Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb35
Di ruang keluarga Ryn masih menyuapi Jian makan malamnya. Sedangkan Bass dan Vick saling mendiami setelah Vick membawa sang kekasih yang tak lain adalah Meimei. Suasana tambah canggung ketika Meimei bersikap cuek pada Ryn, ia belum bisa memaafkan Ryn soal Sian. Ryn acuh tapi cemas Meimei akan ketahuan oleh Sian berpacaran dengan Vick.
"Mama, ayi itu siapa?" Tanya Jian polos di sela makannya, anak kecil itu terus memperhatikan Meimei sejak tiba karena selalu menempel pada sang paman Vick.
"Hebat kau Ryn, menyembunyikan keponakanku selama ini tapi tetap bersikap tenang seolah tidak memiliki kesalahan." Mendengar omelan Meimei Vick memijat pelipisnya pusing. Padahal kekasihnya sudah berjanji akan tenang saat bertemu Ryn juga Jian.
Vick terpaksa menjelaskan siapa Jian kalau tidak Meimei mengajak putus. Ryn tak masalah dengan alasan biar dia yang menjelaskan pada Sian, jangan dari orang lain Sian tahu anaknya masih bertahan.
"Berhenti mengomel atau pulang saja." Tegur Bass tanpa ragu, Vick melayangkan tatapan tajam telah berani memarahi pujaan hatinya.
"Jian, dia bibi Meimei adik papa. Harus bersikap sopan ya, biar bisa bertemu papa nanti." Hati Meimei menghangat Ryn memperkenalkan dirinya pada Jian sebagai seorang tante. Matanya berkaca-kaca namun terlalu gengsi untuk menangis.
"Hai Bibi Amei, aku Lee Jian usiaku dua tahun setengah. Kata mama aku mirip papa waktu kecil." Meimei berdiri lalu menghampiri Jian dan memeluknya erat.
"Jian, benar kau sangat mirip Sian keke. Terima kasih Tuhan kau sudah mempertahankan dia." Ryn mengusap air matanya haru mendengar perkataan Meimei.
Meimei tetaplah Meimei, meski jutek dan pedas dalam berucap hatinya lembut sekali. Ryn sekalipun tidak pernah membenci Meimei. Baginya Meimei orang yang apa adanya tidak manipulatif ataupun munafik.
"Yee, aku akan bertemu papa." Teriak Jian bahagia.
"Habiskan makananmu boy, lalu kita baca dongeng." Bass menyudahi sesi mengobrol di tengah acara makan.
Ting nong...
Yifan beranjak untuk melihat siapa yang bertamu sedangkan Ryn sibuk membersihkan piring kotor di atas meja. Jangan tanyakan pasangan bucin Vick Meimei, keduanya duduk di sofa menonton televisi.
"Cari siapa tuan?" Yifan tidak mengenali Junior tentunya, sedangkan Sian menunggu di dalam mobil entah apa tujuannya datang jika tidak ikut turun.
"Aku mencari nona Ryn apa dia ada?" Tanya Jun.
"Sebentar saya panggil dulu, siapa nama anda tuan?" Yifan merasa perlu mengetahui identitas tamu mereka.
"Junior." Jawab Jun singkat padat dan jelas.
"Baik, tunggu sebentar." Usai meminta Jun menunggu Yifan kembali ke dalam untuk memberitahu Ryn.
Ryn keluar sementara Yifan mengambil alih tugas. Mereka sepakat tidak memakai jasa asisten rumah tangga dengan alasan keamanan. Vick menyediakan peralatan mutakhir untuk membersihkan rumahnya. Sedangkan urusan pakaian mereka menggunakan jasa laundry.
"Asisten Jun?" Sapa Ryn. Sudah lama sekali Junior tidak mendengar panggilan khusus itu.
"Nona, tuan menunggu di mobil. Silakan,,,"
"Ini sudah malam asisten Jun, bisakah bicara di mobil saja?" Ryn enggan ikut Sian pergi takut Jian mencarinya. Meski sudah di tidurkan oleh Bass anak itu tetap ingin ditemani sang ibu.
"Baiklah, tuan bilang tidak akan lama. Silahkan." Jun memberi jalan agar Ryn masuk ke mobil, ia pun menurut.
