Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Ancaman di Balik Senyuman Dingin
...Bunyi berdenging dari gagang garpu perak yang tertancap di atas meja kayu kafe perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan....
...Suasana kafe Prancis yang semula hangat dan dipenuhi aroma kue panggang kini mendadak berubah drastis menjadi begitu mencekam....
...Tidak ada satu pun pengunjung atau pelayan yang berani bernapas keras, semua mata tertuju pada sudut meja di mana seorang pria berjas hitam baru saja memperlihatkan kecepatan dan kekuatan yang tidak masuk akal....
...Gavin Kingsley perlahan menegakkan kembali tubuh tegapnya....
...Dia melepaskan cengkeramannya dari gagang garpu perak tersebut dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah dia baru saja meletakkan sebatang pulpen, bukan menembus meja setebal tiga sentimeter....
...Diego Valenzuela masih membeku di kursinya....
...Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja bermereknya yang mahal....
...Matanya melotot menatap garpu perak yang menjepit dua jarinya dengan akurasi yang menakutkan....
...Saat dia memberanikan diri mendongak untuk menatap pria yang mengancamnya, Diego merasa seluruh persendiannya mendadak lolos....
...Gavin tidak lagi memakai topeng robotnya....
...Pemimpin tertinggi Kingsley Syndicate itu kini membiarkan aura psikopat alaminya menguar bebas tanpa batas....
...Sepasang mata biru cerahnya berkilat begitu tajam, gelap, dan penuh akan kekejaman yang murni jenis tatapan dari seorang pembunuh yang menganggap nyawa manusia di hadapannya tidak lebih berharga daripada seonggok daging tak bernyawa....
...Di sudut bibir tegas Gavin yang biasanya kaku, terangkat sebuah senyuman tipis yang sangat dingin....
...Itu adalah senyuman yang mengerikan, senyuman yang biasa dia tunjukkan di ruang eksekusi bawah tanah sebelum menghabisi para pengkhianat kartel....
..."A-Apa... apa yang kamu lihat?! B-Bajingan!" suara Diego bergetar hebat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berantakan di lantai....
...Namun, saat dia mencoba menarik tangan kanannya, jarinya gemetar begitu hebat hingga menyenggol bilah garpu, menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa di kepalanya....
..."Saya rasa... saya sudah memberikan perintah yang cukup jelas," bisik Gavin lagi....
...Suara baritonnya begitu rendah, tenang, namun memiliki daya tekan psikologis yang sanggup meruntuhkan mental siapa saja....
...Gavin melangkah maju setengah langkah, memperpendek jarak....
..."Atau Anda butuh saya mengulangi perintah tersebut langsung pada organ tubuh Anda yang lain?"...
...Aura kematian yang dipancarkan Gavin begitu pekat hingga dua teman Diego yang berdiri di belakang kursi langsung mengangkat kedua tangan mereka dengan panik....
...Mereka bisa merasakan bahwa pria berjas hitam di hadapan mereka ini bukan sekadar pengawal pribadi biasa yang bisa disuap atau ditakuti dengan nama besar keluarga....
..."D-Diego! Ayo pergi! Orang ini gila! Dia benar-benar gila!" ceracau salah satu teman Diego sambil menarik paksa bahu Diego agar berdiri....
...Diego, yang celananya sudah basah kuyup di bagian selangkangan karena mengompol akibat ketakutan yang teramat sangat, akhirnya berhasil menarik tangannya dengan sentakan panik....
...Tanpa berani menatap Gavin atau Larissa lagi, ketiga pemuda kaya yang beberapa menit lalu bertingkah sangat arogan itu langsung berbalik dan berlari tunggang-langgang keluar dari kafe....
...Mereka bahkan sempat tersandung kaki kursi mereka sendiri dan menabrak pintu kaca kafe karena begitu panik ingin menyelamatkan nyawa mereka dari cengkeraman sang monster berdarah dingin....
...Para pengunjung kafe yang lain menarik napas lega setelah kelompok pemuda berisik itu pergi, meskipun mereka tetap melemparkan tatapan penuh selidik dan ketakutan ke arah meja Larissa....
...Sementara itu, di kursinya, Larissa Moretti masih terpaku....
...Sifat bar-barnya yang hobi memicu adrenalin membuat matanya yang berwarna hazel berbinar-binar cerah....
...Bukannya ketakutan, gemetar, atau menangis histeris setelah menyaksikan aksi kekerasan tingkat tinggi yang baru saja terjadi di depan matanya, Larissa justru menegakkan tubuhnya dengan antusiasme yang meluap-luap....
...Prok!! Prokk!! Prokk!!....
...Larissa mulai bertepuk tangan dengan irama yang lambat namun renyah, memecah sisa-sisa keheningan kafe yang canggung....
