Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 | THREAT
Elara merasakan dadanya sesak, bukan karena kehadiran Melisa, melainkan karena kebohongan yang terus menumpuk di ruangan ini. Ia mengabaikan tatapan tajam Melisa, melangkah melewati wanita itu seolah dia hanyalah pajangan yang tak bernyawa, lalu menghampiri Dante yang masih terduduk santai di sofa.
Ia melempar kotak P3K itu ke atas meja marmer dengan dentuman keras. "Obati sendiri lukamu. Aku bukan perawatmu, dan aku bukan bonekamu."
Dante hanya menatap kotak obat itu dengan seringai tipis. Ia bahkan tidak melirik lukanya sendiri. "Kau terlalu naif, Elara. Kau pikir dengan melempar kotak itu kau bisa melepaskan diri dariku?"
"Aku sudah bilang, aku tidak akan bergabung," Elara menegaskan, suaranya sedingin es. "Aku punya standar moral yang tidak akan aku jual, bahkan jika kau mengancam nyawaku sekalipun."
Tiba-tiba, sebuah logam dingin menempel di tengkuk Elara. Melisa telah bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan, menempelkan moncong pistol tepat di titik saraf belakang kepala Elara.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sudah mati," desis Melisa, matanya berkilat penuh hasrat membunuh.
"Dante, biarkan aku menghabisinya sekarang. Dia hanya akan menjadi duri di antara kita."
Dante tetap tenang, namun matanya berubah gelap total. Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang mengintimidasi. "
" Turunkan pistolmu, Melisa. Dia milikku. Aku yang menentukan kapan dia harus mati, dan itu bukan hari ini."
Melisa berteriak frustrasi, namun ia menarik pelatuknya sedikit, seolah memberikan peringatan.
"Kau terobsesi Padanya ! Apa yang dia miliki sampai kau melupakan janjimu padaku?"
Dante mengabaikan Melisa. Ia justru melangkah mendekati Elara, mengabaikan moncong pistol yang masih menempel di kepala Elara. Ia meraih saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal, dan melemparkannya ke lantai di kaki Elara.
"Buka itu," perintah Dante.
Elara dengan tangan gemetar memungut amplop tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen lengkap tentang aset keluarga Heaton, catatan medis orang tuanya, dan yang paling mengerikan foto adik kecilnya yang sedang berjalan pulang dari sekolah, dengan titik laser merah terbidik tepat di dadanya.
Elara merasa dunianya seakan runtuh. "Kau... kau memantau mereka?"
"Aku memantau segalanya," suara Dante sedingin musim dingin yang menusuk. "Jika kau tidak setuju untuk menjadi letnanku, jika kau mencoba berkhianat, atau jika kau mencoba lari mereka akan menghilang dalam semalam. Tidak ada jejak, tidak ada tubuh, tidak ada keluarga Heaton yang tersisa."
Elara meremas foto tersebut hingga hancur. Dadanya naik turun dengan liar. Ia membenci Dante lebih dari apa pun di dunia ini. Ia teringat neneknya—Grandma Eleanor yang mungkin juga diancam dengan cara yang sama sebelum akhirnya diracun.
"Kau benar-benar monster," bisik Elara dengan mata berkaca-kaca namun penuh kebencian yang murni. "Baiklah. Aku terima. Aku akan menjadi bagian dari gengmu. Tapi ingat ini baik-baik, Dante... aku akan menunggu saat kau lengah. Dan di hari itu, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat dunia ini lagi."
Dante tertawa, tawa yang penuh dengan kepuasan yang bengis. Ia mengisyaratkan Melisa untuk menurunkan senjata.
"Sebuah kesepakatan yang indah," Dante mendekat ke telinga Elara, membisikkan sesuatu yang membuat Elara gemetar hebat. " Tapi perlu kau tahu, Letnan, aku sudah merencanakan kematianku sendiri sejak lama. Jika kau mampu melakukannya, itu berarti kau adalah satu-satunya orang yang layak untuk memegang kekuasaanku setelah aku tiada."
Elara berbalik dan membanting pintu hotel itu hingga membuat kaca di dekatnya bergetar hebat.