"Soal tinggal denganku, kau mau kan Ryn?" Sian langsung menagih jawaban Ryn soal pindah rumah lagi. Belum sebulan dia kembali Ryn harus berpindah-pindah tempat.
"Aku perlu waktu Sian, bisakah kau menunggu? Ada hal yang ingin aku sampaikan Sian soal kehamilanku."
"Itu salahku. Seharusnya aku tidak memaksamu dengan berbohong. Aku menyebabkan kesakitan yang kau alami Ryn. Kedepannya semua akan sesuai keinginanmu." Sian menggenggam tangan Ryn lalu meletakkannya di dada, Ryn bisa tahu Sian tengah gugup.
"Kau tidak mendengarkan penjelasan dokter Vennie sampai selesai. Sian, janin itu bertahan hidup dan sekarang sudah tumbuh menjadi anak laki-laki pintar." Jantung Sian seolah berhenti berdetak mendengar penjelasan Ryn. Air matanya bahkan tanpa terasa menetes. Bahkan genggamannya perlahan mengendur.
Ryn menunduk tak berani menatap Sian, takut pria di sampingnya marah besar karena ia telah menutupi semuanya selama ini.
"Kau berhak membenciku karena menyembunyikan Jian. Maaf Sian aku tahu aku salah besar. Aku hanya ingin membuatnya aman, kau sangat mengharapkan Jian,,, " Sian lantas memeluk Ryn yang menangis sesenggukan.
"Ya Tuhan, Zhao Ryn kau pasti sangat kesulitan selama ini. Terima kasih Ryn kau sudah menjaganya, aku tahu itu tidak mudah bagimu." Sian tak henti mengecup kepala Ryn berharap Ryn tenang.
"Aku takut Sian aku hampir kehilangan dia berkali-kali. Selamat Sian, kau sudah menjadi seorang papa." Pandangan Sian tertuju ke pintu rumah dimana seorang anak kecil memeluk boneka dinosaurus tengah mencari keberadaan sang ibu.
"Jian..." Gumam Sian menyebut nama putranya.
"Peluk dia Sian, Jian sangat ingin bertemu denganmu." Ryn melepaskan Sian agar turun dan menghampiri anak mereka.
Jian mengira ibunya yang keluar keheranan melihat sosok pria tinggi, tampan dan berwibawa berlari ke arahnya lalu memeluknya. Jian terkejut namun tenang menghidu aroma parfum Sian seolah merasakan kenyamanan yang selama ini ia cari.
"Jian, ini papa. Jian anakku..." Mendengar apa yang Sian katakan membuat Jian tersenyum, akhirnya dia bisa bertemu papa. Mamanya menepati janji. Jian membalas pelukan Sian dengan melingkarkan kedua tangannya di leher papa.
Sedang Ryn yang baru saja keluar dari mobil benar-benar tidak bisa berpikir ketika sebuah benda tajam menusuk perutnya. Itu Lee Tak, dia kembali menyerang Ryn dengan berani. Ryn merasakan mules saat pisau itu dicabut dari perutnya.
"Berani kau melahirkan darah daging Sian, dasar anak gundik sialan." Maki Lee Tak dibutakan oleh kebencian mendalam pada Ryn sehingga nekad kabur dari kurungan Sian lalu mencelakai Ryn setelah mengintai sehari penuh.
"Apa untungnya anda melakukan ini tuan? Pada akhirnya Sian akan tetap memilihku." Bisik Ryn terbata-bata menahan rasa sakit dan perih bersamaan.
"Tidak jika kau mati." Jawab Lee Tak sebelum kabur menyadari Sian masih fokus pada anaknya.
"Zhao Ryn!" Pekik Junior mendapati Ryn terduduk bersandar di mobil. Sian terkejut sekaligus takut hal buruk terjadi bergegas menggendong Jian.
"Lee Sian!" Teriak Jun memangku tubuh tak berdaya Ryn, semua orang panik mendengar teriakan dari arah luar di buat menganga mengetahui keadaan Ryn. Yifan mengambil alih Jian membawanya masuk.
"Tolong jaga Jian, Jun kumohon..." Di sisa kesadaran yang ia miliki Ryn tetap mengingat Jian.
"Ke rumah sakit sekarang sialan!" Vick mendorong Sian supaya cepat bertindak. Mereka bahu-membahu memasukkan Ryn ke mobil lalu tancap gas menuju rumah sakit.
Bass tidak bisa ikut karena harus menjaga Jian. Bisa saja Lee Tak masih berkeliaran di luar dan mencari cucunya.
"Kenapa papa tega sekali? Apa salah Ryn sampai dia melukainya. Selama ini kukira Ryn yang egois meninggalkan keke. Dia hanya berusaha melindungi Jian." Meimei menangis masih tak menyangka melihat kejahatan yang dilakukan sang papa.
"Tenang nona, kita berdo'a semoga Ryn baik-baik saja." Yifan usai menidurkan Jian menemani Meimei sementara Bass menunggu Jian di kamar.
Ruang tindakan, dokter berusaha menghentikan pendarahan agar Ryn tidak kehabisan banyak darah. Beruntung tusukan itu jauh dari alat vital di tubuhnya. Sian dejavu, kejadian lama seperti terulang kembali.
'Tuhan selamatkan dia sekali lagi, aku belum menunaikan janjiku untuk menebus waktunya yang ia habiskan seorang diri. Aku rela menukar nyawaku asal kau tidak menempatkannya dalam bahaya seperti ini. Jian anak kami masih membutuhkan Ryn. Aku sangat mencintai Zhao Ryn, jangan kau ambil dia dariku secepat ini. Berikan pembalasan menyakitkan untuk orang yang telah melukainya. Amin.' Sian berdo'a dalam hati meminta keajaiban Tuhan berharap sudi mengabulkan permohonannya.
Meimei baru tiba setelah memutuskan menyusul Sian ke rumah sakit langsung bersimpuh dibawah lutut sang kakak. Ia menangis terisak menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku keke, seharusnya aku tidak membiarkan papa keluar. Aku merasa kasihan melihat kau mengurungnya. Seharusnya Ryn baik-baik saja jika aku tidak sebodoh ini." Sian memejamkan mata mendengar penjelasan Meimei adiknya. Sekarang ia paham kenapa Lee Tak bisa berkeliaran. Penjaga manapun akan tunduk oleh perintah Lee Meimei tanpa mengonfirmasi padanya.
"Renungkan kesalahan fatalmu Lee Meimei dan bersiap kembali ke Amerika." Putus Sian memberi peringatan sekaligus hukuman.
"Tidak keke, jangan buang aku lagi. Aku akan meminta maaf pada Ryn, tapi biarkan aku tinggal di sini. Sian aku takut sendirian..." Meimei meraung menolak perintah Sian, ia bahkan mencengkram celana Sian erat.
"Junior bawa dia pulang, jangan biarkan dia bertemu Vick!" Jun menurut kemudian menarik Meimei menjauh dari Sian.
Ryn dipindahkan ke ruang observasi meski telah melalui masa kritis. Sian melakukan donor darah secara langsung agar Ryn bisa segera pulih. Ia dan Vick berdiri menatap jendela transparan memperhatikan keadaan Ryn yang belum sadarkan diri.
"PTSD. Ryn pernah menjalani masa-masa sulit setelah melahirkan. Dokter kejiwaan mengatakan Ryn terguncang akibat tekanan mental yang menumpuk. Satu tahun setengah Ryn meminum anti depresan. Dia bertahan hanya karena Jian. Kata Ryn Jian berhak memiliki ibu sehat baik lahir maupun batin. Semua berawal saat Jian yang lahir lebih awal harus tinggal di NICU. Ryn menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga kandungnya. Itulah alasan Ryn meninggalkanmu Sian. Dia mempertahankan apa yang sangat kau inginkan darinya." Panjang lebar Vick menceritakan bagaimana hidup Ryn tanpa Sian.
"Dia bahkan meminta maaf padaku soal Jian. Seharusnya aku yang bersujud padanya meminta ampun. Ryn berhak bahagia, seharusnya aku berhenti menyeretnya ke dalam bahaya." Sian menunduk menyadari kegagalannya melindungi Ryn.
"Kau harus menindak ayahmu Lee Sian lalu fokus menjaga Jian dan Ryn. Jangan biarkan mereka menderita lagi meski kalian sudah bersama." Vick memperingati Sian agar kedepannya semakin waspada. Apalagi ada Jian yang bisa saja menjadi incaran musuhnya di luar sana.