Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Pulang ke Rumah Liem
Besok, aku pulang ke kandang orang-orang yang dulu mengajari Keira menunduk.
Ternyata kandang itu punya pagar tinggi, halaman luas, dan kolam kecil yang airnya begitu tenang sampai terlihat seperti tidak pernah mendengar orang menangis.
Rumah keluarga Liem di Pondok Indah berdiri anggun di balik pohon palem. Dari luar, ia tampak hangat dan terawat. Jenis rumah yang cocok masuk majalah interior dengan judul Keluarga Harmonis Tionghoa Modern.
Tubuh Keira punya pendapat berbeda.
Begitu mobil kami melewati gerbang, jari-jariku otomatis mencengkeram tas.
Dada sesak.
Perut mengeras.
Kenangan samar muncul seperti foto basah yang dipaksa kering. Tangga utama. Suara sepatu hak Monica. Celine tertawa di lantai dua. Sebuah kamar dengan meja rias, tempat Keira duduk diam sementara bedak tebal menutup wajahnya.
Aku menarik napas pelan.
Reynard menoleh.
"Takut?"
"Tidak."
Pembohong.
[Kebohongan Host terdeteksi: 98%.]
Aku ingin menendang panel itu.
Reynard tidak mengejek. Ia hanya berkata, "Aku ada di sini."
Empat kata.
Tidak manis berlebihan.
Tapi tanganku yang dingin sedikit mengendur.
Di teras depan, Herman Liem sudah menunggu dengan senyum kaku. Di sampingnya, Monica berdiri seperti ratu rumah yang sedang menyambut tamu tidak diundang. Celine berada setengah langkah di belakang ibunya, memakai gaun putih dan ekspresi yang jelas-jelas sudah berlatih di cermin.
"Keira," kata Herman. Suaranya terdengar lega dan bersalah pada saat bersamaan.
"Papa," jawabku.
Kata itu terasa aneh, tapi tubuh ini mengenalnya.
Herman menatap Reynard. "Reynard. Terima kasih sudah datang."
Reynard mengangguk singkat. "Om Herman."
Monica tersenyum. "Akhirnya pulang juga. Mama kira setelah menjadi Nyonya Muda Wijaya, kau sudah lupa rumah sendiri."
Satu kalimat. Dua pisau.
Hebat. Wanita ini efisien.
"Mana mungkin, Mama," jawabku lembut. "Rumah ini terlalu... berkesan untuk dilupakan."
Senyum Monica menegang.
Celine tertawa kecil. "Ci Keira sekarang pintar bicara, ya. Dulu di rumah pendiam sekali."
Dulu Keira diam karena kalian menginjak lehernya, Sayang.
"Orang berubah setelah menikah," kataku.
Celine melirik Topeng Perak Reynard, lalu bibirnya melengkung. "Iya. Apalagi kalau menikah dengan keluarga besar. Walau suaminya..."
Ia berhenti, pura-pura sopan.
Reynard tidak bereaksi.
Aku bereaksi di dalam hati.
Lanjutkan, Cel. Sebut dia cacat, sebut dia aneh, sebut dia apa pun. Nanti kalau dia ternyata bisa membeli masa depanmu sekaligus, jangan nangis.
Reynard menoleh sedikit ke arahku.
Aku langsung menatap pot bunga.
Herman berdeham. "Masuk dulu. Makan siang sudah siap."
Ruang makan Liem terasa lebih kecil daripada ruang makan Wijaya, tapi tekanannya tidak kalah berat. Di meja sudah duduk seorang anak laki-laki gemuk dengan ekspresi kosong yang sedang memainkan sendok. Danny. Di sudut lain, seorang remaja kurus berkacamata berdiri ketika kami masuk.
Albert.
Matanya bertemu mataku.
Berbeda dari yang lain, ia tersenyum kecil. Canggung, tapi tulus.
"Ci Kei," katanya pelan.
Sesuatu di dada tubuh ini bergerak lembut.
Albert adalah ingatan yang tidak sakit.
"Al," jawabku.
Monica langsung meliriknya. "Albert, jangan terlalu akrab. Kakakmu baru datang."
Albert menunduk. "Iya, Mama."
Di belakangnya, seorang perempuan yang lebih tua dan lebih sederhana daripada Monica berdiri diam dekat pintu samping. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, matanya menunduk hampir sepanjang waktu.
[Lina.]
[Dikenal di rumah sebagai Tante Lina.]
[Status: ibu Albert, posisi keluarga lemah, sering diabaikan Monica.]
Aku menatapnya sebentar.
Tante Lina mengangkat mata, lalu cepat-cepat menunduk. Tapi aku melihat kekhawatiran di sana. Bukan untuk dirinya. Untuk Albert.
Jadi rumah ini bukan cuma menyakiti Keira.
Makan siang dimulai.
Herman berusaha menjadi tuan rumah baik. Ia menanyakan PIK villa, kesehatan Reynard, dan apakah aku sudah terbiasa. Setiap jawabanku dipotong Monica dengan komentar halus.
