NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Preman Pasar

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah sempit di atas pintu triplek kamar kos Bumi. Bumi menggeliat pelan, lalu perlahan membuka matanya. Senyum tipis langsung mengembang di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak diusir dari Desa Sukamaju, badannya terasa jauh lebih segar. Punggungnya tidak lagi sekaku kemarin, berkat kasur busa tipis dan bantal kapuk pemberian Alya semalam.

"Alhamdulillah, nikmat banget bisa tidur nyenyak," bisik Bumi sambil merapikan posisi bantalnya.

Ia segera bangkit, mengambil handuk kusam dan sabun batangan dari dalam karung goninya. Namun, begitu melangkah keluar kamar menuju kamar mandi umum di ujung lorong, langkahnya langsung terhenti. Sudah ada antrean panjang para penghuni kos lain yang memegang gayung dan ember kecil.

"Walah, antrenya panjang bener ya," gumam Bumi sambil berdiri di barisan paling belakang.

Seorang pria paruh baya bertato di lengannya yang sedang mengantre di depan Bumi menoleh. "Anak baru ya lu? Kenalin, gua tumpal. Kerja di mana lu?"

"Iya, Kang Tumpal. Saya Bumi. Baru masuk sore kemarin. Saya kerja jadi kuli panggul di pasar induk depan," jawab Bumi dengan senyuman ramah.

"Oh, kuli panggul. Baguslah, yang penting halal. Kalau butuh info soal pasar, tanya gua aja nanti," kata Tumpal ramah.

Namun, dari arah depan antrean, seorang pemuda berambut gondrong dengan tindik di telinganya menengok sambil mendengus sinis. "Halah, Pal. Palingan juga kuli musiman dari desa. Tampangnya aja kelihatan katrok begitu. Kulit dekil, muka bonyok. Paling seminggu di ibu kota juga nangis minta pulang kampung."

Beberapa penghuni kos di dekat pemuda gondrong itu ikut tertawa kecil, memandang rendah ke arah baju lusuh Bumi.

Bumi yang mendengar hal itu hanya menarik napas dalam-dalam. Sifat sabarnya yang waktu di desa selalu diuji oleh Doni kini kembali ia gunakan. Ia hanya tersenyum tipis tanpa berniat membalas.

"Gak apa-apa, Kang. Saya dari desa emang mau nyari peruntungan di sini. Mohon bimbingannya aja," ucap Bumi tenang, membuat pemuda gondrong itu mendengus kesal karena provokasinya tidak memancing emosi.

Setelah mengantre hampir tiga puluh menit, Bumi akhirnya selesai mandi dan berganti pakaian. Perutnya mulai keroncongan minta diisi. Ia teringat warung nasi tempat Alya bekerja semalam. Dengan langkah ringan, Bumi berjalan menuju mulut gang.

Suasana warung nasi itu sudah buka, namun bukan Alya yang berdiri di balik etalase kaca. Seorang wanita paruh baya berwajah teduh sedang sibuk menata piring-piring lauk.

"Permisi, Bu. Mau beli nasi ramesnya pakai tahu sama tempe orek," kata Bumi sopan sambil duduk di bangku kayu.

Wanita itu tersenyum ramah, persis seperti senyuman Alya. "Eh, iya, Le. Sebentar ya, Ibu siapkan. Kamu... Bumi ya? Yang semalam dikasih kasur sama anak saya, Alya?"

Bumi agak terkejut. "Eh, iya bener, Bu. Kok Ibu bisa tahu?"

"Hahaha, Alya tadi subuh sebelum tidur cerita sama Ibu. Katanya ada anak muda dari desa yang rajin banget kerja di pasar tapi tidurnya belum pakai alas. Alya-nya sekarang lagi tidur, gantian istirahat sama Ibu," jelas Ibu Alya sambil menyodorkan sepiring nasi rames hangat.

"Walah, Mbak Alya baik banget sampai cerita ke Ibu. Tolong sampaikan terima kasih banyak sekali lagi ya, Bu. Kasurnya bener-bener bikin saya tidur nyenyak semalam," ucap Bumi tulus.

"Iya, sama-sama, Le. Dimakan gih, biar kuat kerjanya. Masih muda harus banyak energinya," sahut Ibunya Alya ramah.

Bumi menyantap sarapannya dengan lahap, merasakan kehangatan yang sama seperti saat ia mengobrol dengan Alya semalam. Setelah selesai, ia membayar sepuluh ribu rupiah dari sisa upah semalam, lalu bergegas menuju blok barat pasar induk untuk mulai bekerja.

Matahari makin meninggi dan suasana blok barat pasar induk sudah sangat sibuk. Bumi langsung bergabung dengan tim Kang Bendot untuk membongkar muatan sawi dari truk engkel yang baru datang. Dari pagi hingga menjelang sore, Bumi bekerja dengan sangat giat. Karung demi karung ia panggul tanpa kenal lelah, hingga dompet di saku celananya kembali terisi penuh oleh uang upah harian.

"Kerja bagus hari ini, Bum! Ini upah bersihmu buat hari ini. Kamu emang kuli paling top!" puji kepala blok barat sambil menyerahkan seikat uang kertas kepada Bumi setelah seluruh truk kosong.

"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak!" jawab Bumi dengan wajah berbinar. Ia menghitung uang itu, lalu memasukkannya ke dalam dompet kainnya dengan hati-hati.

Setelah berpamitan dengan Kang Bendot, Bumi berjalan kaki berniat pulang ke kosannya untuk mengistirahatkan badan. Namun, saat ia melewati sebuah lorong sepi di samping gudang tua yang jarang dilewati orang, tiga orang pria berbadan besar yang merupakan preman di daerah itu tiba-tiba muncul dari balik tikungan dan langsung menghadang langkahnya.

"Heh, kuli baru! Berhenti lu!" bentak pria yang di tengah, rambutnya botak tengah dan tato ular melingkar di lehernya. Itu garong, preman paling ganas di daerah pasar tersebut.

Bumi menghentikan langkahnya, jantungnya berdegup kencang. "Eh, ada apa ya, Bang?"

"Gak usah sok polos lu! Di sini ada aturan mainnya. Setiap kuli baru yang mau cari duit di pasar ini harus bayar uang keamanan sama uang lapak ke gua!" gertak Garong sambil menepuk-nepuk telapak tangannya dengan sebilah balok kayu kecil.

"Maaf, Bang. Saya gak tahu ada aturan begitu. Lagian saya cuma kuli panggul harian kecil-kecilan, uangnya cuma cukup buat makan sama bayar kos," jelas Bumi, mencoba bernegosiasi dengan tenang.

"Gua gak peduli! Buruan keluarin dompet lu, atau lu gua bikin cacat di sini!" bentak preman kedua yang berambut merah.

Bumi mundur satu langkah, memeluk tas karung goninya. Sifat sabarnya runtuh ketika melihat uang hasil keringatnya yang dikumpulkan dengan susah payah dari siang malam mau dirampas begitu saja.

"Enggak, Bang! Ini uang hasil kerja keras saya dari kemarin, saya gak bisa kasih!" tegas Bumi, matanya menatap tajam ketiga preman itu.

"Wah, berani ngelawan lu ya! Hajar, Jon, Dul!" perintah Garong kejam.

Preman berambut merah langsung melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Bumi. Bumi yang memiliki refleks bagus dari kerja kasar berhasil mengelak, lalu mendorong preman itu hingga tersungkur di tumpukan sampah. Preman satunya lagi maju membawa pisau lipat, mengayunkannya ke arah dada Bumi. Bumi menangkis pergelangan tangan preman itu dengan segenap kekuatannya, lalu melayangkan hantaman keras ke rahangnya hingga terdengar bunyi plak! yang cukup nyaring.

"Boleh juga tenaga lu, sialan!" teriak Garong melihat kedua anak buahnya sempat kewalahan.

Garong langsung maju sendiri, mengayunkan balok kayunya dengan sangat cepat ke arah kaki Bumi. Brak! Balok itu mengenai tulang kering kaki Bumi dengan keras.

"Akh!" Bumi menjerit kesakitan, lututnya langsung tertekuk dan ia tersungkur di atas tanah becek.

Sebelum Bumi sempat bangkit, kedua preman yang tadi sempat jatuh langsung menerkamnya bersamaan. Mereka memegangi kedua tangan dan kaki Bumi ke tanah dengan sangat kuat, mengunci gerakannya. Bumi meronta-ronta dengan segenap sisa kekuatannya, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa sakit.

"Lepasin gua, bajingan! Jangan ambil uang gua!" teriak Bumi berang, air matanya hampir menetes karena frustrasi.

"Diem lu, kuli kampung!" Garong langsung melayangkan tendangan keras ke perut Bumi hingga pemuda itu terbatuk-batuk kekurangan oksigen.

Dengan leluasa, Garong merogoh saku celana Bumi yang robek. Ia menarik keluar dompet milik Bumi, membukanya, dan mengambil seluruh lembaran uang di dalamnya tanpa tersisa sepeser pun, termasuk uang tabungan darurat pemberian Mak Sumi yang disimpan rapi di dalam sapu tangan kain.

"Wah, lumayan banyak juga nih setoran hari ini! Hahaha!" tawa Garong puas sambil memasukkan uang itu ke dalam kantong jaket kulitnya. Ia membuang dompet kosong itu tepat di atas wajah Bumi yang terkapar di tanah.

Di ujung lorong sepi itu, sebenarnya ada dua orang pedagang pasar yang kebetulan lewat membawa gerobak kosong. Mereka melihat kejadian pembegalan itu dengan jelas. Namun, begitu melihat bahwa pelakunya adalah kelompok Garong, wajah mereka langsung pucat pasi. Mereka buru-buru membalikkan gerobak mereka dan berlari menjauh, tidak ada yang berani menolong atau berteriak karena tahu betapa ganasnya kelompok preman tersebut di pasar induk.

"Dengar ya, kuli miskin. Ini peringatan pertama buat lu. Besok-besok kalau lu kerja lagi di sini, jangan lupa setoran dulu ke gua!" ancam Garong sambil meludah ke arah Bumi yang masih meringis kesakitan memegangi perutnya.

"Ayo cabut, Jon, Dul. Kita foya-foya malam ini!" seru Garong mengajak anak buahnya berjalan pergi meninggalkan lorong sepi itu sambil tertawa-tawa penuh kemenangan.

Bumi terbaring sendirian di atas tanah gang yang kotor dan becek. Tubuhnya kembali dipenuhi luka memar baru yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan warga desa kemarin. Ia perlahan meraih dompet kainnya yang kosong melompong. Hatinya hancur berkeping-keping. Uang hasil keringatnya yang diperas siang malam, uang yang rencananya mau dipakai untuk menyambung hidup beberapa minggu ke depan, kini telah lenyap dirampas oleh kekejaman ibu kota. Di bawah langit sore yang mulai menggelap, Bumi hanya bisa mengepalkan tangannya ke tanah dengan rasa sedih dan kecewa yang mendalam atas ketidakadilan yang kembali menimpanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!