemarno
gk up ya tor, smngt ah
Martifahsoemarno
ayo tor smngt upnya
Fianto WB: tunggu ya
total 1 replies
Martifahsoemarno
gk up tor
Marlisa Lana
good
Martifahsoemarno
lanjut thor, smngt
Martifahsoemarno
lanjut thor, smngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!