Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Kalau tidak di pisahkan
Aurelia masih membeku di tempatnya.
Tatapannya tidak lepas dari foto gadis yang bernama Aurora itu. Semakin lama ia memandang, semakin kuat perasaan asing yang sejak tadi memenuhi dadanya.
"Saudara... kembar?" Suaranya hampir tak terdengar.
Pria yang dipanggil Paman itu mengangguk pelan. "Ya."
"Kalau begitu..." Aurelia menelan ludah. "Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya?"
Pria itu berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju rak buku tua di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua. Kotak itu tampak sangat tua, di permukaannya terukir lambang bunga lily yang sama seperti liontin milik Aurelia.
"Keluarga Bellini menyimpan terlalu banyak rahasia."
Kotak itu diletakkan di atas meja.
"Apa ini?" tanya Aurelia.
"Barang peninggalan ayahmu."
Aurelia perlahan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku perak, cincin bermata safir, dan sebuah foto keluarga yang mulai memudar.
Begitu melihat foto itu, napas Aurelia tercekat. Di sana berdiri seorang pria tampan berjas hitam yang menggendong seorang bayi. Di sampingnya, seorang wanita cantik bergaun putih menggendong bayi lain.
Mereka tersenyum begitu bahagia. "Itu..."
"Ayah dan ibumu."
Mata Aurelia mulai berkaca-kaca. "Dan dua bayi itu..."
Pria tersebut mengangguk. "Kau dan Aurora."
Jemari Aurelia mulai bergetar. Selama dua puluh dua tahun, ia selalu percaya dirinya adalah anak tunggal. Ternyata... ia memiliki saudara sedarah yang masih hidup.
"Kenapa..." bisiknya lirih. "Kenapa semua ini disembunyikan dariku?"
Pria itu menghela napas panjang. "Karena aku berjanji."
"Berjanji kepada siapa?"
"Lady Elena Bellini."
Nama itu membuat Aurelia mengangkat kepalanya. "Malam sebelum rumah keluarga Bellini diserang, ibumu datang menemuiku."
Flashback...
Malam yang diguyur hujan deras. Lady Elena berdiri di depan pintu sebuah vila tua sambil menggendong seorang bayi.
Wajahnya pucat, gaunnya dipenuhi bercak darah. "Edmund..."
Pria muda yang membuka pintu langsung terkejut. "Elena! Apa yang terjadi?"
Wanita itu buru-buru menyerahkan bayi dalam pelukannya. "Tolong lindungi dia."
"Di mana Alessandro?"
Lady Elena menggeleng. "Mereka sudah datang."
Wajah Edmund langsung berubah. "Black Eagle?"
Lady Elena mengangguk dengan napas memburu. "Mereka mengkhianati kami." Tangannya menggenggam erat lengan Edmund. "Dengarkan aku, kalau sesuatu terjadi padaku... besarkan anak ini. Jangan pernah biarkan siapa pun mengetahui siapa dirinya."
"Lalu Aurora?" tanya Edmund.
Air mata Lady Elena jatuh. "Aurora..." Ia tersenyum dalam tangis. "Ada seseorang yang akan membawanya pergi."
"Tapi kalau kalian bertemu..."
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Lady Elena menoleh. "Mereka sudah dekat."
Ia mundur beberapa langkah. "Lindungi Aurelia."
Flashback berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Air mata Aurelia terus mengalir. "Jadi... Ibu benar-benar datang ke sini malam itu?"
Edmund mengangguk. "Dan setelah malam itu... aku tidak pernah melihatnya lagi."
Aurelia menggenggam foto keluarga itu erat-erat. Selama ini... ia hidup dengan identitas baru. Nama Bellini bahkan tidak pernah disebut di hadapannya. Semuanya demi melindunginya.
Namun kini...
Semua kebohongan itu mulai runtuh. "Aku ingin bertemu Aurora."
Edmund langsung menatapnya. "Belum saatnya."
"Kenapa?"
"Karena kalian sedang diawasi."
"Siapa yang mengawasi kita?"
Edmund berjalan menuju jendela. "Black Eagle."
"Apa mereka juga mengetahui keberadaanku?"
Edmund terdiam beberapa saat. "Aku tidak yakin."
"Tapi mulai hari ini..." Ia menatap langit malam. "Mereka pasti akan mencarimu."
Sementara itu...
Di Mansion Moretti, Johan kembali memasuki ruang kerja Adrian dengan wajah serius.
"Don."
"Ada apa?"
"Salah satu orang kita berhasil masuk ke arsip kepolisian Swiss."
"Ada hasilnya?"
