Kisah seorang anak perempuan yang bernama Laras, yang menjadi saksi pahitnya kehidupan keluarganya yang mendapat perlakuan jahat dari orang-orang sekitarnya
Entah kenapa penduduk di kampung halaman dimana Laras tinggal begitu jahat dan picik, kejahatan berlanjut hingga turun temurun pada anak-anak mereka
Hingga terjadi fitnah yang di tujukan pada Bejo, sehingga membuat Bejo terjerat skandal fitnah narkoba dan membuatnya merasakan sakitya hidup di penjara
Kejadian menyakitkan yang terjadi bertubi-tubi dalam kehidupan Laras membuatnya menjadi sosok gadis yang mengerikan, yang tertanam dendam yang besar di hatinya
Hal itu membuat Laras menjadi pembunuh berdarah dingin, sikap pendiam dan dendam di hatinya mengundang mahkluk supranatural hinggap menjadi kekuatannya
( Terinspirasi dari kisah nyata )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELALU BERAKHIR BEGITU
Ujian sekolah telah usai, Laras berniat untuk menghabiskan waktunya membantu ibu dan konsentrasi pada sekolah untuk bisa masuk PMKA, mengejar yang gratis adalah hal yang wajar untuk orang miskin seperti ku.
Memilih meninggalkan dunia ekstrakurikuler, tempat yang tak lagi menerimanya
"Bagaimana kabarmu Ras"
Bambang menyapa dengan sikap cueknya seorang cowok, ada Gita di sana melemparkan senyum manisnya padaku.
"Oke saja, aku nggak banyak kegiatan kok, ingin konsentrasi"
"Ya lah Ras kita bareng-bareng meraih masa depan kita"
Bergabunglah dengan kami Ras, kami masih temanmu. Gita yang hanya tersenyum mendatangi Laras memeluk dengan hangat
"Siip, aku nggak papa kok, semua memang harus terjadi, itu kata Takdir yang harus aku alami, it's oke"
Bambang dan kawan-kawan Laras yang lain bergabung menghampiri Laras yang masih berdiam diri saja duduk di kelasnya
Memiliki teman memang menyenangkan namun untuk seorang yang banyak kekurangan seperti Laras memilih diam adalah hal yang lebih baik.
Kehidupan yang ingin di rubah menjadi lebih baik membuatnya semakin terpojok, di cap orang yang Musryik menduakan tuhan bukan hal yang baik, urusannya jadi bertambah rumit.
Sepulang sekolah semua siswa berhambur pulang tak terkecuali Laras
"Laras" Sebuah suara manis manggilnya
"Iya mbk"
Laras menghentikan langkahnya mana kala melihat siapa yang memangil.
"Mbak sueidah, ada apa ?"
"Kami ingin penjelasan kamu, bisa datang ke acara nanti"
"Iya mbak bisa, jam berapa mbak"
"Seperti biasanya jam 14:00"
Laras mengangguk pelan menimpali undangan temannya, masih berharap untuk di terima dan bisa belajar di sana
Waktu pulang sudah lewat 2 jam yang lalu, untuk pulang akan memakan waktu lama, jadi ku putuskan untuk tetap menunggu di depan gedung sekolahku sampai acara ekstrakurikuler rohis di mulai
Segerombol anak-anak yang memiliki 1 kegiatan dengan ku mulai datang, Laras berinisiatif untuk menyapa dan berangkat bersama, tapi sepertinya mereka tak menginginkan, jadi ku urungkan niat dan duduk kembali.
Aku masuk mushola sekolah tempat yang selalu kami gunakan untuk pertemuan, semua sudah berkumpul lengkap, bahkan lebih lengkap dari biasanya
Ragu-ragu aku duduk takut jika aku menganggu suasana mereka, benar mereka langsung beringsut menjauh, aku hanya tersenyum melihat semua itu
"It's oke, ini bukan yang pertama buatku"
Diam menunggu apa yang ingin di sampaikan mereka.
Acara di buka seperti biasanya, semua kegiatan berlangsung hikmat, aku diam tanpa suara, menikmati kicau para senior yang menyenandungkan lagu yang selalu indah.
Di akhir acara di adakan season di mana kita bisa bertanya-tanya dan menjawab, dengan santai Laras menyiapkan mental, berusaha tidak menyakiti atau menyinggung perasaan siapapun.
"Laras bisa kamu jelaskan, apa yang kamu sembah atau kamu jawab pertanyaan kami"
Suara yang lantang dengan Microfon itu menuju Laras seperti anak panah
"Iya mbak silahkan bertanya, apapun itu"
"Siapa tuhanmu Ras"
"Alloh mbak seperti yang mbak ajarkan pada saya"
"Siapa nabimu"
"Muhammad, seperti yang mbak ajarkan"
"Apa kitab mu"
"Al-Qur'an mbak"
Semua pertanyaan ku jawab dengan persiapan mental, untuk ku yang memang buta akan agama.
