Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : KEJELASAN
Setelah pengumuman tentang pemilihan Shizi Fei lima hari yang lalu, semua orang tampak gelisah sekaligus penasaran. Mahkamah Agung Klan Kekaisaran (Zhongzheng Si) mengumumkan bahwa mereka telah menerima sekitar 250 Bai Zi milik para gadis dari Ibu kota.
Namun, tidak semua kandidat akan lolos dalam tahap pendaftaran ini. Mereka membutuhkan waktu kurang lebih tujuh hari untuk menyeleksi dan mencocokkan semua Bai Zi yang telah dikirimkan dengan Bai Zi Putra Junwang, yang dilakukan oleh para ahli astrologi di bawah Zhongzheng Si.
Selama kurun waktu tersebut, semua pihak yang terlibat cukup gelisah dan gugup, termasuk Ye Ning. Bagaimanapun ini juga menyangkut dirinya. Ia berpikir, apakah akan serius mengikuti seleksi ini atau tidak.
Tetapi, setelah mengetahui betapa mengerikannya menjadi bagian dari keluarga kekaisaran, ia mengurungkan niat itu. Lagipula, bagaimana dengan Zhilan? Meskipun sebenarnya keluarganya juga tidak setuju bila dirinya menjadi menantu Adipati Zhao.
Oleh sebab itu, Ye Ning dikurung sampai Zhongzheng Si mengumumkan peserta yang lolos tahap seleksi pertama. Dirinya tidak bisa bertemu Lu Wan, apalagi Bai Zhilan. Hal itu membuatnya semakin gelisah. Bagaimana jika ia lolos? Lalu apa yang akan dilakukan? Sengaja gugur di tahap selanjutnya? Atau pura-pura sakit parah yang mematikan?
Bahkan sebelum mengirimkan Bai Zi, ayahnya sudah memikirkan ide itu. Tetapi jika dipikirkan lagi, dirinya harus mengurung diri entah berapa lama. Dan jika kebohongan itu terungkap, sama saja bunuh diri. Ye Ning tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia mondar-mandir dalam paviliun bambu, dekat kolam ikan.
"Ssttt..."
Ia mendengar suara desisan, lalu mencari arah suara itu. Saat mencari, ia tak sengaja melihat ke arah tembok sebelah kiri.
"Zhilan?" gumamnya dalam hati.
Zhilan pun turun dari atas tembok dengan melompat tanpa cedera. Dengan langkah tegap, Zhilan menghampiri Ye Ning dan langsung bertanya,
"Apakah kau serius ingin mengikuti seleksi ini?"
Mendengar itu, Ye Ning sedikit tergagap, tak bisa menjawab dengan jelas. Hal itu membuat aura Zhilan semakin gelap dan dingin. Ye Ning agak takut,
"Kenapa kau kemari? Nanti kalau Ayahku tahu bagaimana?" tanya Ye Ning kembali.
Zhilan tidak menjawab sama sekali. Ia hanya menatap Ye Ning, menuntut jawaban.
"Zhilan... pada awalnya Ayahku ingin mengirimkanku ke wilayah perbatasan saja mengikuti Kakek," ungkap Ye Ning.
Mendengar itu, hati Zhilan mencelos. Namun, ia tidak bertanya apa pun. Ia juga bingung harus melakukan apa. Menculiknya seperti yang ada di dalam pikirannya? Tapi hal itu sangat mustahil untuk saat ini.
Karena Zhilan tetap diam, Ye Ning menghela napas lalu duduk sambil menuangkan teh.
"Aku banyak berpikir sejak peristiwa pembunuhan itu. Awalnya aku mengira mereka merupakan suruhan pejabat yang telah kau jebloskan ke dalam penjara. Tetapi, rasanya itu tidak mungkin. Lalu aku berpikir lagi, sebenarnya apa tujuan mereka?"
Ye Ning menatap ikan koi cantik yang berenang bahagia di dalam kolam, kemudian kembali berkata,
"Zhilan, selama ini hubungan kita hanya atas dasar perasaan nyaman dan suka. Tapi, tidak ada komitmen sama sekali. Kali ini bisakah kau menjawabku? Apakah kau menyukaiku?"
"Tentu saja," jawab Zhilan.
"Lalu apakah perasaan itu sudah sedikit berkembang menjadi cinta?" tanya Ye Ning sambil menatap Zhilan.