Johan menyerahkan sebuah berkas tipis. "Hanya satu."
Adrian membacanya perlahan. Laporan itu dibuat dua puluh dua tahun yang lalu. Di bagian akhir terdapat satu kalimat yang membuat tatapannya membeku.
Korban anak kedua belum ditemukan. Status: kemungkinan masih hidup. Di bawah kalimat itu terdapat tanda tangan seorang penyelidik senior. Nama penyelidik itu membuat Adrian langsung berdiri.
"Mustahil..."
Johan mengernyit. "Don mengenalnya?"
Adrian mengangguk pelan. "Penyelidik ini... adalah ayah Pastor Markus."
Ruangan kembali hening.
Kini mereka menyadari satu hal penting. Pastor Markus mungkin bukan hanya penjaga surat dan liontin milik Aurora. Keluarganya telah terlibat melindungi keluarga Bellini sejak malam pembantaian itu.
Artinya...
Masih ada rahasia besar yang belum pernah diceritakan oleh Pastor Markus kepada siapa pun.
***
Malam semakin larut.
Di ruang kerja Mansion Moretti, hanya cahaya lampu meja yang masih menyala. Adrian tetap berdiri menatap berkas tua di tangannya, sementara Johan menunggu dengan sabar.
"Don..." panggil Johan pelan.
Adrian meletakkan berkas itu di atas meja. "Kita harus kembali ke gereja."
"Malam ini juga?"
Adrian mengangguk. "Kalau ayah Pastor Markus menangani kasus Bellini, berarti keluarga mereka mengetahui lebih banyak daripada yang kita duga."
Johan mengangguk setuju. "Saya siapkan kendaraan."
"Tidak."
Johan menatap Adrian. "Kita berangkat sebelum fajar. Jangan sampai menarik perhatian."
"Mengerti."
Saat Johan hendak keluar, alat komunikasi di telinganya berbunyi.
"Jordi melapor."
Johan segera mengaktifkan sambungan. "Silahkan."
Suara Jordi terdengar pelan. "Kami kehilangan target."
"Apa?"
"Alat pelacak masih aktif, tetapi..."
"Tetapi apa?"
"Sinyalnya berhenti bergerak."
Adrian langsung mengambil tablet. Lokasi GPS menunjukkan sebuah gudang kosong di pinggir kota. "Itu umpan," gumam Adrian.
Jordi melanjutkan. "Kami menemukan SUV yang dipasangi alat pelacak."
"Kosong?"
"Iya."
"Tidak ada seorang pun."
Adrian menarik napas panjang. "Mereka sudah menemukan alatnya."
"Maaf, Don."
"Itu bukan kesalahanmu." Adrian justru tersenyum tipis. "Artinya... mereka mulai menganggap kita ancaman."
Sambungan terputus.
Leonardo yang baru memasuki ruangan mendengar kalimat terakhir itu. "Apa terjadi sesuatu?"
Adrian menyerahkan tablet. "Mereka membuang kendaraan."
Leonardo melihat titik GPS yang kini tidak lagi bergerak. "Mereka lebih cerdas dari perkiraan."
"Bahkan mungkin mereka memang sengaja membiarkan kita memasang alat pelacak."
Leonardo mengangkat alis. "Supaya kita merasa berhasil."
Ruangan kembali sunyi.
***
Di rumah tua milik Edmund...
Aurelia belum juga meninggalkan ruang kerja. Ia masih memandangi foto keluarga Bellini. Matanya berhenti pada wajah bayi perempuan yang digendong Lady Elena.
"Itu Aurora..." Jemarinya kemudian bergeser ke bayi yang berada dalam pelukan Lord Alessandro. "Dan ini aku..."
Edmund berdiri di dekat perapian. "Aku tahu semua ini sulit diterima."
Aurelia menggeleng pelan. "Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku merasa bersalah."
Edmund mengernyit.
"Selama ini... aku hidup dengan tenang. Sementara saudara kembarku mungkin hidup dalam pelarian."
Edmund tidak langsung menjawab, beberapa saat kemudian ia berkata lirih, "itu bukan salahmu."
Aurelia menatap foto itu lagi. "Kalau saja kami tidak dipisahkan..."
"Tidak."
Edmund memotong tegas. "Kalau kalian tidak dipisahkan... kalian berdua sudah mati sejak malam itu."
Aurelia terdiam.
Edmund melangkah mendekat. "Lady Elena memilih berpisah dengan kedua putrinya bukan karena tidak mencintai kalian."
"Tetapi..."
"Itulah satu-satunya cara agar salah satu dari kalian tetap hidup."
Air mata Aurelia kembali jatuh.