...Sebuah senyuman manis dan ceria yang sangat lebar terukir indah di wajah cantiknya yang seputih susu....
..."Luar biasa! Hebat sekali, Pengawal tampan!" seru Larissa kegirangan, seolah dia baru saja menyaksikan pertunjukan sirkus yang sangat menghibur....
...Dia menatap garpu perak yang masih tertancap kokoh di tengah meja dengan pandangan kagum....
..."Kecepatan tanganmu tadi... wow! Itu benar-benar keren! Aku bahkan tidak sempat berkedip dan pria bodoh itu sudah mengompol di celananya. Kamu benar-benar tipe pengawal yang menyenangkan!"...
...Gavin yang baru saja bersiap untuk mengembalikan ekspresi kakunya langsung membeku mendengar reaksi Larissa....
...Di dalam batinnya, Gavin menghela napas panjang dengan rasa campur aduk....
...Gengsi tingginya berteriak frustrasi, dia sengaja melepaskan aura psikopatnya untuk menakut-nakuti Diego sekaligus menunjukkan pada Larissa bahwa dia adalah pria berbahaya yang harus dipatuhi....
...Namun, gadis bar-bar di hadapannya ini justru menganggap aksinya itu sebagai sebuah tontonan hiburan yang lucu....
...Jiwa gengsi tapi perhatian Gavin kembali terusik, merasa gagal total dalam mempertahankan wibawanya sebagai monster kaku yang ditakuti seluruh Kolombia....
...Gavin buru-buru menarik napas, mengeraskan rahangnya, dan memaksa otot-otot wajahnya kembali menjadi sedatar tembok....
...Dia bertaut kedua tangan di balik punggungnya, memalingkan wajahnya dari tatapan mata hazel Larissa yang terlalu jernih dan berkilau....
..."Tindakan saya murni merupakan bagian dari upaya pertahanan diri untuk mengamankan area sekitar Anda, Nona. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan," jawab Gavin dengan nada suara ketus, dingin, dan kaku, berusaha menutupi detak jantungnya yang kembali berpacu liar karena pujian spontan dari gadis yang ia sukai itu....
..."Area ini sudah tidak kondusif. Sebaiknya kita segera kembali ke mansion."...
...Larissa tidak mendengarkan perintah itu. Rasa penasaran dan sifat usilnya yang tak kenal takut justru makin terpacu melihat bagaimana Gavin buru-buru menutup diri dengan topeng batunya lagi....
...Larissa memperhatikan dengan saksama, meski wajah Gavin terlihat sangat dingin dan tidak peduli, ada sesuatu yang menarik perhatian mata hazelnya yang jeli....
...Warna kulit di bagian belakang leher Gavin yang kokoh tampak sedikit lebih gelap dari biasanya, merona merah tipis yang sangat tidak cocok dengan ekspresi kakunya....
...Larissa tersenyum usil....
...Dia berdiri dari kursi beludru merah mudanya perlahan, memastikan gaun kuning mininya jatuh dengan rapi di atas paha mulusnya....
...Dengan langkah kaki yang seringan bulu, dia berjalan memutari meja hingga posisinya kini berdiri tepat di samping tubuh tegap Gavin....
...Gavin tetap mempertahankan posisi siap sempurnanya, menatap lurus ke depan seolah Larissa hanyalah patung dekorasi kafe....
...Namun, setiap saraf di tubuhnya menegang hebat saat aroma wangi stroberi segar yang sangat familier dari rambut Larissa kembali memenuhi indra penciumannya dengan jarak yang sangat dekat....
...Larissa sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok....
...Dia memiringkan kepalanya, lalu mendekatkan wajah cantiknya hingga bibir mungilnya yang ranum berada tepat di sebelah daun telinga Gavin yang kaku....
...Embusan napas hangat Larissa yang teratur terasa begitu nyata menyapu kulit leher Gavin....
...Dengan nada suara yang sangat rendah, berbisik lembut, namun penuh akan nada menggoda dan penuh kemenangan yang memikat, Larissa membisikkan satu pertanyaan yang langsung menghancurkan seluruh benteng pertahanan sang bos mafia....
..."Kamu... cemburu ya, Gavin?"...
...DEG....
...Gavin Kingsley seketika membeku total di tempatnya berdiri, seolah seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir....
...Sepasang mata biru cerahnya membelalak lebar dalam batinnya....
...Pertanyaan yang penuh keusilan dari Larissa menghantam harga diri tingginya hingga hancur berkeping-keping....
...Dan sebelum Gavin sempat memikirkan kalimat ketus apa untuk membantahnya, rasa hangat yang luar biasa dahsyat langsung menjalar dengan cepat dari lehernya naik ke atas, membuat kedua telinga Gavin seketika merona merah matang seperti kepiting rebus di balik potongan rambut hitamnya yang rapi....