Zhilan diam, tidak menjawab. Cinta? Apakah perasaannya selama ini merupakan cinta? Zhilan tidak tahu. Ia tidak pernah memikirkannya. Ye Ning menunggu, tetapi tidak ada jawaban apa pun dari Zhilan. Ia kemudian tertawa.
"Aku tahu. Selama ini aku tidak begitu peduli selama kita bahagia saat bersama. Tapi, semakin dewasa dan semakin ke sini, ternyata kejelasan itu sangat penting."
Mendengar itu, Zhilan ingin menyangkal. Namun, ia tidak tahu ingin mengatakan apa. Ia juga bingung dengan dirinya sendiri.
"Ye Ning..." panggil Zhilan.
"Sebaiknya kau kembali. Pikirkan dulu semuanya. Lagipula jika memang berniat bersamaku, kau harus menghadapi si Singa Tua dan Ayahku yang kolot. Kemudian, bisakah hal itu selaras dengan tujuanmu?"
Zhilan sedikit terkejut dengan pernyataan Ye Ning. Apakah dia tahu sesuatu? Ye Ning kemudian berdiri dan berkata sebelum beranjak pergi,
"Zhilan, awalnya kau yang menggangguku. Kemudian aku duluan yang mungkin menyukaimu. Tapi jika rasa suka ini membawa petaka untuk keluargaku, kau pikir aku akan rela meninggalkan mereka?"
Zhilan termenung sepeninggal Ye Ning. Ia berdiri mematung agak lama sampai akhirnya sadar bahwa dirinya masih berada di kediaman keluarga Xiao. Akhirnya Zhilan keluar melalui tembok yang sama saat ia masuk sebelumnya.
Di dalam kamar, Ye Ning menangis keras. Tangisannya sangat jelek seperti bayi. Chun Tang dan Ah Yao sedikit kewalahan menghibur nona mudanya itu.
"Nona... nona... sudah, jangan menangis."
"Huaaaa...hiks... Kau tahu aku tadi bersikap sok keren di depannya."
"Kalau Nona sangat menyukai Tuan Bai, kenapa malah menyuruhnya pergi?" tanya Ah Yao.
Tangisnya semakin pecah, lalu menyentil dahi Ah Yao yang membuat pelayannya itu meringis kesakitan.
"Nona, apa salahku?"
Ye Ning sedikit meredam tangisannya, lalu mengambil tisu untuk membuang ingusnya.
Srotttt.
"Kau tidak tahu. Aku tidak ingin berada di antara pria yang rumit dan berkuasa," jawab Ye Ning.
Ah Yao mengelus dahinya yang sakit, sambil cemberut namun ia mengangguk tanda setuju pada nonanya itu. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu mengerti apa arti perkataan nonanya itu. Tangisan Ye Ning perlahan mereda.
Saat suasana kamar mulai tenang, terdengar ketukan di pintu. Pelayan masuk dan menyampaikan bahwa Lan Wu telah datang dan menunggu untuk melaporkan sesuatu.
Akhirnya Ye Ning meminta pelayan tersebut untuk menyambut Lan Wu dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu. Ia harus mencuci mukanya yang berantakan dan berganti pakaian terlebih dahulu.
" Salam, Nona Muda, " ucap Lan Wu sembari menundukkan kepala, Ye Ning menyuruhnya duduk dan mendengarkan informasi darinya.
" Nona, kami sudah menanyai hampir seluruh golongan masyarakat di Ibu Kota. Tetapi tidak ada satu pun yang tahu mengenai token pada gambar ini." Lan Wu menunjuk kertas kanvas berukuran sedang yang telah digambar sebuah bentuk token persegi berwarna cokelat gelap.
"Hmm, sayang sekali. Mungkin karena aku tidak bisa mengingat lebih jelas tentang detailnya. " Ujar Ye Ning kecewa.
Lan Wu melanjutkan, " Tetapi nona, untuk memastikan kecurigaan nona. Kami bertanya ketiga gerbang istana kekaisaran lainnya, jawaban dan reaksi mereka sama."
Ye Ning terkejut mendengarnya dan bertanya lagi apa reaksi mereka. Lan Wu menjawab bahwa ketika Lan Wu dan timnya menunjukkan gambar tersebut mereka semua langsung menjawab tidak tahu atau tidak mengenali token itu. Tetapi mereka terlihat takut bahkan langsung mengusir kami.
" Nona, saya khawatir gerakan kami akan diketahui oleh Tuan Muda Bai " Ungkap Lan Wu.