Di dalam, Melisa yang masih murka menatap Dante dengan tajam. "Kau membiarkannya pergi begitu saja setelah dia menghinamu?"
Dante hanya menyesap minuman kerasnya, menatap pintu yang tertutup dengan tatapan yang sangat dalam dan misterius. " Dia tidak menghinaku, Melisa. Dia sedang jatuh ke dalam permainanku. Semakin dia membenciku, semakin sulit baginya untuk melepaskan diri."
Saat Melisa berbalik hendak pergi, ia mendengar suara rintihan pelan dari sudut ruangan. Pria yang tadi ditembak Dante ternyata masih bernapas. Melisa, tanpa ekspresi sedikit pun, berjalan mendekati pria itu dan melepaskan satu tembakan tepat di antara kedua matanya.
Dor.
"Berisik sekali," gumam Melisa santai, lalu membuang puntung rokoknya ke atas jasad yang masih hangat itu, meninggalkan ruangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Malam merayap masuk ke dalam penthouse, membawa suasana yang jauh lebih mencekam. Dante berdiri di dekat jendela kaca besar yang memantulkan bayangan dirinya sendiri seorang pria yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang. Ia baru saja selesai membalut luka di telapak tangannya sendiri dengan kain putih kasar, mengabaikan nyeri yang masih terasa menusuk.
Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Dengan gerakan lambat, Dante mengangkat panggilan dari orang kepercayaannya, Silas.
"Sudah kau lacak?" tanya Dante, suaranya rendah dan penuh otoritas.
"Sudah, Tuan," jawab Silas dari seberang telepon. "Kami telah memantau aktivitas Elara selama satu jam terakhir. Dia kembali ke apartemennya, tapi ada yang aneh. Dia tidak melakukan aktivitas apapun. Dia hanya duduk di kegelapan selama hampir empat puluh menit."
Dante menyesap gelas whiskynya, matanya menyipit saat menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti kunang-kunang dari ketinggian.
" Apa dia menghubungi seseorang?"
"Dia tidak menggunakan perangkat elektronik apa pun. Bahkan, dia mematikan smartphonenya tepat saat memasuki gedung," lapor Silas. "Tuan, apakah kita perlu memasang alat penyadap di dalam unitnya?"
"Jangan sekarang," perintah Dante dingin. "Jika dia menyadari keberadaan kita, dia akan semakin tertutup. Aku tidak ingin burung ini terbang sebelum aku tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan."
Dante memutus sambungan. Ia menatap telapak tangannya yang terluka. Elara gadis itu bukan sekadar letnan yang dipaksakan. Ada ketajaman dalam tatapannya yang mengingatkan Dante pada seseorang yang dulu pernah berusaha menghancurkannya dari dalam.
Ia berjalan ke arah brankas kecil tersembunyi di balik lukisan dinding. Di dalamnya, tersimpan sebuah map merah yang sudah usang, berisi catatan tentang proyek rahasia yang pernah dikelola oleh Eleanor sebelum wanita tua itu meninggal.
"Kau pikir kau bisa menipuku dengan sandiwara kepolosanmu, Elara?" gumam Dante pada kesunyian kamar.
Ia mengambil sebuah pena dan mulai menuliskan sesuatu di atas kertas kosong. Bukan rencana pembunuhan, melainkan sebuah peta koordinat yang mengarah pada rumah sakit jiwa tua di pinggiran kota.
"Jika kau memang putri dari masa lalu yang ingin kuhancurkan, maka mari kita lihat seberapa jauh kau berani melangkah," Dante tersenyum tipis. "Kau ingin menjadi bonekaku? Baiklah. Tapi perlu kau tahu, boneka ini memiliki gunting yang bisa memotong tali kendalinya kapan saja. Dan saat itu tiba aku akan memastikan duniamu runtuh bersamaku."
Dante mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menelan seluruh ruangan, sementara di kejauhan, ia tahu Elara mungkin sedang menatap langit malam yang sama, merencanakan kehancuran bagi pria yang kini memegang kendali atas hidupnya.
●●●●