"Keira memang agak lambat belajar rumah tangga."
"Dulu dia tidak terlalu suka dapur."
"Untung Tuan Muda sabar."
Sabar?
Reynard? Pria itu mungkin tidak sabar, dia hanya mengubur orang dengan diam.
Reynard makan sedikit. Sangat sedikit. Tapi matanya bekerja lebih banyak daripada sumpitnya. Ia melihat Monica menatapku. Melihat Celine tersenyum palsu. Melihat Herman menghindari konflik. Melihat Albert menaruh sepotong ikan ke piringku diam-diam ketika Monica sibuk bicara.
Ia mencatat semuanya.
Aku tahu karena setiap kali seseorang menusukku dengan kata, udara di sekitar Reynard bertambah dingin.
Celine tiba-tiba berkata, "Ci Keira, aku dengar di PIK kamu memecat staf lama. Baru jadi istri beberapa hari sudah berani sekali."
"Kalau ada staf mencuri, sebaiknya dibiarkan?"
Celine tersenyum. "Aku hanya khawatir kau terlalu agresif. Keluarga Wijaya suka menantu yang patuh, bukan?"
Monica meletakkan sendok. "Celine benar. Perempuan yang terlalu menonjol sering membuat suami malu."
Aku ingin tertawa.
Mereka menyuruhku redup karena takut cahaya kecil saja bisa membuka debu di rumah ini.
"Saya akan ingat nasihat Mama," kataku.
Herman menghela napas. "Sudahlah, jangan ribut. Hari ini Keira pulang. Kita makan baik-baik."
Selalu begitu, ya?
Jangan ribut.
Yang terluka diminta diam agar meja tetap rapi.
Reynard meletakkan sumpitnya.
Bunyinya kecil.
Tapi seluruh meja langsung berhenti.
"Keira tidak mempermalukan siapa pun," katanya. "Ia membersihkan rumahku."
Monica tersenyum kaku. "Tentu. Aku hanya mengingatkan sebagai ibunya."
Ibunya.
Kata itu membuat perutku mual.
Si Kepo berkedip.
[Catatan: klaim keibuan Monica berbanding terbalik dengan riwayat perlakuan.]
No kidding.
Setelah makan, Herman mengajak Reynard bicara di ruang kerja. Monica tentu saja ikut dengan alasan membahas keluarga. Celine berkata ingin mengambil ponsel, Danny dibawa pelayan ke ruang TV, dan dalam hitungan menit aku mendapati diriku sendirian di dekat taman belakang.
Atau kukira sendirian.
"Ci Kei."
Aku menoleh.
Albert berdiri di dekat pintu kaca, memegang botol air mineral. Ia tampak ragu, seperti anak yang terbiasa dimarahi hanya karena bernapas terlalu keras.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Pertanyaan sederhana itu hampir membuatku tidak siap.
"Aku baik."
Ia menggeleng kecil. "Tidak. Dulu juga Ci bilang begitu."
Dada tubuh ini mencubit.
Albert melihat terlalu banyak untuk anak seusianya.
Aku berjalan mendekat, mengambil botol dari tangannya. "Sekarang berbeda, Al."
"Karena Ko Rey?"
Aku terdiam.
Di ruang lain, pria itu mungkin sedang duduk dengan wajah dingin. Tapi ya, sebagian memang karena dia. Karena ada seseorang yang, entah kenapa, berdiri di depan garis pandang Brandon, membuka pintu mobil, dan memesan udang telur asin tanpa kutanya.
"Karena aku sudah tidak mau menunduk," jawabku.
Albert tersenyum kecil.
Sebelum ia bicara lagi, suara Celine terdengar dari koridor.
"Albert! Mama mencarimu."
Albert langsung menegang. "Aku pergi dulu."
"Al."
Ia berhenti.
"Kalau ada apa-apa, cari aku."
Matanya melebar. Lalu ia mengangguk cepat dan pergi.
Aku berjalan ke taman untuk mencari udara. Kolam kecil di belakang rumah memantulkan langit mendung. Untuk pertama kalinya hari itu, aku bisa bernapas tanpa mendengar suara Monica.
Lalu langkah berat mendekat dari koridor samping.
"Sendirian, Ci Keira?"
Aku berbalik.
Brandon Wijaya berdiri di antara pilar taman, jasnya terbuka, senyumnya terlalu santai untuk pria yang seharusnya tidak berada di rumah keluarga Liem tanpa alasan.
Di belakangnya, jauh di ruang makan, aku melihat bayangan Celine sekilas.
Jadi ini bukan kebetulan.
Brandon melangkah lebih dekat, menutup jalan kembali ke dalam.
"Reynard meninggalkanmu cepat sekali," katanya. "Kasihan."
Aku mundur setengah langkah.
[Peringatan: risiko kontak fisik tidak diinginkan.]
Tanganku mengepal.
Brandon tersenyum makin lebar.
"Ci Keira," ucapnya pelan, "mau mempertimbangkan pria yang lebih baik?"
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih