"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Air Mata Kenzie di Sekolah
Terik matahari siang itu terasa menyengat di pelataran parkir taman kanak-kanak. Barisan mobil mewah jemputan sudah berjejer rapi, dengan para sopir yang asyik mengobrol di bawah keteduhan pohon. Di lobi sekolah yang sejuk, bel pulang baru saja berbunyi, memicu riuh suara anak-anak kecil yang berlarian keluar kelas.
Naya berdiri bersandar di dekat pilar marmer lobi, matanya menyapu kerumunan anak berbaju seragam kotak-kotak biru. Hari ini dia sengaja datang lebih awal. Setelah ketegangan di acara amal kemarin malam, naluri keibuannya mendesak untuk memastikan Kenzie baik-baik saja di sekolah.
Namun, tepat saat matanya menangkap sosok Kenzie yang baru keluar dari pintu kelas, langkah Naya mendadak terkunci.
Di dekat koridor taman bermain dalam, sesosok wanita dengan gaun kasual bermerek dan kacamata hitam besar sudah berdiri mencegat langkah Kenzie. Itu Saskia. Ibu kandung Kenzie itu datang tanpa pengawalan Clarissa, mencoba mengambil kesempatan di sela kelalaian pihak keamanan sekolah.
"Kenzie," panggil Saskia, suaranya terdengar canggung tapi memaksa. Ia berlutut di depan bocah itu, membuka kacamata hitamnya. "Ini Mama, Sayang. Ingat kan yang kemarin datang ke rumah Papa?"
Kenzie menghentikan langkahnya secara mendadak. Tas ransel dinosaurusnya merosot dari bahu kecilnya. Begitu mengenali wajah wanita yang tempo hari berteriak-teriak marah di rumahnya, tubuh Kenzie seketika gemetar. Bayangan ketakutan kembali menyerang mentalnya yang rapuh.
"T-tante seram ...," desis Kenzie kaku, matanya mulai berkaca-kaca.
Saskia mengerutkan kening, rahangnya mengeras karena tersinggung dengan panggilan itu. Ia meraih kedua lengan Kenzie dengan agak kasar, mencoba menarik bocah itu ke dalam pelukannya. "Jangan panggil Tante! Aku ini mamamu! Kamu harus ikut Mama sekarang, kita pergi jalan-jalan ke mal. Ayo!"
"Tidak mau! Lepas! Kenzie mau Mama Naya! Huwaaa!" Tangis Kenzie langsung pecah. Bocah itu menjerit histeris, meronta-ronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Saskia yang kuku-kukunya mulai menggores kulit lengannya.
Beberapa guru dan wali murid di sekitar koridor langsung menoleh, menciptakan kasak-kusuk yang pekat. Saskia mulai panik karena menjadi pusat perhatian, namun egonya melarangnya untuk melepaskan Kenzie.
"Ibu Saskia Maheswari. Lepaskan tangan Anda dari anak saya."
Suara itu mengalun rendah, sangat tenang, namun memiliki tekanan sedingin es yang seketika memotong kegaduhan di koridor.
Naya sudah berdiri tepat di samping mereka. Tanpa menunggu jawaban, Naya menyusupkan kedua tangannya di bawah ketiak Kenzie, lalu mengangkat tubuh mungil bocah itu dengan satu gerakan mantap. Ia memposisikan Kenzie di dalam gendongannya, membiarkan kepala anak sambungnya itu bersembunyi di ceruk lehernya yang hangat.
"Mama! Kenzie takut! Tante itu mau bawa Kenzie!" tangis Kenzie tersedu-sedu, memeluk leher Naya dengan sisa tenaganya.
"Ssst ... Jagoan Mama aman di sini. Enggak ada yang bisa bawa Kenzie," bisik Naya lembut, mengusap punggung Kenzie dengan ritme yang teratur untuk meredakan detak jantung bocah itu yang berpacu panik.
Saskia bangkit berdiri dengan wajah memerah karena malu dan marah. "Nayara! Berani-beraninya kamu mencuri anakku di depanku sendiri?! Aku ini ibu kandungnya! Aku punya hak untuk membawanya pergi kapan saja!"
Beberapa guru sekolah mulai mendekat dengan wajah cemas. "Maaf, ada apa ini ya, Ibu-ibu?" tanya salah satu guru wali kelas Kenzie.
Naya memutar tubuhnya perlahan, menghadapi Saskia dengan ketegasan mentalnya yang sekeras baja. Sepasang mata bulat Naya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata Saskia, tanpa ada sekerat pun rasa canggung atau takut di depan publik.
"Ibu Guru, wanita ini memaksa membawa Kenzie tanpa izin tertulis dari suami saya, Arkananta Dewangga," ucap Naya dengan nada bicara yang terstruktur rapi, suaranya cukup keras untuk didengar oleh lingkungan sekitar. "Tindakan agresifnya sudah membuat anak ini histeris ketakutan dan terluka secara psikologis di lingkungan sekolah."
"Dia anakku! Aku tidak butuh izin dari siapa pun!" teriak Saskia, mulai kehilangan kontrol emosinya di depan umum.
Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin namun cerdas. "Secara hukum perwalian yang berlaku saat ini, Anda tidak memiliki hak asuh sepenuhnya atas Kenzie, Ibu Saskia. Anda baru mendaftarkan gugatan, dan sidang baru akan dimulai hari Selasa. Tindakan Anda menyusup ke sekolah dan memaksa membawa anak secara sepihak seperti ini ... di dunia nyata disebut sebagai percobaan penculikan anak."
Naya melangkah satu tapak lebih dekat, tatapan matanya mengunci pergerakan Saskia dengan intimidasi yang mutlak.
"Jika Anda tidak segera melangkah mundur dan keluar dari area sekolah ini dalam hitungan tiga, saya tidak akan segan-segan meminta pihak keamanan sekolah untuk menahan Anda. Dan saya pastikan, catatan kepolisian tentang tindakan agresif Anda siang ini akan langsung mendarat di meja hakim anak besok pagi sebagai bukti tambahan bahwa Anda adalah sosok yang berbahaya bagi mental Kenzie."
Saskia terperangah, napasnya memburu kasar. Ia melirik ke sekeliling, menyadari bahwa para guru dan wali murid kini menatapnya dengan pandangan menghakimi dan tidak suka. Keberanian sunyi yang dimiliki Naya lagi-lagi berhasil menelanjangi kedangkalan taktiknya di depan ruang publik.
"Kamu ... kamu benar-benar licik, Nayara!" desis Saskia dengan suara bergetar menahan malu, buru-buru memakai kembali kacamata hitamnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Kita lihat saja hari Selasa nanti. Aku akan pastikan kamu menangis di ruang sidang!"
Saskia berbalik dengan sentakan kasar, melangkah cepat meninggalkan koridor sekolah dengan kekalahan telak yang kesekian kalinya.
Naya tidak membalas makian itu. Ia memberikan satu anggukan formal yang sangat anggun kepada para guru. "Maaf atas kegaduhan ini, Ibu Guru. Saya akan membawa Kenzie pulang sekarang."
"Baik, Ibu Naya. Hati-hati di jalan. Kami akan memperketat keamanan gerbang setelah ini," jawab guru wali kelas Kenzie dengan penuh rasa hormat.
Bersambung...
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....