"Kamu selalu menjawab seperti yang kami ajarkan tapi kamu muslim sejak kecil, apa saja yang kamu pelajari selama usiamu, memang kamu tidak mengaji, kamu tau pentingnya mengaji, setidaknya jika kamu muslim sejak kecil kamu tau bagaimana cara membaca Alfatihah Apa kamu bisa ?"
"Saya..."
"Kamu memuja iblis sejak kecil, bahkan keluargamu tak ada yang bisa menginggatkan kamu soal itu, hidupmu bebas, kami bisa menerima kamu asal kamu taubat, Berserah diri lah Laras, buang ilmu-ilmu kamu, itu tak berguna, kami ingin kamu bersujud taubat di sini, biarkan kami menjadi saksi taubatmu"
"Laras, aku ingin kamu lepaskan kalung, anting dan gelangmu, berikan padaku biar aku yang netralkan"
"Maaf mbak untuk menyerahkan ini saya tidak bisa, ini adalah kenangan-kenangan terakhir saya dari mbak Mayang"
"Kamu memilih musryik"
Seorang senior cowok menghampiri Laras
"Bukan begitu kak, tapi.."
"Kamu boleh pergi, kami tak mau menerima seorang yang Musryik"
"Tapi kak ini berbahaya buat kakak"
"Laras kami sudah tau kamu yang sebenarnya, karena seorang senior sudah membongkar kedok kamu, jangan kamu tutupi wajah musryikmu itu dengan Agama "
"Karena ilmu agama itu sakral buat kami, kalau kamu hanya ingin bermain, pergilah di sini bukan tempatmu"
"Tapi kak..."
"Pergilah"
Tangan lelaki itu mendorong laras kasar untuk keluar dari mushola.
"Kak, bisakah"
Laras mencoba untuk bicara, tapi mereka sudah kalap, kebencian yang membuat mereka bertindak kasar, orang-orang yang menurut Laras baik menjadi jahat.
"Pergilah, Orang-orang seperti kamu, tidak berpikir ulang untuk mengotori agama, tuhan saja kalian permainkan apalagi hal-hal kecil seperti kami, kami tak mau perjuangan kami di organisasi ini malah jadi sumber petaka, karena menyimpan iblis seperti kamu. Dan juga jilbab mu itu, tak pantas kamu pakai hanya menjadi topeng, tobat palsumu"
Mereka menarik hijabku dan melemparkannya ke lantai, menendang, Memaksaku meninggalkan pertemuan itu keluar dari mushola, tapi hatiku begitu sayang untuk pergi, ada yang ingin ku jelaskan, rasanya ingin sekali, tapi sebuah tangan menarikku, membawa menuju gerbang sekolah dan melemparkanku dengan kasar keluar gedung
Aku terduduk merasakan perih luka yang ada di telapak tangan ku, tapi hatiku lebih sakit, begini rasanya di usir orang-orang baik.
Kembali terusir dari orang yang tak menerima kekurangan nya, sakit, tentu saja tapi ini bukan yangg pertama.
"It's oke"
Kembali hidup seorang diri bukan musibah, tapi kali ini Laras tak memaksakan kehendak ia berangkat sekolah dengan tak memakai hijab lagi, hijab satu-satunya yang ia miliki, mereka campakkan dan robek.
Untuk membelinya yang baru harus memakai uang, Laras tak memiliki uang.
Dengan santai ia masuk kelas, mata tertuju padanya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya kemarin berhijab Sekarang tidak
Senyum sinis menghampiri, menyatakan dan membenarkan bahwasanya hijab yang di gunakan Laras kemarin hanya topeng
"Tapi terserah lah ya, soalnya nggak punya uang untuk membeli yang baru"
Jawaban akan kenyataan Memang kadang sulit untuk di terima, di singkirkan atau di tindas itu sudah menjadi agenda, ending dari kehidupan Laras selalu Saja sudah dapat ditebak, cukup menandai tentang kiprah seorang yang ingin mendapatkan kehidupan normal bersama orang-orang.
Menerima kenyataan dan kembali melanjutkan hidup, dengan lebih berfokus pada tujuan.
Sekolah dan lulus dengan baik, menyibukkan diri dengan membantu ibu mengurus adik-adik, mencari informasi tentang tempat ia akan melabuhkan pendidikan yang cocok dan tepat untuknya.
Musyrik mah nyembah iblis.
Gregetan jdinya ehh bacanya
Di awal bejo tdk mengajarkan adiknya utk jd aosok kuat harus melawan jgn mau di tindas
Bgtulah kl miskin pst di hina dan di abaikan jrng bgt ada yg peduli.
Haduh mesakne